Yang Terakhir

Yang Terakhir
171. Apa Bisa?


__ADS_3

Hania menatapi wajah Arga yang tertidur pulas di sampingnya dalam satu selimut yang sama dengannya. Tangan kekar pria tampan itu masih setia melingkar di perut rampingnya. Wajah dengan rahang tegas itu tampak tenang setelah semalaman sibuk memuaskan diri.


"I want you." ucap Arga setelah pengakuannya semalam di halaman belakang rumah besarnya.


Hania yang masih terbuai dengan pengakuan sang suami tidak sanggup menolak kecupan lembut yang semakin lama semakin menuntut dari suami tampannya. Hingga akhirnya keduanya tidak dapat menahan hasrat lagi. Arga mengangkat tubuh Hania yang bagaikan seringan kapas dan menggendongnya di depan dengan gaya romantis. Sesekali pria karismatik itu ******* bibir wanita cantik itu dengan lembut.


Arga menghempaskan tubuhnya ke samping tubuh Hania yang baru selesai dipuaskannya sekaligus membuatnya puas. Tanpa obrolan malam seperti biasa, pria tampan itu hanya membelai dan menghirup aroma rambut istrinya hingga membuat keduanya tertidur.


"I love you." suara serak Arga menyapa gendang telinga Hania membuat wanita cantik itu terkejut dan sedikit memundurkan wajahnya.


"Mas udah bangun?" Hania tidak menyadari Arga yang sudah terjaga dari tidurnya, pasalnya, pria itu masih memejamkan matanya.


Cup. Bukannya menjawab Arga malah ******* bibir merah jambu milik istrinya itu dengan lembut. Seandainya tidak terganggu ketukan pintu di kamarnya, mungkin Arga akan berselancar lagi bersama istrinya.


Karena kesal, Arga sedikit kasar membuka pintu kamarnya hingga membuat Bi Sumi sedikit terkejut dan malah tertegun di tempatnya. Pasalnya, wanita paruh baya itu melihat majikannya hanya melilitkan selimut di tubuhnya.


"Ada apa, Bi?" Arga sampai mengulang pertanyaannya.


"Eh. Maaf, Mas. Itu, ada Mas Iden nungguin di bawah." sahut Bi Sumi sedikit gelagapan.


Arga bergegas membersihkan dirinya setelah memberi kecupan mesra di kening Hania.


"Aku nemuin Iden dulu. Kalau perlu aku, aku ada di ruang kerja." pamit Arga setelah mengecup kening Hania sekali lagi sebelum meninggalkan wanita yang masih bermalas-malasan di tempat tidur itu.


Drrrt. Drrrt. Drrrt.


Getaran dari ponsel yang sengaja di letakkan Arga di atas meja kerjanya membuatnya mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas yang di antarkan Iden ke rumahnya. Pria karismatik itu mengernyitkan kening seraya menatap nomor telepon lokal tanpa identitas yang tertera di layar ponselnya.


"Halo." sapanya.


"Selamat siang, Pak. Saya Reza. Saat ini saya sedang di kantor polisi bersama Pak Sam." sahut Reza di ujung ponsel Arga.


"Ada apa?" tanya Arga datar.


"Pihak polisi menemukan Bu Rosa dalam keadaan mengenaskan, Pak. Saat ini Bu Rosa sedang di rawat di rumah sakit." terang Reza.


"Apa hubungannya dengan saya!?" tanya Arga kesal dengan gaya bicara yang sudah kembali ke mode formal.


Pria karismatik itu kesal karena harus mendengar nama Rosa lagi. Sungguh. Sejak dirinya mengetahui Rosa menjebaknya beberapa waktu yang lalu, Arga seakan tidak ingin mengenal wanita seksi itu lagi.


"Dia selalu menyebut nama anda. Sepertinya wanita itu ingin bertemu dengan anda." sahut Reza meralat sebutan untuk Rosa begitu mendengar suara Arga yang menjadi datar dan dingin. Dia paham, Arga kini membenci Rosa.


"Saya ngga akan menemuinya!" putus Arga dengan nada datar.


