
Arga tidak kembali ke perusahaannya siang itu. Pria tampan itu memilih menemani Hania. Hingga dirinya teringat jika belum makan siang. Dan waktunya sudah terlewat beberapa jam yang lalu. Pantas saja perutnya terasa mual dan nyeri. Keringat dingin pun mulai membasahi tubuhnya meski suhu di ruangan Hania sejuk.
Hania langsung panik ketika Arga memuntahkan isi perutnya di toilet dalam ruangan itu. Hania memijat tengkuk Arga. Wanita cantik itu semakin cemas melihat wajah Arga yang memucat.
"Mas ngga apa-apa?" tanya Hania sambil menuntun Arga kembali ke sofa dan mendudukkan pria itu disana lalu ikut duduk di sebelahnya.
"Perutku." lirih Arga menahan perih yang selalu muncul ketika dirinya terlalu sering menunda waktu makannya. Kini pria itu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Iya? Perut Mas kenapa?" Tangan Hania reflek mengelus perut Arga. Meski berbalut kemeja, Hania dapat merasakan bentuk perut itu. Kotak-kotak. Seperti yang pernah dilihatnya dulu. Mengingat perut kotak-kotak Arga, wajah Hania mendadak merona.
"Aargh!" erang Arga tertahan seketika menarik Hania dari pikirannya yang tidak-tidak.
Hania bangkit dari duduknya. Wanita itu bergegas menekan telepon yang terhubung ke dapur.
"Buatkan jahe merah hangat, kasih madu. Sama sup asparagus dan bubur nasi. Antar ke ruangan saya. Secepatnya!" perintah Hania pada seorang waitres yang mengangkat panggilannya.
Wanita cantik itu lalu berjalan ke arah lemari di belakang meja kerjanya. Mengambil kotak obat-obatan. Dia mencari sebotol minyak kayu putih dan obat pereda mual. Jika dugaannya benar, Arga menderita asam lambung, dia berharap dengan meminum obat pereda mual, pria itu bisa makan tanpa mengeluarkannya lagi. Dan minyak kayu putih bisa menghangatkan perutnya.
Sangat kebetulan sekali wanita itu memiliki sediaan obat pereda mual itu. Beberap waktu yang lalu, wanita cantik itu juga tiba-tiba muntah-muntah tak jelas, dan setiap makanan yang dimakan akan dimuntahkan lagi.
Hania kembali duduk di samping Arga. Menyiapkan obat pereda mual dan air mineral dan menyerahkan pada Arga agar pria itu meminumnya. Arga menurut saja. Rasa perih yang melilit membuatnya tak berdaya. Bahkan ketika Hania meminta izin mengusapkan minyak kayu putih di perutnya pun, pria itu hanya mengangguk. Dia sudah tidak peduli bahkan mungkin tidak kepikiran jika nantinya sentuhan jari Hania di perutnya akan membangunkan 'jendral jack'nya.
Arga memejamkan matanya dan mendesis ketika jari Hania mulai menyentuh kulit perutnya. Mengusap dengan lembut di sana. Benar, pria itu baru menyadarinya setelah jari Hania bersentuhan langsung dengan kulit perutnya. 'Jendral jack'nya akan bereaksi berlebihan, padahal sentuhan Hania bukanlah sentuhan menggoda.
Pria itu merasakan hangat bukan hanya di perutnya tapi juga di hatinya lalu menjalar ke bawah. Membuatnya frustrasi. Dasar duda menahun! Dirinya mengumpati 'jendral jack'nya.
Sentuhan wanita cantik itu membuat perutnya terasa lebih enakan. Tidak senyeri tadi. Berkurangnya rasa nyeri membuatnya bisa lebih merasakan sentuhan lembut Hania yang mendadak membangkitkan gairahnya.
Tok tok tok!
__ADS_1
Ketukan di pintu, mengalihkan perhatian Hania yang masih setia mengelus-elus perut Arga. Dan Arga yang menikmati sentuhan Hania. Tak lama berselang, seorang waitres sudah masuk membawa nampan berisi pesanan Hania.
Arga yang masih dalam posisi bersandar di sandaran sofa sambil mengancingkan kemejanya, menarik perhatian waitres tadi. Sedangkan Hania sibuk menyingkirkan kotak obat-obatan dan beberapa barang yang berceceran di atas meja.
"Haduh! Timingnya ngga tepat nih. Mengganggu dong aku?" gumam waitres itu dalam hati.
