Yang Terakhir

Yang Terakhir
169. Pemakaman Raka


__ADS_3

Arga mengepalkan tangannya dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Setelah membaca pesan yang dikirimkan asistennya, Arga langsung meninggalkan kamarnya dan Hania. Kini pria karismatik itu berada di ruang kerjanya dan mendengarkan penuturan Reza.


"Kamu yakin?" tanyanya dengan suara datar.


"Sebaiknya anda melihat sendiri kondisi Pak Aris." saran Reza.


Perintah Arga untuk membawa pergi Oom Aris sebelum sempat dibawa polisi saat itu gagal dilaksanakan Reza. Tanpa diduga, Oom Aris yang sudah terluka dan mengalami patah tulang kaki, tiba-tiba terlepas dari cekalan Reza yang hendak memasukkannya ke dalam sebuah mobil box yang dibawa Kelik. Dengan tertatih pria paruh baya itu langsung membajak mobil seorang warga yang baru saja turun dan membawanya kabur.


Kaburnya Oom Aris langsung diketahui pihak berwenang setelah Reza dengan sengaja meneriakkan nama Oom Aris. Beberapa polisi pun mengejarnya begitu pula Reza dan Kelik.


Karena Oom Aris tidak mengindahkan peringatan polisi untuk berhenti, kejar-kejaran pun tidak dapat terhindarkan. Pria paruh baya itu tampaknya tidak ingin kembali ke dalam jeruji besi yang sudah bisa dipastikan akan menghabiskan sisa umurnya di dalam sana dengan pengaruh Arga.


Hampir sejam, kejar-kejaran itu terjadi. Hingga tiba di sebuah pertigaan, mobil yang dikendarai Oom Aris oleng ketika menghindari truk yang melintas berlawanan arah dengannya. Membuatnya menabrak pembatas jalan dan menyerempet sebuah mobil yang membuat mobil yang dikendarainya berputar lalu menghantam pohon besar di tepi jalan. Kejadian itu berlangsung sangat cepat.


Kecelakaan mengakibatkan mobil itu ringsek di bagian depan sampai belakang pada sisi kanannya. Oom Aris yang terjepit badan mobil tidak bisa lagi bergerak apalagi meloloskan diri. Evakuasinya pun memakan waktu yang lama karena harus memotong pintu dan bagian body mobil yang menjepit tubuhnya, membuat pria paruh baya itu kehilangan banyak darah dan akhirnya meninggal.


Arga memijit pelipisnya seraya menyandar di kursi kerjanya. Mendadak pusing. Sebenarnya enggan untuk melihat keadaan sang paman. Tapi hanya dirinya yang berstatus keluarga.


Akhirnya dengan berat hati Arga datang juga ke rumah sakit yang disebutkan Reza. Seorang diri. Mewakili sang ibu yang sedang berada di luar kota. Dirinya sengaja tidak memberitahukannya pada sang ibu. Akan lebih baik daripada jika ibunya terkejut dan terjadi apa-apa. Meskipun sering dikecewakan adik iparnya, ibunya Arga selalu memaafkan dan tetap berlaku baik. Rupanya sifat itu menurun pada Arga. Baik yang tidak pada tempatnya. Baik tapi merugikan.


Niatnya hanya untuk memastikan jasad sang paman saja. Dia tidak ingin kecolongan lagi seperti dulu. Sudah dijebloskan ke balik jeruji besi, nyatanya masih berkeliaran membuat kekacauan, termasuk meneror sang ibu. Membuat wanita paruh baya itu terkena serangan jantung. Menculik dan mencelakai Hania. Juga membunuh Raka. Lalu pria karismatik itu menyerahkan urusan pemakaman pada Reza, asistennya. Kemudian berlalu dari rumah sakit itu.


Sedan mewah Arga meluncur membelah keramaian jalan utama ibukota. Satu jam lebih berkendara, akhirnya Arga tiba di sebuah komplek pemakaman. Barusan Iden menghubunginya, memberitahukan bahwa mantan sahabatnya itu akan segera dimakamkan.


