
Arga masih menatap sepasang kaos kaki berwarna hijau muda dan putih dalam pigura kayu jati berukir sulur-sulur berplitur cokelat keemasan berukuran 30x30 centi yang digantung di bawah foto pernikahannya. Matanya berbinar. Senyumnya belum juga pudar.
Dia masih takjub dengan kejutan yang terjadi dalam hidupnya. Kehilangan 2 anak yang disayanginya, Devan putranya dan Tiara putri sambungnya, Tuhan menggantinya tunai dengan kehadiran bayi kembar dalam perut istrinya.
Tadi, pagi-pagi sekali, calon bapak itu meminta Reza, asisten setianya, memesankan pigura cantik itu. Dan sebelum sarapan pagi ini, pria manis berkacamata itu sudah tiba dengan pigura pesanan Arga.
Tak sulit memang. Reza hanya perlu menghubungi mandor pabrik dan memerintahkannya mencarikan pigura itu. Ingat, Arga adalah pemilik perusahaan furniture spesialis kayu jati yang besar. Untuk pigura, pastinya perusahaan itu memiliki beberapa koleksi model dan ukuran. Tinggal finishing. Jadi. Yang repot jelas mandornya.
3 bulan lagi berlalu dengan rutinitas yang sama. Menatapi sepasang kaos kaki hijau muda dan putih di dalam pigura sebelum berangkat bekerja. Dia belum tahu jenis kelamin calon bayi kembarnya. Sebenarnya cukup mudah untuk mengetahuinya tapi baik Arga maupun Hania ingin itu menjadi sebuah kejutan. Cukup mereka tahu jika calon bayi kembar mereka baik-baik saja.
"Diliatin terus, entar berubah warna lho." sindir Hania seraya terkekeh.
Arga langsung menoleh ke arah suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Lalu beralih ke arah sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Dengan lembut diusapnya tangan itu. Sementara itu Hania menyandarkan kepalanya di punggung kokohnya. Terasa perut buncit wanita itu menempel hangat di sana.
"Rasanya udah ngga sabar pengen ketemu mereka, honey. Pasti nggemesin." ucapnya masih dengan menatap sepasang kaos kaki mungil dalam pigura.
"Ngga lama kok, 1 bulan lagi. Sabar, ya." hibur Hania.
Arga memutar posisi tubuhnya menghadap istrinya. Mengec*p keningnya, lalu hidung, dan mel***t bibir merah jambunya sesaat. Pria tampan itu kemudian membungkuk. Kini wajahnya tepat berada di depan perut buncit Hania. Tangannya terulur mengusap perut itu
"Hai babies. Sehat-sehat ya kalian di dalam sana. Jangan berulah! Jangan bikin mama kalian kesulitan! Hah. Papa udah ngga sabar ketemu kalian. Love you two." Arga berucap pelan seolah berbicara pada kedua buah hatinya yang masih meringkuk hangat di perut Hania.
Hania hanya terkekeh menanggapi ucapan suaminya. Dia sudah terbiasa dengan tingkah Arga. Sejak mengetahui Hania mengandung, Arga mulai mengajak janinnya berkomunikasi. Sekedar menyapa, bertanya, bercerita, hingga mengancam tidak boleh begini jangan begitu, seperti barusan yang dilakukannya, adalah pemandangan yang membuatnya geli sekaligus takjub. Dia tahu Arga sangat menginginkan keturunan tapi tidak menyangka akan romantis dalam menyambutnya.
"Udah ditunggu Oom Reza itu Papa, buruan berangkat." peringat Hania meniru suara anak-anak membuat Arga tergelak.
"Oke, oke. Papa berangkat. Ingat, ya, yang pintar di dalam sana!" ucap Arga lalu mengec*p perut buncit itu cukup lama.
"Hei! Siapa diantara kalian yang nyapa Papa, nih?" seru Arga yang tiba-tiba merasa bibirnya mendapat tendangan.
