Yang Terakhir

Yang Terakhir
131. Wanita Terhormat


__ADS_3

"Bu Hania mau minum apa?" tawar Dian yang sudah berdiri di hadapannya dengan senyum yang mengembang.


"Oh... umm... kopi aja, boleh?" ucapnya sedikit gelagapan, pasalnya tadi dirinya tengah melamun.


"Jangan kopi, honey! Yang lainnya aja. Milkshake coklat aja, Yan!" interupsi Arga.


Hania dan Dian menoleh ke arah Arga lalu saling menatap. Hania yang akhirnya pasrah dengan pilihan Arga hanya menganggukkan kepalanya.


"Iya. Itu aja." ucapnya menyetujui pilihan Arga seraya tersenyum.


"Makasih, ya, Mba Dian." imbuhnya.


"Sudah tugas saya, Bu." sahut Dian lalu menganggukkan kepalanya undur diri.


"Aku pengen kopi, Mas. Kenapa jadi milkshake sih?" protes Hania sepeninggal Dian.


"Kamu belum boleh minum minuman berkafein. Kamu ngga lupa 'kan, honey?" sahut Arga namun tatapannya masih terfokus pada kertas-kertas di depannya.


Hania mendesah lagi sambil menatap Arga lekat.


"Kamu baru sadar kalau kekasihmu ini tampannya ngga ada duanya? Atau kamu menginginkan sesuatu, honey?" goda Arga.


Pria itu merasa Hania sedang menatapnya dengan lekat. Entah apa yang dipikirkan wanita cantik itu. Arga meletakkan bolpoinnya, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya.


"Jadi, ada apa, Hania?" tanya Arga seraya menatap Hania.


Hania menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin 'kan dia menceritakan isi kepalanya barusan? Kemana perginya Hania yang selalu percaya pada pria itu?


"Hania?" tanya Arga lagi.


Pria tampan itu sampai menyebut namanya yang belakangan ini mengganti panggilannya menjadi 'honey', pasti sedang merasa ada yang tidak beres dengannya. Hania menggeleng lagi.


"Kita udah sepakat untuk membicarakan masalah apapun itu. Sekecil apapun itu, honey." Nada bicara Arga seketika berubah menjadi lebih tegas.


Hania menelan ludahnya dengan susah payah. Mendadak kerongkonganya kering. Belum pernah Arga berbicara begini padanya sebelumnya. Apa pria itu benar-benar ingin tahu yang dipikirkannya?


"Ngga penting, sih, Mas. Cuma pikiranku yang berlebihan aja." lirih Hania.


Arga bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Hania. Pria itu langsung mendudukkan dirinya di samping wanita cantik itu.


"Terbukalah padaku, sekecil apapun dan seremeh apapun itu ceritakan padaku. Aku ngga mau tiba-tiba terjadi sesuatu yang buruk lagi. Baik itu ke kamu, ke aku, atau ke kita." ucap Arga lagi.


Tok tok tok!


Pintu terbuka dan menampilkan seorang office boy yang membawa nampan berisi minuman yang dipesan Arga untuk Hania.


"Mangga, milkshake nya, Bu." ucap office boy tadi dengan logat sundanya.


"Ini teh, kopi Bapak mau ditaro dimana nyak?" ucapnya lagi.


"Sini aja!" perintah Arga.

__ADS_1


Arga memperhatikan office boy itu.


"Kamu baru ya disini?" tanya Arga karena merasa tidak pernah melihatnya berkeliaran di kantornya.


"Iya, Pak. Saya masuk sini atas rekomendasi bapak saya. Bapak saya sudah pensiun. Beliau juga OB di sini dulu." Arga manggut-manggut.


"Ohya? Nama bapak kamu siapa?" tanya Arga lagi.


Arga banyak bertanya bukan karena dia penasaran tapi sejak beberapa musibah yang menimpanya dan Hania, dia merasa perlu berhati-hati.


"Pak Nana, Pak. Nama aslinya Suharna." sahut pria muda itu.


Arga kembali manggut-manggut. Ya. Dia mengenali Pak Nana. Pria tua yang masih aktif bekerja di usia senjanya. Sering menemaninya lembur dan menolak pulang ketika Arga memintanya pulang dengan alasan di kontrakannya dia hanya sendirian karena keluarganya berada di kampung halaman.


