
Malam beranjak makin larut, namun Hania belum terlelap. Ingatannya melayang pada Arga. Pria seksi yang memeluknya siang tadi, meskipun melalui drama yang membuatnya tidak nyaman.
Masih lekat diingatannya, aroma maskulin tubuh Arga yang membuatnya terbuai, hangatnya tubuh pria itu yang membuatnya nyaman dipeluk, dia juga bisa merasakan kekar dan liatnya tubuh pria tampan itu dibalik kemejanya, membuatnya merasa aman.
Hania mendesah. Merutuki dirinya yang melemah dihadapan pria tampan itu. Kehadiran Arga, dirasanya sudah membangkitkan rasa yang lain di hatinya. Dia berdebar setiap bertemu pria seksi itu. Jantungnya akan berdetak lebih kencang dan darahnya berdesir. Sepertinya dia senang bertemu Arga. Kehadiran Arga menimbulkan getaran yang lain di hatinya. Tapi dia takut untuk memastikan. Dia takut terluka lagi. Dan mulai membentengi hatinya lagi.
Di kota lain, Reza dan sang pengacara masih bergelut dengan berkas berkas tuntutannya pada si penghianat perusahaan. Mereka sudah mengajukan tuntutan, dan saat ini, si penghianat yang tak lain dan tak bukan adalah paman atasan mereka sendiri, sudah mendekam di sel tahanan polres kota Surabaya.
"Apa kita membutuhkan Pak Arga hadir disini?", tanya Reza pada sang pengacara.
"Belum. Pengajuan tuntutan bisa diwakili. Nanti saja kalau sudah mau sidang. Kita hanya butuh saksi saksi, termasuk yang mengaudit keuangan perusahaan pusat dan cabang", ucap sang pengacara, Reza mengangguk.
"Sedikit kerja keras kita. Rapi banget kerjanya", keluhnya kemudian.
"Itu udah pasti mengingat orang ini termasuk orang dalam yang punya hubungan dekat dengan si bos", timpal Reza.
Reza menghubungi sekretaris pengganti dari sekretaris yang dipindahkan Arga beberapa waktu lalu. Memintanya mengatur rapat besok pagi dengan jajaran direksi perusahaan cabang. Meskipun hanya seorang asisten, kedudukan Reza sebagai tangan kanan Arga cukup kuat sebagai pengganti Arga.
Sementara Reza dan sang pengacara sibuk mengurusi berkas tuntutan, Arga malah asik dengan lamunannya. Bibirnya yang sedikit kemerahan selalu menyunggingkan senyum ketika mengingat hangatnya Hania dalam pelukannya.
Dia masih bisa merasakan aroma tubuh wanita cantik itu, rampingnya tubuh itu yang dirasanya begitu pas dalam dekapannya, dia juga bisa merasakan lembutnya tubuh dibalik kemejanya yang menempel sempurna pada tubuhnya.
Arga mendesah. Mengingat Hania membuatnya gemas. Serasa ingin menerkamnya saja. Membuatnya semakin tidak bisa tidur saja.
Keesokan pagi.
Drrrt drrrt drrrt.
Getar ponsel yang terletak di atas nakas mengalihkan perhatiannya. Reza. Bukan nama yang diharapkannya muncul di layar ponselnya.
"Ada apa Rez?", tanya Arga setelah terhubung.
"Selamat pagi Pak", sapa Reza formal.
"Pagi ini saya mengadakan rapat dengan jajaran direksi terkait kasus perusahaan", Reza mengabari Arga agenda rapat hari itu.
__ADS_1
"Ya sudah. Kamu urusi kasus di perusahaan itu hingga tuntas. Kabari saya perkembangannya", perintah Arga.
Reza hanya bisa pasrah mendapat perintah seperti itu. Tidak biasanya Arga begitu. Atasannya itu akan memonitor dari dekat setiap permasalahan yang terjadi seputar perusahaannya. Dia sendiri heran dengan perubahan sikap Arga yang seperti bukan dirinya. Reza sudah yakin 100% jika atasannya itu sedang kasmaran.
Tapi seingatnya atasannya itu tidak pernah bersikap begini. Dulu, ketika dia sedang jatuh cinta pada mantan istrinya, Arga tetap bersikap profesional dan memprioritaskan pekerjaannya. Hm. Pastilah wanita bernama Hania itu sangat istimewa. Reza hanya bisa menduga karena dirinya memang belum bertemu Hania.
Arga memutus sambungan ponselnya. Dan masih enggan meninggalkan ranjangnya. Dia hanya menatap langit langit kamarnya. Tubuhnya yang penat terasa berkurang. Semalam sepertinya dia tidur dengan baik. Lalu bayangan wanita cantik bermata kelinci itu mengusiknya.
Tidak ingin semakin larut bersama bayangan Hania, Arga pun bangkit dan meregangkan otot ototnya. Terasa kaku sekali. Dia ingat sudah lama tidak melatih tubuhnya dengan peralatan fitnesnya. Disibaknya tirai berwarna abu abu muda itu lalu membuka pintu kacanya yang besar. Merasakan sejuknya hembusan udara pagi yang berebutan masuk kekamar dan hangatnya sinar matahari yang masih bersinar lembut.
Arga melangkah memasuki kamar mandi setelah puas berjemur sebentar. Tak berselang lama, Arga sudah siap dengan pakaian kerjanya. Hanya kemeja lengan panjang yang lengannya dilipat hingga ke siku berwarna biru muda dan celana bahan berwarna hitam. Terkesan santai tapi menawan.
