Yang Terakhir

Yang Terakhir
156. Kedatangan Rosa


__ADS_3

Brak!


"Bu, anda tidak boleh...." Dian berusaha mencegah tapi terlambat lalu menatap Arga takut-takut.


"Arga." sapa Rosa yang memaksa masuk ke ruangan Arga.


"Pak. Maaf. Saya sudah mencegahnya tapi Bu Rosa memaksa masuk." ucap Dian seraya memasang wajah memelas, berharap atasannya tidak menyalahkannya.


Arga yang sedang menandatangani berkas dan Reza yang sedang menunggu atasannya menandatangani berkas, menoleh ke arah pintu yang dibuka dengan kasar.


Melihat Rosa berdiri di depan pintu ruangannya, emosi Arga langsung naik ke ubun-ubun. Pria itu teringat Hania yang dicelakai oleh wanita itu. Ingin rasanya secepatnya memenjarakan wanita itu tapi bukti yang dimilikinya belum cukup. Rekaman cctv di kafe resto itu sedang bermasalah hingga gambar yang ditangkap tidak begitu jelas.


"Makasih. Kamu boleh keluar!" perintah Arga pada sekretarisnya.


Dian menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan ruangan Arga. Terlihat sekali kelegaan yang terpancar di wajahnya. Sementara Reza, yang sejak awal memang kurang menyukai perilaku Rosa, hanya menatap wanita berpakaian kurang bahan itu tanpa ingin menyapanya. Seperti biasa, jika atasannya tidak memintanya meninggalkannya ketika ada tamu wanita berkunjung, pria berkacamata itu tidak akan meninggalkannya.


Arga menghela napas dalam untuk meredam amarahnya. Pria karismatik itu masih duduk seraya menatap Rosa dengan tajam. Dia tidak ingin menyambutnya.


Rosa berjalan mendekat dengan melenggak-lenggokkan pinggulnya yang tercetak jelas dalam balutan dres mini nan ketat yang dikenakannya. Terlihat seksi memang. Tapi Arga sama sekali tidak tertarik lagi. Dia sudah merasa cukup dengan adanya Hania dihidupnya. Apalagi Reza. Baginya Rosa bukan tipikal wanita yang akan diliriknya. Apalagi sampai membuatnya berjuang mendapatkannya.


"Ga. Apa kabarmu?" Arga menaikkan sebelah alisnya, dia muak melihat sikap manis wanita yang pernah disayanginya itu.


"Sudah cukup basa-basinya! Mau apa kamu kesini!?" tanya Arga dingin.


Rosa melirik Reza, dan Arga mengetahui maksud wanita seksi itu. Meminta Reza keluar dari ruangannya? Jelas itu tidak mungkin! Arga tidak suka berdua-duaan dengan wanita dalam 1 ruangan. Apalagi dengan Rosa.


"Bisa kita ngobrol berdua?" ucap Rosa setelah Arga tidak merespon maksudnya.


"Ngga bisa! Kalau kamu ngga mau, silakan keluar!" tolak Arga memtah-mentah.


Pria karismatik itu sebenarnya tidak ingin berurusan lagi dengan Rosa setelah wanita seksi itu menjebaknya. Bahkan dirinya pernah mencarinya untuk memberinya balasan tapi Rosa malah menghilang. Dan kini wanita itu datang lagi menimbulkan masalah baru baginya dan tentu saja Hania.

__ADS_1


"Aku cuma mau ngobrol aja, Ga. Ada yang mau aku ceritain tentang istri kamu. 'Kan ngga enak kalau sampe didengar orang lain." bujuk Rosa.


Wanita seksi itu mengira Arga akan meminta asistennya itu meninggalkan pria itu berdua saja dengannya setelah menyebut nama Hania. Dia yakin Arga akan marah dengan fakta yang akan disampaikannya dan meragukan Hania. Disaat itulah dia akan merayu Arga lagi. Tapi dirinya malah merasa jengkel dengan perlakuan Arga. Pria tampan yang pernah menjadi kekasihnya itu malah tertawa mengejeknya.


"Kamu juga bukan siapa-siapaku dan Hania. Kamu itu orang lain. Jadi, kamu sama aja dengan dia." cibir Arga membuat hati Rosa terasa panas.


Reza hanya mengulum senyum seraya menundukkan wajahnya. Rasanya lucu sekali melihat wajah Rosa yang tertampar kata-kata pedas Arga. Terlihat, kasihan.


"Iya. Aku memang orang lain tapi aku punya sesuatu yang harus kamu tahu tentang istrimu." Rosa masih berusaha membujuk Arga.