"Kamu boleh kembali!" perintah Arga yang diangguki office boy itu.


Arga kembali fokus pada Hania.


"Ayo cerita!" tuntut Arga.


"Maksa deh. Mas 'kan sibuk." Hania masih mencoba mengelak. Dia malu jika Arga tahu isi kepalanya barusan.


"Aku punya banyak waktu untukmu, honey." ucap Arga.


Akhirnya karena sudah tidak bisa mengelak lagi, Hania menceritakan isi pikirannya yang mencurigai Arga.


"Kami cemburu?" di tuding begitu, wajah Hania langsung merona, dia malu.


Arga mengulum senyumnya. Pria tampan itu senang Hania mencurigainya. Itu artinya wanita cantik itu cemburu.


"Cemburu juga ngga pa-pa, honey. Dan kamu boleh banget cemburu ke aku. Tapi semua yang kamu pikirkan itu ngga ada yang bener. Kamu boleh tanya ke Reza, Iden, juga Ibu. Bila perlu tanya sendiri ke Dian."


"Aku merasakan bener-bener jatuh cinta dan ingin memiliki seorang pendamping lagi ketika aku ketemu sama kamu, Hania. Sejak pertama aku liat kamu di pernikahannya Dio, aku udah mulai jatuh cinta." ungkap Arga.


Hania mendengarkan perkataan Arga tanpa ingin menyelanya. Iya. Dia percaya pada pria itu.


"Lagipula Dian itu udah punya suami. Bahkan aku yang nyomblangin mereka." Hania membulatkan matanya ketika mengetahui ternyata Dian sudah menikah.


"Dian itu profesional. Dia adalah salah satu orang yang kupercaya. Nasehatnya lebih masuk akal dibandingkan Reza dan Iden. Dia juga yang sering kena damprat Ibu karena membantuku menggagalkan perjodohan dan menghindari pertemuan-pertemuan dengan wanita-wanita yang dijodoh-jodohkan denganku." lanjut Arga lagi.


"Selain Ibu, perempuan yang dekat dengan aku, ya Dian itu. Sampai aku ketemu kamu." ucap Arga seraya menatap lekat Hania.


"Kalau Bela. Kenapa aku ngga suka sama dia?" Arga menjeda kalimatnya sejenak.


"Karena dia terus-terusan godain aku pake tubuhnya. Aku ngga suka karena dia berpikir aku seperti lelaki hidung belang yang bisa tergoda hanya dengan disodori tubuhnya. Aku ngga suka direndahkan kayak gitu. Seperti yang kamu kenal, honey. Aku ini laki-laki terhormat." ucap Arga.


Deg!


Hania menggaris bawahi kalimat Arga yang terakhir. 'laki-laki terhormat'. Wanita itu memalingkan wajahnya. Apa kabarnya dirinya yang sudah ternoda? Apakah dirinya masih memiliki kehormatan setelah Raka menghancurkannya? Apakah dirinya pantas bersanding dengan 'laki-laki terhormat' itu? Matanya berkaca-kaca mengingat kejadian yang telah lalu itu.


"Apa aku masih memiliki kehormatan setelah kejadian itu?" lirih Hania dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


Deg!


Hati Arga berdenyut nyeri ketika Hania mengungkapkan perasaannya padanya.


"Apa selama ini, kamu memikirkan ini? Kehormatanmu?" tanya Arga lirih.


Hania menganggukkan kepalanya lemah. Selama hidupnya, dirinya hanya memiliki kehormatannya itu. Dirinya sudah tidak punya orang tua lagi, dan kini putrinya pun telah meninggalkannya.


"Apa aku masih pantas untuk berada di sisimu?" ucap Hania dengan air mata yang mulai berlinang.


Arga langsung menarik lembut tubuh Hania dan memeluknya erat. Wanita itu sudah menagis sesenggukan. Pria itu merasakan sakit yang dirasakan Hania. Tapi sudah barang tentu tak sesakit yang Hania rasakan. Raka benar-benar menghancurkan kebahagiaan wanitanya.


"Harus gue apain lu, bajingan!" geramnya dalam hati memaki Raka.