"Dia sedang kritis, Pak. Mungkin ada yang ingin disampaikannya pada anda. Meminta maaf mungkin." saran Reza.


Cih! Rosa ingin meminta maaf? Arga sangat mengenal Rosa. Wanita itu selalu merasa di atas angin. Apa yang diinginkannya akan terpenuhi dalam sekali jentikan jari. Dirinya pernah menjadi orang yang selalu menuruti keinginan wanita itu, dulu. Jadi, menurutnya tidak ada sesuatu hal yang akan membuat wanita itu merendahkan dirinya untuk meminta maaf. Bagi orang-orang yang punya sifat tinggi hati, meminta maaf adalah sikap merendahkan diri. Dan itu melekat pada Rosa.

__ADS_1


"Perlu anda ketahui jika wanita itu ditemukan di apartemen almarhum Pak Raka, Pak." Arga terdiam mendengar nama mantan sahabatnya disebut.


Raka? Kenapa wanita itu ada di apartemen mendiang mantan sahabatnya? Arga menyugar rambutnya dengan kasar.


Dan di sanalah Arga berada sekarang. Didampingi Iden dan Reza. Di sebuah kamar rawat inap rumah sakit milik keluarga Darren. Rasa penasarannya terhadap hubungan Raka dengan wanita itu menuntunnya untuk akhirnya menemui Rosa. Kenapa hingga akhir hayatnya pria itu masih terseret masalah dengan wanita seksi itu?


Pemandangan yang jauh berbeda dari keseharian Rosa tersuguh dengan miris. Wanita itu terbaring tak berdaya dengan wajah dan tangan yang tampak lebam dan babak belur. Dari bekas luka yang mengering, sepertinya wanita itu mengalami perlakuan kasar berulang kali. Arga mendesah. Entah perasaan apa yang kini dirasakannya. Sedikitpun tidak ada rasa iba yang terbersit di benaknya.


"Arga." lirih Rosa ketika membuka matanya, dirinya melihat sosok pria yang masih dikaguminya meskipun dirinya pernah meninggalkannya.


"Ehem!" Arga berdehem untuk memecah keheningan dan meyadarkan Iden dan Reza yang tampaknya terkejut dan terpaku menatap tubuh yang tampak tak cantik karena luka di wajah dan tubuhnya.


"Bisa kita... ngobrol berdua?" pinta Rosa dengan suara lemah seraya melirik Iden dan Reza yang berdiri di samping dan belakang Arga.


"Ngga bisa! Kalau ada yang perlu lu omongin, omongin secepatnya! Gue sibuk!" tolak Arga, membuat Iden dan Reza mengurungkan diri membalik tubuh mereka meninggalkan Arga.


"Tapi...." Rosa masih mencoba membujuk Arga.


"Gue pergi!" potong Arga cepat dan sudah membalik tubuhnya membelakangi Rosa.


"Jangan! Oke... Aku ngomong sekarang. Please! Dengerin aku!" lirih Rosa menuruti keinginan Arga.


"Kamu ngga mau tahu kenapa aku bisa kayak gini? Siapa yang ngelakuin ini ke aku?" ucap Rosa mencari perhatian Arga.


Meski lemah, wanita seksi itu masih ingin menarik perhatian Arga, pria yang pernah menjadi kekasihnya dulu.


"Raka!" Arga menghentikan langkahnya ketika nama Raka disebut. Ada rasa kesal ketika mendengar nama mantan sahabatnya disebut-sebut untuk menggerakkan hatinya.


"Dia yang ngelakuin ini ke aku, Ga." Arga mengepalkan tangannya mendengar ucapan Rosa, bukan karena kesal Raka menyakiti Rosa tapi kesal karena wanita itu membawa-bawa Raka yang sudah tiada.


"Raka pasti punya alasan!" tekan Arga.


"Maaf." lirih Rosa, tangisnya pecah, membuat Arga dan kedua pria yang sedari tadi diam di sekitar mereka sedikit membelalakkan matanya.


