Yang Terakhir

Yang Terakhir
70. Tidak Sendiri


__ADS_3

Hati Arga berdenyut nyeri menatap mata kelinci Hania. Mata itu seperti habis menangis. Sembab dan masih menyisakan titik air dibulu matanya yang lentik. Ingin rasanya memeluk wanita cantik itu dan memberinya ketenangan.


"Kamu ngga apa-apa?" tanya Arga dengan lembut. Hania mangangguk seraya memegang lengan Arga. Wanita itu tahu Arga sedang emosi. Dia takut Arga akan memukuli Ryan seperti beberapa waktu yang lalu.


Arga kembali menatap mantan suami Hania. Dirinya mendadak kesal pada Ryan. Pandangannya pada orang yang menghianati pasangannya membuat Arga tidak ingin mengenal pria yang pernah dipukulinya dulu. Dirinya sangat meremehkan orang-orang yang tidak bisa setia. Bila perlu tidak usah bertemu sekalian.


"Apa masih ada yang akan dibicarakan? Saya ada perlu dengan Hania." nada suara yang datar dan dingin menunjukkan sekali jika Arga tidak suka Ryan menemui Hania.


Ryan terkekeh lalu menunduk. Kemudian menatap Arga. Sebenarnya Ryan tidak ingin berselisih paham dengan Arga, pria yang disangkanya kekasih Hania. Tapi dirinya merasa Arga meremehkannya membuat harga dirinya jatuh. Jadi dia ingin menunjukkan siapa dia bagi Hania.


"Sebenarnya masih banyak yang ingin saya bicarakan dengan mantan istri saya. Tapi saya ngga bisa lanjutkan sekarang karena ini masalah kami berdua." Ryan sengaja menekan kata 'mantan istri' membuat Arga menaikkan sebelah alisnya. Senyum sinis terukir dibibir seksinya.


Arga menoleh pada Hania. Menatap wanita cantik yang juga menatapnya. Tidak ada respon apapun tapi sepertinya wanita lembut itu tertekan.


"Lanjutkan lain kali jika calon istri saya sudah siap berbicara dengan anda." Arga menekan kata 'calon istri' membuat Hania membelalakkan matanya.


Dia terkejut mendengar Arga menyebutnya sebagai calon istri. Kenapa pria ini? Lagi-lagi dia mengatakan perkataan yang sama dengan beberapa waktu yang lalu. Dan itu membuatnya marah. Apa pria itu tidak takut dia marah lagi?


Bukan hanya Hania yang terkejut. Ryan pun ikut terkejut. Hatinya tidak bisa bohong jika dirinya sebenarnya masih menyayangi wanita cantik itu. Memang dia memilih pergi dengan mantan kekasihnya karena wanita yang kini jadi istrinya tengah berbadan dua kala itu. Dan, ya, Ryan sangat mencintai mantan kekasihnya itu. Tapi kebersamaannya dengan Hania yang pernah sanggup mengalihkan perhatiannya dari sang mantan kekasih, tidak bisa dihapuskan begitu saja. Dia masih merasakan kelembutan dan kehangatan Hania.


Diakuinya dia tidak rela jika Hania dekat dengan pria lain. Apalagi barusan dia sendiri mendengar yang dikatakan pria yang meremehkannya itu jika Hania adalah calon istrinya.


"Silakan." Arga menunjuk pintu di ruangan Hania bermaksud mengusir mantan suami Hania.


Meski kesal dan ingin menghajar pria yang juga tampan itu,  Arga dapat menahannya. Sentuhan Hania di lengannya membuatnya selalu tersadar agar tidak melakukan sesuatu yang merugikan dirinya dan orang lain.


"Sampai jumpa lagi, Dek." pamit Ryan pada Hania dengan menyematkan panggilan sayangnya pada wanita cantik itu.

__ADS_1


Hania mendesah dan mengalihkan pandangannya kesembarang arah. Panggilan itu dulunya terdengar merdu di telinganya. Tapi kini, dirinya tidak suka mantan suaminya memanggilnya seperti itu. Seperti bualan.


Ryan meninggalkan ruangan Hania tanpa diantar Hania. Ada kekecewaan diwajah mantan suami Hania itu. Entah apa yang membuatnya kecewa. Yang jelas keinginannya tidak bisa tersampaikan hari ini. Dan entah kapan lagi dia bisa bertemu mantan wanitanya itu. Pasti semakin sulit karena ada Arga yang selalu menjadi dinding kokoh yang melindungi wanita cantik itu.


Arga menutup pintu ruangan Hania setengah membantingnya. Dia kesal dan cemburu.


"Dia ngomong apa aja?" tanya Arga datar, sungguh pria itu sudah kesal sejak tadi. Dihampirinya wanita cantik yang masih duduk di sofa panjang itu lalu mendudukkan dirinya di sampingnya.


