
Ibu Irene seperti melihat putrinya yang sudah tiada ketika melihat Hania. Inka. Ingatannya kembali berputar ke masa 33 tahun yang lalu. Dimana dirinya harus mengandung tanpa didampingi sang suami yang sudah menuduhnya berselingkuh. Bahkan menganggap bayi dalam kandungannya itu hasil dari perselingkuhannya.
Saat itu, hati Bu Irene sangat terluka dan kecewa. Dengan perasaan teramat lelah, wanita itu memilih menerima keputusan sang suami yang ingin bercerai dengannya. Dia membawa pergi bayi dalam kandungannya.
5 bulan setelah kepergiannya, 2 sosok bayi mungil yang sangat cantik lahir ke dunia. Namun satu diantaranya meninggal dunia. Inka. Itulah nama yang disematkannya pada bayi cantik itu. Ibu Irene yang hidup sebatang kara, hanya memiliki Inka sebagai pengobat lara dan sepinya.
Hingga suatu ketika, kejadian tak terduga membuatnya kembali bertemu dengan suaminya. Saat itu hatinya masih terluka dan kecewa.
"Sayang, kembalilah." permintaan itu kembali terucap dari bibir Pak Pratama. Pria paruh baya itu seperti tak lelah membujuk.
"Kita sudah berpisah, Mas. Sudah cerai. Jadi ngga ada alasan bagiku untuk kembali." tolak Bu Irene dengan nada datar.
"Siapa bilang? Wanita hamil tidak boleh diceraikan. Jadi Papa ngga pernah melayangkan tuntutan perceraian ke pengadilan agama manapun. Papa juga ngga pernah mengucap kata talak." tegas Pak Pratama.
"Papa minta maaf karena menuduhmu. Papa benar-benar dibutakan oleh rasa cemburu, Ma. Papa khilaf." lanjutnya dengan wajah sendu.
"Papa sangat menyesalinya, Ma. Sungguh. Setiap saat selalu kepikiran Mama. Selalu berharap kita bisa ketemu lagi dan memperbaiki semuanya. Kita akan hidup sama-sama lagi. Papa janji, ngga akan bersikap seperti itu lagi." ucapnya seraya mengusap airmata yang sudah membasahi sudut matanya.
"Ngga ada Mama di sisi Papa, bikin hidup Papa ngga tenang. Hidup Papa jadi berantakan. Anak-anak ngga keurus dengan baik. Daripada memikirkan mereka, Papa lebih sering mengabaikan mereka. Ma. Please. Pulang ya?" Pak Pratama terus membujuk wanita yang statusnya masih menjadi istrinya itu.
Bu Irene yang sedari tadi hanya diam mendengar perkataan sang suami, diam-diam memperhatikan penampilan suaminya itu. Pria yang dulunya gagah, kini tampak lebih tua, tubuhnya kurus, wajahnya kusam karena bulu-bulu yang mulai memanjang tak dicukur, dan tampak redup.
Begitu pula dirinya. Sejak memutuskan pergi, wanita itu merasa malas merawat dirinya. Penampilannya berubah 180 derajat. Ironis memang. Perpisahan itu ternyata tidak membuat keduanya bahagia namun mereka memutuskan untuk sepakat berpisah, dulu.
"Mama?" seru Inka yang baru terbangun dari tidurnya.
"Sayang, anak mama udah bangun?" sahut Irene seraya mengulurkan tangannya meminta gadis kecil itu untuk menghampirinya.
Pak Pratama tidak berkedip melihat Inka. Gadis kecil itu mirip sekali dengan istrinya. Seketika hatinya berdenyut nyeri. Karena ulahnya, dirinya tidak bisa menemani sang istri selama kehamilannya. Apalagi setelah tahu jika istrinya hamil anak perempuan.
"Dia, putriku?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
Selama mendekati istrinya kembali, Pak Pratama memang belum pernah bertemu Inka. Bu Irene selalu menyembunyikannya. Kini, dirinya melihat sendiri, hidung gadis kecil itu adalah hidungnya, kulit kuning langsat yang jelas seperti kukitnya, begitu pula rambutnya yang bergelombang.
