Yang Terakhir

Yang Terakhir
79. Wanita Yang Kukejar


__ADS_3

Drrrt drrrt.


Arga mengernyitkan keningnya. Getaran ponselnya sangat mengganggu tidurnya. Pasalnya, semalam pria itu baru bisa terlelap setelah jarum jam menunjukkan angka 4. Entahlah. Terakhir kali dia melihat jam digitalnya memang menunjukkan angka 4. Sudah sangat terlambat untuk berangkat tidur.


Drrrt drrrt.


Arga menoleh pada jam digitalnya. Jam 8. Cahaya temaram di kamar Arga belum lagi tirai tebal tak tembus cahaya menambah kesan malam di kamar itu. Membuat Arga tidak menyadari jika pagi sudah lama menyapa. 


"Awas saja kalau itu Reza, Iden, Rizal, atau yang lainnya." gerutu Arga seraya mencari keberadaan ponselnya yang tidak ditemukannya di atas nakas.


Dia ingat, semalam dirinya memegang ponselnya, nekat menghubungi Hania dan berakhir dengan diabaikan. Lalu memutuskan mengirimkan pesan pada wanita lembut itu. Dengan pesan itu, dia berharap besok akan mendapat kejutan. Semoga saja Hania paham maksudnya. Hah. Baru kali ini, dia begitu mengharapkan sesuatu.


"Ck! Mana, sih?" Arga menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, masih mencari ponselnya.


Drrrt drrrt.


Getaran yang kesekian barulah pria tampan itu menemukan ponselnya tergeletak di kaki ranjangnya. Jatuh. Pantas saja dia tidak menemukan di atas ranjang.


"Hania?" sebuah nama yang sangat diharapakan menyapanya pertama kali ketika dirinya bangun tidur itu tertera di layar ponselnya.


"Han?" senyum lebarnya masih terulas di bibirnya ketika pria itu menyapa wanita di ujung ponselnya.


"Mas?" sapa Hania kemudian hening.


"Ya, Han?" tanya Arga karena Hania tak kunjung berbicara lagi. Wanita itu seperti ingin mengutarakan sesuatu.


"Umm... Mas? Hari ini Mas sibuk ngga?" ada rasa kecewa menelusup ke dalam hatinya, wanita cantik itu menghubunginya bukan untuk memberinya kejutan seperti yang diharapkannya.


"Ada apa, Han?" meski kecewa, Arga tetap bersemangat jika berhubungan dengan wanita lembut itu.


"Siang ini bisa temeni aku ngga? Tiara ada acara di sekolahnya. Jam 1 an. Bisa?" wajah Arga langsung sumringah, Hania melibatkannya dalam acara putrinya.


"Bisa dong." jawabnya bersemangat.


"I'll do anything for you, sweetheart!" batin Arga.


Sambungan ponselnya terputus. Arga segera bangkit dari ranjangnya. Pria itu sangat bersemangat. Tidak ada lagi wajah mengantuk yang tertinggal di wajah tampan itu.


Tak berselang lama, Arga sudah siap dengan setelan kerjanya. Kemeja maroon yang lengannya digulung sebatas siku. Celana bahan berwarna hitam dilengkapi ikat pinggang warna senada membelit pinggang kokoh Arga. Sepatu pantofel hitam mengkilat menambah kesan formal. Meski tanpa dasi dan jas, pria itu tetap saja terlihat berwibawa.


"Pagi Mas." sapa Bi Sumi seraya meletakkan gelas berisi air mineral di sebelah kanan Arga.


"Pagi Bi." balas Arga.


Pria itu mulai mengisi piringnya dengan nasi goreng favoritnya. Tak membutuhkan waktu lama untuk memindahkan isi piring itu ke perutnya. Arga agak terburu-buru pagi ini. Dia harus secepatnya menyelesaikan pekerjaannya hari ini dan menemui Hania. Ah. Dia merasa seperti abg yang sedang kasmaran.


