
Rizal mengusap dagunya. Masih belum percaya dengan sedikit fakta yang didengarnya. Matanya menatap Reza lekat seolah bertanya, benarkah?
Reza mengendikkan bahunya. Dia memang tidak tahu alasan sebenarnya mantan kekasih atasannya itu mendekati Arga kecuali yang didengarnya di dalam ruangan Arga kemarin. Diapun sanksi jika hanya itu alasannya menjebak Arga. Dan wanita itu pasti tidak bekerja sendiri. Buktinya ada Damar yang membantunya. Tapi bagaimana Rosa mengenal Damar? Mereka bahkan berasal dari latar belakang yang berbeda.
Reza kembali ke ruangan rawat Arga dan melihat atasannya itu belum juga sadarkan diri.
"Aargh! Ssshhh!" semua pandangan beralih pada suara mengerang dan mendesis menahan sakit dari pasien di atas brankar.
Pria itu mengernyit sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Tampak sangat kesakitan. Hampir 30 jam dirinya tak sadarkan diri, kini Arga terbangun dengan rasa sakit tak tertahankan. Pandangan berputar, menambah rasa nyeri di kepalanya.
Reza segera mendekat dan menekan tombol yang terhubung ke ruang perawat.
"Pak?" Reza berusaha menenangkan Arga yang kesakitan.
Jojo pun mendekat dan melakukan hal yang sama. Pria tinggi bertubuh atletis itu begitu menyayangi Arga seperti seorang adik pada kakak laki-lakinya karena begitulah Jojo menganggap Arga.
"Bos? Tahanlah sebentar." ucap Jojo ikut menenangkan.
Tak berselang lama 2 orang perawat memasuki ruangan Arga bersama dokter Rizal.
Dokter tampan itu menyuntikkan obat penenang melalui selang infus di punggung tangan Arga. Tak lama kemudian pria bertubuh atletis itu kembali tertidur.
"Apa efeknya akan lama, Dok?" tanya Reza, wajahnya tampak panik.
"Saya udah kasih penawarnya. Arga itu kuat. Dia pasti bisa pulih lebih cepat dari perkiraan. Liat aja, besok dia udah siap balas dendam." terang Rizal seraya terkekeh.
Dia ingat bagaimana Arga dulu. Seorang pria yang tidak suka diremehkan dan tangguh. Begitu merasa tersakiti, dia akan segera membalas. Meski setelah luka tusuk dan harus menerima banyak jahitan di bagian punggungnya, begitu tersadar dan diperbolehkan pulang, pria tampan itu langsung membuat perhitungan dengan lawannya.
Reza dan Jojo hanya saling tatap mendengar ucapan Rizal. Iya. Mereka membenarkan kata-kata dokter karismatik itu. Meski jarang terlibat perkelahian secara langsung, tapi mereka sering melihat Arga menghajar orang-orang yang bermain api dengannya tanpa rasa kasihan. Aura kejam terpancar keluar begitu saja dari wajah karismatik pria tampan yang selalu bersikap lembut pada Hania itu.
"Mas? Tidur terus sih? Bangun dong." suara lembut Hania menelusup ke dalam telinga Arga, membuat pria itu mulai menggerakkan matanya.
"Sebentar honey, aku masih ngantuk. kepalaku rasanya berat banget." manja Arga.
"Katanya kangen, cepet balik sini." bisik Hania seraya mengelus rambut Arga dengan lembut lalu mendaratkan kecupan di kening pria tampan itu.
Merasakan bibir lembut Hania menempel di keningnya, seketika mata Arga terbuka lebar. Lalu mendesah karena ternyata hanya mimpi. Pria tampan itu kemudian menyadari dimana dirinya berada saat ini. Diedarkannya pandangannya dan melihat Reza dan Jojo sedang berjaga menunggunya sambil terkantuk-kantuk.
"Ehem!" Arga berdehem membuyarkan kantuk kedua pria besar itu.
"Pak?"
"Bos?"
Sapa Reza dan Jojo bersamaan. Dan mendekat bersamaan pula. Tak berselang lama Rizal datang bersama seorang perawat memeriksa kondisi Arga.
"Gimana bro? Siap balas dendam?" seloroh Rizal.
__ADS_1
"Lu yang paling tau gue." sahut Arga datar.
"Hati-hati. Jangan sampai kena hajar. Kondisi lu belum kuat banget." pesan Rizal.
"Gue dokternya disini, jangan bantah." Rizal sudah berucap lagi ketika tahu Arga akan menyela ucapannya, membuat pria yang tetap tampan meski sudah pingsan selama 30 jam itu berdecih
Perawat yang mendampingi Rizal hanya bisa menatap heran dan bertanya-tanya dalam hati, apa hubungan kedua pria mapan itu? Sepertinya akrab sekali.
"Siapa yang jebak saya?" tanya Arga dingin pada 2 orang bawahannya sepeninggal Rizal.
"Kami menemukan anda bersama Bu Rosa, Pak." sahut Reza hati-hati.
"Rosa?" Arga mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya.
"Beraninya dia!" Arga menekan kalimatnya dengan nada dingin, dadanya bergemuruh, ingin segera membuat perhitungan dengan wanita itu.
Tring!
Hania meraih ponselnya yang baru saja di letakkan di atas nakas di samping ranjangnya. Wanita cantik itu mengernyitkan keningnya merasa tidak mengenal nomor kontak yang tak bernama yang tertera sebagai pengirim.
Namun, matanya seketika terbelalak demi melihat beberapa foto mesum yang dikirim melalui nomor tak bernama itu. Dadanya bergemuruh serasa akan meledak. Rasa cemburu langsung mencuat hingga ke ubun-ubunnya. Airmatanya langsung menggenang di pelupuk mata. Dilemparnya ponselnya ke ujung ranjang. Dirinya tak sanggup melihat foto itu apalagi membayangkan adegan yang terjadi.