Arga keluar dari mobilnya dengan kaca mata hitam yang melekat dihidup mancungnya menambah kesan maskulin yang menawan. Dengan langkah tenang dia mendatangi sekerumunan orang yang salah satunya sangat dikenalnya. Iden.


Liang lahat tempat Raka dimakamkan baru saja selesai diuruk. Perlahan pria tampan itu mendekat ke arah ibu Monica.


"Tante...." sapanya bergetar setelah mendudukkan dirinya di sebuah kursi di sebelah wanita paruh baya itu.


"Arga." lirih ibu Monica seraya menoleh pada Arga.


Ibunya Raka menghamburkan dirinya memeluk Arga dan menangis sesenggukkan di dada pria yang dikenalnya sebagai sahabat mendiang putranya itu. Menumpahkan segala pilu yang ditanggungnya. Sungguh, kenyataan yang diterimanya sangatlah berat. Raka adalah putra semata wayangnya dengan suaminya yang terdahulu. Betapa dirinya sangat menyayangi putranya itu.


Hatinya terasa sangat nyeri. Mengingat belasan tahun hubungannya dengan sang putra tidak berjalan mulus karena Raka tidak menyetujui pernikahannya. Karena itu juga dirinya harus terpisah dari Raka dan mengikuti suami barunya tinggal di Jerman.


Sebagai seorang ibu, mendengar putranya mengalami kesusahan, pastilah ingin membantu. Maka dengan harapan bisa memperbaiki hubungannya dengan Raka, ibu Monica pulang ke tanah air. Bahkan dirinya belum sempat bertemu dengan putranya dalam keadaan bernyawa, namun kini dirinya sudah mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya.


Arga pun merasakan hal sama. Takdirnya tidak mengizinkannya membalaskan rasa sakitnya pada Raka. Mungkin Tuhan menginginkannya tetap menyayangi pria itu sebagai sahabatnya. Buktinya, hingga kemarin pun Arga belum bisa melakukannya. Meski pengakuan Raka membuatnya geram.


"Gue tahu yang lu lakuin ke pernikahan gue yang dulu. Tapi gue ngga bisa salahin lu aja. Riska juga salah. Untuk yang dulu, gue bisa maafin elu. Mungkin memang harus begitu untuk nunjukin sifat asli mantan gue." ucap Arga beberapa hari yang lalu ketika menunggu anak buahnya mencari lokasi Hania. Mereka hanya berdua di dalam sedan mewah Arga.


"Jadi, lu udah tahu?" Raka menundukkan kepalanya, menggaruk pelipisnya.


"Tapi untuk kali ini, gue ngga akan biarin lu ganggu pernikahan gue lagi." lanjutnya penuh penekanan, menatap lurus ke depan.


Saat itu, Raka hanya terkekeh tanpa membalas kata-kata Arga.

__ADS_1


"Jangan ganggu Hania lagi. Dia istri gue!" Arga menoleh ke arah Raka yang duduk di samping kanannya seraya menekan kalimat terakhirnya menunjukkan kepemilikannya.


"Gue jatuh cinta sama Hania. Ada anak yang ngehubungin gue sama dia, man." ucap Raka tenang seraya membalas tatapan Arga yang menghunus tajam.


Arga mengetatkan rahangnya. Mantan sahabatnya itu benar-benar membuatnya geram.


"Jangan egois! Lu pasti tahu gimana reaksi Hania ketika deket sama elu! Dan karna keegoisan lu itu, Hania kehilangan calon bayinya!" Arga menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


"Apa? Lu sengaja ngomong gini supaya gue ngga deketin Hania 'kan?" tanya Raka tidak percaya begitu saja.


"Gue bukan pecundang. Meski posisi gue terancam, gue ngga akan pernah ngelakuin hal yang bikin gue kehilangan harga diri." tegas Arga sekaligus menyindir pria yang duduk di sampingnya.


