Yang Terakhir

Yang Terakhir
99. Bertemu Ibu Negara


__ADS_3

"Ini, rumahnya?" tanya sang ibu yang masih duduk manis di dalam sedan mewah Arga seraya menatap bangunan minimalis di depannya.


"Iya Bu. Dia tinggal disini." Arga menganggukkan kepalanya.


"Sepertinya kalian punya sekera yang sama." goda sang ibu, membuat Arga terkekeh.


Arga lalu mengajak ibunya turun dan menemui Hania. Suasana rumah wanita cantim itu masih sepi. Hanya jendelanya saja yang terbuka lebar tapi tidak terdengar ada aktifitas di dalamnya.


"Ada orangnya ngga, Ga? Tadi kok ngga ngabarin dulu kalau mau kesini." keluh ibunya.


Arga mendesah. Siapa juga tadi yang buru-buru mengajaknya bertemu Hania. Belum juga hilang rasa terkejutnya melihat foto dirinya dan Hania, ibunya itu sudah membuatkan kejutan yang lain untuknya yaitu menemui Hania, mendadak sekali.


Arga baru akan menekan bel di dekat pintu, pintu itu mendadak terbuka. Membuatnya terkejut begitu pula sang ibu. Dan yang paling terkejut adalah Hania. Matanya sempat saling mengunci dengan Arga, namun sejurus kemudian tersadar lalu dengan gerakan kilat dia kembali menutup pintu rumahnya.


Brak!


Arga kembali dibuat terkejut, begitu juga dengan sang ibu.


"Lho? Kok malah ditutup lagi pintunya? Ngga sopan! Ada orangtua berdiri di depan pintu, bukannya disuruh masuk malah dibantingin pintu!" omel sang ibu.


Sementara Arga hanya terkekeh mendengarnya. Pria tampan itu menduga Hania juga sama terkejutnya, mungkin lebih terkejut lagi. Lagipula penampilannya yang apa adanya, pasti wanita cantik itu salah tingkah. Tadi itu dia pakai apa? Dia tidak pernah melihat Hania memakai pakaian seperti barusan. Terlihat lucu sekali. 


Hania langsung menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih pantas dan sopan untuk menyambut tamu. Meski yang datang barusan adalah Arga, tetap saja dia terkejut. Apalagi pria itu tidak sendirian. Seorang wanita paruh baya bersamanya. Dirinya tidak menyangka pria tampan itu sudah berdiri du depan pintu rumahnya saat dirinya ingin membersihkan halaman rumahnya. Begitu dia menyadari hanya memakai daster rumahan, wanita cantik itu panik. Tanpa sengaja menutup pintunya terlalu keras.


"Haduh... Dikira ngga sopan deh ini, Lagian, mau datang ngga ngabarin sih. Tau gitu 'kan aku mantes-mantesin diri dulu." gerutu Hania seraya bersiap.


Pintu kembali terbuka. Senyum Arga seketika merekah. Apalagi mendapati dugaannya benar jika Hania tidak percaya diri dengan penampilannya tadi.


"Mas?" sapa Hania, yang saat ini sudah mengganti dasternya dengan kaos longgar dipandukan rok sepan sebatas lutut.


Tatapannya beralih pada seorang wanita paruh baya yang membuatnya merasa immoral. Hania menganggukkan kepalanya sembari melempar senyum semanis madunya.


"Masuk deh, Mas. Mari, Bu." Hania mempersilakan Arga dan sang ibu masuk tanpa mengetahui wanita paruh baya itu adalah ibunya kekasihnya tapi tetap mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Duduk dulu ya." pinta Hania pada Arga.


"Ibu silakan." lalu beralih pada sang ibu dengan bahasa yang formal.


Kedua anak beranak itu duduk bersebelah di sofa panjang di ruang tamu Hania.


"Dia sopan juga ternyata." puji sang ibu.

__ADS_1


"Tau gimana membuat dirinya pantas dipandang." Arga tersenyum menanggapi komentar ibunya yang ternyata juga memperhatikan kekasihnya.


"Dia ngga punya pembantu?" tanya sang ibu karena merasa wanitanya Arga itu tak muncul-muncul setelah meninggalkannya.


"Punya. Tapi ngga datang tiap hari. Hari minggu libur." sahut Arga yang baru sekali bertemu ketika irt itu akan pulang.


Tampak sang ibu ber oh ria seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sang ibu baru akan bertanya lagi ketika Hania mencul dengan membawa nampan berisi minuman dan kudapan. Dengan sigap Arga berdiri dan membantu Hania.


"Silakan, Bu. Diminum." tawar Hania setelah memindahkan isi nampan itu ke meja lalu duduk diseberangnya.


Sebagai tamu yang menghargai tuan rumah, ibunya Arga meraih cangkir berisi teh di depannya dqn menyeruputnya. Ah. Rasanya otot-ototnya rileks seketika setelah meminum teh itu.


"Han. Ini ibuku. Ibu, ini Hania." Arga memperkenalkan kedua wanita cantik yang sama berartinya baginya kini.


