Yang Terakhir

Yang Terakhir
56. Masalah Arga


__ADS_3

Tepat jam 12, rapat dengan divisi keuangan selesai. Pertemuan yang memakan waktu hampir 3 jam itu benar-benar memeras otaknya dan menguras energinya. Baru disadarinya, kerugian yang dialami perusahaannya karena tindakan curang sang paman, ternyata cukup besar. Kalau begini, perusahaannya harus menekan pengeluaran dibeberapa sektor. Itu termasuk menekan biaya produksi. Arga masih duduk di ruang rapat itu. Disebelahnya, Adi masih setia menungguinya.


Arga mempertimbangkan beberapa saran dari Iden dan manager keuangannya. Menekan pengeluaran dan dampaknya produksi yang menurun. Atau mencari suntikan dana. Ada 2 kandidat kuat yang akan bersedia menjadi donor dananya. Tapi lagi-lagi harus mendekati perusahaan yang dipimpin oleh seorang wanita, dan wanita itu terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Arga. Atau bekerjasama dengan pemilik perusahaan yang sudah lama ingin bekerjasama dengan perusahaannya dan sesumbar ingin memiliki menantu sepertinya. Sudah pasti nantinya, salah satu kesepakatannya adalah menjodohkannya dengan putrinya. 


Arga mendesah. Menekan biaya produksi sangat memberatkannya. Akan mempengari daya jual. Dirinya benar-benar kalut. Pikirannya masih buntu. Tapi pria itu tidak mungkin memilih opsi kedua. Karena hatinya sudah dihuni Hania. Kalaupun belum ada penghuninya, pria itu tetap tidak akan mau dijodoh-jodohkan begitu. Mengingat Hania, dirinya langsung merasa rindu.


"Kita isi bensin dulu", putus Arga setelah melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Akhirnya...", batin Adi lega.


"Bapak mau makan di luar atau delivery saja?", tanya Adi.


"Sepertinya aku keluar saja. Sekalian cari inspirasi", Arga menyahuti pertanyaan asistennya sambil berjalan keluar ruangan rapat dan Adi mengekor.


Sesampainya di ruangannya, Arga dikejutkan dengan kehadiran sang ibu yang duduk manis di sofa di dalam ruangannya.


"Ibu?", sapa Arga lalu mendekat dan mencium tangan ibunya dengan takzim.


"Kalau ibu ngga kesini, ngga mungkin ibu ketemu kamu", gerutu sang ibu, Arga terkekeh mendengarnya.


"Maaf Bu, aku sibuk belakangan ini", Arga membela dirinya.


"Ibu udah denger semua dari Iden. Soal Oom kamu yang membuat ulah sampai-sampai kamu kerepotan begini", ucap sang ibu seraya menatap putranya, dia merasa iba dan merasa bersalah karena ulah sang paman.


"Sudah tanggung jawabku Bu, jangan ngomong begitu. Aku akan berjuang untuk perusahaan ini, dan untuk keluarga kita. Ibu doakan aja, aku bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya dan membuat perusahaan ini stabil kembali", hibur Arga.


Sejak sang ayah meninggal, praktis Arga harus, mau tidak mau, meneruskan perusahaan yang sudah mempunyai nama baik dimata konsumennya itu. Dan juga karena permintaan sang ibu. Untungnya Arga mengabulkan keinginan sang ibu. Jika tidak, sudah pasti perusahaan itu tidak akan berkembang seperti sekarang jika dipercayakan pada sang paman yang ternyata memiliki dendam pada mendiang ayahnya. Jatuh bangunnya perusahaan peninggalan mendiang ayahnya sudah menjadi tanggung jawabnya.


"Soal Oom kamu...", sang ibu menggantung kalimatnya.


"Dia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal", sahut Arga menenangkan ibunya.


Sang ibu terlihat lega. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu merasa khawatir jika sang paman akan mengganggu putranya. Meski dirinya yakin Arga akan mampu mengatasinya tapi dirinya sekarang tahu adik mendiang suaminya itu ternyata sangatlah tega berbuat kejam.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?", tanya ibunya menghalau rasa khawatirnya.


"Belum. Kita makan siang bareng?", Arga berusaha menghibur ibunya yang mengkhawatirkannya, itu terlihat jelas diwajah senja sang ibu.


Arga menuruti kehendak sang ibu yang ingin makan di restoran favorit sang ibu. Restoran yang sangat dihapalnya. Restorannya Hania. Rasa Sayang Resto. Jantungnya sudah berdebar saja ketika kakinya melangkah memasuki restoran itu. Sang ibu memilih duduk di salah satu meja disudut ruangan, tidak memilih ruangan privat sepertinya jika makan disana.


Arga mengedarkan pandangannya, berharap bertemu wanita cantik pemikat hatinya. Hingga seorang waitres datang. Waitres itu hanya senyum-senyum sambil melirik Arga. Kelakuan waitres itu tidak luput dari perhatian sang ibu.


"Anak saya ganteng kan Mba?", sindir sang ibu tidak suka dengan tingkah waitres tadi yang disangka ganjen.


