Yang Terakhir

Yang Terakhir
34. Tiara Bersamaku


__ADS_3

Begitu tiba di sekolah Tiara. Hania segera berlari memasuki gerbang sekolah Tiara. Tatapan matanya menyapu setiap sudut sekolah itu. Sudah sepi. Tiara sudah tidak ada disana. Biasanya putrinya itu akan menunggunya di pos satpam bersama Pak Amril, petugas keamanan di sekolah Tiara. Tapi tadi dia tidak menjumpainya disana. Hania menjadi gelisah. Kemana putrinya?


Hania berjalan tergesa-gesa menuju ruang guru. Disana ada seorang guru tapi bukan guru yang mengajar kelas Tiara. Guru itu tidak tahu keberadaan Tiara. Lalu Hania berlari keluar diikuti guru tadi mencari Pak Amril. Pak Amril terkejut melihat Hania, lebih terkejut lagi Hania tidak bersama Tiara. Sekuriti itu mengira Tiara sudah dijemput walinya karena sekembalinya dari toilet, gadis kecil itu sudah tidak ada disana. Pak Amril sempat mengajak Tiara masuk ke dalam area sekolah sebelum meninggalkannya tadi. Dia sangka Tiara mengikuti ajakannya. Tapi ternyata, kini Tiara tidak ada disana.


Hania ditemani seorang guru dan Pak Amril menyusuri jalan dekat sekolah Tiara. Setiap toko dimasukinya. Menanyakan keberadaan putrinya pada karyawan toko, atau pun pejalan kaki yang ditemuinya. Hania kalut. Airmatanya menetes di pipi mulusnya. Sesekali diusapnya karena membuat pandangannya kabur. Dia dan seorang guru ditemani Pak Amril sudah jauh berjalan ke sekitar sekolah.


Sore sudah semakin larut. Sebentar lagi malam menjelang, tapi Tiara belum ketemu. Hah. Lapor polisi! Tapi laporan kehilangan belum bisa diproses sebelum 1x24 jam. Dia frustrasi. Mengisak dalam diam. Dimana Tiara? Bagaimana keadaannya? Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.


"Ya Allah, lindungi putriku ketika perlindunganku tidak sampai padanya", doa Hania dalam hati.


Hania masih duduk di ruang guru. Kini Bu Meta, wali kelas Tiara kembali lagi ke sekolah setelah menerima kabar gadis kecil itu menghilang. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain menenangkan dan menghibur Hania.


Pihak sekolah sudah memasukkan laporan kehilangan pada polisi, tinggal menunggu diproses. Hania merasa gerak polisi terlalu lambat. Atau dirinya sedang merasa cemas luar biasa hingga merasa begitu. Kenapa harus menunggu 1x24 jam? Bagaimana jika putrinya kenapa kenapa? Waktu 1x24 jam itu waktu yang lama. Bagaimana jika Tiara diculik? Lalu membawanya pergi jauh entah kemana? Waktu 1x24 jam itu bisa membuat orang berada dimana saja. Jangankan selama itu, pergi ke negara sebelah saja bisa ditempuh dalam waktu 2 jam.


Hania bingung. Dia tidak punya siapa-siapa untuk dihubungi. Kedua sahabatnya sedang berada di luar kota karena libur panjang sudah didepan mata. Kegiatan Tiara di sekolahpun hanya kegiatan tambahan sambil menunggu pembagian raport. Tiba-tiba Hania teringat Arga. Dia ingat, sebelum meninggalkannya tadi, pria tampan itu berkata tidak keberatan jika dirinya meminta bantuan. Hania segera mencari kontak diponselnya dengan nama Arga dan menekannya.


Terdengar sahutan diseberang ponselnya. Hania tidak segera menjawab malah menangis sesenggukkan.


Drrrt drrrt drrrt.


Ponsel Arga bergetar disaku celananya. Arga sedikit kesulitan meraih ponselnya yang disimpannya di saku celana sebelah kiri, sementara Tiara sedang terlelap dengan nyamannya bersandar dalam dekapan Arga. Penyidik baru saja selesai menanyai mereka.


Hania. Nama yang begitu diharapkan muncul di layar ponselnya belakangan ini. Sambil tersenyum Arga menjawab panggilan itu.


"Ya, Han?", sahut Arga.


Sejurus kemudian kening Arga berkerut. Bukan suara lembut wanita cantik itu yang didengarnya melainkan isakan tangis seseorang. Hania menangis?


"Han? Ada apa?", tanyanya dengan suara lirih.


Hatinya terasa perih mendengar wanita itu menangis. Dia langsung membayangkan wajah sendu Hania. Merasakan betapa rapuhnya wanita itu.

__ADS_1


"Mas... Hiks...", didengarnya suara Hania terbata.


"Iya Han, ada apa? Kenapa nangis?", tanyanya mulai khawatir.


"Mas... Tiara... Hiks...", Hania menyebut nama putrinya disela tangisnya.