Ketiga pria bertubuh atletis itu seakan tak percaya wanita itu mengucap kata maaf. Apakah wanita itu sedang berputus asa? Atau pura-pura terlihat lemah agar Arga memaafkannya? Atau hanya mencari simpati Arga? Masing-masing kepala punya asumsi sendiri-sendiri.


"Aku yang dorong Hania waktu dia jatuh dari tangga beberapa bulan yang lalu, Ga. Aku ngga suka kalau Hania hamil anak Raka. Aku ngga mau perhatian Raka teralih dariku." aku Rosa disela isakannya.


"Lu memang wajar dapat perlakuan kayak gini! Lu udah keterlaluan! Siap-siap aja setelah keluar dari rumah sakit ini, penjara nungguin lu!" ucap Arga menekan setiap kalimatnya seraya menahan amarah.


Arga benar-benar meninggalkan kamar rawat Rosa setelah menyelesaikan perkataannya. Melangkah panjang-panjang menuju parkiran.


Ingatannya kembali melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu sebelum Raka meninggal.


"Lu tahu siapa yang nyelakain Hania?" tanya Raka pada Arga yang menunggu informasi keberadaan Hania dari anak buahnya, tetapi Arga hanya menggelengkan kepalanya.


"Rosa!" ucap Raka penuh tekanan.

__ADS_1


"Rosa?" Arga mengulang ucapan Raka.


"Ya. Gue udah kasih dia pelajaran." lanjut Raka.


"Di mana dia!?" tanya Arga dengan sorot mata tajam menatap Raka.


"Urusan Rosa, biar gue yang beresin. Please!" pinta Raka dengan mimik serius, membuat Arga mengalah.


Raka menyukai Rosa sejak mereka bertemu. Dan Arga tahu betul itu. Hanya saja, Rosa memilih Arga sebagai kekasihnya. Meski dirinya sudah menolak. Hingga Raka meyakinkan dirinya untuk menerima wanita itu.


"Oke. Lu urus dia dengan bener!" putus Arga.


"Thanks." ucap Raka.


Arga menoleh lagi ke arah Raka. Seolah meyakinkan bahwa dirinya tidak salah dengar. Barusan mantan sahabatnya itu mengucapkan kata terimakasih. Apakah mereka sedang berbaikan?


"Thanks for believe me." ucap Raka seraya menatap Arga lalu mengalihkan tatapannya seraya terkekeh.


"Apa lu ngajak gue baikan?" tebak Arga masih menatap Raka.


"Apa bisa?" hati Arga serasa tercubit mendengar pertanyaan Raka.


Arga mendesah. Sungguh. Dia ingin persahabatan yang pernah retak, bisa terjalin kembali. Tapi bayangan Hania yang dihancurkan oleh pria itu, membuatnya membentengi keinginan itu. Karena bersamaan dengan hancurnya Hania, dirinya pun ikut hancur.


"Apa bisa kita baikan?" ucapan Raka terngiang lagi di benaknya. Kala itu, Arga hanya membisu. Hatinya gamang.


Arga mengusap cairan bening yang mengalir di sudut matanya. Hatinya benar-benar berdenyut nyeri. Rasanya begitu menusuk hingga ke ulu hati, membuatnya serasa dihimpit benda besar.


Arga tiba di kediamannya saat senja menjelang. Pria itu dengan lesu memasuki rumahnya, bahkan hanya membalas sapaan Bi Lastri dengan anggukan. Tidak seperti biasanya juga yang selalu menanyakan keberadaan Hania ketika dirinya tidak melihat sang istri menyambutnya ketika dirinya pulang. Kali ini, Arga melewati asisten rumah tangganya tanpa kata.


Klek!


"Mas. Udah pulang?" sambut Hania dengan senyum mengembang.


Arga langsung memeluk tubuh rampingnya Hania. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selalu wangi menurutnya.


"Ada apa?" tanya Hania lembut seraya membalas pelukan Arga.


Pria tampan itu hanya menggeleng. Tidak mungkin dirinya menambah beban pikiran sang istri yang masih belum pulih benar.


"Aku kangen." lirih Arga tanpa melepas pelukannya, bahkan mempereratnya.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2