Yang Terakhir

Yang Terakhir
212. Penolakan Arga


__ADS_3

Arga bergeming. Bukan karena terpesona dengan wajah cantik dan tubuh seksi yang terawat baik milik seorang wanita yang kini berdiri di hadapannya. Di dalam ruang kerjanya. Pria itu hanya merasa muak.


Wanita itu masih cantik dan seksi seperti dulu. Tapi Arga tak tertarik lagi. Wanita itu yang menghancurkan impiannya dengan berselingkuh dan menyebabkan putra mereka meninggal.


"Arga. Akhirnya kamu mau nemuin aku." ucap wanita itu dengan bibir mengembang.


"Kita ngga sedekat itu, Riska. Tolong." Arga memundurkan tubuhnya dan menghindar saat akan dipeluk wanita seksi itu.


"Kamu masih marah? Maafin aku, Arga." lirih wanita yang disapa Riska itu.


"Aku udah maafin kamu. Sejak dulu." sahut Arga masih dengan nada bicara yang datar. Dia tidak tertarik untuk membahasnya lagi.


Riska menatap pria tampan yang dulu pernah dicintainya itu dengan lekat. Sama seperti dulu, Arga masih tampan, bahkan kini lebih menawan. Namun, sikap pria itu terasa sangat dingin padanya. Sebesar itukah efek dari perpisahan mereka dulu?


"Tapi sikapmu dingin ke aku." keluh Riska.


"Kamu mau aku bersikap gimana sama kamu?" Arga sudah melangkah menjauhi Riska, menuju meja kerjanya.


"Bisa kita berteman? Saling perhatian? Seperti dulu?" Arga tergelak mendengar ucapan Riska yang menurutnya tidak masuk akal.


"Apa sebenarnya yang kamu mau, Ris? Ohya, kamu pasti udah denger kabar pernikahanku 'kan? Itu bukan kabar burung. Aku udah menikah. Apa yang kamu harapkan dariku? Berteman? Saling perhatian? Itu mustahil banget setelah kita berpisah! Apalagi dengan statusku yang sekarang! Aku ini suami orang!" cibir Arga.


Dia kesal. Bukan. Dia marah. Seenaknya saja mantan istrinya tiba-tiba muncul di saat dirinya sudah bangkit dan memiliki harapan baru. Bukankah dirinya sudah memilih pria selingkuhannya? Kenapa sekarang muncul lagi?


"Iya. Aku tahu. Tapi...." ucapan Riska terpotong saat Hania menerobos masuk begitu saja ke dalam ruangan suaminya.


Hati Hania sudah terasa perih. Darahnya seperti mendidih. Dia tidak rela jika suaminya berdekatan dengan mantan istrinya. Dia tidak ingin kejadian yang dialaminya dulu terjadi lagi meski jelas itu tidak mungkin. Dia tidak ingin yang sudah menjadi miliknya kembali pada sang mantan. Seperti Ryan yang kembali pada mantan kekasihnya.


"Masuklah." lirih Iden saat melihat mata Hania yang sudah berkaca-kaca.


Arga langsung mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Hania. Hatinya berdenyut nyeri saat melihat mata Hania berkaca-kaca. Dia tahu Hania pasti cemburu. Sama sepertinya saat melihat Hania bersama Ryan, mantan suami istrinya.


"Hei, ada apa?" tanya Arga dengan nada suara yang lembut seraya mengusap rambut Hania yang kini malah memeluknya erat dan terisak.


Ekspresi dan nada bicara pria itu berbalik 180 derajat dengan saat dirinya berbicara pada Riska, membuat sang mantan termangu. Selama menikah dengan Arga, wanita itu tidak pernah mendapat perlakuan seistimewa yang dilihatnya. Atau dirinya yang tidak menyadari karena terbiasa mendapat perhatian istimewa dari orang-orang yang mengidolakannya?


Arga sudah mendudukkan Hania di kursi kebesarannya. Pria itu lalu berlutut di hadapan istrinya untuk mempermudahnya menatap wajah sang istri.