Seketika Arga mematung. Tiara? Arga memejamkan matanya. Haduh. Arga mengusap wajah lelahnya. Lalu melirik Tiara yang sedang tertidur dalam dekapannya. Kenapa sampai lupa mengabari Hania? Wanita cantik itu pasti sudah kalang kabut mencari putrinya. Efek lelah dan Tiara yang manja padanya benar benar membuatnya lupa memberitahu ibu gadis kecil itu. Arga mendesah.


Setelah selesai dimintai keterangan tadi, Tiara yang lelah mulai merengek minta makan, dibelikan susu, dibelikan cemilan, minuman kemasan, minta dielus punggungnya, dipeluk, dibelai rambutnya, hingga Tiara terlelap. Tidak ada sungkan sungkannya. Begitu manja pada Arga. Dan Arga melakukan semua itu dengan senang hati. Entah. Arga merasa gadis kecil itu membutuhkannya. Dia senang dibutuhkan oleh orang yang diinginkannya.


"Mas?", panggil Hania diseberang ponselnya.


"I iya, Han?", Arga gelagapan seperti baru ditarik dari lamunannya.


"Si siapa Tiara?", tanya Arga pura pura tidak tahu, dia masih gugup.


"Tiara anakku, hiks...", Lagi lagi didengarnya Hania menangis, membuatnya semakin merasa bersalah.


"Mas? Kamu sibuk ya? Maaf ak...", ucapan Hania terpotong.


"Ngga Han, aku ngga sibuk", potong Arga.


"Aku sedang di kantor polisi, barusan aku nolongin anak kecil, perempuan, umurnya sekitar 6 atau 7 tahun, rambutnya panjang sepunggung, kulit putih, badannya tinggi untuk ukuran anak usia segitu, gembil, pake seragam SD", terang Arga.


Arga sengaja menyebutkan ciri ciri Tiara. Dia ingin tahu reaksi Hania. Hania yang masih terhubung mendengarkan dengan seksama. Dia merasa ciri ciri yang disebutkan Arga sama dengan ciri-ciri Tiara.


"Mas? Mas tadi nemuin anak itu dimana?", telisik Hania merasa yakin anak yang sedang bersama Arga adalah Tiara.


"Di jalan Kenari dekat pertigaan yang mau ke Hotel Roses", ucap Arga sambil mengingat ingat dimana dia menemukan Tiara.


"Itu kan jalan alternatif dekat sekolah Tiara", gumam Hania.

__ADS_1


Jalan dimana Arga menemukan Tiara memang bukan jalan besar. Jalan itu jarang di lalui kendaraan umum dan cenderung sepi jika sudah menjelang sore. Arga termasuk sering melintasi jalan itu jika kembali dari galerinya karena tidak perlu berjubel dengan kendaraan lainnya dan bisa menghemat waktunya.


"Mas? Mas tolong liatin ada apa ngga tanda lahir warna hijau di bahu kirinya anak itu. Plis", pinta Hania, dia harus memastikan anak perempuan itu Tiara atau bukan.


Arga menoleh pada Tiara yang masih terlelap. Dirinya berpikir apa tidak apa apa jika dia mengintip bahu gadis kecil itu? Sepertinya wanita diseberang ponselnya yakin jika anak perempuan yang bersamanya adalah putrinya. Wanita cantik itu pasti ingin meyakinkan dirinya.


Arga memperhatikan bahu Tiara. Untung saja tadi Adi memilihkan dres selutut berwarna pink tanpa lengan ketika Arga memintanya mencarikan baju ganti Tiara yang terkena darah. Semakin memudahkannya memeriksa bahu Tiara. Perlahan disibaknya sedikit baju bagian bahu sebelah kirinya. Tanda lahir berwarna hijau itu langsung tampak disana meski warna dan bentuknya samar.


"Han?", panggil Arga.


"Iya Mas? Gimana?", Hania menunggu dengan cemas.


"Hm... Anak ini punya tanda lahir berwarna hijau di bahu kirinya, bentuknya bulat samar", jelas Arga.


Mendengar Arga mengatakan anak perempuan itu memiliki tanda yang disebutkannya, Hania menangis lagi.


"Namanya siapa Mas?", tanya Hania dengan suara bergetar.


"Tiara", jawab Arga.


Lagi-lagi jawaban Arga membuat Hania menangis. Dirinya sangat berharap, Tiara yang bersama Arga adalah Tiara putrinya.


"Han? Apa dia putrimu? Aku fotoin ya", tanya Arga masih berpura pura tidak tahu.


Arga memutus sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban Hania. Rasa bersalahnya mendorongnya untuk segera menenangkan wanita yang sudah mengisi hatinya itu.


Cekrek! Cekrek. Arga mengambil foto Tiara beberapa kali. Tanpa mengedit, segera dikirimnya foto-foto itu pada Hania. Pria tampan itu berharap Hania menjadi lebih tenang dengan melihat foto-foto Tiara. Centang dua. Pesan terkirim. Centang dua biru. Pesan terbaca.


*******


Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan votenya 💞💞💞

__ADS_1


Terimakasih 🤗


__ADS_2