Sesampainya di perusahaannya, Arga sudah disambut sapaan hormat dari para karyawannya. Tapi moodnya langsung memburuk begitu melihat seorang wanita cantik dan seksi yang hampir membuatnya mendapat masalah beberapa hari yang lalu. Hah. Dia lupa meminta Reza mengurusnya.


"Selamat pagi, Pak." sapa wanita itu dengan senyum menggoda seperti biasa, tidak ada takut-takutnya pada Arga.


Arga hanya melewatinya tanpa berniat membalas sapaan itu meskipun dengan 'hum' andalannya. Meliriknya pun Arga tak ingin.

__ADS_1


Tubuh tinggi Arga yang proporsional dan kadar ketampanan rata-rata atas, membuatnya didambakan setiap wanita termasuk Bela. Padahal Iden juga menyuguhkan pemandangan yang diinginkan Bela. Tubuh dan ketampanan Iden, sebelas duabelas dengan Arga. Bahkan dirinya sudah merasakan kehebatan pria blesteran itu di atas ranjang. Tapi pesona Arga yang dingin membuatnya penasaran. Bela tertantang merayu pria seksi tak tersentuh itu.


Bela masih memperhatikan Arga yang berjalan dengan tenangnya. Tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku dan tangan kiri membawa tas laptop. Lengan kemeja yang selalu digulung hingga ke siku membuat lengan kokoh Arga terlihat. Benar-benar dia ingin merasakan tangan itu merengkuhnya dan membelainya. Ah. Bela jadi ter*ngs*ng setiap membayangkan Arga.


"Hah. Kenapa sulit sekali mendekatinya? Bahkan dalam keadaan tak sadar pun dia tak tertarik menyentuhku." monolog Bela dalam hatinya.


"Liat apa?" terdengar suara bariton tiba-tiba menyapa Bela, membuatnya terkejut.


Suara yang sangat dihafalnya. Bahkan des*h*n malamnya pun selalu membekas di benaknya. Membuatnya ingin dan ingin lagi dipuaskan pria itu. Iden.


"Eh? Pak Iden. Pagi, Pak." Bela selalu bersikap formal jika tidak sedang berdua dengan atasannya itu, seraya menyunggingkan senyum genit yang selalu ditampilkannya untuk menyambut Iden.


"Liat apa?" tatapan Iden tidak beralih dari wajah seksi sekretarisnya itu.


Alih-alih membalas sapaan sekretaris genitnya, Iden malah mengulang pertanyaannya. Iden melihat dengan jelas bagaimana Bela menatap Arga penuh damba. Meski begitu,  pria flamboyan itu tidak pernah mencemburui Bela. Baginya Bela hanya selingan.


Dan saat ini dia tengah mencari tahu keterlibatan sekretaris cantiknya itu dengan petaka yang menimpa Arga. Sahabatnya itu sudah mengatakan apa yang menimpanya hingga harus berakhir di rumah sakit. Begitu juga sahabatnya yang lain. Dia masih belum yakin akan aduan para sahabatnya tentang obat si**an itu. Jangan sampai rencananya gagal karena Arga memecatnya.


Arga memasuki ruangannya dengan perasaan kesal. Di belakangnya. Dian sudah mengekor dengan setia siap membacakan agendanya hari itu.


"Pak, Citra Enterprise meminta bertemu dengan anda siang ini? Apa bisa saya jadwalkan sekarang?" lapor Dian.


"Kosongkan jadwal saya setelah jam 12. Saya ada perlu di luar. Untuk Citra Enterprise, jadwalkan besok saja. Fokuskan ke jadwal yang sudah kesusun." perintah Arga.