Hania hanya semakin terkekeh melihat reaksi Arga. Wanita itu juga merasakan tendangan di perutnya. 2 kali beruntun.
Cup. Arga mengecup bibir Hania lagi.
"Aku berangkat, honey. Hati-hati di rumah. Jangan capek-capek! Jangan telat makan! Minum vitaminmu! Kalau butuh sesuatu minta tolong bibi aja, oke?" pesan Arga panjang lebar.
Ah, pria itu tidak pernah lelah mengingatkan istrinya. Dia terlalu bersemangat menyambut kehadiran buah hati mereka. Perasaan yang tidak pernah dirasakannya meskipun dirinya pernah menikah sebelumnya dan mengalami fase dimana mantan istrinya mengandung anaknya. Arga tidak pernah seperhatian itu. Karena mantan istrinya dulu juga tidak terlalu takjub dengan kehamilannya. Masih tetap melanjutkan kesibukannya sebagai model tersohor. Bahkan memanfaatkan momen kehamilannya dengan menerima tawaran membintangi berbagai iklan terkait kehamilan. Meskipun Arga tidak mengizinkannya, mantan istrinya tidak peduli.
Arga keluar dari kamarnya ditemani Hania yang bergelayut manja di lengan kokohnya. Pagi itu cuaca sedikit berangin. Begitu pintu kamar terbuka, angin sejuk menerpa wajah keduanya. Memainkan anak rambut Hania. Kamar itu menghadap ke arah taman bunga yang diminta Hania sejak menempati kamar itu. Dengan jendela kaca yang besar disisi lainnya, juga menghadap taman. Menimbulkan pemandangan yang menyejukkan mata.
Arga sengaja memindahkan kamar mereka ke kamar baru yang terletak di salah satu sudut lantai 1. Dan segera menjadi kamar favorit Hania. Pria itu tidak ingin mengambil resiko apapun dengan tetap menempati kamar lama mereka.
__ADS_1
Lambaian tangan Hania mengantar keberangkatan Arga. Sedan mewah itu mulai memasuki jalan raya dan langsung disambut kemacetan lalu lintas.
"Sekarang bukan hari senin 'kan, Za? Macet banget." celetuk Arga.
Reza terkekeh. Sebenarnya pria manis berkaca mata itu ingin tergelak tapi ditahannya. Celetukan Arga benar-benar mendiskripsikan suasana hari senin. Macet, buru-buru, dan tegang.
"Ada perayaan apa, Za? Ngga biasanya jalannya padat begini." kali ini suara Arga datar dan serius. Dia harus tiba di perusahaannya sebelum jam 9 pagi itu. Rapat direksi tidak akan dimulai tanpanya dan itu bisa menghambat jadwal yang telah disusun masing-masing peserta rapat.
"Sepertinya perayaan hari ulang tahun kota ini diadakan besar-besaran, Pak. Akan ada beberapa lomba yang melibatkan beberapa instansi pemerintahan dan swasta. Dan lomba itu akan diadakan di sepanjang jalanan ibukota. Mungkin ini salah satu rencana rekayasa lalu lintas yang dilakukan aparat untuk meminimalisir kemacetan." sahut Reza yang sudah dalam mode serius juga.
Rekayasa lalu lintas? Mau direkayasa seperti apapun, namanya ibukota, tetap saja macet. Kota besar itu sudah terlanjur dipenuhi berbagai suku dari berbagai pelosok tanah air. Dan sepanjang perjalanan yang biasanya sudah memakan waktu hampir 1 jam dikondisi normal itu, semakin memakan waktu dengan dialihkannya rute beberapa ruas jalan, membuat Arga lebih sering berdecak. Apalagi sudah bisa dipastikan dirinya akan terlambat beberapa puluh menit karena kemacetan itu.