"Bukannya, Mas ngga mengakui dia?" sindir Irene.
Pak Pratama kelu seketika. Dia memang pernah tidak menerima bayi dalam kandungan istrinya karena rasa cemburunya.
"Sayang, maafkan aku. Aku khilaf." pintanya lagi seraya berlutut di hadapan Bu Irene sambil menggenggam jemari istrinya itu.
Dirinya tidak peduli dengan tatapan polos yang keheranan dari Inka. Yang terpenting dirinya harus bisa mendapatka hati istrinya lagi.
__ADS_1
"Pulanglah, Ma. Ada Rendy dan Iden yang menunggumu dan membutuhkan kasih sayangmu juga, Ma. Apa kamu ngga kangen mereka?" ucap Pak Pratama, membuat Bu Irene goyah.
Tentu saja Bu Irene merindukan kedua jagoannya itu. Sudah bertahun-tahun tidak melihat putra-putranya, pastilah mereka sudah tumbuh besar sekarang.
"Mereka pasti senang dengan kedatangan adik perempuan mereka." rayu Pak Pratama.
"Pulanglah, sayang. Aku merindukanmu, jagoan-jagoan kita juga. Aku janji, aku hanya akan memberimu kebahagiaan mulai saat ini." imbuhnya.
Sudah banyak airmata dan kesusahan yang dikeluarkannya selama kepergian sang istri. Pak Pratama tidak akan melepaskannya lagi. Dia sangat mencintai Bu Irene. Tapi kesalahannya di masa lalu membuatnya sempat kehilangan wanita cantik itu. Kini, pria itu tidak akan mengulanginya.
Hati Bu Irene mendadak tak dapat menahan rasa rindunya pada kedua putranya yang sudah lama dipendamnya. Atas dasar perasaan rindunya itu pulalah Bu Irene menyetujui ajakan Pak Pratama untuk kembali.
"Ada yang mau kauceritakan." ucap Bu Irene membuat Pak Pratama menatapnya dengan perasaan ketar-ketir.
"Inka sayang. Kamu mainan di dalam dulu ya. Mama mau ngomong sama Papa." pinta Bu Irene dengan suara lembut yang langsung diangguki gadis kecil itu.
Bu Irene menatap putrinya memasuki kamarnya. Menunggunya sesaat lalu memulai ceritanya. Belum-belum, mata Bu Irene sudah mengembun.
"Sebenarnya, aku melahirkan bayi kembar, Mas. Keduanya perempuan. Tapi kembaran Inka meninggal dihari kelahirannya." tangis Bu Irene pecah.
"Apa?" lirih Pak Pratama.
Hatinya berdenyut nyeri mengetahui kembaran putrinya meninggal dunia sebelum dirinya sempat menemuinya. Airmatanya ikut mengalir membasahi sudut matanya. Sungguh. Dirinya merasa gagal melindungi keluarganya.
"Bukan salahmu, Ma. Aku yang salah. Aku yang ngga bisa jaga kalian." lirih Pak Pratama seraya memeluk istrinya.
Sepasang suami istri yang baru saja berbaikan itu menangis bersama dan saling menguatkan. Mereka berpelukan cukup lama, sekaligus melepaskan rasa rindu yang selama ini ditutupi perasaan kecewa.
Pagi itu, tawa riang Inka tampak mewarnai rumah sederhana yang ditempati Bu Irene. Sejak kedatangan papanya, gadis kecil itu lebih bersemangat. Sudah lama dirinya menantikan sosok pria dewasa yang disebut ayah itu datang menjemputnya seperti kata ibunya. Dan hari itu, Pak Pratama akan membawanya ke rumah ayahnya itu.
Dalam suasana hati yang mulai menghangat Pak Pratama membawa pulang kembali istri dan putrinya. Perjalanan panjang yang ditempuh bahkan tidak terasa lama bagi Pak Pratama.