Eh? Dian mengernyitkan alisnya. Pendengaran tidak mungkin salah. Atasannya itu menolak bertemu kliennya? Tumben. Biasanya, pekerjaan di atas segalanya. Tapi barusan atasannya itu lebih memilih mengurus keperluannya di luar. Dan sudah bisa dipastikan itu adalah keperluan pribadi. Apa karena wanita cantik kemarin itu ya? Pikiran Dian melayang kemana-mana. Ah. Terserah deh. Dia bosnya.


"Baik, Pak." Dian mengangguk sopan.


"Hari ini tidak ada rapat, Pak." Arga menganggukkan kepalanya tapi tatapannya fokus pada laptopnya.


"Kamu boleh keluar." perintah Arga.


"Kamu tau kan kemarin saya hampir dapat masalah karena sekretarisnya Iden?" Reza mengangguk. 


Arga memang belum bercerita padanya tapi pria itu adalah orang yang peka, hanya dengan mendengar cerita dari sahabat-sahabat Arga, dia sudah tahu.


"Kenapa tidak dipecat saja, Pak?" bukan hanya sekali itu Reza menyarankan Arga menghentikan Bela dari perusahaannya.


"Iden, dia bersikukuh bahkan memohon padaku untuk tidak melakukannya." ucap Arga.


"Kamu cari tau apa alasan Iden mempertahankan perempuan itu." perintah Arga. Lama-lama dia gerah juga dengan tingkah sekretarisnya Iden.


"Jangan sampai Iden tau kita sedang menyelidikinya." tekan Arga.


"Baik, Pak." jawab Reza.


"Kamu boleh keluar." perintah Arga.


Arga menyusul Reza keluar ruangannya. Tapi tujuannya adalah pantry. Pria itu ingin mengendurkan otot-otot tubuhnya yang menegang karena kesal memikirkan sekretaris Iden yang semakin tak tahu batasan dan ngototnya Iden mempertahannya. Apa mungkin Iden mencintai wanita itu? Arga menggelengkan kepalanya tanda dia tidak yakin. Iden bukan tipe pria setia, tidak mungkin mengenal cinta dalam hubungannya dengan wanita manapun.


Pantry kosong ketika Arga tiba di sana. Kemana para OB dan OG? Arga menggaruk alis tebalnya. Melangkah mendekati kabinet berisi perkakas dan aneka bubuk minuman. Menyiapkan sendiri kopi yang ingin dinikmatinya. Bubuk kopi hitam kualitas baik selalu tersedia di sana. Karyawannya seperti tahu, kopi itu hanya untuknya. Jadi, tidak ada yang berani ikut menikmatinya.

__ADS_1


Kegiatannya terganggu ketika pintu pantry terbuka. Sosok wanita yang tidak ingin ditemuinya masuk ke ruangan itu.


"Pak, anda di sini?" sapanya seraya tersenyum lebar.


"Anda membuat kopi sendiri? Biar saya bantu, Pak" sekretaris Iden merangsek maju hendak membantu Arga.


Arga hanya diam tidak mempedulikan wanita itu. Kehadirannya di pantry membuatnya ingin melayangkan kata-kata pedas saja, tapi dia juga malas menanggapi wanita itu. Arga terkejut ketika tiba-tiba Bela sudah berada di dekatnya dan menyentuh tangannya yang sedang mengaduk kopi. Bahkan menempelkan dadanya yang besar ke lengannya. Arga langsung menyentak tangan Bela membuat wanita itu mundur selangkah.


"Jaga sikapmu!" peringat Arga dingin tanpa menoleh.


"Maaf, Pak. Saya hanya ingin membantu." ucap Bela dengan suara manjanya.


Arga hendak mengambil cangkir kopinya. Bela yang melihat itu bertindak duluan mengangkat cangkir itu dan menyerahkannya pada Arga. Tapi pikiran licik muncul di benaknya. Wanita itu memiringkan cangkir kopi yang tidak segera di raih Arga. Kontan saja kopi panas itu menumpahi kemeja Arga.


"Oh. ****!" seru Arga seraya mengibaskan tangannya.