Setibanya di perusahaan, Arga langsung menuju ke ruang rapat. Sementara Reza di cegat oleh seorang resepsionis. Takut-takut mengatakan padanya, ada seorang wanita cantik sedang menunggu pimpinan mereka di ruangan sang pimpinan. Ekspresi pria manis itu sempat menegang persis resepsionis itu namun segera bisa dikuasainya.
"Kenapa ngga kamu tahan? Bila perlu kamu usir dia!" suara Reza yang datar dan dingin membuat resepsionis itu semakin tertunduk.
"Maaf. Tadi ibu itu memaksa masuk dan mengancam akan memecat kami jika mencoba mencegahnya. Kami juga tidak menerima instruksi untuk mengusir ibu itu kalau datang kemari." lirih resepsionis itu dengan suara bergetar.
Reza mendesah. Iya. Resepsionis itu benar. Arga tidak berpesan apapun terkait wanita yang dimaksud resepsionis itu. Beruntung Arga tadi langsung ke ruang rapat tadi. Jadi untuk sekarang, keributan bisa ditunda.
Dalam perjalanan menuju ruang rapat, Reza memutar otaknya hingga berpilin. Dalam keadaan terdesak begini kenapa otak penuh ide cemerlangnya itu tidak bisa diajak kompromi? Dia berdecak.
"Eh, eh. Tahu ngga? Tadi Pak Arga bales senyum kita dong." celetuk seorang karyawan yang tampilannya modis bak model dengan genitnya.
"Sadar ngga sih? Pak Arga belakangan senyum terus tahu." imbuh karyawan modis lainnya dan diangguki rekan-rekannya.
"Ganteng banget tahu kalau dia senyum. Oh, ya ampun. Bu Hania bener-bener bisa bikin bos kita yang super dingin itu meleleh." seorang karyawan modis memekik tertahan memuji pimpinan mereka sekaligus salut pada istri sang pimpinan.
Reza mencuri dengar obrolan para karyawan yang berpenampilan modis di ruang foto copy. Iya. Karyawan Arga memiliki penampilan yang modis. Dibanding perusahaan furniture, perusahaan Arga lebih tampak seperti agensi modeling karena tampilan para karyawannya itu. Tapi Arga tidak pernah memusingkan penampilan para karyawan selama mereka bekerja dengan baik.
"Untung yang gue denger yang bagus-bagus." gumam Reza dalam hatinya.
"Tunggu! Mereka tadi nyebut nama Ibu Hania?" Matanya membelalak saat tiba-tiba otak yang di bilangnya cemerlang itu mencetuskan sebuah gagasan.
"Itu dia. Ibu Hania." serunya dalam hati lagi.
Segera diraihnya ponsel dalam saku celananya. Lalu sibuk mencari kontak istri pimpinannya. Dia sampai mengabaikan rapat yang mestinya ikut dihadirinya karena merasa harus mengurus 1 masalah yang lebih penting. Biarlah, rapat itu terap bisa berjalan meski dirinya tidak ada disana.
"Baiklah. Tadi presentasi yang mengesankan Pak Iden. Terimakasih. Presentase perusahaan bulan ini meningkat lagi 25 persen. Cukup signifikan. Bulan berikutnya harus ada kenaikan jauh lebih baik dari saat ini. Kita akhiri pertemuan pagi ini. Terimakasih atas waktunya dan selamat bekerja kembali." pungkas Arga mengakhiri rapat pagi yang memuaskannya itu.
Ekspresi senang yang tadi ditampilkan Arga dihadapan jajaran direksi seketika berbalik 180 derajat begitu keluar dari ruangan rapat. Datar dan dingin. Tampak sekali pria bermata tajam itu sedang kesal. Jelas saja kesal. Reza, asisten yang ditunggu-tunggunya tidak juga menampakkan batang hidungnya. Sedangkan dirinya tidak bisa meinggalkan rapat itu begitu saja.