Di seberang ponsel, Rosa tengah tersenyum penuh kemenangan. Wanita seksi itu sangat yakin Arga sudah berada dalam genggamannya.
"Paling ngga kalau gue ngga bisa milikin Arga, dia juga ngga boleh." senyum licik mengembang di bibir seksinya Rosa seraya memutar-mutar ponselnya.
Dia ingat, semalam menggerayangi tubuh atletis Arga. Bermain-main sendiri dengan tubuh pria itu. Setiap jengkalnya tak terlewati. Berniat membangunkan Arga sekaligus hasratnya. Bahkan merangsang 'jendral jack'nya Arga. Tapi benda pusaka itu tetap tertidur tak terpengaruh. Pria tampan itu tetap setia menutup matanya.
Hingga tak ada yang bisa dilakukannya untuk menjebak Arga kecuali dengan foto-foto mesum yang direkanya sendiri. Dengan keadaan Arga yang tak sadarkan diri, Rosa bebas berpose di sekitar tubuh polos pria itu. Seolah-olah sedang beradegan panas dengan pria itu.
Rosa senyum-senyum sendiri seraya berguling-guling membayangkan tubuh dan benda pusaka Arga. Wanita cantik itu gemas. Sejak masih menjadi kekasihnya, Arga tidak pernah mau menyentuhnya padahal dirinya sudah memberi lampu hijau. Ah. Pria itu sungguh membuat Rosa penasaran.
Brak!
Arga menggebrak meja di depannya membuat Reza, Jojo, dan anak buahnya tersentak lalu menoleh pada pria karismatik itu. Matanya nanar menatap layar ponselnya. Saat ini Arga sudah dibawa pulang ke apartemennya.
"Cari Rosa! Sekarang!" perintahnya dengan geram.
Jojo dan beberapa anak buahnya langsung bergerak meninggalkan Arga dan Reza bersama Harun dan Ben.
"Kalian yakin aku ngga ngelakuin hubungan **** dengan ulat keket itu!?" tanya Arga dengan nada dingin pada Harun dan Ben.
Kedua pria kekar itu menggeleng bersamaan.
"Kami sudah periksa semua bos, aman." sahut Ben.
"Ada apa, Pak?" tanya Reza hati-hati.
__ADS_1
Arga menyerahkan ponselnya pada Reza. Pria berkacamata itu melotot melihat pose syur atasannya dengan wanita seksi itu. Tak dipungkiri dirinya sampai kesulitan menelan salivanya. Reza melirik Arga. Dan berpikir. Benarkah dulu atasannya itu tidak pernah menyentuh tubuh seksi itu semasa menjalin asmara? Tapi sejurus kemudian dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia mengenal atasannya lebih baik dari siapapun.
"Dia udah ngirim foto-foto itu pada Hania." lirihnya.
"Tinggalin aku sendiri." perintahnya kemudian.
Harun dan Ben memilih menunggu di kafe yang terletak di lantai dasar apartemen. Sementara Reza masuk ke ruangan yang digunakan sebagai kantor.
Drrrt drrrt drrrt!
Arga menunggu ponselnya terhubung pada ponsel Hania dengan hati yang ketar ketir. Pria tampan itu takut jika wanita cantik yang sekarang sudah menguasai hatinya itu menjauhinya.
"Halo, Mas?" Arga memejamkan matanya demi mendengar suara Hania yang lembut itu bergetar, pria itu yakin jika wanitanya baru saja menangis.
"Honey. Tolong, percaya padaku. Tetap percaya padaku." Arga terisak, pria itu tak dapat menahan emosinya.
Hatinya berdenyut nyeri membayangkan Hania menangisi foto-foto yang dikirimkan Rosa barusan. Foto-foto rekaan wanita ulat keket itu.
"Honey. Please, bicaralah. Jangan diam saja. Aku merindukan suaramu. Sungguh." ucap Arga di sela-sela isaknya.
"Apa Mas mencintaiku?" hati Arga mencelos mendengar pertanyaan Hania, terasa mengiris hatinya.
Wanita itu apakah sedang meragukannya? Oh, tidak! Hania harus percaya bahwa dirinya mencintai wanita lembut itu. Sangat mencintainya.
"Tentu, honey. I love you from the bottom of my heart. Kamu yang paling tau perasaanku padamu. Tolong jangan meragukan cintaku, Sayang." ucap Arga sepenuh hatinya, bahkan suaranya sampai bergetar ketika mengucapkannya.
"Cepet selesaiin masalah Mas, dan cepet balik ke sini. Aku... Aku kangen." pintanya lirih dan wajahnya merona.
Arga tercengang sejenak demi mendengar sahutan Hania. Apa dirinya tidak salah dengar? Wanita itu tidak marah padanya? Bahkan dia merindukannya? Memintanya segera kembali? Senyumnya langsung merekah bak bunga matahari. Terlalu lebar.
"Aku juga kangen, honey. Pasti secepatnya kuselesaikan." sahut Arga disela isaknya.
"Thank you for trusting me, honey. Love you to the moon and back. Aku pasti kembali secepatnya." ucapnya seraya mengusap airmatanya.
Arga semakin tergugu ketika mendengar Hania juga menangis di seberang ponselnya.
"I love you more." balas Hania dengan lembut disertai kecupan diakhirnya.
Klik!
Sambungan terputus. Arga masih menatap layar ponselnya. Hatinya terasa lega luar biasa. Kekasihnya lebih memilih untuk mempercayainya.
"Baiklah, Rosa. Lu mau main-main? Gayung bersambut bitc*!" Lu jual gue beli!" geramnya.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk terus karya author 🤗🤗🤗