
"Makasih ya Lis." ucap Hania seraya meraih ponselnya.
Dilihatnya puluhan notifikasi panggilan dan pesan pada aplikasi chatnya. Namun ketika hendak membukanya, ponsel itu mati kehabisan daya. Hania mendesah, kemudian mengisi daya ponselnya. Dirinya juga penasaran siapa yang mengiriminya chat sebanyak itu. Apakah pria seksi itu? Hah. Kenapa seperti mengharapkan pria itu? Hania menghela napasnya dan mengeluarkannya perlahan.
Mengingat pertemuannya dengan pria yang kini dianggapnya seksi itu, membuat Hania mengingat bagaimana manisnya sikap pria itu pada Hania. Saking manisnya Hania sampai tak tega membuatnya kecewa.
Meski dirinya sempat kesal karena sikap pria itu yang selalu menatap lekat dirinya, tapi Hania diam-diam menikmati setiap momen itu. Dirinya merasakan aman dan nyaman sekaligus hangat secara bersamaan ketika pria seksi itu ingin berteman dengannya.
Setelah sibuk bertempur bersama perkakas dapurnya, Hania kembali ke ruangannya tanpa melepas apronnya. Baru akan mengaktifkan ponselnya, Lisa masuk sambil senyum-senyum.
"Bu, ada yang ingin ketemu. Laki laki." info Lisa.
"Ganteng Bu, kayak Pak Galih."goda Lisa seraya menaik turunkan alisnya.
Mendengar nama Galih disebut, Hania hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mengulum senyum. Wajah Hania kembali datar memikirkan tamu yang ingin menemuinya.
Laki-laki siapa? Ada perlu apa sih? Kenapa ingin bertemu? Hania mengerutkan keningnya. Lalu melangkah meninggalkan ruangannya dengan bermacam-macam dugaan. Jangan-jangan? Kakinya terhenti ketika membayangkan sosok mantan suaminya. Lisa yang berjalan di belakangnya menyentuh bahunya. Tatapan Lisa seolah bertanya, ada apa?
Dengan segera dihempasnya pikiran yang melayang-layang membayangkan seseorang yang sangat ingin dihindarinya. Hania kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit ragu mengacuhkan tatapan Lisa.
"Hmm... Kamu pernah ketemu sama orangnya ngga Lis?" tanya Hania penasaran dan tentu saja gugup.
Setiap ada pria yang ingin bertemu dengannya, Hania merasa ketakutan. Dirinya cemas jika yang datang adalah mantan suaminya. Traumanya pada penghianatan yang dilakukan sang mantan padanya membekas terlalu dalam. Lukanya seperti tidak pernah kering. Untunglah setelah perceraiannya, sang mantan meninggalkan kota itu pindah ke kota lainnya. Hania tidak mau tahu.
"Engga Bu." Lisa menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di meja pengunjung, Hania baru merasa lega. Pria yang menemuinya tidak dikenalnya. Pria tinggi berwajah manis itu mengangguk seraya tersenyum pada Hania. Hania balas mengangguk dan tersenyum.
"Selamat siang." sapa si pria.
"Saya Adi, suruhan Pak Arga." lanjutnya memperkenalkan diri.
Kening Hania berkerut mendengar nama Arga. Hah. Pria seksi itu. Kenapa sejak pagi sudah bergelayut dalam pikiran?
"Saya diutus untuk memastikan bahwa keadaan Ibu Hania baik-baik saja." ucapnya menjelaskan kedatangannya.
"Hah?" Hania masih belum mengerti.
"Karena sejak kemarin, Ibu tidak memberi kabar pada Pak Arga jadi Bapak ingin memastikan Ibu dalam keadaan baik-baik saja." terang pria bernama Adi itu panjang lebar.
"Jadi, apa mungkin puluhan notifikasi itu dari panggilan dan pesan dia?", Hania memikirkan puluhan notifikasi di ponselnya yang mati kehabisan daya itu.
__ADS_1
Haduh. Hania mengurut pelipisnya. Dirinya tidak habis pikir dengan sikap Arga. Mereka kan baru kenal dan berteman, kenapa sikapnya seolah-olah Hania itu kekasihnya? Hania jadi merasa takut sendiri. Pria seksi itu benar-benar seperti mengincarnya.
