Yang Terakhir

Yang Terakhir
13. Selangkah Lebih Dekat


__ADS_3

Pria tengil tapi tampan itu mengulurkan tangannya pada Hania. Hania melirik uluran tangan pria yang ternyata bernama Arga itu.


Tangannya kokoh, urat-uratnya menyembul, dan ditumbuhi bulu-bulu halus, menambah kesan kekar dan seksi. Seksi? Haduh, sudah dua kali Hania memuji pria itu seksi. Entahlah itu pujian atau pikiran mesumnya. Lirikan Hania berpindah ke arah wajah teduh pria seksi di depannya. Hania mendesah ketika mendapati pria itu masih menatapnya.


Wajah tampan dengan rahang yang kokoh, dan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh menambah kesan gagah dan karismatik. Mata yang tajam dengan iris berwarna hitam yang selalu menatapnya lekat. Bibir merah jambu yang sempat dipujinya seksi. Hah! Hania merutuki dirinya yang sempat menikmati wajah pria tampan didepannya itu.


Pria yang mengenalkan dirinya sebagai Arga itu menaikkan sebelah alisnya. Dirinya merasa dicurigai sekaligus gemas karena mendapat lirikan Hania. Mata kelinci itu seperti memindainya.


Ketika wanita cantik bermata kelinci itu menatapnya, dia menyambut dengan senyuman semanis madunya. Ah, mata kelinci itu benar-benar indah. Mata yang membuatnya gusar beberapa waktu yang lalu. Mata yang membuatnya menjadi pria yang berbeda.


Arga selalu bersikap dingin dan cuek pada wanita-wanita yang mendekatinya, atau yang disodorkan kliennya, atau bahkan wanita yang dijodoh-jodohkankan ibunya yang sudah pasti melalui seleksi sang Ibu. Ya. Selama ini Arga menutup pintu hatinya serapat rapatnya. Tidak ada yang diizinkan mendekatinya secara pribadi. Dirinya hanya berhubungan dengan wanita jika itu menyangkut pekerjaan. Dirinya tidak ingin dekat-dekat dengan wanita manapun. Meski begitu dirinya tetap berlaku baik pada teman-teman wanitanya.


Tapi sepertinya pertahanannya yang kokoh itu mulai runtuh. Wanita bermata kelinci itu seperti magnet yang menarik dirinya. Dorongan ingin mengenal dan mendekat begitu kuat. Dirinya sudah tidak kuasa mengelak. Perasaannya tak bisa lagi diabaikan. Wanita itu membuat jantungnya berdetak. Hatinya mulai terlibat.


"Hania." ucap Hania sambil menjabat tangan Arga.


"Ah, tangannya halus sekali." batin Hania menatap tangan Arga, lalu tersenyum geli, menyadari sudah beberapa kali dirinya memuji pria di depannya.


Genggaman Arga dirasa Hania begitu lembut. Dirinya merasa Arga seperti berhati hati memperlakukannya. Perasaan aman dan nyaman seketika menelusup mengusik hatinya yang terselimuti dengan sangat rapi. Selama ini hanya Galih yang mampu memberi rasa itu. Makin lama genggaman tangan Arga makin mengerat membuatnya tersadar dari pikirannya yang melayang kemana-mana.


Seketika Arga sadar dari lamunannya. Digenggamnya tangan yang menjabat tangannya. Hangat. Kesan yang membuat hatinya menghangat. Dirinya tak ingin cepat-cepat melepas genggamannya. Ingin rasanya menggenggam tangan itu selamanya. Entah keinginan dari mana itu. Tanpa disadarinya tangannya menggenggam tangan wanita itu erat.


Gerakan kecil tangan Hania di genggaman tangannya menyadarkannya. Lagi-lagi Arga melamun. Lalu segera dilepasnya tangan yang terasa hangat itu. Keduanya merasakan canggung satu sama lain.


Drrrt drrrt.


Getaran ponsel Arga di saku celananya mengalihkan perhatiannya, memecah kecanggungan yang tercipta karena ulah Arga.


"Pak, anda dimana?" terdengar suara Reza.


"Pak Gunawan menanti anda." Arga meraup wajahnya ketika menyadari telah meninggalkan kliennya cukup lama.


"Saya kesana sekarang." ucap Arga lalu memutus sambungan telepon.

__ADS_1


Arga menoleh ke arah Hania yang sedang menatapnya. Ada perasaan enggan untuk meninggalkan Hania. Pencariannya beberapa waktu lalu sudah terbayar dan rasanya dirinya ingin lebih dekat dengan wanita cantik itu. Entahlah. Melihat Hania membuat hatinya hangat.


"Boleh saya minta nomor ponsel Mba?" pinta Arga sambil menyodorkan ponselnya pada Hania.


Ada perasaan ragu untuk memberikan informasi pribadinya pada pria tampan di depannya itu. Termasuk nomor ponselnya. Jika dia memenuhi permintaan pria itu, berarti dirinya mengizinkan pria itu mendekatinya. Tapi jika tidak, pria didepannya itu seperti pria baik-baik. Dia berbicara sopan dan memperlakukannya dengan baik. Umumnya orang yang berkenalan. Hah. Hania menghela napasnya. Kemudian menerima ponsel itu dan mengetikkan nomornya di sana.