__ADS_1


"Honey? Kamu kenapa? Apa ada yang bikin kamu ngga nyaman?" Arga bingung dengan sikap Hania yang mendadak cengeng begitu. Suasana hati ibu hamil sepertinya sangat sensitif. Cemburu saja sampai menangis begitu.


Hania masih sesenggukan tapi ekor matanya melirik wanita cantik dan seksi yang kini duduk anggun di sofa.


"Ah. Duduk aja anggun." batin Hania.


Entah kenapa dirinya merasa kalah saing dengan wanita itu. Dia yang duduk anggun di salah satu sofa itu adalah wanita pertama yang meratui hati Arga. Yang bisa membuat suaminya terpuruk sekian lama karena ditinggalkannya. Hania lupa jika kematian Devan lah yang menghancurkan Arga bukan kepergian wanita itu. Memang betul lah jika wanita hamil lebih sensitif.


Arga mengikuti arah lirikan Hania. Pria itu menghela napasnya. Betul dugaannya. Istrinya sedang cemburu. Tapi bukannya khawatir, pria tampan iu justru tersenyum. Dia senang Hania mencemburuinya. Cemburu tanda cinta 'kan?


"Kamu percaya aku 'kan, honey? Aku janji, masalah ini akan selesai di sini hari ini. Kamu yang paling tahu aku. Jadi kamu tenang ya. Aku ngga mau bayi-bayi kita ikut kesel sama papanya gara-gara kamu curiga sama aku." ucap Arga meyakinkan Hania.


Hania sudah tenang sekarang. Wanita itu sudah menghapus sisa air mata di pipinya dan menghilangkan sisa senggukannya. Berbagai kata-kata lembut yang Arga ucapkan untuk menenangkan istrinya itu. Selama itu pula Riska memperhatikannya. Apalagi perut buncit itu.


"Dia istriku. Calon ibu dari anak-anakku. Ah, iya. Kamu pasti udah tahu. Beberapa wartawan bisnis meliput acara pernikahan kami dulu. Dan kamu pasti udah keliling ruanganku 'kan? Ada foto kami juga di sini. Dan ini." Arga meraih sebuah pigura sebesar 20x10 centi berisi fotonya dan Hania dengan perut buncitnya, di sudut meja kerjanya dan menunjukkannya pada Riska dari tempatnya berdiri seraya memeluk Hania.


"Aku udah tahu!" sahut Riska sesikit ketus.


"Apa salahnya kalau kita berteman? Menjalin hubungan baik lagi." imbuhnya.


Bagi Arga, tidak ada yang namanya pertemanan antara pria dan wanita. Salah satunya pasti melibatkan perasaan. Apalagi wanita cantik di depannya itu. Sekarang saja sudah tidak tahu malu apalagi nanti-nanti?


"Aku.... Ada hal yang mau aku omongin sama kamu, Ga." Riska mengutarakan niatnya.


"Tapi bisa ngga kita bicara berdua aja?" wanita itu kini memohon dengan suara yang lembut saat Arga tak juga peka bahwa dirinya ingin berbicara berdua saja.


"Ngga bisa! Kalau ada yang mau diomongin, istriku harus tahu." sambar Arga.


"Ngga ada rahasia." imbuhnya menekan kata-katanya.


"Tapi Arga...." ucapan Riska terpotong lagi tapi kali ini karena decakan Arga.


Sorot mata Arga yang tajam dan dingin membuat lidah Riska kelu. Begitu pula nyalinya yang ikut menciut. Tapi dia tidak akan melepaskan kesempatan pertemuan dengan mantan suaminya itu. Tujuannya datang adalah ingin memperbaiki hubungan mereka sekaligus meminta bantuannya. Katakan saja dia tak tahu malu. Tapi hanya Arga yang bisa membantunya. Memulihkan nama baiknya yang sudah tercemar karena skandal perselingkuhannya mulai terkuak. Entah siapa yang membocorkannya?


"Aku, aku butuh bantuanmu. Cuma kamu yang bisa bantu aku, Ga." Arga terkekeh, menertawakan mantan istrinya yang tebal muka.


