Yang Terakhir

Yang Terakhir
128. Melepas Rindu


__ADS_3

Di kamar tempatnya disekap, Raka berdiri menatap keluar menembus jendela kaca yang dihalangi tralis besi. Daun jendelanya tak dapat dibuka. Kamar itu berada di lantai 3. Dan jauh dari pemukiman. Seandainya dirinya bisa keluar dari kamar itu, hanya ada 2 kemungkinan yang terjadi padanya: kalau tidak berakhir di rumah sakit, ya sudah pasti mati. Sisi luar dinding itu dibuat begitu curam. Agar orang yang disekap di sana tidak bisa kabur. Arga benar-benar mendesain bangunan itu dengan baik. Sangat baik. Bahkan dirinya tidak pernah memikirkan bangunan seperti itu.


Ya. Arga mendirikan bangunan itu 3 tahun yang lalu dan tidak ada yang tahu dimana bangunan itu tepatnya berada. Banyak yang iri pada kesuksesannya sebagai penerus perusahaan keluarga yang dianggap tak punya banyak pengalaman. Perusahan lain yang bergerak di bidang yang sama dengannya banyak yang menaruh dendam karena tidak pernah bisa memenangkan tender jika perusahaan Arga ikut ambil bagian.


Di awal-awal dirinya depresi karena kematian putranya, lawannya memanfaatkan kondisinya tersebut untuk menggerogoti perusahaannya yang tengah berkembang dengan baik itu melalui karyawannya yang bisa 'dibeli'. Kejadian itu berlangsung hampir setahun lebih. Hingga Iden diminta ibunya Arga memegang kendali selama Arga tidak aktif. Sebagai orang yang dipercaya, Iden melakukan pekerjaannya dengan cekatan dan sangat baik. Selain itu juga, pria blesteran itu mengumpulkan banyak bukti penyelewengan dana perusahaan.


Setelah Arga kembali sehat seperti sediakala, Arga menghukum 'pencuri nakal' di perusahaannya dengan senyap dan mencari dalangnya di dalam bangunan itu. Sebenarnya bangunan itu bangunan yang sudah digunakannya sebagai markas 'sayap kiri'. Untuk menghindari kaburnya para sanderanya, Arga menggali tanah di sepanjang sisi luar bangunan itu dan mengisinya dengan batuan karang.


Raka mendesah. Arga pelan-pelan membuatnya frustrasi. Di sekap di kamar yang cukup luas tidak membuatnya bisa bernapas dengan baik. Dirinya hanya dibiarkan dan tidak dihiraukan meski tetap diberi makan dan minum.


Pria tampan itu adalah pria aktif. Berdiam diri selama hampir 2 minggu membuatnya pusing. Di kepalanya sudah banyak yang dipkirkannya. Perusahaan, pekerjaan, kehidupan bebasnya, kebutuhhan biologisnya, dan dia merindukan belaian wanita yang memujanya. Dia merindukan Rosa. Entah bagaimana kabarnya wanita cantik dan seksi itu sekarang. Apakah dia merindukan kehadirannya? Raka tersenyum getir. Rosa tidak mencintainya. Keberadaannya di sisinya hanya karena saling membutuhkan.


"Aaargh! Sial lu, Arga!" pekiknya lantang memenuhi ruangan itu lalu mendudukkan dirinya di lantai.


"Sebenernya apa yang lu inginkan? Lu nyekap gue tapi lu biarin gue?" gumamnya lirih seraya menunduk.


"Kenapa lu ngga muncul trus kita duel aja sampe mamp*s!" tangannya mengepal erat menahan geram.


Sementara itu, Hania yang sudah diperbolehkan pulang langsung diboyong Arga ke rumahnya. Wanita cantik itu sudah bisa menguasai emosinya. Jadi, meski dirinya bertemu dengan pria yang memiliki postur tubuh mirip Raka, dia tidak akan tegang, bahkan tidak histeris lagi. Meski kadang mimpi buruk masih menghantuinya, tidak membuat Hania terpengaruh. Wanita cantik itu bisa mengatasinya. Hania bisa meneruskan terapinya dari rumah.


Seperti beberapa waktu yang lalu, Hania akan menempati sebuah kamar tamu yang dulu di tempatinya. Dan sang Ibu akan ikut tinggal di rumah itu menemani Hania. Pria karismatik itu tidak akan membiarkan Hania tinggal sendiri lagi di rumahnya.


Sebenarnya Hania merasa tak enak hati tapi wanita itu juga takut jika kejadian beberapa waktu yang lalu kembali terulang. Kali ini, wanita cantik itu menurut saja dengan permintaan Arga. Apalagi sang Ibu selalu mendukung putranya itu.


Hania baru saja mengganti pakaiannya dengan piyama model terusan tanpa lengan yang panjangnya sebatas lutut. Sebenarnya dia mencari dasternya, tapi setelah sekian menit mengacak-acak isi lemarinya, dia tak kunjung menemukannya dan hanya menemukan beberapa set piyama dengan 2 model. Terusan tanpa lengan dan 2 pieces dengan atasan tanpa lengan dan celana sebatas tengah-tengah pahanya.


Arga memang sudah memindahkan sebagian isi lemari di rumah Hania ke lemari di rumah Arga, tapi pria itu merasa aneh melihat Hania memakai pakaian yang disebut daster itu. Ya. Arga pernah melihat Hania memakai dasternya yang tampak longgar dan terlihat apa adanya.


Tok tok tok!


Ketukan di pintu kamar yang ditempatinya membuatnya mengurungkan niatnya membuka pintu yang mengarah ke balkon. Senyumnya merekah semanis madu melihat wajah tampan Arga yang berdiri di depan pintu kamarnya. Hania membuka lebar pintu kamarnya dan pria itu masuk ke dalamnya. Tangannya membawa nampan berisi bubur kacang hijau dan teh herbal.