Mendengar nada suara Arga, Hania jadi merasa seperti dihakimi. Dia tidak suka itu.


"Ngga ada." sahut Hania sedikit ketus seraya mengalihkan wajahnya.


"Ngga ada? Dari tadi ngga ada yang dibicarakan? Yang benar saja Han? Liat matamu! Itu bukti kalau dia sudah ngomong yang ngga-ngga!" suara Arga sedikit meninggi membuat Hania menatapnya sinis.


"Dia mau ngomong apa juga bukan urusan Mas! Jangan ikut menghakimiku!" pekik Hania tertahan, suaranya sudah bergetar.


Hania menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya naik turun. Lambat laun suara isaknya terdengar makin jelas.


Arga mendesah. Dia baru menyadari kesalahannya. Lagi-lagi rasa cemburu dan kesal membuatnya kehilangan kesabaran. Dan lagi-lagi sikapnya itu menyebabkan Hania menangis. Diraupnya wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menyesal sekarang. Padahal sudah berusaha menahan diri tapi kelepasan juga.


Dan yang lebih membuat hatinya berdenyut nyeri adalah Hania tidak jua merasakan perasaannya. Apa kurang kentara caranya menyampaikan maksudnya? Memang, Arga menunjukkan perhatiannya dengan halus dan hati-hati. Dia tidak ingin tergesa-gesa yang akan membuat Hania bimbang dan menjauh.


Direngkuhnya tubuh ramping Hania dan membawanya dalam dekapan. Arga semakin mengeratkan pelukannya meskipun wanita lembut itu meronta tidak ingin dipeluk. Dan akhirnya Hania bersandar juga didada bidang pria tampan itu. Menangis menuangkan rasa kecewa dan sakitnya dalam pelukan Arga.


"Maaf." ucap Arga lirih setelah tangis wanita itu mereda yang menyisakan senggukan.


Dirapikannya rambut kecoklatannya Hania yang sedikit berantakan karena meronta tidak ingin dipeluk tadi. Wanita cantik itu bergeming.

__ADS_1


"Maafkan aku." direngkuhnya kembali wanita cantik itu seraya berbisik.


Hania menggelengkan kepalanya. Tapi masih menempel di dada Arga. Masih sesenggukan.


"Udah, Han, jangan menangis. Jangan menangisinya lagi." hibur Arga. Sungguh Arga tidak suka wanita itu menangisi mantan suaminya.


"Dia nyakitin aku, Mas." lirih Hania.


Arga semakin mengeratkan pelukannya. Memberi ketenangan dan kekuatan.


"Aku tau, Han. Aku tau." bagaimanapun Arga pernah mengalami hal yang sama dengan Hania. Dia juga pernah dihianati, jadi pria itu tahu pasti bagaimana perasaan wanita cantik itu.


"Satu hal yang harus kamu lakukan adalah menganggapnya ngga penting lagi sekarang. Kamu harus bisa melupakan rasa sakit yang kamu alami karena ulahnya.  Buktikan kalau kamu baik-baik saja dan ngga terpengaruh sama kehadirannya." ucap Arga lembut.


Arga mencoba membagi pengalamannya mengatasi rasa sakit karena dihianati. Jika dulu pria tampan itu banyak yang mendampingi, dia merasa kini  gilirannya mendampingi Hania. Wanita cantik itu masih larut dan tenggelam dalam trauma mendalam pada masa lalunya hingga mengalami krisis kepercayaan diri dengan hubungan yang baru. Rasa rendah diri dan takut dihianati lagi menyebabkan Hania tidak ingin berada dalam hubungan istimewa apapun dengan siapapun.


Dulu, Hania melewati masa-masa sulitnya sendirian. Tidak tahu harus bagaimana mengatasi traumanya. Belum lagi harus merawat putri semata wayangnya. Arga tidak bisa membayangkan bagaimana kesulitan wanita lembut itu dulu.


"Jadi jangan pernah mengingatnya lagi. Mau kan?" tuntut Arga dan Hania mengangguk. Dalam benaknya membenarkan ucapan Arga. Apalagi pria tampan itu juga pernah mengalaminya.


"Tapi aku takut kalau dia ngambil Tiara, Mas." ucap Hania seraya mendongakkan wajahnya menatap Arga.


"Ngga akan kubiarin itu terjadi. Ada aku disini. Aku pasti bantu. Kamu percaya aku, kan?" tegas Arga. Wajahnya menegang tapi suaranya tetap lembut.


Hania mengangguk dan menyandarkan kembali kepalanya di dada bidang yang membuatnya nyaman itu. Dekapan Arga benar-benar menenangkannya. Wanita itu merasa seperti mendapat kekuatan dan memiliki teman berjuang mengatasi rasa traumanya. Dia tidak sendiri sekarang.


*******

__ADS_1


Thanks for reading!


__ADS_2