Yang Terakhir

Yang Terakhir
9. Meresahkan


__ADS_3

"Kamu godain aku? Bibirmu begitu bisa bikin aku khilaf lo." goda Galih lalu terkekeh lagi.


Hania melemparkan tisu yang sejak tadi diremasnya ke arah Galih. Wajahnya merona. Dia ingat Galih pernah menciumnya penuh hasrat. Sambil membawa piring kotor Hania meninggalkan Galih yang masih terkekeh.


Malam beranjak makin larut. Tepat jam 9, Galih undur diri. Hania menatap kepergian Galih hingga hilang di tikungan.


"Aku pasti kesepian nanti." gumam Hania.


"Ah, baru sadar ternyata aku terlalu bergantung padamu." lanjutnya bermonolog dalam hati.


Ditengadahkannya kepalanya menatap langit kelam bertabur bintang. Dia mendesah.


Merasakan hawa dingin yang semakin menusuk membuat Hania mengeratkan sedekapan tangannya. Dirinya masih enggan beranjak dari sana. Mata kelincinya menyapu sekeliling komplek rumahnya.


Sepi. Hanya suara daun-daun yang saling bergesekan, ******* angin yang bertiup agak kencang malam itu, deru mesin kendaraan yang sesekali melintas, jangkrik, kumbang, burung? Haduh, kenapa jadi memikirkan hal beginian?


Cukup lama Hania larut dalam pikirannya yang melayang-layang. Tiba-tiba bayangan wajah pria tampan yang pernah ditemuinya di pesta pernikahan sahabatnya beberapa waktu yang lalu, dan juga dua kali bertabrakan dengannya melintas seenaknya dalam pikirannya. Tatapan matanya yang tajam yang selalu menatapnya dengan lekat seolah memindainya membuatnya tidak nyaman sekaligus berdebar. Senyum semanis madunya yang selalu menular padanya dan membuatnya menghangat.


"Ah, perasaan apa ini?" batin Hania seraya memegang dadanya.


Kembali Hania menatap langit kelam yang bertabur bintang. Menghela napasnya. Dan melepaskannya perlahan dengan mata terpejam. Mencoba memenuhi rongga paru-parunya yang terasa sesak.


Meskipun Hania masih ingin berada di sana karena dirinya merasa tenang dengan suasana yang sepi seperti itu, namun kantuk yang semakin menguasainya, dan juga rasa lelah setelah beraktifitas berat seharian, mendorong Hania beranjak juga masuk ke dalam rumahnya.


Sementara itu, Arga yang baru sampai di rumahnya mendadak merasa kesepian. Lampu lampu masih menyala terang. Dia berdiri di tengah ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, menyapu setiap sudut rumahnya yang bergaya minimalis berlantai 2 itu. Meski minimalis tapi bangunan rumah Arga cukup besar.


Rumah sebesar itu hanya dihuni olehnya, Bi Sumi, Bi Lastri, dan Mang Diman, sopir yang sekaligus merangkap tukang kebun. Yang pasti 3 penghuni selain dirinya tidak mungkin berkegiatan di dalam rumahnya. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu senggang di dalam kamar masing-masing dan halaman belakang, dan hanya menginjak rumah bagian depan ketika membersihkannya.


Dulu, dia membeli rumah ini untuk melupakan segala kenangan buruk yang terjadi. Mengharapkan kenangan baik tercipta di rumah barunya. Iya. Perlahan mulai bangkit setelah sekian lama merusak diri. Dirinya mampu menciptakan kehidupannya yang tenang dengan kesendiriannya. Dan Hania? Hah. Wanita cantik bermata kelinci itu malah dengan seenaknya mengganggu ketenangan Arga.

__ADS_1


Entahlah. Sejak Arga bertemu dengan Hania, wanita cantik bermata kelinci itu seolah mengusik ketenangan dalam hidupnya. Dirinya yang sudah nyaman dengan hidup sendirinya, mendadak kembali merasakan kesepian.


"Ah, Hania." desahnya.


"Mas Arga sudah pulang?" sambut Bi Sumi membuyarkan lamunan Arga.


Arga menoleh ke arah Bi Sumi yang sedang berjalan mendekatinya. Tadinya Bi Sumi berniat menyimpan makan malam yang disiapkannya untuk majikannya yang masih terhidang di meja makan.


"Mas Arga sudah makan? Bibi siapkan sekarang ya?" tawar Bi Sumi.


"Ngga usah Bi, aku sudah makan tadi. Bibi istirahat saja sudah malam." tolak Arga yang diangguki Bi Sumi.


Sambil mengacak rambutnya, Arga melangkah menaiki tangga ke lantai 2 menuju kamarnya meninggalkan Bi Sumi yang masih sibuk menyimpan makanan ke dalam kulkas. Rasanya sangat lelah. Ditambah rasa penasaran yang hampir tuntas namun kembali harus tertunda. Itu seperti rasa ingin bersin tapi tidak kunjung bersin juga. Aarrrgh!