Arga menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia sudah ingin menendang wanita seksi itu dari ruangannya. Dia benar-benar baru mengetahui sifat Rosa yang suka memfitnah dan mengadu domba ini. Dulu, saat wanita itu masih menjadi kekasihnya, dia adalah gadis cantik yang selalu bersikap manis dan selalu positif. Atau dirinya saja yang tidak tahu?


"Jangan bertele-tele! Kalau ada yang ingin kamu bicarakan, bicaralah! Aku sibuk!" kesal Arga.


"Sibuk mencari cara menjebloskanmu ke penjara dan membiarkanmu membusuk di sana supaya ngga mengganggu Hania lagi." batin Arga.


Sebenarnya mudah saja bagi Arga untuk membuat Rosa mengakui perbuatannya pada Hania. Dia punya Kelik, si raja tega. Pria bertubuh kekar itu akan dengan mudah membuka mulut berbisanya Rosa. Tapi dia tidak ingin menjatuhkan martabat anak buahnya dengan menyodorkan Rosa sebagai sasaran investigasi mereka. Kenapa? Karena biasanya, dalam upaya membuat lawannya berbicara tak jarang pria kekar itu menggunakan ototnya. Dan pria sejati tidak melawan wanita. Itulah yang selalu digaungkan Arga pada anak buahnya. Memang dirinya lebih kesulitan, tapi dia tidak mau tangannya ternoda karena kasus Rosa.


"Aku tau kamu cinta banget sama istrimu. Tapi tau ngga kamu, kalau ternyata Hania itu selingkuh? Dan parahnya lagi laki-laki selingkuhannya itu deket banget sama kamu." Arga mengernyitkan keningnya, dia belum tahu arah pembicaraan Rosa ini.


"Apa kamu ngga curiga dengan anak yang dikandungnya? Gimana kalau itu bukan anakmu?" Rosa sengaja menghentikan ucapannya untuk melihat reaksi Arga.


"Dia anak Raka, Ga!" ucapnya lagi seraya menyunggingkan senyum seringainya.


Deg!


Jantung Arga berdetak kencang. Jujur pria itu terkejut. Benar kata Hania. Rosa mengetahui siapa ayah janin Hania. Arga menghela napas dalam perlahan. Pria itu berusaha bersikap tenang dan tidak terpengaruh dengan kata-kata Rosa, meski nyatanya hatinya tetaplah berdenyut nyeri ketika mengingat Hania mengandung anak Raka.


Arga menatap Rosa dengan tatapan tajam. Wanita di depannya ini berbicara dengan percaya diri seolah yang diketahuinya itu memang benar adanya. Dan itulah kenyataannya. Tapi tunggu! Darimana dia tahu? Selain dirinya, Iden, dan Reza, hanya Raka lah yang mengetahui kenyataan itu. Apa Rosa bertemu Raka baru-baru ini?


Reza yang sedari tadi hanya menunduk dan sesekali melirik Rosa, kini menoleh menatap wanita tak tahu malu itu. Pria manis berkaca mata itu menelisik Rosa. Insiden yang terjadi beberapa bulan yang lalu tidak banyak yang tahu, lalu darimana wanita seksi itu bisa tahu?

__ADS_1


"Sebenarnya apa tujuanmu!? Kenapa sepertinya kamu suka sekali mengganggu Hania!?" bukannya merespon aduan Rosa, Arga malah menanyakan hal lain.


"Kamu ngga percaya kalau anak yang dikandung Hania itu anak Raka?" Rosa makin menegaskan kenyataan yang bikin sakit hatinya Arga itu.


"Aku tau, b*tch!" umpat Arga dalam hatinya.


"Terus apa urusannya sama kamu!?" tanya Arga remeh.


"Pergilah! Kamu buang-buang waktu dengan obrolan ngga jelas kayak gini!" usir Arga.


"Tapi, Ga. Aku ngomong ini karena aku punya buktinya." kukuh Rosa.


Wanita seksi itu masih enggan untuk meninggalkan Arga. Tujuannya belum tercapai. Jangankan tercapai, hilalnya saja belum nampak.


"Kamu butuh paksaan?" ancam Arga membuat Rosa berdecak sebal.


"Aku tahu dimana pintunya!" Rosa beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu ruangan Arga.


"Oh ya, hubungi aku kalau kamu berubah pikiran." Rosa berbalik dan mencoba mempengaruhi Arga.


Tidak akan!


Arga menatap Reza.


"Suruh orangmu ngikutin dia! Saya yakin saat ini dia bersama Raka." perintah Arga yang diangguki Reza.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2