"Pantas saja aku sulit menemukanmu, Ma. Kamu berlari cukup jauh rupanya." ucap Pak Pratama lalu terkekeh.
Bu Irene hanya tersenyum menanggapi ucapan pria yang masih berstatus suaminya itu. Dalam hatinya dirinya menyesali sikapnya dulu. Seandainya dirinya bisa sedikit bersabar, pasti keluarga mereka akan berbahagia.
Brak!
Benturan keras di sisi kanan mobil membuat Bu Irene terkejut bukan main. Mendadak dirinya merasakan pusing dan pandangannya kabur. Wanita itu merasakan seperti terbanting dari ketinggian. Dengan sekuat tenaga dirinya meraih tangan sang suami yang tak sadarkan diri. Menggerak-gerakkannya. Tapi usahanya sia-sia. Dia menoleh ke kursi belakang dimana Inka duduk.
"Inka." lirihnya, airmatanya langsung mengalir begitu melihat keadaan putri kecilnya yang juga tak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah.
__ADS_1
Bu Irene berusaha tetap sadar meski kepalanya terasa berputar. Sayup-sayup terdengar orang-orang mulai berdatangan dan mencoba membantu, sebelum akhirnya wanita cantik itu jatuh pingsan.
Klek!
Suara pintu yang dibuka membuyarkan ingatan Bu Irene. Wanita paruh baya yang tadinya memandang langit itu menoleh ke arah pintu. Lalu tersenyum ketika melihat putra bungsunya menghampirinya.
"Ma?" sapa Iden seraya memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu dengan erat.
"Aku senang Mama udah sehat lagi." imbuhnya.
Seminggu ini, Iden harus ke negara matahari terbit menggantikan Arga yang sedang berbulan madu bersama istrinya. Hingga dirinya tidak dapat menemani ibunya selama di rumah sakit. Bahkan saat ibunya diperbolehkan pulang pun, pria tampan itu belum juga kembali.
"Sudah pulang?" suara bariton seorang pria gagah menyapanya, membuat Iden menoleh.
"Pa." sapa Iden seraya mengurai pelukannya dari sang ibu.
"Aku langsung ke sini begitu sampe." sahut Iden seraya memeluk ayahnya ala pria dewasa.
"Kamu makan malam di sini, ya." tawar sang Ibu, tapi tawaran itu terpaksa ditolaknya karena malam ini dirinya harus menghadiri jamuan makan malam dari kolega perusahaan Arga.
Meski ada kekecewaan karena putra bungsunya itu jarang meluangkan waktu bersamanya, Bu Irene memakluminya.
"Kapan-kapan kamu harus makan malam bareng papa mama lho, Den." ucap Bu Irene yang langsung disanggupi Iden.
Pria yang mewarisi wajah blesteran sang ibu itu merasa bersalah karena jarang menghabiskan waktu bersama keluarganya. Dan dengan berat hati undur diri dari kediaman orangtuanya.
Pak Pratama menatap istrinya dengan tatapan sendu. Pria yang masih tampak tampan diusia senjanya itu kemudian memeluk Bu Irene.
"Kita harus ngasih tahu anak-anak, Ma. Mereka berhak tahu." ucap Pak Pratama lembut.
"Mama ngerti, Pa. Tapi apa Papa yakin, hasil penyelidikan anak buah Papa itu valid?" Bu Irene kembali meyakinkan dirinya.
"Mama ngeraguin kredibilitas anak buah Papa?" alih-alih meyakinkan istrinya, Pak Pratama justru pura-pura merajuk.
"Ngga gitu, Pa. Aku cuma ngga mau kecewa." lirih Bu Irene.
Pak Pratama langsung memeluk istrinya. Pria paruh baya itu tidak tega melihat istrinya menjadi sedih. Dirinya akan melakukan apa saja untuk membahagiakan sang istri. Pak Pratama benar-benar memenuhi janjinya. Akan membuat keluarganya bahagia dan melindunginya sepenuh hati dan sekuat tenaga.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