
Sudah pasti Arga meradang. Selain kerugian materi, Arga juga harus mengesampingkan kepentingan pribadinya. Dengan terpaksa mengingkari janjinya pada seorang gadis kecil, putri dari wanita idamannya. Ah. Pastilah gadis kecil foto kopian ibunya itu kecewa.
Rasanya seperti mengingkari janjinya pada putranya yang telah tiada, dulu. Seketika ingatannya kembali. Dia tidak pernah selalu bisa meluangkan waktu untuk putranya Devan. Dulu, rasa bersalahnya tidak sebesar sekarang. Setelah kepergian Devan, semua tak lagi sama. Perasaan bersalah berputar terus dalam memorinya. Rasa menyesal membuatnya merasa hampa.
Dulu, dengan mudah dirinya mengabaikan putranya, mengabaikan keinginan putranya. Dirinya sering melihat wajah kecewa putranya karena penolakannya tapi tidak terlalu memusingkannya. Dia tidak tahu putranya bahkan tidak mendapat perhatian penuh dari ibunya. Mantan istrinya itu sama sibuknya dengannya.
Arga membayangkan wajah kecewa Devan dulu dan wajah sendu Tiara. Gadis kecil itu sekarang pasti merasa diabaikan seperti yang mendiang putranya rasakan. Meskipun Hania tidak mengatakan apapun tentang Tiara, Arga tahu gadis kecil itu kembali merajuk. Dia tidak mau berbicara padanya melalui telepon atau panggilan video. Ya. Anak perempuan lebih mudah mengekspresikan perasaannya.
Saat ini adalah hari ketiga gadis kecil itu menghindarinya. Dirinya merasa bersalah. Apalagi Hania tidak menyalahkannya karena sudah menjanjikan sesuatu. Wanita cantik bermata kelinci itu selalu menghiburnya dan membantu menenangkan Tiara. Membuatnya merasa lebih tenang.
"Kita bisa kembali besok pagi Pak", ucap Adi.
"Kenapa besok? Hari ini ngga bisa?", tawar Arga.
"Tapi malam ini Mr. Ruben mengundang anda makan malam di kediamannya. Saya rasa tidak enak menolaknya", terang Adi.
Arga terdiam. Benar juga yang dikatakan asistennya. Mr. Ruben cukup menghargai i'tikad baik Arga yang datang menemuinya langsung di negaranya untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Jadi sebagai balasannya, pria paruh baya itu mengadakan makan malam untuk Arga di kediamannya. Dan memenuhi undangan makan malam itu adalah sebuah kehormatan baginya. Meskipun jadi menunda kepulangannya.
"Ya sudah. Kamu boleh istirahat sekarang. Atau mau jalan-jalan?", perintah Arga.
Adi menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
"Saya bisa tersesat nanti Pak", gurau Adi, menolak halus tawaran Arga.
Bukannya Adi tidak ingin kemana-mana selama di negeri kincir angin. Tapi sejak kedatangan hingga akan kembali pulang, satu yang paling diinginkannya adalah tidur yang cukup.
Arga benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mempercepat penyelesaian masalah agar bisa segera kembali. Tapi ada harga yang harus dibayar. Waktu istirahat menjadi berkurang.
Dan belum seminggu mereka berada di negara asal bunga tulip itu, masalah sudah dapat dikendalikan. Bahkan Mr. Ruben tidak jadi menuntut ganti rugi dan sepakat membayar bea cukai secara penuh, karena merasa mendapat kawan bisnis yang memiliki visi yang sama.
Jam menunjukkan angka 9 malam lebih sedikit waktu Jakarta, ketika pesawat yang membawa Arga mendarat mulus di landasan bandara Soetta. Pria tampan itu langsung menuju mobil yang sudah menjemputnya. Mang Diman sudah bersiaga di area penjemputan.
Jam 11 malam, Arga baru tiba di kediamannya. Rasa lelah segera mengantarnya ke kamar tidurnya. Setelah membersihkan diri, dia naik ke ranjangnya yang nyaman. Tak lama dia tertidur.