"Ibu? Ibunya Mas Arga?" Hania terkejut setelah mengetahui jika wanita paruh baya yang masih cantik itu adalah ibunya pria tampan itu.


"Aduuuh. Ngga sopan banget 'kan aku? Kok diajak kesini, sih Mas? Bukannya aku aja yang datang nemuin ibunya Mas." bisik Hania tapi masih bisa di dengar sang ibu.


"Ngga apa-apa kok. Tadi saya yang ngajak Arga kesini. Pingin kenal seperti apa perempuan yang bikin anak saya kasmaran." sahut ibunya Arga, membuat Hania makin tak enak hati.


"Ternyata lebih cantik aslinya, ya." ucap sang ibu seraya menatap Hania.


Hania langsung menoleh pada Arga. Tatapannya seolah bertanya, kapan mereka pernah berjumpa?


"Ibu dapat kiriman foto kita berdua waktu kita menghadiri resepsi semalam. Biasa dari mata-matanya. Arga seolah tahu maksud tatapan Hania, memberitahukan Hania. Sekaligus mencibir sang ibu.


Hani hanya manggut-manggut. Sebenarnya masih ingin bertanya tapi pasti rasanya tidak nyaman karena mengabaikan sang ibu. 


"Ohya, kamu sudah lama berhubungan dengan Arga?" tanya sang ibu memecah keheningan.


Wanita paruh baya itu tahu Hania mungkin canggung berhadapan dengannya yang merupakan ibu dari kekasihnya. Dulu, dia pun begitu. Meski dijodohkan dan ibu mertuanya menyukainya, tetap saja dirinya merasa canggung.


"Kenal sudah beberapa bulan, Bu. Seriusnya  barusan." sahut Hania malu-malu.


"Kamu tau? Baru kamu lho yang bisa bikin Arga mau dekat-dekat sama perempuan. Biasanya dia kayak alergi." ungkap sang ibu mencoba mencairkan suasana yang masih kaku di antara dirinya dan Hania.


Hania terkekeh mendengar ucapan sang ibu. Dia ingat bagaimana wanita-wanita cantik dan seksi juga berkelas mendekati Arga. Dirinya tak memungkiri pesona Arga begitu menarik bagai magnet. Tapi meski begitu, selama dirinya mengenal Arga, memang pria tampan itu tak terpengaruh oleh kehadiran wanita-wanita yang menggodanya.


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya sang ibu to the point.

__ADS_1


Uhuk!


Arga yang sedang menyeruput kopi hitamnya yang panas langsung tersedak mendengar pertanyaan sang ibu. Hah. Ibunya itu suka sekali mendahuluinya. 


"Arga... Kamu kenapa? Minum gitu aja bisa tersedak. Makanya hati-hati. Udah tua juga." tegur sang ibu seraya mengusap punggung kokoh pria atletis itu.


Pria tampan itu hanya memutar bola matanya, malas menanggapi omelan sang ibu. Lalu melirik Hania. Sementara Hania hanya tersenyum menutupi kekikukannya ditanya kapan menikah.


"Duuh. Jadi berasa kayak perawan tua, ditanya kapan nikah." gumam Hania dalam hati.


Drrrt drrrt drrrt.


Ponsel Arga bergetar. Dilihatnya benda pipih yang sejak tadi anteng terus itu. Reza? Arga mengerutkan keningnya. Ini 'kan hari minggu, ada apa memghubunginya di kala hari libur begini? Apa dia rindu bekerja lembur? Arga selalu enggan menerima panggilan di ponselnya ketika bersama Hania. Pasti akan mengganggunya saja.


"Kenapa ngga diangkat? Kalau penting gimana?" tanya sang ibu yang ikut terganggu dengan getaran ponsel Arga yang mendengung bagaj lebah itu.


"Dari Reza, Bu." Arga tampak masih enggan menerima panggilan itu.


"Ibu bener, Mas. Kalau penting gimana?" timpal Hania yang ikut mendukung ibunya.


Arga mendesah lalu beranjak meninggalkan medua wanita cantik itu.


"Ada apa, Za? Kamu ingin hari liburmu ditiadakan dari jadwal kerjamu?" ancam Arga.


"Bu-bukan begitu, Pak. Begini, ada informasi dari sayap kiri." ucap Reza di ujung ponselnya, membuatnya mengernyit.


"Sebaiknya kita bertemu. Saya rasa ini ada hubungannya dengan Pak Aris." lanjut Reza lagi.


"Oke, ketemu di apartemen saya." putus Arga.


Pria tampan itu memutus sambungan teleponnya. Arga mengeraskan rahangnya.


"Mau main-main rupanya? Tapi kenapa harus dengan Oom Aris? Apa yang kamu rencanakan sebenarnya?" gumam Arga dalam hatinya.


*******


Thanks for reading!


Like dan favoritkan ya, supaya ngga ketinggalan ceritanya.


Jangan lupa Vote tiap hari Senin, untuk terus dukung karya ini 😊

__ADS_1


__ADS_2