Pemandangan itu tak ayal menimbulkan pikiran kotor di kepala waitres itu. Disangkanya, atasannya sedang berasik masyuk dengan kekasihnya yang tampan. Karena ketika dia masuk tadi Arga sedang mengancingkan kemejanya sementara Hania pura-pura sibuk membereskan barang-barang di atas meja. Begitu pikirnya.
"Maaf Bu, sa-saya sudah mengetuk p-pintu tadi dan mengantarkan pe-pesanan ibu." ucap waitres yang berusia kira-kira 20 tahunan itu terbata seraya melirik ke arah Arga.
Hania mengerutkan alisnya, merasa heran dengan sikap gadis itu. Wanita cantik itu ikut melihat ke arah lirikan mata karyawannya. Dia melihat Arga masih mengancingkan bajunya. Hania lalu mendesah. Dia tahu kenapa karyawannya itu gugup.
Hah. Pasti gadis itu mengira dirinya dan Arga sedang berbuat yang tidak-tidak. Hania jadi kesal dengan pikiran gadis itu karena secara tidak langsung karyawannya menuduhnya yang bukan-bukan.
"Jangan mikir yang ngga-ngga. Yang terjadi ngga seperti yang kamu pikirin!" tegur Hania sedikit ketus membuat gadis tadi semakin gugup.
Arga yang mendengar Hania menegur karyawannya dengan ketus spontan mengangkat kepalanya menatap wanita cantik itu.
"Tolong kamu letakkan di meja." perintah Hania.
Waitres itu segera meninggalkan ruangan Hania setelah meletakkan makanan yang dipesan atasannya.
"Haduuh...! Ini otak piktor mulu. Lagian ini muka juga kentara banget kalau lagi piktor!" gerutu waitres tadi sambil terus melangkah meninggalkan lantai 2.
Hania menyiapkan makanan untuk Arga dalam porsi kecil. Sementara Arga terus memperhatikan wanita yang dengan telatennya melayaninya dan merawatnya.
"Waitres tadi kenapa?" tanya Arga memecah keheningan.
"Ngga apa-apa." sahut Hania dengan datar tidak ingin membahas pikiran mesum karyawannya.
__ADS_1
"Kok ketus? Dia sampe ketakutan lho tadi." sindir Arga.
Hania hanya melirik Arga, membuat pria tampan itu terkekeh. Wanita cantik itu memberengut. Dia kesal karena Arga tidak peka. Ulah siapa coba mengancingkan baju di depan waitres tadi. Membuat gadis tadi berpikiran yang tidak-tidak.
"Mas makan dulu." perintah Hania lembut meskipun tadi melirik Arga dengan tajam.
Arga menerima mangkuk berisi bubur nasi dan sop asparagus itu. Meski sebenarnya pria tampan itu tidak ingin menyantap apapun karena takut nantinya akan mual dan muntah lagi, tapi tangannya menyuapkan bubur itu ke mulutnya juga. Dia senang Hania memperhatikannya. Makan dalam porsi sedikit memang sudah jadi kebiasaan Arga tapi kali ini beda. Ada rasa sakit yang harus ditahannya. Butuh perjuangan untuk menghabiskan makanan itu.
"Kenapa ngga bilang sih kalau Mas punya asam lambung?" tanya Hania sambil memperhatikan Arga makan.
"Mas pasti belum makan 'kan tadi?" cecar Hania, wanita cantik itu kesal Arga mengabaikan sakitnya.
"Harusnya Mas itu disiplin kalau udah tau sakitnya apa, bukan abai begini." omel Hania.
"Giliran kerjaan aja bisa tertib." Hania mengoceh sambil mengulurkan gelas berisi jahe hangat pada Arga.
"Biarpun sibuk harus diimbangi dengan pola hidup yang bener." lanjutnya masih mengomeli Arga.
"Pasti rajin olahraga kan? Masa' pola makannya ngga bisa teratur? Sama aja kan? Mengatur waktu olahraga sama waktu makan. Lebih sepele malah," cerocos Hania.
Arga hanya mendengar omelan demi omelan yang terdengar merdu di telinganya. Senyuman tipis terbit di bibirnya. Hatinya senang ada wanita yang mengomelinya. Aneh memang.
Hania makin kesal saja karena Arga sepertinya mengabaikan omelannya. Wanita itu memberengut lagi. Dia tidak tahu jika Arga sudah gemas. Ingin mengecup bibir pink muda itu dan me****tnya hingga puas.
"Biasanya Mas minum obat apaan?" tanya Hania, tangannya sudah menggenggam ponsel siap memerintah karyawannya membelikan obat yang akan disebutkan Arga.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1