"Oh. Maaf, Pak. Saya ngga sengaja." Bela meletakkan kembali cangkir itu dan ikut mengibaskan tangannya membersihkan kemeja Arga, meskipun Arga sudah melarangnya.


Bukannya mengibas dengan benar, wanita itu malah mengelus dan meraba dada dan perut Arga yang terasa kokoh di tangannya. Bahkan sengaja mengarahkan tangannya agak ke bawah, hampir saja menyentuh 'jendral jack' yang selalu dilindungi Arga dari wanita manapun kecuali Hania.


Arga mendengus kesal sambil menahan tangan wanita itu yang bergerak liar. Menghempaskannya hingga membuat wanita itu ikut mundur beberapa langkah saking kerasnya.


"Kamu itu bodoh atau tuli!?" Arga melontarkan pertanyaan pedasnya tapi lebih seperti mengumpatnya.


"Maksud Bapak?" Bela memasang wajah memelas, membuat Arga muak.


"Apa kamu selalu begini? Membantu tanpa diminta?" suara berat Arga terkesan dingin dan datar membuat aura di pantry semakin horor.


"Ti-tidak juga, Pak. Sa-saya hanya tidak mau disebut tidak sopan membiarkan atasan saya membuat minumannya sendiri." sergah Bela gugup, tatapan mata dan aura yang menguar dari Arga tak ayal membuatnya takut juga.


"Seingat saya, terakhir kali kamu menyentuh minuman saya, saya terkena masalah. Jadi, mulai sekarang jangan menyentuh apapun yang bukan menjadi urusanmu!" peringat Arga.


"Dia tahu?" Bela membelalakkan matanya merasa perbuatannya ketahuan.


"Ta-tapi sa-saya menyukai anda." Bela memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.


"Jangan mimpi! Kamu jauh dari tipe perempuan idaman saya!" ledek Arga terang-terangan. Dia kesal wanita itu tidak tahu batasan.


"Apa wanita seperti yang kemarin itu yang menjadi idaman anda? Seorang wanita biasa? Tidak berkelas? Dan kampungan?" rasa tidak sukanya pada Hania membuat Bela mengata-ngatai Hania di hadapan Arga.


Arga menatap Bela dengan tatapan marah. Dia tidak suka Hania dikatakan sebagai wanita biasa, tidak berkelas, dan kampungan.


"Jaga ucapanmu! Dia tidak berpenampilan sepertimu bukan berarti dia biasa, tidak berkelas, dan kampungan. Dia hanya pandai menghargai dirinya dengan tidak memamerkan apa yang seharusnya menjadi privasinya. Tidak sepertimu. Mengumbar semua bagian tubuh yang menurutmu bisa digunakan untuk merayu pria. Yang menurut saya, mu ra han!" Arga menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya, terutama kata terakhirnya, membuat Bela membelalakkan matanya.


"Dan lagi, wanita yang kamu anggap biasa, tidak berkelas, dan kampungan itu lebih terhormat dan merupakan tipe perempuan yang akan saya kejar sampai ujung dunia dan saya pertahankan selamanya!" Arga kembali melancarkan kata-kata pedasnya yang menyudutkan Bela.


"Jadi, menurutmu, mana yang lebih baik!? Dia atau kamu!?"  ucapan Arga masih terdengar dingin dan penuh tekanan.


Pria itu, jika sedang tidak suka, tidak akan mau mengontrol ucapannya yang seringkali membuat telinga dan hati panas saking pedasnya. Setidaknya, kata-katanya ditujukan pada orang yang tepat.


Arga langsung meninggalkan sekretarisnya Iden yang masih syok dengan ucapan Arga. Baru kali ini pria yang jadi idamannya berkata-kata panjang padanya tapi semuanya terdengar menyudutkannya dan menyakitkan.

__ADS_1


*******


Thanks for reading!


__ADS_2