Bip bip bip bip.
Bunyi alarm terdengar menggema dalam kamar Arga yang luas. Dengan malas ditekannya alarm itu hingga suaranya tidak terdengar lagi. Arga kembali terpejam.
"Mas, kamu udah pulang?", mata Arga langsung terbuka, dia seperti mendengar suara Hania yang lembut.
Suara yang sangat dihafalnya tiba-tiba seperti berbisik ditelinganya. Suara Hania. Wanita cantik yang sedang dikejarnya. Arga menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari datangnya sumber suara. Tapi sosok wanita yang belakangan ini mengisi hatinya itu tidak ada disana. Arga bangkit dan menyandar pada kepala ranjang. Dia tersenyum tipis.
"Ah. Aku bener-bener rindu kayaknya", gumamnya lalu terkekeh sendiri.
__ADS_1
Diraihnya ponselnya yang terletak sembarang di atas ranjang. Lalu mulai mengetik pesan. Untuk Hania. Tapi sejurus kemudian, dia menghapusnya. Dia ingin menemui wanita cantik itu tapi dia ingat masih harus menuntaskan urusannya dengan Mr. Ruben.
Drrrt drrrt drrrt.
Ponsel dalam genggaman Arga bergetar. Sekretarisnya itu sudah menghubunginya.
"Selamat pagi Pak. Maaf Pak, hari ini bapak ke kantor jam berapa? Agar meeting hari ini bisa disesuaikan", Dian langsung menyambar begitu Arga menyapa.
Arga melirik jam di atas nakas. Jam 9. Ah. Dia melewatkan rapat pagi ini. Arga menyugar rambutnya. Tidak biasanya dia begitu. Meski lelah, Arga akan selalu datang ke kantornya tepat waktu. Ada apa dengannya? Apakah daya tahannya ikut melemah seperti hatinya yang melemah takluk pada seorang wanita?
"Undur hingga jam 11", perintahnya.
"Baik Pak", sahut Dian seraya mengangguk seakan-akan atasannya itu ada di depannya.
Arga bersiap dan segera berangkat ke kantornya tanpa sarapan. Sampai-sampai Bi Sumi menawarkan membawakan Arga bekal. Tak ayal ide Bi Sumi mendapat kekehan dari Arga.
"Ngga usah Bi, nanti aku makan di kantor aja", tolak Arga.
"Aku berangkat Bi, hati-hati di rumah", pesan Arga yang selalu diucapkannya pada wanita paruh baya yang sejak kecil merawatnya itu.
"Iya Mas, hati-hati", balas Bi Sumi.
Seperti biasa Arga mengendarai sendiri mobilnya. Sesampainya di lobi, Arga bertemu Adi yang sengaja menunggunya ketika dirinya melihat mobik Arga memasuki area gedung perusahaan itu.
"Jadi bisa kan pengiriman dilakukan minggu depan? Saya tidak mau kesalahan seperti minggu lalu terulang lagi. Pastikan sudah diperiksa dengan teliti!", ucap Arga.
Anggota rapat yang terdiri dari perwakilan divisi ekspor impor, kompak mengangguk. Mereka harus bekerja dengan ekstra teliti mulai sekarang. Arga sudah mengultimatum tidak ada dispensasi untuk kesalahan yang sama dilain waktu.
"Baiklah, rapat hari ini selesai. Saya tunggu laporannya. Selamat siang", ucap Arga menutup rapat, lalu meninggalkan ruangan itu.
Tok tok tok.
Ketukan di pintu ruangan Arga terdengar nyaring, membuat si empunya ruangan mengurungkan niat untuk bangkit dari kursi kebesarannya. Pintu terbuka lalu muncullah penampakan sekretaris Arga yang cantik dan seksi tapi sama sekali tidak membuat Arga tertarik.
"Maaf Pak, untuk makan siang...", ucapan Dian terpotong.
"Saya makan di luar aja", potong Arga, Dian mengangguk.