__ADS_1


"Mas kok repot-repot, sih? Aku bisa ambil sendiri nanti." ucap Hania seraya mengekori Arga.


Wanita itu begitu tersanjung akan perlakuan Arga padanya tapi sekaligus tak enak hati. Belakangan ini, pria tampan itu selalu siaga menjaga dan merawatnya.


"Mumpung masih hangat, honey. Ini baik untuk lambungmu." sahut Arga seraya meletakkan nampan itu di atas meja lalu duduk di sofa panjang.


Arga menepuk sisi kirinya meminta Hania duduk di sana. Wanita cantik itu pun menurut dan duduk di sebelah Arga. Hania melongok ke dalam mangkuk berisi bubur kacang hijau.


"Huum... Aromanya harum. Ini pasti enak." puji Hania seraya mendekatkan hidungnya ke arah mangkuk itu, kontan tingkah Hania membuat Arga terkekeh.


"Ibu yang buat. Ayo, buruan dimakan Nanti dingin ngga enak." perintah Arga.


Benar. Bubur itu terasa enak di lidahnya. Mungkin karena dirinya sudah lama tidak memakannya atau mungkin masakan ibunya Arga memang enak. Merasa diperhatikan oleh kekasihnya, Hania menoleh.


"Ini beneran enak, Mas. Aa..." ucapnya seraya menyodorkan sendoknya yang berisi bubur ke mulut Arga.


Arga menerima suapan dari Hania itu. Rasanya memang enak atau karena yang menyuapinya adalah Hania.


"Sudah, honey. Kamu aja. Aku masih kenyang." tolak Arga ketika Hania akan menyuapinya lagi.


Arga tak bisa menolak. Suapan Hania membuatnya merasa mendapat perhatian lagi dari kekasihnya itu. Hingga semangkuk bubur itu ludes, barulah Arga tersadar bahwa perutnya terasa penuh.


"Kamu nakal ya, honey. Sekarang perutku rasanya mau meledak." keluh Arga membuat Hania terkekeh.


"Abisnya porsinya porsi kuli, banyak banget. Ya ngga mungkin aku bisa habisin." gerutu Hania.


"Kita makan berdua aja bikin kita berdua kekenyangan. Ini belum tehnya lho." lanjutnya.


Arga menatap teh herbal itu.


"Teh itu untuk kamu. Kalau itu aku yang buat. Spesial pake cinta." goda Arga seraya mengusap pipi Hania yang terlihat lebih tirus, tak lupa menyunggingkan senyumnya yang menawan.

__ADS_1


Hania tersenyum kikuk. Wajahnya yang masih pucat terlihat sedikit merona. Arga yang terus memperhatikan wajah kekasihnya itu menjadi gemas. Di usapnya pipi mulus Hania seraya memalingkan wajah cantiknya menghadapnya. Kini Arga dapat melihat mata coklat muda itu. Cup.


Hania memejamkan matanya ketika bibirnya yang pucat dikecup Arga. Terasa lembut dan hangat. Sudah lama dirinya tidak merasakan bibir seksi pria itu.


Dorongan rindu yang menggebu membuat Arga tak tahan untuk tidak menyalurkannya. Dengan lembut pria tampan itu mel***t bibir Hania yang terasa manis itu. Semakin dalam semakin menuntut. 'Jendral jack'nya sudah mulai bereaksi membuat napasnya semakin memburu.


Hania begitu menikmati sentuhan Arga yang membuatnya merasa hangat dan dicintai. Dirinya pun membalas lum***n itu dengan lembut dan semakin lama dalam. Namun, tiba-tiba bayangan Raka yang menc*mb*nya dan menik***i tubuhnya kembali muncul di benaknya. Membuatnya seketika melepas tautan bibirnya. Wanita cantik itu mendadak gemetar dan tampak cemas.


Arga yang sedang menikmati bibir manisnya Hania langsung membuka matanya begitu merasa Hania menyudahi kegiatan romantis mereka dengan kasar. Ada sedikit kecewa yang menelusup ke dalam hatinya, namun begitu melihat ekspresi cemas kekasihnya, hatinya berdenyut nyeri.


"Honey?" Arga menyadarkan Hania yang seperti kebingungan seraya mengusap pipi tirusnya.


Hania menoleh pada Arga dan menatap pria itu dengan perasaan bersalah.


"Maaf. Aku..." mata Hania berkaca-kaca, lidahnya kelu tak mampu menjelaskan yang dirasakannya.


"Ada apa, honey?" tanya Arga lembut, rasa kecewanya sudah menguap berganti rasa iba dan bersalah.


"Dia... Aku... Maaf, Mas." Hania mulai terisak.


Wanita itu tidak sanggup mengatakan apa yang barusan muncul di benaknya pada pria yang dicintainya itu. Bayangan tadi mengganggunya.


Arga langsung tahu maksud Hania meski wanita cantik itu tidak mengatakannya. Kekasihnya itu masih dihantui bayangan Raka yang menghancurkan kehormatannya. Jelas rasa trauma itu mengganggu aktifitas romantisnya dengan sang kekasih. Dan Arga tidak suka. Pria itu menghela napas lalu menarik Hania ke dalam pelukannya. Memberinya ketenangan, kenyamanan, dan rasa aman.


"Maafkan aku, honey. Maaf." batin Arga.


"Aku akan menghilangkan kenangan buruk yang ditinggalkan anak sialan itu! Menghapus semua jejaknya di tubuh dan pikiranmu, sayang." janji Arga dalam hati.


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya ... oh iya, komen juga boleh ya. Untuk dukung terus karya ini.


🤗🤗🤗😘


__ADS_2