Entahlah. Dia takjub dengan dirinya sendiri. Kenapa dia tidak tega menolak permintaan pria itu? Dan dengan mudah memberikan nomornya. Padahal dia berhak menolak.


"Hum... Sekarang nomor, besok apa lagi?" rutuknya dalam hati, lalu menyerahkan kembali ponsel tersebut pada pemiliknya.


Arga tersenyum, raut wajahnya berbinar, hatinya senang. Entahlah. Dia tidak pernah merasa sesenang ini karena mendapatkan nomor ponsel seseorang. Dimasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Terimakasih." ucap Arga.


"Apa saya boleh menemui Mba lagi lain waktu?" tanyanya setelah hening sesaat.


"Untuk apa?" bukannya menjawab Hania malah balik bertanya.


"Bisa untuk apa aja. Minta tolong mungkin? Sekarang kita kan teman, apa harus ada alasan untuk bertemu?" jawab Arga enteng.


Hania terdiam memikirkan permintaan Arga. Dia tidak habis pikir kenapa dirinya memberi celah untuk pria ini. Tapi terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. Sekalian aja dibumbui supaya menjadi lebih sedap. Hania berdecih dalam hati. Apanya yang sedap? Buburnya? Atau pertemanan yang baru ditawarkan pria itu padanya?


"Silakan aja." lagi-lagi Hania menyetujui permintaan Arga.


Lagi-lagi Hania tidak tega menolak Arga. Entah kenapa dirinya seolah takut membuat Arga kecewa. Pria tampan itu terlihat seperti anak kucing dihadapannya. Manis. Hania menghela napasnya.


"Kalo gitu, sampai ketemu lagi ya, Mba Hania." pamit Arga seraya tersenyum.


Senyuman Arga yang manis itu membuat Hania terpana dan terpaku di tempatnya. Dia tidak menyahuti Arga. Memperhatikan teman barunya itu melangkah menjauh dan menghilang di balik pintu.


Hari semakin senja, lampu-lampu sudah menyala menggantikan cahaya dari sinar matahari. Kesibukan menanti di area dapur.


Beberapa pengunjung mulai berdatangan, memilih tempat duduk yang disukai, indoor maupun outdoor. Pesanan pun mulai mengantri di meja dapur.

__ADS_1


"Sup iga 2 porsi komplit!" sebut asisten dapur membacakan menu.


"Iga bakar madu ekstra pedas 2 porsi!" lanjutnya membaca pesanan yang lain.


"Beef steak medium 1 porsi!"


"Nasgor seafood 2 porsi!"


"Beef steak well cook 1 porsi, sup jagung asparagus 1 porsi!"


Dan pesanan-pesanan yang lainnya memenuhi indera pendengaran Hania. Jangan ditanya situasi dapur saat ini. Hania fokus dengan kesibukannya mengolah bahan makanan yang dibantu asisten koki dan juga Ferry. Chef tampan itu masih belum meninggalkan restoran meski jam kerjanya sudah berakhir sejak tadi sore.


Jam di dinding dapur menunjukkan angka 9 malam ketika semua kesibukan mereda. Sebentar lagi waktunya menyudahi kegiatan hari ini. 2 orang karyawan membersihkan meja dan menatanya menjadi rapi kembali. Beberapa melayani tamu yang masih tersisa dan membutuhkan bantuan, beberapa membersihkan dapur dan mencuci alat makan dan perabotan, kasir sibuk berkutat dengan tagihan dan pembayaran, sementara Hania dan asistennya memeriksa persediaan bahan baku dan mencatatnya lalu menghubungi supplier penyedianya agar besok pagi dikirim tepat waktu. Ferry sudah pulang sejak jam 8 tadi. Itupun karena Hania memaksanya beristirahat.


"Jangan sampai ketinggalan lagi ya Bang, gara gara Bang Jarwo ngga teliti, saya repot kan jadinya nyari-nyari di pasar ngga nemu, akhirnya harus ke supermarket, kan jatuhnya mahal" cerocos Hania mengeluhkan keteledoran suppliernya.


"....."


"Sip deh. Makasih Bang Jarwo" pungkasnya memutus sambungan telepon.


"Delivery order!" ujar seorang call agent yang bertugas menerima pesanan via telepon sedikit berteriak memecah ketenangan di dapur yang mulai rapi itu.


"Ehem...!" dehemnya karena mendapat tatapan semua penghuni dapur lalu menyerahkan catatan yang berisi menu pesanan.


"Sup gingseng asparagus 1 porsi, nasgor seafood 4 porsi, mie goreng ekstra udang ekstra sayur 1 porsi, udang krispi ekstra saus keju 2 porsi, jus sirsak 2 porsi, teh chamomile 1 porsi", baca salah seorang staf dapur.


"Last order ya!" kata Hania memberi instruksi.


Hampir jam 10 malam ketika seorang kurir yang mengantar pesanan terakhir tadi tiba. Restoran sudah tutup. Lampu ruangan indoor dan outdoor bagian belakang sudah berganti dengan pencahayaan yang lebih redup. Hanya teras dan halaman yang diberi penerangan lebih. 2 orang karyawan tinggal di restoran, menempati salah satu kamar di lantai 2. Para karyawan dan karyawati lainnya sudah bersiap pulang dan beristirahat di rumah masing-masing.


*******


Happy reading....

__ADS_1


Dukung terus ya dengan like, vote, dan komen nya.


🤗🤗


__ADS_2