Dia sudah tidak sabar menemui Hania dan tentu saja Tiara yang sedang merajuk.
"Nanti jam 2, ada rapat dengan divisi RnD Pak", konfirmasi Dian, Arga mengangguk.
"Hanya itu agenda anda setelah jam istirahat", pungkas Dian.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu istirahat juga", perintah Arga yang diangguki Dian.
"Kalau begitu, saya permisi Pak", Dian meninggalkan ruangan setelah undur diri.
Arga menekan interkom yang terhubung ke ruangan Reza yang juga ruangan Adi. Tak lama berselang ketukan dipintu terdengar lagi. Adi masuk dengan langkah tegapnya.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu", sapa Adi formal.
"Tolong gantikan saya pimpin rapat nanti, saya ada keperluan di luar. Kamu bisa konfirmasi ke Dian", perintah Arga.
Adi hanya bisa pasrah saja. Memang itulah tugasnya. Menggantikan peran atasannya jika sang atasan berhalangan. Hah. Pak Reza cepatlah kembali. Mendadak dirinya merindukan rekannya dan berharap rekannya cepat kembali. Dengan begitu, pekerjaannya menjadi lebih ringan.
Arga tiba di restoran Hania. Senyumnya mengembang tipis merasakan jantungnya yang berdebar. Persis seperti abg yang akan menemui gebetannya.
Hania sedang menyapu halaman restorannya dari ruangannya di lantai dua. Hari ini, restorannya sedang di reservasi untuk resepsi pernikahan sehingga dirinya bisa bersantai sejenak setelah menyiapkan segala keperluan katering. Pesta di lantai satu restorannya tidak menarik minatnya untuk bergabung.
Di halaman parkir sebuah sedan mewah terparkir tidak jauh dari pintu masuk. Tatapannya terpaku mengamati sedan mewah itu. Seperti sedan yang dikenalnya. Matanya terbelalak ketika melihat seorang pria tinggi atletis keluar dari mobil itu. Seketika senyumnya mengembang. Ada rasa senang menelusup dihatinya demi melihat pria itu. Entah kenapa melihat pria tampan itu hatinya seketika merasa tenang.
"Mas Arga sudah kembali?", gumamnya.
Dengan langkah cepat Hania menuruni tangga restorannya hendak menghampiri Arga.
"Bu Hania, ada Pak Arga", bisik seorang karyawan yang bertugas mengawasi katering di acara resepsi.
Hania hanya mengangguk. Jelas saja dirinya sudah tahu. Memangnya untuk apa dia turun dengan tergesa-gesa jika tidak untuk menemui pria tampan itu.
Tamu undangan sontak menoleh ke arah Arga yang masuk dengan santainya tanpa tahu disana sedang berlangsung sebuah pesta. Para wanita langsung mengagumi wajah tampannya. Apalagi yang merasa dirinya masih single. Bahkan dengan sengaja menarik atensi pria tegap itu. Namun, Arga yang tatapannya hanya tertuju pada seorang wanita cantik bermata kelinci yang sedang berjalan menghampirinya, tidak menggubrisnya. Pria itu tetap berjalan tenang menghampiri Hania.
"Mas kesini?", sapa Hania dengan senyum yang mengembang sempurna, tidak dapat menutupi perasaannya yang bergejolak.
"Apa kamu sengaja bikin acara kayak gini buat nyambut kedatanganku?", gurau Arga seraya memamerkan deretan gigi putihnya.
"Aku bahkan ngga tau kapan Mas pulang", sahut Hania disela kekehannya.
Tangan Arga menyambut uluran tangan Hania, lalu menggenggamnya erat dan membawanya menepi. Tidak ingin menjadi tontonan para tamu undangan.
Hania mengajak pria tampan itu ke lantai dua. Menuju ruangan terbuka yang menghadap ke arah taman di samping restoran. Angin sepoi-sepoi bertiup lebih kencang disana. Mengusir hawa panas siang itu.
*******
Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan votenya, mumpung hari ini hari senin boleh dong kasih vote 😊😊😊
Terimakasih
__ADS_1