Datang padanya ketika dibutuhkan? Arga menghela napasnya. Dia tak tertarik lagi untuk berurusan dengan mantan istrinya. Lagipula apa yang dipikirkan Riska? Percaya diri sekali datang padanya meminta bantuannya.

__ADS_1


"Aku ngga bisa bantu!" putus Arga.


"Tolong, Ga. Namaku tercemar. Semua orang menghujatku. Tolong, bersandiwaralah seperti dulu ketika kamu menyelamatkanku." ucap Riska yang semula ingin membicarakannya hanya berdua saja dengan Arga, kini tidak lagi peduli jika di tempat itu ada Hania.


Arga bukannya tidak tahu kabar terbaru mantan istrinya itu. Sebagai salah satu pesohor dunia hiburan tanah air, nama Riska begitu bersinar. Hampir setiap hari para karyawannya bergosip tentang model sekaligus aktris papan atas itu. Apalagi Riska diketahui sebagai mantan istri atasannya. Mereka cukup gencar juga menghujat model itu, ada yang menyayangkan karirnya, dan sebagian kecil mengasihaninya.


Belakangan, model sekaligus aktris itu sedang diterpa gosip miring. Kabarnya dia bermain mata dengan seorang produser film yang sedang dibintanginya. Pernikahannya dengan fotografer Perancis itu memang tidak dipublikasikan. Begitu juga dengan perceraiannya dengan Arga dulu. Bahkan siapa suami sang model pun penggemarnya tidak tahu.


Sebagai model dan aktris, Riska sangat menguasai bidangnya. Segala upaya akan dilakukannya untuk bisa berada di puncak karirnya. Tapi kelakuan Riska yang suka mencari sensasi membuatnya sering menjadi topik hangat untuk dibicarakan.


Dulu, Arga memang pernah membantu Riska dengan bersandiwara sebagai kekasih wanita itu agar gosip yang menyudutkannya lenyap. Dari situ pulalah Arga mengenal Riska. Model cantik yang mulai merambah layar kaca. Jika dulu menjadi kekasihnya, kali ini Riska meminta Arga berpura-pura menjadi suaminya.


Arga menghela napasnya lagi.


"Aku ngga bisa! Aku ngga mungkin sengaja nyakitin perasaannya istriku. Kalau dulu, aku masih mau membantumu karena statusku yang ngga terikat oleh siapapun. Tapi sekarang, situasinya berbeda. Lagipula kamu punya si fotografer itu 'kan?" tolak Arga.


"Ga, please!" mohon Riska lalu menatap Hania.


"Bahkan kalau istriku sendiri yang meminta, aku tetap ngga bisa bantu karena aku ngga mau!" imbuh Arga yang bisa menduga akal licik mantan istrinya. Merayu melalui Hania.


"Keputusanku udah bulat. Aku ngga akan lagi bisa terlibat urusan apapun denganmu, Riska. Jadi, sebaiknya jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Atau aku sendiri yang akan hancurin kamu!" ancam Arga.


"Sekarang keluarlah!" perintahnya dingin.


Habislah Riska. Dia tahu Arga serius dengan ancamannya. Tadinya, dengan percaya diri dia mendatangi Arga. Hanya mantan suaminya itu harapannya. Dia yakin Arga akan membantunya. Mengingat Arga yang dulu selalu menuruti kemauannya. Bahkan ketika pria itu mengetahui perselingkuhannya pun, Arga memaafkannya, tetap berada di sisinya dan mempertahankan rumah tangga mereka hingga dirinya meminta berpisah.


Dia tidak tahu saja, alasan Arga mempertahankan rumah tangga mereka hanyalah demi putra semata wayangnya.


Sejak diusir dari perusahaan Arga, Riska memang tidak lagi menampakkan batang hidungnya di hadapan Arga, bahkan sosoknya tidak lagi bisa dicari para wartawan gosip. Setidaknya itulah informasi yang didengarnya secara tak sengaja dari mulut-mulut julid karyawannya yang selalu bergosip saat istirahat tiba. Seolah-olah dengan bergosip, perut mereka kenyang dengan sendirinya.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!


🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2