"Hania tertekan. Kandungannya bermasalah kalau lu mau tahu. Gue sama Hania sedang berjuang mempertahankan janin itu. Tapi lu yang ngerasa pemilik janin itu malah ngacauin semua. Sampai kemarin, selama ini dia akan ketakutan dan panik kalau liat elu apalagi ketemu." terang Arga panjang datar.


Mata Arga sudah berkaca-kaca demi mengingat kesakitan Hania dalam mempertahankan janinnya. Di saat dirinya sudah mulai menyayangi janin itu, janin itu malah pergi. Meninggalkan harapan yang belum sampai terwujud.


Sementara Raka, pria itu tampak sudah beberapa kali mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya. Dia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit mobil, mencegah airmatanya terus turun. Mungkin merasa kehilangan. Atau merasa bersalah. Atau merasakan keduanya.


"Maafin Raka ya, Ga. Tante mohon maafin dia." pinta Tante Monica di sela isakannya.


Arga menghela napasnya dalam-dalam. Menahan airmatanya agar tidak luruh. Pria tampan itu juga bersedih. Bagaimanapun Raka juga tahapan penting dalam hidupnya.


Iden yang duduk di sisi lainnya Tante Monica ikut menenangkan ibu dari Raka itu dengan mengusap bahunya.


Sementara suami baru Tante Monica yang langsung berangkat ke tanah air usai Tante Monica memberi kabar, memilih menyingkir dahulu, memberi kesempatan pada sahabat putra sambungnya untuk berbelansungkawa. Pria paruh baya yang memiliki garis keturunan Jerman itu sebenarnya juga menyayangi Raka. Hanya saja, sikap Raka yang terus-terusan menentang pernikahannya dengan ibunya, membuatnya lebih banyak diam dan terkesan tidak peduli.


"Mas." sambut Hania begitu melihat Arga masuk seraya beranjak dari duduknya lalu menghampiri Arga yang juga menghampirinya.


Matanya tak luput dari sosok pria yang ikut berdiri yang sedang menatapnya seraya melemparkan senyum tipisnya. Sangat tipis hingga tak terlihat oleh Arga. Secara impulsif Arga melingkarkan tangannya ke pinggang ramping sang istri. Ingin menunjukkan bahwa dialah pria yang memiliki Hania.


"Mas. Galih ada sedikit kerjaan di sini jadi dia sempetin mampir." terang Hania yang sudah mencium aroma-aroma cemburu dari sang suami.


"Kapan lu datang?" tanya Arga datar seraya mendudukkan dirinya di samping Hania di seberang Galih.


Arga tampak berusaha berdamai dengan hatinya yang cemburu ketika berdekatan dengan Galih. Meskipun dia tahu betul bagaimana Hania menganggap Galih, tapi dirinya tetap mencemburui pria berwajah manis itu. Dia tahu bagaimana Galih menganggap Hania. Meski mengaku sebagai sahabat, tapi dari sorot matanya, Arga tahu bagaimana besarnya cinta Galih untuk Hania. Memang sejauh ini, Galih tidak pernah menunjukkan gelagat yang mencurigakan, seperti berusaha merebut Hania. Namun, Arga merasa harus tetap waspada. Dia terlalu mencintai istrinya.


"Tadi pagi." sahut Galih singkat, pria itu mendudukkan dirinya kembali.


"Sorry, gue langsung kesini begitu tahu alamat ini." lanjutnya lagi.


"Lu liat sendiri 'kan Hania baik-baik aja? Karena ada gue yang akan selalu mastiin itu." tekan Arga.


Galih hanya tersenyum sinis seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Hania sudah merasa tidak enak hati pada sahabatnya itu.


"Memang harusnya begitu 'kan? Suami itu pelindung istrinya. Dan bisa memastikan istrinya tidak tersentuh sedikitpun." sindir Galih.


