Yang Terakhir

Yang Terakhir
74. Kegelisahan Hania


__ADS_3

Seperti biasa Hania akan mengantar Arga sampai di depan rumahnya meskipun pria tampan itu sudah melarangnya untuk keluar. Hania terus menatapi sedan mewah itu hingga menghilang di ujung jalan. Entah kenapa, sejak sore tadi, perasaannya tidak nyaman. Wanita cantik itu terus merasa gelisah ketika memikirkan Arga.


Hingga malam beranjak makin larut, Hania belum bisa memejamkan matanya. Wanita cantik itu masih gelisah. Dia masih memikirkan pria itu.


Jam digital di atas nakas di samping tempat tidurnya sudah menunjukkan angka 1 lebih sedikit. Tapi sepertinya rasa cemasnya kian menjadi. Sebenarnya, ada apa dengannya? Kenapa merasa mencemaskan Arga? Memangnya apa yang akan terjadi? Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawavan berkelebat di benaknya. Ah. Kenapa bisa segelisah ini memikirkan pria seksi itu?


Hania mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang dengan sebelah kaki menjuntai ke bawah. Diraihnya ponsel yang terletak di sebelah jam digital. Menggulir daftar kontak mencari sebuah nama.


Hania menatap ponselnya.  Mencari nama Arga. Setelah diam sejenak, wanita cantik itu menekan ikon telepon, menghubungi Arga.


Maaf, nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Mohon menghubungi beberapa saat lagi.


Suara operator terus terdengar di telinga Hania sebanyak kali wanita itu mendial nomor Arga. Tidak aktif? Dimana dia?


Kembali jarinya menggulir daftar kontak di ponselnya. 


Tuuut tuuut.


Terdengar nada sambung yang terus menggema di telinganya. Ferry kemana sih? Biasanya pria macho itu sigap mengangkat panggilan di ponselnya. Apa sudah tidur? Ah. Pria itu suka begadang, dia pasti belum tidur. Tapi kemana dia? Lama sekali mengangkat panggilannya? Pikiran Hania melayang memikirkan Ferry yang tak kunjung mengangkat panggilannya. Namun, baru akan memutus sambungan, terdengar suara yang sangat ingin didengarnya saat ini.


"Halo." Hania langsung melebarkan senyumnya.


"Fer!? Sibuk ngga? Atau sudah tidur? Tapi sorry aku maksa, nih." sahut Hania terburu-buru.


"Aku butuh bantuanmu. Banget!" ucap Hania lagi masih dalam mode terburu-buru.


"Mba? Pelan-pelan kenapa sih? Sebenernya ada apa? Apa ada masalah?" suara Ferry menginterupsi ucapan Hania.


"Aku ngga bisa jelasin di sini. Kamu ke rumah deh. Ohya, ajak Lisa ya!? Plis!" pinta Hania lebih seperti perintah.


"Oke!" tuuut, Ferry memutus panggilan. Pria itu selalu sigap memenuhi panggilan Hania. Dia tahu wanita itu hidup sebatang kara, tidak ada tempat lain untuk meminta bantuan. Dia sudah menganggapnya sebagai keluarganya.


Hania mencoba menghubungi Arga lagi tapi hasilnya sama saja. Suara cantik sang operator kembali menggema. Terdengar menjengkelkan bagi Hania saat ini.


Sementara itu Ferry sedang bersiap sambil menghubungi Lisa.


"Apaan sih, Mas? Lagi tidur juga! Ngga liat ini jam berapa!?" semprot Lisa begitu tahu siapa yang mengganggunya malam-malam begitu.

__ADS_1


"Kamu buruan siap-siap deh. Aku Jemput. kita ke rumah Mba Hania!" perintah Ferry tanpa basa-basi. Dia juga takut terjadi sesuatu pada Hania.


"Hah!? Bu Hania kenapa!? Ngga terjadi apa-apa 'kan!?" Lisa malah panik.


"Ngga tau juga. Makanya buruan siap-siap. Aku datang langsung berangkat." ucap Ferry lagi.


 Begitu Ferry memutus sambungan ponselnya. Lisa langsung bangkit menuju toilet. Tak berselang lama wanita berkaca mata itu sudah siap dan menunggu kedatangan Ferry di teras depan kamar kostnya.


Di kejauhan terdengar suara motor yang sudah sangat dihafalnya. Lisa langsung berjalan cepat dan membuka pintu gerbang kost-kostannya.


"Nih!" Ferry menyerahkan helm pada Lisa.


"Sebenernya ada apa sih, Mas? Kok aku jadi khawatir." ucap Lisa seraya mengenakan helmnya.


"Mba Hania juga ngga bilang. Nanti aja tanya-tanyanya." Ferry langsung menarik gas motor ninjanya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Hania berjalan mondar-mandir di ruang tamunya. Sesekali menoleh ke arah pintu. Sesekali melihat jam tangannya. Wanita bertubuh ramping itu semakin cemas dan terus merapalkan doa untuk Arga. Entah kenapa feelingnya mengatakan akan terjadi sesuatu pada pria yang diam-diam menelusup masuk ke hatinya tanpa disadarinya itu. Biasanya, jika dia merasa cemas berlebihan begitu pertanda tidak baik.


Suara motor Ferry yang sudah sangat dihafalnya mulai terdengar mendekat. Segera dibukanya pintu rumah yang sudah tidak terkunci. Dengan mengenakan celana jins hitam dan kaos yang dirangkapi jaket yang kebesaran, Hania menyongsong Ferry. Dia bahkan hanya mengenakan sandal teplek rumahan. Tanpa menunggu Ferry turun, Hania langsung nangkring di boncengan motor ninja itu menggantikan Lisa.


