Yang Terakhir

Yang Terakhir
194. Niat Terselubung


__ADS_3

"Apa kabar Hania?" Galih membuka suaranya setelah saling membisu.


Arga dan Galih sedang berada di ruang tunggu di kantor polisi. Mereka sudah selesai memberikan kesaksiannya. Tinggal menunggu Iden dan Syana. Sementara Reza tetap sibuk dengan tabletnya, mengurusi perusahaan Arga.


"Istri gue baik-baik aja!" tekan Arga membuat Galih memutar bola matanya.


Suansana hening lagi.


"Omong-omong.... Makasih atas bantuan lu kemarin." ucap Arga membuka suaranya tanpa menoleh ke arah Galih.


"Oh. Itu. Gue lakuin semua itu demi Hania." sahut Galih enteng lalu menatap Arga saat suami sahabatnya itu langsung menolehkan kepala ke arahnya.


Arga berdecih lalu membuang muka seraya menyedekapkan kedua tangannya. Rasanya kesal sekali. Dia sudah menurunkan egonya untuk berterimakasih pada rivalnya itu, namun tanggapan pria itu sungguh menyebalkannya. Tidak ada basa-basinya sama sekali. Mendadak dirinya menyesal sudah mengucapkan kata terimakasih pada Galih.


Lagi-lagi suasana hening. Namun, baik Arga maupun Galih tampaknya sama-sama enggan untuk membuka obrolan. Hingga akhirnya Galih bangkit dan meninggalkan ruangan itu diiringi lirikan tajam Arga.


Galih memasuki sebuah ruangan. Di sana ada beberapa narapidana yang sedang dikunjungi keluarganya. Galih memilih meja paling ujung. Duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi besi lipat. Hingga datanglah seorang wanita cantik dengan wajah muram berbaju oranye menghampiri tempat duduknya.


"Mau apa lu!?" tanya wanita itu dingin seraya menghempaskan tubuhnya pada kursi yang sama modelnya dengan yang diduduki Galih.


Galih yang tadinya menundukkan kepalanya, mendongakkan kepalanya. Menatap lekat wajah cantik itu. Lalu menyeringai.


"Puas lu liat gue di sini!?" geram wanita itu.


"Rosa." sapanya pelan, lalu menghembuskan napas dengan berat.


Rosa membuang muka, menatap ke sembarang arah seraya menghela napas. Hatinya terasa perih mendengar pria gagah itu menyebut namanya. Apalagi mengingat mereka pernah menghabiskan waktu dengan romantis berdua.


"Gue minta maaf." lanjut Galih lagi.


"Lu tega sama gue! Setelah semua yang kita alami, ini yang lu lakuin gue! Apa salah gue sama lu, hah!?" pekik Rosa, bahkan wanita itu memajukan tubuhnya yang awalnya bersandar hingga menempel di meja, membuat semua orang di ruangan itu menoleh ke arah mereka berdua.


Menyadari tatapan mata orang-orang di ruangan itu tertuju padanya, Rosa kembali menyandarkan tubuhnya.


"Apa mau lu sekarang!?" ucap Rosa memelankan suaranya.


Galih menegakkan tubuhnya. Meletakkan kedua tangannya di atas meja.


"Gu mau ngelurusin kesalahapahaman di antara kita. Supaya lu ngga terus-terusan menganggap hubungan kita ini spesial." ucap Galih tenang.


Rosa berdecih lalu membuang pandangannya ke sembarang arah. Wanita itu enggan untuk mendengar ucapan Galih selanjutnya.


"Yang terjadi di antara kita, ngga pernah sejauh dugaan lu." lanjut Galih serius membuat Rosa yang masih menatap sembarang arah mulai memasang pendengarannya.


"Kita ngga pernah menghabiskan malam bareng. Apapun yang terjadi sama lu di beberapa malam ini ngga ada hubungannya sama gue." terang Galih masih dengan suara tenang.

__ADS_1


"Apa maksud lu!? Jadi lu pikir gue 'ngigau gitu!? Jelas-jelas lu nikmatin tubuh gue!" sergah Rosa dengan suara tertahan.


Panas sekali hatinya mendengar Galih berucap seperti yang barusan didengarnya. Ingin rasanya mencakar wajah ganteng itu jika saja kukunya masih panjang seperti sebelumnya. Hah! Kenapa juga kukunya harus dipotong? Dia sempat merutuki petugas yang memaksanya memotong kuku-kuku cantiknya.


"Lu salah. Dan yang nikmatin tubuh lu itu bukan gue. Dia, orang lain." Rosa membelalakkan matanya mendengar pengakuan Galih.


