Yang Terakhir

Yang Terakhir
178. Gadis Kecil Dalam Foto


__ADS_3

Wanita yang masih tampak cantik meski tak lagi muda itu seketika berdiri mematung dan tanpa sadar menjatuhkan sendok yang dipegangnya ketika melihat kedatangan Hania. Bahkan matanya langsung mengembun. Begitu pula dengan Pak Pratama. Pria paruh baya itu juga terpaku menatap Hania. Perasaan bersalah seketika mencuat membuat lidahnya kelu.


"Hai, Ga. Apa kabar lu? Lama ngga ketemu. Sorry ya, kemarin ngga bisa hadir." sapa Rendy yang belum mengetahui keadaan yang sebenarnya.


Suara berat putra sulungnya menyadarkan kedua paruh baya beda jenis kelamin itu dari lamunannya. Bu Irene bersikap seolah-olah membenarkan tatanan rambutnya padahal sebenarnya sedang mengusap sudut matanya yang basah.


"Udah datang?" sapa Iden yang tiba-tiba muncul.


Arga menoleh dan hanya menganggukkan kepalanya sekali sebagai jawaban.


"Arga." Ibu Irene menghampiri Arga lalu memeluk pria tampan yang memiliki postur tubuh seperti kedua putranya itu.


"Apa kabar, Tante? Maaf baru bisa berkunjung sekarang. Ada salam dari Ibu." sapa Arga seraya membalas pelukan wanita itu.


"Tante baik, sayang. Makasih udah bisa datang." balas Tante Irene dengan senyum yang mengembang.


Wanita paruh baya itu selalu senang setiap kali Arga maupun sahabat-sahabat Iden yang lainnya berkunjung.


"Apa kabar, sayang? Gimana bulan madunya?" Ibu Irene beralih memeluk Hania.


Alih-alih mencoba menutupi getaran hatinya, Ibu Irene malah memeluk Hania erat seolah melepaskan rindunya. Hania yang diperlakukan begitu seketika hatinya menghangat. Merasa diterima. Pun membalas pelukan Ibu Irene. Durasi berpelukan yang cukup lama seketika membuat ruang makan itu menjadi hening. Tak ayal, sikapnya malah membuat Hania menjadi heran.


"Oma, jangan lama-lama pelukannya, aku udah laper lho." celetuk Cindy memecah keheningan yang mendadak tercipta dan spontan saja ruang makan menjadi riuh.


"Ah, iya. Maaf ya, sayang. Oma sampe lupa saking pinginnya Oma meluk Tante Hania yang mirip anak Oma yang udah meninggal. Berasa melepas kangen." kekeh Ibu Irene.


Ucapan Ibu Irene tak ayal membuat Rendy dan istrinya saling menatap seolah berkata, mirip Inka? Apanya yang mirip? Bukankah Inka meninggalnya saat masih kecil? Dilihat dari segi manapun tidak mirip. Memang jika dilihat secara detil, akan ada kemiripan. Tapi darimana sang Ibu bisa tahu jika Inka dewasa akan seperti Hania?


Prosesi makan malam itu berlangsung sedikit canggung untuk Hania. Pasalnya, Ibu Irene tampak sangat memperhatikan dirinya. Menawarinya lauk ini dan itu. Yang dengan sungkan ditolaknya. Ya tentu saja ditolak. Tidak mungkin juga Hania mencicipi semua hidangan yang tersaji meskipun rasanya lezat. Dalam hatinya, Hania memuji betapa maksimalnya kelurga Pratama ini menyambut tamunya. Sekaligus menambah rasa herannya.


Ritual keluarga Pratama setelah acara makan malam adalah mengajak tamu undangannya bersantai sejenak di rumah mereka. Berhubung tamunya adalah Arga, orang yang dianggap sebagai keluarga, maka mereka mengajaknya bersantai di ruang keluarga.


Ruangan luas yang langsung terhubung dengan halaman belakang jika pintu-pintu kaca yang besar-besar itu dibuka. Dengan sebuah kolam berukuran cukup besar dan lampu-lampu taman yang temaram, menambah kesan hangat. Sungguh pemandangan yang syahdu di malam hari.


Bahagia. Itulah yang dirasakan Hania. Dirinya merasa seperti berada ditengah-tengah keluarga sendiri. Kedua paruh baya itu memperlakukan Hania seperti memperlakukan Arga maupun Iden. Meskipun wanita cantik itu merasa heran dengan sikap setiap orang di sana tapi Hania berusaha menikmati perlakuan yang dirasanya istimewa itu.


"Ehem! Maaf toiletnya di mana, ya?" sela Hania ditengah obrolan yang berlangsung hangat.