"Buruan, Fer! Kita ke club xx!" perintah Hania.


Ferry yang belum paham dengan situasinya pun hanya bisa patuh dan langsung memutar gasnya dengan kecepatan penuh. Begitu pula Lisa. Gadis manis itu masih melongo. Dia masih mencerna ucapan Hania. Suara tarikan gas motor Ferry menyadarkannya.


"Bu Hania kenapa sih, buru-buru amat? Aku tadi disuruh apa coba? Hoaam!" gumamnya seraya menggaruk-garuk rambutnya yang mendadak gatal dan menguap.


Lisa memasuki rumah Hania dan mengunci pintu rumah itu. Lalu melangkah menuju kamar Tiara. Dilihatnya gadis kecil itu masih terlelap tak terganggu. Setelah memastikan keadaan Tiara, dia menuju sofa di ruang tengah lalu merebahkan tubuhnya di sana. Tak lama berselang, Lisa sudah terlelap.


"Mba? Kita ini mau ngapain di sini? Mba mau dugem?" tanya Ferry setelah sampai di club xx.


"Hush! Sembarangan kamu? Mana kenal aku sama tempat beginian." sergah Hania.


"Ya, mana tau Mba mau kenalan." ucap Ferry seraya terkekeh.


Hania dan Ferry berdiri di parkiran melihat situasi. Gedung itu besar sekali. Dimana dia akan mencari Arga?


"Gimana masuknya?" tanya Hania mencolek Ferry.

__ADS_1


"Mba sebenernya ke sini mau ngapain?" tanya Ferry lagi bukannya menjawab pertanyaan Hania.


Pertanyaan Ferry menyadarkan Hania. Dia ingat belum memberitahu maksudnya pada pria yang sudah dianggapnya adik itu.


"Mas Arga itu ada di dalam..." ucapan Hania terpotong.


"Wah, wah. Mba udah bucin aja. Sampe-sampe ngikutin dia ke sini." ledek Ferry seraya terkekeh.


"Ish! Kamu ini, denger dulu!" Hania melirik Ferry dengan lirikan tajam seraya mencubit lengan pria macho itu.


"Aw! Iya, iya. Ngga usah nyubit, sih. Tau ngga? Cubitan Mba itu kayak jepitan kepiting!" omel Ferry.


Pria itu merasakan cubitan Hania sama dengan jepitan kepiting karena merasa sama sakitnya. Dia pernah merasakannya. Hania hanya melotot mendengar omelan pria macho itu.


"Mas Arga kenapa?" tanya Ferry kemudian.


Hania menceritakan kegelisahannya ketika memikirkan Arga dan feelingnya yang mengatakan akan terjadi sesuatu pada pria berkarisma itu. Ferry mendengarkan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Kini, mereka sudah berada dalam club xx. 


Hania yang tidak pernah menginjakkan kakinya ke dalam club manapun langsung merasa pusing demi mendengar suara musik yang memekakkan telinga. Perutnya terasa tak nyaman, belum lagi aroma alkohol dan asap rokok memenuhi rongga hidungnya. Dia menyesal tidak membawa masker. Apa bagusnya tempat seperti ini? Kenapa orang-orang beramai-ramai datang kemari? Hania membatin.


Ferry menggenggam erat tangan Hania yang merasa gugup. Menyentaknya ketika Hania mulai tak fokus karena sibuk memperhatikan sekitar, membuat wanita cantik itu menoleh ke arah Ferry lagi yang berjalan di depannya.


Club bukan tempat yang asing bagi Ferry. Pria tampan itu sering juga main-main ke sana ketika sedang berkumpul dengan teman-temannya. Atau ketika dirinya sedang suntuk. Hanya untuk minum. Tidak yang lainnya. Pria itu terlalu mencintai tubuhnya. Tidak akan dibiarkan disentuh sembarang wanita.


Tepat di depan ruang vip 3, Hania dan Ferry menghentikan langkahnya. Sama-sama menatap pintu ruangan itu. Hening. Tak terdengar ada pesta atau orang sedang berbincang. Hania baru akan membuka pintu itu tapi dicegah Ferry.


"Aku aja." ucapnya lirih, lalu Hania menggeser tubuhnya ke belakang Ferry.


Dengan perlahan Ferry memutar gagang pintu lalu mendorongnya dengan pelan hingga pintu itu terbuka lebar. Hania langsung ikut masuk. Dia menyaksikan pemandangan yang membuat dadanya bergemuruh. Tangannya mengepal kuat. Mendadak rasa pusing dan mual yang tadi dirasakannya menguap. Wanita itu marah  dan ingin menangis dalam waktu yang bersamaan. Feelingnya benar.


Hania melangkah dengan wajah memerah menahan amarah. Di belakangnya Ferry mengikuti dengan tatapan tak percaya. Hania langsung mengamuk. Menarik rambut wanita genit yang tengah mencoba menggoda Arga. Menamparnya dan mendorongnya hingga terjengkang. Membuatnya menjauhi Arga. Tak dapat dibayangkan perihnya hati Hania. Wanita itu menangis seraya mengusap wajah Arga.


********


Thanks for reading!


Jangan lupa like tiap babnya dan jadikan favorit. Mumpung senin, vote ya...

__ADS_1


__ADS_2