__ADS_1
Arga sudah tahu jika wanita yang paling tidak ingin ditemuinya sedang menunggunya di ruangannya. Dian yang memberitahunya. Hanya Iden dan Reza yang bisa mengusirnya. Tapi sama halnya dengannya, Iden juga tidak bisa meninggalkan ruangan itu. Dan kemana pria berkacamata itu?
Sepanjang memimpin rapat pikirannya hanya berputar-putar pada kenangan masa lalunya. Bagaimana dengan teganya wanita itu mengabaikan putra semata wayang mereka dan akhirnya menyebabkan Devan meninggalkannya selamanya. Membuatnya kembali merasakan sakit hati. Iya. Arga tidak ingin menemuinya bukan karena rasa kecewa akan penghianatannya dulu. Dia tidak ingin menemuinya karena wanita itu hanya akan mengingatkannya pada kematian Devan, putranya.
Beberapa kali Dian, sekretaris cantiknya itu harus berdehem, mencolek, menyenggol ujung sepatunya, menyikut lengannya, dan berbagai cara lainnya hanya supaya pria karismatik itu kembali fokus pada rapat yang berlangsung.
"Kamu di sini!? Kenapa ngga muncul waktu saya butuh, Reza!?" bentak Arga saat bertemu Reza.
"Mas?" Arga bergeming. Dia hapal suara yang menyapanya. Lembut dan menyejukkan hatinya yang sedang panas karena kesal. Tatapannya melembut saat membalikkan badannya matanya bersitatap dengan wanita cantik itu.
"Honey? Ngapain kamu ke sini? Kamu ke sini sama siapa? Aku 'kan udah bilang, di rumah aja kalau ngga penting buat keluar-keluar. Nanti kalau kamu capek gimana? Kakimu bengkak, badanmu ngilu-ngilu, susah tidur jadi kurang istirahatnya." Hania hanya mengerucutkan bibirnya yang tadinya sudah tersenyum manis menyambutnya begitu Arga memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan dan peringatan-peringatan.
Sementara Iden hanya bisa mengulum bibirnya. Pria tampan khas blesteran itu ingin tergelak tapi itu pasti akan semakin merusak suasana hati sahabatnya itu. Dia masih merasa lucu melihat sikap Arga yang mendadak berubah menjadi cerewet sejak kehamilan Hania.
"Kenapa istriku di sini, Za!?" suara Arga sudah berubah lagi menjadi datar dan dingin.
"Periksa ponselmu, Ga!" Iden menginterupsi kekesalan Arga.
Masih dalam mode kesal yang berlipat-lipat, Arga merogoh ponsel dalam saku celana bahannya. Kini matanya fokus membaca beberapa pesan dari Reza. Hah. Ternyata benda pipih itu sedari tadi tidak aktif. Dia pasti tidak sengaja mematikannya sesaat sebelum memasuki ruang rapat. Niatnya hanya mengaktifkan mode senyap tapi kemungkinan dia keliru malah menekan tombol on off.
"Kamu juga dapat pesannya, Yan?" sekretaris cantik itu hanya mengangguk.
"Mau apa dia ke sini? Kenapa juga istri gue harus terlibat?" keluh Arga pada Iden.
"Apapun yang akan dibicarain sama Riska, pastikan Hania juga ikut denger. Setelah itu usir dia." pesan Iden dengan sorot mata tak suka.
"Lu ngga cinta lagi 'kan sama dia?" Iden mencekal lengan Arga dan menatapnya menyelidik saat akan beranjak membuat Arga berdecak.
Decakan Arga cukup menjadi jawaban yang meyakinkan Iden. Pria blesteran itu melepas cekalannya di lengan kokoh Arga, lalu mengendikkan bahunya.
Klek!
Tampak wanita cantik bertubuh seksi itu langsung berdiri dari duduknya sembari menyunggingkan senyum lebarnya.
"Arga." sapanya masih dengan senyum di bibir merah merah meronanya.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!
__ADS_1
🥰🥰🥰