Arga mengernyitkan keningnya. Matanya menghunus tajam ke arah Galih. Ingin rasanya menendang pria bertubuh atletis itu dari rumahnya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya penuh sindiran. Arga menghela napas perlahan berusah tidak terpancing.

__ADS_1


"Hum. Gimana kalau kita makan malam dulu? Nanti 'kan bisa ngobrol-ngobrol lagi. Kamu makan di sini ya Galih, aku masak agak banyak tadi." ucap Hania memecah ketegangan.


"Kayaknya dia ngga bisa deh, honey. Bukankah biasanya akan ada jamuan dari klien dalam membahas kerjasama antar perusahaan? Ngga menghormati banget kalau nanti jadi ngga berselera. Ya 'kan?


Galih baru akan menerima tawaran Hania. Sudah lama dia merindukan sahabat cantiknya itu. Ingin mengobrol lebih lama dan juga ingin merasakan masakannya yang selalu menjadi favoritnya. Tapi sepertinya keinginannya tidak akan tersampaikan malam ini. Selain Arga menolaknya, ucapan suami sahabatnya itu ada benarnya. Nanti malam dirinya memiliki janji dengan klien perusahaan tempatnya bekerja.


"Mas, apa-apaan sih? Kok sikapnya begitu sama Galih?" protes Hania saat Galih sudah meninggalkan kediaman mereka.


"Aku hanya waspada, honey." kilah Arga seraya melingkarkan tangannya di pinggang Hania.


"Waspada sama apa?" Hania mulai memberengut.


"Ancaman asing dari orang terdekat." sahut Arga enteng.


"Mas curiga sama aku!? Sama Galih!? 'Kan aku udah pernah bilang, dia itu sahabat aku, Mas. Ngga percaya banget sih!" ketus Hania seraya melepas tangan Arga yang melingkar di pinggangnya lalu melenggang meninggalkan Arga menaiki tangga menuju kamarnya.


"Honey? Katanya mau makan? Arahnya ke sini bukan ke situ." seru Arga masih berdiri di tempatnya.


Pria tampan itu sempat tertegun ketika Hania tiba-tiba berbicara ketus padanya. Apalagi tangannya yang melingkar damai di pinggang sang istri dilepas secara paksa.


"Makan aja sendiri! Aku ngga lapar!" seru Hania tanpa menoleh.


"Honey!?" seru Arga lagi.


Brak!


Gebrakan di pintu yang ditutup dengan keras mendengung ke penjuru ruangan rumah besar itu. Arga sempat berjengit saking terkejutnya. Dia tidak pernah mendapati Hania bertindak kasar sebelumnya.


Bi Sumi yang tadinya menyiapkan peralatan makan di meja makan juga ikut berjengit. Sambil memandang ke lantai atas, wanita paruh baya itu menghampiri Arga yang masih tertegun di tempatnya seraya menatap ke pintu kamarnya.


"Mba Hania kenapa, Mas?" tanya Bi Sumi dengan raut cemas.


"Gawat, Bi. Dia marah kayaknya." Arga tidak dapat menutupi raut yang tak kalah cemasnya dari Bi Sumi.


"Aku harus apa, Bi?" tanya Arga menatap Bi Sumi yang menepuk jidatnya.


"Ya, ya Mas Arga kejar lah. Trus nanti dirayu-rayu. Biasanya 'kan perempuan suka digombalin, Mas." ucap Bi Sumi memberi saran.


"Gitu ya, Bi. Aku ngga pernah liat Hania marah soalnya. Doain berhasil ya, Bi." ucap Arga seraya menggenggam tangan wanita paruh baya itu.


"Dasar bucin! Liat istrinya marah malah bengong. Mas Arga, Mas Arga." cibir Bi Sumi yang masih melihat majikannya berlari menaiki tangga seraya mengulum senyum menahan rasa geli melihat tingkah Arga lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2