Sejak Raka disekap di bangunan bertingkat itu, Arga memang belum pernah sekalipun datang mengunjunginya. Pria karismatik itu masih fokus untuk kesembuhan Hania. Dan lagi, saat ini emosinya tidaklah stabil. Dia tidak ingin akhirnya hanya membuat mantan sahabatnya itu mati di tangannya. Pria itu masih memikirkan pembalasan yang patut untuk Raka.


"Honey. Kamu percaya padaku 'kan?" Honia mendongakkan kepalanya menatap manik hitam Arga, lalu mengangguk yakin.


"Apa aku meninggalkanmu? Apa aku terlihat seperti laki-laki yang ingin bahagia sendiri? Apa aku pernah memperlakukanmu dengan tidak hormat setelah kejadian itu?" Hania menggelengkan kepalanya.


"Kamu tau kenapa?" Hania lagi-lagi menggeleng.


"Karena aku mencintaimu, honey. Dan cintaku ngga sebatas sela**ka**an. Karena cintaku, aku tetap memandangmu terhormat. Karena kamu memang terhormat. Kejadian itu bukan karena maumu. Kamu dipaksa dengan ngga hormat. Dia yang ngga terhormat, honey. Perbuatannya padamu yang ngga terhormat!" dengan penuh emosi Arga meyakinkan Hania.


"Dan kamu ngga akan berubah menjadi ngga terhormat hanya karena perbuatannya yang ngga terhormat." suara Arga berubah menjadi lembut kembali.


"Jangan lagi bepikir kejadian itu membuatmu kehilangan kehormatanmu. Bukan sebuah kejadian yang membuat seseorang ngga terhormat. Tapi perbuatannya!" tegas Arga.


"Apa dengan aku mencintaimu masih ngga cukup membuktikan bahwa kamu wanita terhormat?" Hania menggelengkan kepalanya.


"Aku ngga tau, Mas. Kadang pikiran itu muncul sendiri. Aku masih bisa membayangkannya dengan jelas." ungkap Hania dengan suara serak sehabis menangis.


Arga memeluk lagi tubuh ramping Hania dengan erat. Jujur, pria itu juga merasa nyaman dengan memeluk tubuh Hania yang hangat dan lembut itu. Dia selalu ingat bagaimana reaksi tubuhnya ketika bersentuhan dengan tubuh ramping itu untuk pertama kalinya. Nyaman.


"Menikahlah denganku Hania. Dan aku akan menghapus semua jejaknya di tubuh dan ingatanmu." pinta Arga seraya menatap Hania dengan mata berkaca-kaca.


Entah sudah berapa kali Arga meminta Hania untuk menikah dengannya. Namun wanita cantik itu masih menunjukkan keraguannya. Tapi Arga tak pernah mengendurkan niatnya dan semakin ingin menjadikan Hania miliknya selamanya. Apalagi setelah tragedi yang dibuat oleh Raka. Pria itu semakin ingin memiliki Hania. Cintanya terlalu besar jika dibandingkan dengan kondisi Hania yang pernah digagahi mantan sahabatnya itu.


Begitulah Arga. Ketika pria tampan itu sudah menemukan wanita yang membuatnya jatuh cinta, dia akan merendahkan egonya demi wanita itu. Pria itu selalu 'terlalu' jika mencintai wanita.


"Kumohon, Hania. Menikahlah denganku." pinta Arga lagi seraya menyatukan keningnya dengan kening Hania.


Hania tentu saja merasa terkejut dan bahagia sekaligus. Wanita cantik itu tak menyangka Arga masih ingin menjadikannya miliknya, meskipun Raka pernah menodainya. Pria itu bisa menerima keadaannya, yang bahkan dirinya masih tak rela keadaan itu terjadi padanya.


Meski Hania masih merasa tak percaya diri dengan keadaannya sekarang, tapi bagaimana bisa wanita itu menolak Arga. Sejak dulu, dirinya tak bisa menolak pria itu. Tapi ketika Arga memintanya untuk menikah dengannya, Hania selalu menolak. Dan kini, pria itu memintanya lagi. Jika dirinya sekarang menerima permintaan Arga itu, bukankah kesannya dia memanfaatkan cinta Arga?


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote tiap senin, dan beri hadiah ya... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2