"Ngerasa sebersalah itu lu sama gue, sampe harus bohong segala! Gue bahkan udah ngga inget gimana rasanya elu! Jadi, lu ngga usah ngerasa bersalah sama gue!" Rosa mencoba menyangkal pengakuan Galih.


Galih menyeringai lalu menghembuskan napas dengan kasar. Wanita di depannya, sebenarnya dia tidak begitu peduli keadaannya. Hanya saja ketidaksukaannya pada wanita itu membuatnya ingin memperjelas kesalahpahaman di antara mereka. Dia tidak ingin Rosa terus menganggap hubungan mereka pernah istimewa. Dia ingin memperbaiki citranya di mata Rosa. Egois memang.


"Ngga. Lu ngga 'ngigau. Apa yang lu rasain itu tubuh laki-laki lain. Namanya Jammy." terang Galih tanpa tedeng aling-aling.


"Lu jebak gue!?" suara Rosa mulai bergetar.


"Sorry to say tapi gue harus ngelakuin itu. Demi Hania." ucap Galih datar dan tenang.


Hati Rosa berdenyut nyeri. Jantungnya berdebar kencang. Sungguh dia emosi. Lagi-lagi Hania. Semua pria yang dekat dengannya selalu berkaitan dengan Hania.


"Hania!?" lirihnya namun penuh tekanan dan tangannya sudah mengepal erat menahan amarah.


Galih menganggukkan kepalanya samar, namun cukup bagi Rosa untuk mengetahui dimana posisinya di hadapan pria gagah itu.


"Gue ngga nyangka. Lu cantik dan berkelas, tapi hati lu picik. Demi kepentingan diri lu sendiri, lu tega nyelakain perempuan lain. Dan bahkan setelah semua kejahatan lu, lu ngga berhenti sampai disitu. Lu masih ingin ngehancurin dia!" tekan Galih di akhir ucapannya.


"Kalau dulu, lu bisa lolos. Tapi sekarang, gue jamin lu bakal lama ada di dalam sana. Saran gue, bersikap baiklah supaya lu dapat keringanan." lanjut Galih menyindir Rosa.


Rosa memejamkan matanya. Pikirannya melayang. Merasakan betapa nasibnya malang sekali. Sejak kematian Raka, dia bersembunyi di luar kota. Di kota itulah tak sengaja dia bertemu Handoko. Dalam kunjungannya menemui Aris, Rosa yang mengenali pamannya Arga itu menawarkan diri membantu pria tua itu membalas perbuatan Arga. Tentu saja dengan imbalan kebebasannya.


Berawal dari kecurigaan Handoko yang pernah melihat mendiang Tiara. Dirinya yang pernah bertetangga dengan keluarga Hania, tentu masih mengingat jika Hania memang seperti Tiara. Dan Tiara memiliki kemiripan dengan putri Pratama, mendiang Inka.


Aris yang geram dan kecewa karena perusahaan keluarga Pratama tiba-tiba memutus kerjasama dengan perusahaannya tanpa memberi kesempatan padanya telah membuat perusahaannya turun drastis, menyusun rencana menghancurkan keluarga Pratama. Isu perselingkuhan pun dihembuskannya dengan menjebak istri Pratama. Kontan saja, Pratama yang sangat memuja sang istri naik darah dan percaya begitu saja. Pria itu mengusir istrinya.


Aris melalui Handoko terus memantau istri Pratama dan ketika mengetahui wanita itu melahirkan bayi kembar, Handoko meminta seorang oknum perawat menculiknya dan memintanya menghilang dari kota itu. Namun sialnya, oknum perawat itu malah menghilangkan bayi yang diculiknya.


6 tahun berselang, Handoko yang jarang pulang ke rumah istri dan anaknya, hari itu menyempatkan diri datang. Dia sempat bertemu dengan orangtua Hania dan Hania kecil sendiri, karena memang rumah keluarga mereka berdekatan. Tapi pada hari itu juga, keluarga Hania pindah ke ibukota. Itulah kala pertama dan terakhir dia melihat Hania kecil. Tapi ingatannya masih bertahan hingga puluhan tahun kedepan.


Handoko yang cerdas menghubung-hubungkan beberapa peristiwa yang terjadi belakangan. Mendiang Tiara yang mirip mendiang Inka adalah putri Hania. Dan Handoko masih mengingat wajah Hania kecil mirip dengan mendiang Tiara. Dan lagi diam-diam dia mencuri dengar obrolan putrinya, Bela, dengan seorang temannya yang seorang perawat jika Iden melakukan tes dna. Kecurigaannya terjawab sudah ketika teman putrinya yang perawat itu mau mencuri hasil tes dna tersebut. Tentu saja Handoko harus merogoh kantongnya dalam-dalam.