Arga langsung menoleh pada waitres itu. Apa maksud ibunya? Memang waitres itu kenapa sampai-sampai ibunya menegurnya? 


Ditatap Arga, waitres tadi hanya tersenyum kikuk. Kemudian segera meninggalkan meja itu setelah ibunya Arga memesan.


"Ibu kenapa sih?", tanya Arga, pria tampan itu merasakan ketidaksukaan ibunya pada waitres tadi.


"Ibu ngga suka aja, dia liatin kamu sambil senyum-senyum. Ganjen!", sinis ibunya Arga.


Arga hanya menggelengkan-gelengkan kepalanya menanggapi keluhan sang ibu. Pria tampan itu berpikir ibunya berlebihan, baginya sikap waitres itu biasa-biasa saja. Dia terbiasa mendapat tatapan seperti itu. Arga tahu maksudnya. Para waitres tadi hanya menggodanya. Jelas mereka tahu siapa Arga, tidak mungkin bersikap berlebihan padanya.


"Kamu kenapa?", tanya sang ibu yang mendengar Arga mendesah.


"Ngga pa-pa Bu, cuma rasanya capek aja", kilah pria tampan itu.


"Kamu harusnya istirahat dulu di rumah, ngga usah buru-buru berangkat ke kantor. Ada Iden yang bisa kamu percaya", sang ibu juga melihat putranya itu letih, terlihat diwajahnya yang tampan.


"Aku cuma memastikan kondisi perusahaan kita seperti apa setelah bermasalah dengan Oom Aris", sahut Arga.


Sementara di dapur, waitres yang tadi ditegur ibunya Arga, menggerutu menuangkan rasa kesal bercampur malu karena sudah ditegur seperti tadi.


"Kamu kenapa, ngomong sendiri begitu?", tegur seorang karyawan.


"Iih... Gue sebel tau ngga? Masak gue disindir gara-gara senyum-senyum sama Pak Ganteng!", keluhnya.

__ADS_1


"Pak Ganteng disini!? Dimana!?", seorang karyawan malah heboh menanyakan keberadaan Arga yang disebut Pak Ganteng.


"Tuh! Duduk sama ibu-ibu!", tunjuk waitres tadi asal, dia kesal juga dengan rekannya itu.


"Itu ibunya ya? Waah, masih cantik gitu walaupun udah paruh baya ya", ucap karyawan lainnya sambil celingukan melihat ke arah ruang makan, malah memuji.


"Mudanya pasti cantik banget. Pantes aja Pak Ganteng kinclong banget", puji karyawan lainnya.


Waitres yang ditegur tadi malah frustrasi. Rekan-rekannya itu, bukannya membela dirinya, malah memuji ibu-ibu yang diduga ibunya Arga.


Arga meninggakan ibunya yang masih bertelepon ria dengan teman sosialitanya setelah menyelesaikan makan siangnya. Ke toilet. Padahal dirinya tidak benar-benar ke toilet. Di depan toilet pria tampan itu bertemu waitres yang disindir ibunya tadi.


"Kamu Anja kan?", tebak Arga, pria itu tahu Anja adalah salah satu karyawan yang dekat dengan Hania.


"Pak Ganteng, eh, umm... Bapak tahu nama saya?", waitres bernama Anja itu malah histeris.


Arga mengangguk dan terkekeh melihat tingkah waitres yang bernama Anja itu. Sesuai dengan usianya yang masih belia.


"Maafin ibu saya. Kadang sikapnya suka berlebihan kalau suasana hatinya sedang tidak baik", ucap Arga meminta maaf atas nama ibunya, dia tidak ingin ibunya mendapat kesan yang buruk dimata karyawan Hania, khawatir akan mempengaruhi pandangan wanita cantik yang sudah mengisi hatinya.


Anja hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kikuk. Tidak tahu akan bersikap bagaimana karena dirinya masih kesal di sindir seperti tadi. Dirinya cukup tersinggung disangka cari perhatian Arga, karena cukup tahu diri. Tidak mungkin pria seperti Arga akan menyukainya. Apalagi sekarang pria itu adalah kekasih atasannya. Begitu pikirnya.


"Pak Ganteng, eh, umm...", Anja melipat bibirnyan lagi-lagi bingung akan memanggil Arga dengan sebutan apa, pasalnya dia tidak tahu nama pria ganteng itu, jadi hanya mengikuti rekan-rekannya yang menyebutnya "pak ganteng".


"Bapak nyariin Bu Hania ya? Bu Hania masih cuti. Dek Tiara ngga mau ditinggal katanya", terang Anja.


"Iya, saya tahu", ucap Arga lalu meninggalkan Anja.


"Aaah. Ternyata Pak Ganteng, ganteng banget kalau dilihat dari dekat. Pantes aja Bu Hania ngga bisa nolak, hihi..", Anja bergumam sendiri lalu terkekeh.


Arga dan ibunya meninggalkan restoran Hania setelah dirinya mendapat panggilan dari Iden. Sang ibu pun minta diantar pulang.


********

__ADS_1


Selamat Tahun Baru 🎆🎆🎆


Thanks for reading!


__ADS_2