"Kamu bisa pake toilet yang di sebelah sana aja, sayang." sahut Ibu Irene lalu berdiri berniat mengantar Hania.


Rendy lagi-lagi mengernyitkan keningnya. Pria yang wajahnya mirip dengan Iden itu semakin merasa heran dengan sikap kedua orangtuanya. Apalagi saat sang Ibu menunjukkan toilet yang letaknya di sebelah ruang kerja sang ayah, lebih jauh daripada yang ada di dekat dapur. Itu artinya, Hania akan melewati ruang pribadi keluarga mereka.


"Tante tinggal, ya, sayang." pamit Ibu Irene meninggalkan Hania yang akan memasuki toilet.


"Iya, Tante. Silakan. Maaf jadi ngerepotin." balas Hania merasa tak enak hati.


"Ngga apa-apa, sayang. Anggap aja rumah sendiri." ucap wanita paruh baya itu seraya mengusap lengan Hania.


Sekembalinya dari toilet, Hania seketika menghentikan langkahnya di depan sebuah etalase pajangan yang terbuat dari kaca. Matanya bergerak cepat memindai semua foto yang ada di dalamnya.

__ADS_1


"Tiara?" gumamnya seraya menempelkan telapak tangannya pada kaca etalase di hadapannya sementara matanya menatap lekat foto-foto bergambar seorang gadis kecil yang mirip mendiang Tiara dengan mata berkaca-kaca.


Dada Hania mendadak merasa sesak dan berdenyut nyeri. Yang ada di hadapannya adalah foto mendiang Tiara namun dengan gaya dan pakaian yang berbeda. Gambar-gambar dalam etalase itu seperti potret lawas. Otaknya dengan cepat memindai setiap foto. Wanita cantik itu sama sekali tidak mengenali latar belakang foto itu.


Yang lebih menyesakkan lagi, dibandingkan dengan mendiang Tiara, gadis kecil dalam foto itu lebih mirip dirinya ketika masih seusia mendiang putrinya. Hidung yang tak terlalu mancung, bibir mungil, rambut lurus kecoklatan, dan bentuk mata kelinci seperti dirinya. Dan masih banyak foto-foto lainnya yang menyerupai dirinya sewaktu masih bayi hingga seusia mendiang Tiara.


Saat itu juga dirinya menyadari betapa tidak miripnya dia dengan mendiang kedua orangtuanya. Ayahnya berwajah khas pria pribumi, berkulit sawo matang, dan berambut ikal dan hitam. Dan sang ibu, kulitnya kuning langsat, berambut lurus seperti dirinya namun hitam, wajahnya cenderung bulat. Sangat berbeda dengannya.


Dulu dirinya tidak menyadari itu dan memikirkannya karena orang-orang yang mengenalnya selalu berkata jika dirinya mirip dengan sang Ibu.


"Darimana Tante Irene dapet foto-foto ini? Kenapa bisa ada di sini?" gumam Hania dalam hatinya.


"Tapi dia jelas bukan aku. Background fotonya bukan di rumah Ibu. Trus, dia siapa? Kenapa mirip banget sama aku sewaktu kecil?" Hania masih terus bermonolog di dalam hatinya seraya memandangi foto-foto itu.


Dengan kasar Hania mengusap airmata yang menitik di sudut matanya. Melihat foto-foto dalam etalase, dirinya menjadi bingung sekaligus rindu mendiang kedua orangtuanya dan juga Tiara. Hania berlalu dari tempat itu. Dia ingin melihat lagi foto-foto dirinya ketika masih kecil. Nanti setelah sampai di rumah.


"Haney? Kenapa lama? Ada masalah?" sapa Arga yang melihat Hania baru muncul.


Pria tampan itu baru akan mencarinya karena merasa Hania terlalu lama berada di dalam toilet. Arga mencemaskannya. Dia takut jika istrinya syok begitu melihat apa yang direncanakan Iden dan orangtuanya.


Hania tersenyum. Tampak sekali jika wanita bermata kelinci itu berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Hania sempat berhenti melangkah ketika merasa pandangannya berputar dan kembali berjalan setelah sedikit menguasai rasa pusing dan mual yang mendadak dirasakannya.


Namun, baru akan sampai di sofa yang diduduki Arga, wanita cantik itu malah ambruk. Beruntung Arga masih memperhatikannya, hingga pria tampan itu bisa melihat bahwa keadaan istrinya tidak baik-baik saja. Dan ketika Hania kehilangan kesadaran, Arga langsung sigap menangkapnya.


"Honey!"


"Hania!"


Hania yang pingsan membuat semua orang yang berkumpul di ruang keluarga seketika bersamaan memekikkan namanya.


"Gue yakin, tadi Hania udah liat foto-foto itu, Man." ucap Arga dengan wajah yang tampak gelisah.