Mengingat beberapa pertemuan dengan Hania yang tanpa diduga itu, Arga mendesah. Dirinya sudah melewatkan 2 kesempatan untuk mengenal wanita itu. Kalau sudah begini, harus bagaimana? Kenapa seolah waktu tidak mengizinkannya mengenal wanita cantik bermata kelinci yang meresahkannya itu?


Arga merendam tubuhnya yang letih dalam air hangat. Membuatnya rileks. Raganya seolah terasa bugar. Tapi hatinya masih resah? Benar-benar wanita cantik bermata kelinci itu sudah mengalihkan perhatiannya. Siapa sebenarnya dia? Kenapa aku seperti mengenalnya? Dia memejamkan matanya mencoba menggali ingatannya kembali. Bayangan wajah Hania semakin terbayang jelas di pelupuk matanya yang terpejam. Membuatnya frustrasi.


Setelah berganti piyama, Arga merebahkan tubuhnya yang lelah, memutuskan untuk segera tidur saja. Melupakan pekerjaan yang dibawanya pulang. Dia yakin tidak akan fokus mengerjakannya yang akan menambah lelah saja nantinya.


Tapi harapannya tidak berbanding lurus dengan keinginannya. Nyatanya hingga jam digital yang duduk manis diatas nakas sudah menunjukkan angka 2 tepat, Arga masih terjaga. Matanya malah terang benderang bagai lampu sorot 100 watt. Entah kemana larinya si kantuk yang tadi menggelayut manja.


"Ah, Hania, apa reaksimu kalo tau aku sampe ngga bisa tidur karena mikirin kamu yang bahkan belum kukenal?", gumam Arga sambil terkekeh.


"Apa kamu akan mengingatku kalo kita ketemu lagi? Kuharap 2 kali kita bertabrakan, akan meninggalkan kesan bagimu", gumamnya lagi.


Iya. Arga ingat bagaimana reaksi Hania saat kali kedua mereka bertabrakan. Sikap wanita cantik itu tenang-tenang saja. Hanya kadang bola matanya yang membulat menunjukkan keterkejutannya. Atau keningnya yang berkerut karena mungkin mencoba memikirkan atau mengingat sesuatu. Dan kadang tersenyum. Arga tidak dapat menebak pikiran wanita cantik itu.


Kantuk yang sepertinya semakin menjauh, membuat Arga bangkit lagi dari ranjang empuk nan nyamannya. Dulu, ranjang itu tidak pernah mengecewakan Arga. Begitu nempel langsung molor. Begitulah istilah Arga. Tapi beberapa malam belakangan ini, ranjang itu tidak menunjukkan tajinya.

__ADS_1


Arga membuka pintu kaca besar yang terhubung dengan balkon kamarnya. Berdiri di sana sejenak sambil mengedarkan pandangannya, lalu melangkah menuju pagar balkon. Ditatapnya langit kelam bertabur bintang.


"Aku harus kemana nyariin kamu? Bahkan kita ngga pernah berkenalan dengan benar", monolognya.


"Bahkan aku tau namamu juga karena kebetulan", dia terkekeh.


"Awas aja, begitu kita ketemu aku pastikan kamu harus bertanggung jawab. Kamu udah ngusik ketenanganku, membuatku ngga nyaman dan kembali merasa kesepian dalam kesendirianku", keluhnya.


"Aku pastikan, kita berkenalan dengan benar nanti." pikirnya lagi.


Arga mengacak-acak rambutnya dengan satu tangan dan satu tangannya lagi di pinggang. Mengalihkan tatapannya ke bawah.


Sepi. Hanya suara daun-daun yang saling bergesekan, ******* angin yang bertiup agak kencang malam itu, deru mesin kendaraan yang sesekali melintas, jangkrik, kumbang, burung? Haduh, kenapa jadi memikirkan hal beginian?


Cukup lama Arga berdiri di balkon kamarnya dengan segala pikirannya yang melayang-layang memikirkan Hania. Dia kembali mendesah lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa sebegitu penasarannya dirinya pada Hania, sosok wanita cantik bermata kelinci itu? Kenapa dirinya merasa pernah akrab dengan wanita itu? Kenapa dirinya sangat ingin mengejarnya dan mengenalnya? Huft! Arga sungguh tidak memahami perasaannya.


Hawa dingin mulai merayapinya. Kembali ditengadahkan kepalanya menatap langit kelam yang bertabur bintang.


"Semoga kita ketemu lagi Hania." gumamnya penuh harap.


Pikiran yang berlalu lalang dibenaknya lambat laun membuat matanya sayu. Kantuk mulai menghampirinya lagi. Arga kembali masuk ke kamarnya. Merebahkan kembali tubuh dan tentu saja pikirannya yang lelah.


"Selamat malam Hania." gumamnya.


Arga tertidur dengan berbagai rencana untuk Hania.


*******


Happy reading...

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya,


komen dan krisannya juga 😊😊


__ADS_2