Dengan pikiran yang melayang kemana-mana ditambah tekanan dari atasannya yang mendekam di balik jeruji, membuat Handoko sedikit melamun. Hingga tanpa diketahuinya seorang gadis sedang menyebrang jalan yang kala itu lengang. Handoko yang tidak fokus dalam berkendara tidak dapat menghindari gadis itu dan akhirnya menabraknya.


Ide jahatnya tiba-tiba muncul ketika melihat korbannya masih tak sadarkan diri pasca mendapat perawatan. Gadis itu memiliki wajah sedikit mirip Hania, hanya saja hidungnya yang tidak terlalu mancung, dagunya terbelah, dan tulang pipi sedikit menonjol. Sekilas tampak mirip. Mungkin sedikit sentuhan pisau bedah? Pria tua itu menyeringai lalu meninggalkan ruangan itu sambil menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Halo, Oom." sapa seorang wanita di seberang ponselnya.


"Negara mana yang hasil oplasnya bagus? Thailand atau Korsel?" tanyanya datar.

__ADS_1


"Menurutku, sih, Thailand ya, Oom." sahut wanita itu.


"Kamu atur segala sesuatunya! Aku mau tindakan itu dalam minggu ini!" perintahnya.


"Siapa yang mau oplas, Oom?" sepertinya wanita di ujung ponsel Handoko mulai penasaran.


"Nanti kamu juga tahu." sahutnya lalu memutuskan sambungan ponselnya. Handoko tak suka jika wanita itu banyak bertanya.


Rosa yang masih betah membisu dan duduk di pojokan ruangan berjeruji itu, lagi-lagi menghembuskan napasnya dengan kasar. Sejak kembali dari menemui Galih , wanita itu memilih menyendiri. Duduk dilantai beralaskan keramik yang dingin. Disandarkannya tubuhnya pada dinding penjara. Kakinya ditekuk dijadikan tumpuan untuk kedua tangannya. Tatapannya matanya sayu.


Ah. Galih. Pria yang mulai membuatnya terbuai dengan sikap tenang dan cueknya itu ternyata memiliki niat terselubung. Caranya yang halus mengikis sikap waspadanya pada orang asing yang mendekatinya. Sial!


"Galih sialan!" jeritnya dalam hati.


Rosa menyandarkan kepalanya di dinding dan memejamkan matanya. Dia teringat kembali perannya dalam rencana Handoko. Tak disangkanya jika kali ini Aris dan Handoko menyeretnya masuk ke dalam bui. Tak dipungkirinya, dia tak tenang. Hatinya gelisah. Sudah pasti tidak akan ada yang membelanya.


Orangtuanya sudah memutuskan hubungan dengannya karena malu dan kecewa. Malu karena perusahaan mereka yang baru kembali merangkak naik setelah ditolong perusahaan suaminya malah jatuh tak tertolong. Kecewa karena perceraiannya dengan suaminya dulu juga menjadi penyebab bangkrutnya perusahaan keluarganya.


Masih dalam keadaan mata terpejam, cairan bening tampak lolos begitu saja dari ekor mata Rosa. Wanita itu kalut tapi tidak tahu harus apa.


Drrrt. Drrrt. Drrrt.


Arga menarik bibirnya hingga membentuk lengkungan di sana. Baru saja pria tampan itu menginjakkan kakinya di anak tangga pertama di kediamannya yang nyaman, sang istri sudah menelponnya. Memang sejak beberapa hari belakangan, dia disibukkan mengurusi pamannya, Aris dan juga kaki tangan kanannya, Handoko. Meski sempat mengabaikan Hania, namun hasilnya memuaskan. Setelah itu barulah memuaskan wanita cantik itu.


Membayangkan adegan-adegan romantis yang terbayang di benaknya, Arga semakin melebarkan senyumnya. Pria itu pun semakin mempercepat langkahnya.


"Yes, mam." sahutnya seraya menaiki satu persatu anak tangga.


"Mas. Malam ini pulang ngga?" tanya Hania di ujung ponselnya.


"Kenapa? Kamu kangen banget kayaknya sama aku." goda Arga seraya menyeringai.


"Mas iih! Aku serius!" seru Hania yang tampaknya tidak mempan dengan godaan sang suami.


"Aku juga serius, honey." balas Arga sambil menahan kekehannya.


"Pulang ngga?" Hania mengulang pertanyaannya.


"Pulang ngga ya? Maunya gimana?" Arga masih betah menggoda istrinya.


"Ngga pulang ngga apa-apa! Biar aku nemuin Galih sendiri!" sahut Hania sewot.


Brak!


"Apa!?" seru Arga tak kalah sewotnya.

__ADS_1


*******


__ADS_2