"Tenang, Ga. Hania ngga akan kenapa-kenapa. Dia mungkin masih bingung tapi ngga tahu mesti ngapain. Lu denger 'kan tadi kata dokter?" hibur Iden.


Sebenarnya pria tampan khas bule itu juga khawatir dengan keadaan Hania. Dirinya juga takut jika Hania akan kembali histeris.


Klek!


Kedua pria tampan yang sedang gelisah dalam ruang VIP dimana Hania dirawat langsung menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka. Sosok Rendy berdiri dengan raut wajah yang tak terbaca.


"Kalian utang penjelasan ke gue!" ucapnya datar namun terasa mengintimidasi membuat Arga dan Iden saling melirik.


Pria yang lebih tua 4 tahun dari Arga dan Iden itu langsung duduk di sofa tunggal si seberang Arga dan Iden. Matanya bergantian menatap kedua pria dewasa di depannya lekat.


"Apa yang gue lewatin? Kenapa Mama sama Papa sampai segitu perhatiannya sama istri lu?" cecar Rendy yang kini menatap Arga.


Arga menghela napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Ingin menjawab tapi dia merasa masalah itu bukan ranahnya. Matanya melirik Iden yang ternyata sedang menatapnya.


"Ikut gue, Bang." ajak Iden.

__ADS_1


Pria flamboyan nan tampan itu beranjak dari duduknya dan berjalan mendahului Rendy meninggalkan Arga dan Hania.


"Mas." lirih Hania.


Arga yang sedang merapikan selimut Hania terkesiap. Namun dengan segera menyunggingkan senyum semanis madu pada sang istri. Sepeninggal Iden, Arga menghampiri ranjang dimana Hania tertidur pulas. Istrinya itu sudah siuman hanya saja karena pengaruh obat yang diberikan dokter padanya membuat pujaan hatinya itu masih setia menutup mata.


"Kamu mau apa, honey? Minum?" Arga langsung menuangkan air mineral ke dalam gelas setelah Hania mengangguk.


"Aku di rumah sakit? Akh! Ssh!" rintih Hania seraya memegang kepalanya membuat Arga reflek ikut mengusap kepala sang istri.


"Kamu pingsan tadi." sahut Arga lembut seraya membaringkan Hania.


"Aku ingat! Aw!" pekik Hania tertahan seraya kembali memegang kepalanya.


Wanita cantik itu langsung bangkit lagi dengan cepat ketika mengingat keberadaannya sebelum dirinya tak sadarkan diri hingga membuat kepalanya kembali berdenyut nyeri.


"Pelan-pelan, honey." tegur Arga.


"Iya. Aku ingat. Mas! Aku liat banyak banget fotonya Tiara di rumah orangtuanya Iden. Bukan, itu foto-fotoku, sewaktu kecil, mirip banget sama aku. Tapi outfit sama backgroundnya beda sama yang aku punya. Tapi gimana bisa orangtuanya Iden punya foto-foto itu?" cerita Hania menggebu-gebu.


"Akh! Sssh!" pekik Hania lagi.


"Udah, honey. Kamu banyak pikiran. Kamu tenang dulu ya, sekarang kamu istirahat dulu." ucap Arga menenangkan istrinya.


"Aku mau pulang aja, Mas. Aku penasaran deh, kenapa orangtuanya Iden punya foto-fotoku?" bukannya kembali berbaring seperti yang disarankan Arga, Hania malah menurunkan kedua kakinya dari ranjang pasien yang ditempatinya.


"Eh? Kamu mau kemana?" Arga sigap memegang bahu Hania yang hendak turun dari ranjangnya.


"Aku mau pulang Mas, aku mau ke rumah ibu. Aku harus mastiin sesuatu." ucap Hania masih menggebu.


"Ini udah larut malam, honey. Kita akan pulang besok setelah visit dokter. Kita denger saran dokter dulu. Aku ngga mau kamu kenapa-kenapa. Ngga ada bantahan! Oke?" tegas Arga.


"Begitu pulang dari sini, aku sendiri yang anter kamu ke rumah ibu. Aku janji." tawar Arga yang melihat Hania bergeming.


Klek!


"Ibu!" seru Hania dan Arga bersamaan ketika seorang wanita paruh baya memasuki ruang rawat Hania.


Ibu Anna langsung pulang dari acara bakti sosialnya di luar kota ketika mendengar Hania dilarikan ke rumah sakit. Sungguh, ibu mertua Hania itu sangat mencemaskan menantunya.


Perhatian Hania dan Arga teralih. Di belakang sang ibu, berdiri sosok pria yang diam-diam dirindukan Hania namun dicemburui Arga.


"Galih."


"Elu!"


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.


🤗🤗🤗😘


__ADS_2