"Pagi Mas Arga", sapa Bi Lastri yang sedang membersihkan debu pada benda benda pajangan koleksi sang ibu yang diletakkan di rumah Arga.
"Pagi Bi", jawab Arga sambil berlalu ke ruang makan.
Hari ini dia sedikit santai karena tidak ada agenda rapat. Dian benar benar tahu cara mengatur waktunya.
Bi Sumi menyiapkan nasi uduk dan teman temannya. Arga hanya memakannya sedikit. Dia merasa cepat kenyang jika memakan makanan bersantan. Meski tidak cocok dengan hidangannya, Arga tidak pernah melarang Bi Sumi memasak ini dan itu. Dia akan tetap memakannya meski sedikit.
Sesampainya depan lobi perusahaannya, Arga sudah ditunggu seorang pria tinggi berwajah manis. Adi. Mereka berjalan beriringan menaiki lift. Dian langsung berdiri dan tersenyum semanis gula menyambut atasannya itu begitu Arga muncul dari dalam lift. Lalu mengekor ke ruangan Arga seperti biasa.
"Hari ini, ukiran gebyok dari Jepara tiba Pak. Ini adalah permintaan dari Belanda. Apa bapak ingin melihatnya dulu?", tanya Dian yang akan mengatur jadwal Arga.
"Sudah jadi ya? Cepat sekali?", celetuk Arga.
Dian dan Adi hanya saling melirik. Cepat apanya, gebyok itu dibuat sejak 3 bulan yang lalu. Begitulah kira kira arti lirikan keduanya.
Belakangan ini, Arga selalu disibukkan dengan memikirkan Hania. Dirinya sampai lupa sudah berapa lama waktu berlalu dengan cepat.
"Sepertinya saya mau lihat hasilnya. Semoga selalu memuaskan", putusnya kemudian tersenyum.
"Baik. Bapak akan berangkat jam berapa?", tanya Dian lagi.
Arga melihat jam tangan bermerk yang melingkar ditangan kirinya. Jam 8 lebih sedikit. Lalu melirik tumpukan berkas yang belum sempat diperiksanya kemarin. Ditambah lagi setumpuk dari divisi perencanaan.
__ADS_1
"Saya kesana setelah istirahat", putusnya.
Dian mengangguk dan akan keluar dari ruangan Arga.
"Tunggu", cegah Arga, Dian kembali berbalik.
"Ya pak? Apa ada lagi?", sahut Dian.
"Menurut kamu, apa yang disukai anak perempuan?", tanya Arga membuat Dian mengernyitkan alisnya, Adi juga.
"Maksud bapak semacam hadiah?", perjelas Dian.
"Iya, semacam hadiah", sahut Arga.
Dian langsung berpikir dan menggali ingatannya pada keponakan perempuannya, pasalnya dirinya juga belum punya anak. Dia ingat pernah melihat keponakannya sedang unboxing sebuah hadiah dari ibunya. Sebuah boneka beruang yang tingginya setengah dari tinggi badan keponakannya. Gadis kecil itu terlihat riang. Pernah juga, gadis kecil itu meminta dibelikan sebuah jam tangan dengan karakter Putri Elsa. Atau barbie beserta rumah dan pernak perniknya. Dia sampai pusing, mainan sebanyak itu kapan memainkannya?
"Ada banyak pilihan sih Pak, sebenernya. Bisa boneka, jam tagan karakter, slam, tas, sepatu, topi, assesoris rambut, baju, jaket, syal.....", sebut Dian satu persatu.
"Cukup! Kenapa bisa banyak sekali?", Arga memotong ucapan Dian.
Mendengar benda benda yang disebut Dian tadi, Arga jadi bingung. Jadi, yang mana yang akan membuat seorang gadis kecil terkesan dengan pemberiannya? Kenapa memilih hadiah jadi semembingungkan itu?
Arga menatap Dian sekilas lalu memerintahkannya keluar.
"Apa kamu punya ide?", tanyanya beralih pada Adi.
Adi menundukkan wajahnya seraya mengelus dagunya. Berpikir. Kira kira benda apa yang disukai anak perempuan. Hah. Adi mendesah. Jangankan memikirkan hadiah untuk anak anak, dirinya bahkan belum menikah, punya pacar saja tidak. Adi mengerjapkan matanya lalu menatap Arga yang sedang menatapnya. Menanti jawaban.
"Bagaimana kalau diajak jalan jalan saja Pak? Jarang sekali orang memberi hadiah seperti ini, seringnya benda benda yang mungkin saja sudah dipunyai anak itu", sarannya.
Arga mengangguk anggukkan kepalanya. Dia tertarik dengan usulan itu. Ya. Jalan jalan pasti berkesan. Dirinya jadi ingat ketika masih kecil. Dia akan selalu menantikan saat saat jalan jalan bersama ayah dan ibunya, mengingat ayahnya yang selalu sibuk bekerja.
Tapi sejurus kemudian dia bingung lagi. Bagaimana caranya mengajak putrinya Hania? Dia bahkan belum pernah bertemu dengan gadis kecil itu. Kini dia sibuk memikirkan bagaimana mendekati putri Hania. Arga mengacak rambutnya. Pikirannya buntu. Dia pernah punya anak, tapi anaknya laki laki. Sedangkan targetnya adalah anak perempuan.
*******
__ADS_1
Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan vote nya 💞💞💞