"Oh iya, dan ini Bu." ucap Adi sambil menyerahkan sebuah paper bag.
Hania melongokkan kepalanya kedalam paper bag itu. Terlihat sebuah kotak ponsel. Dari logonya sudah dapat dipastikan itu ponsel yang harganya selangit bagi Hania.
"Ini, buat apa Pak Adi? Kenapa memberi saya ponsel?" Hania belum mengetahui maksud dari pemberian itu.
"Itu dari Pak Arga Bu, disitu sudah ada nomor Pak Arga, anda diminta menghubunginya." terang Adi.
Hania hanya terbengong-bengong mendengar keterangan Adi. Bagaimana bisa hanya karena dirinya tidak segera membalas pesannya dan membiarkan pesan itu tidak berbalas sehari semalam, membuat pria seksi itu mengutus orang untuk memeriksanya dan bahkan memberikannya sebuah ponsel mahal. Hania mendesah lalu menggelengkan kepalanya.
"Maaf, saya tidak bisa menerimanya." tolak Hania seraya menyerahkan kembali paper bag itu.
"Maaf, tapi Pak Arga tidak suka penolakan. Mohon Ibu terima saja. Kalau tidak nanti saya yang dimarahi." paksa Adi.
Hah. Pria seksi itu. Akhirnya demi menolong Adi dari amarah teman barunya, Hania menerima ponsel itu. Dia akan mengembalikannya nanti setelah bertemu kembali dengan pria itu.
Di sebuah ruangan yang bersebelahan dengan ruangan direktur, Reza masih mencerna perintah dari atasannya. Disandarkannya tubuhnya pada sandaran kursinya. Matanya menatap langit-langit ruangannya.
"Rez, suruh orang kepercayaanmu untuk menemui Hania di Rasa Sayang Resto. Tanyakan keadaannya." Reza mengingat perintah Arga pagi tadi.
"Ohya, belikan ponsel juga untuk Hania, ponsel terbaik." titahnya kemudian.
Siapa Hania ini? Apa dia wanita yang melelehkan es batu itu? Wah, sepertinya aku harus bertemu dengannya.
Drrrt drrrt drrrt.
Ponsel Reza bergetar. Nama Arga tertulis jelas di sana. Tapi begitu diangkat getarannya sudah berhenti. Ditatapnya layar ponselnya. Reza mendesah lalu bangkit dan meninggalkan ruangannya. Dia tahu Arga menginginkannya berada di hadapannya saat itu juga.
Tok tok tok.
Reza membuka pintu dan masuk kedalam ruangan atasannya itu. Dilihatnya, wajah atasannya itu masih muram, sama seperti kemarin.
"Gimana? Sudah kamu pastikan keadaannya?" tanya Arga tak sabar.
"Sudah, Pak." jawab Reza singkat.
"Gimana keadaannya?" Arga masih menunggu penjelasan.
"Ehem... Wanita itu baik-baik saja, Pak." lapor Reza.
__ADS_1
"Apa dia sudah menerima ponselnya?" selidik Arga.
"Sudah, Pak." lagi-lagi Reza menjawab singkat.
Dilihatnya Arga menghela napas dan melepaskannya perlahan. Terlihat pancaran kelegaan di wajah atasannya yang, ya diakuinya tampan.
Tring.
Arga langsung merespon secepat kilat begitu mendengar nada aplikasi chat pada ponselnya. Senyumnya terkembang bagai bunga matahari. Terlalu lebar. Tingkahnya itu tidak luput dari tatapan sang asisten.
"Apa itu pesan dari wanita itu?" tebak Reza sambil terus mengamati ekspresi atasannya itu.
Fix bos jatuh cinta. Benarkah? Lagi-lagi Reza mengelus dagunya.
"Baiklah, apa agenda saya hari ini?" tanya Arga bersemangat.
Reza hanya melongo melihat perubahan sikap bosnya yang tiba-tiba bersemangat itu. Apakah itu dikarenakan wanita yang bernama Hania itu. Waah.. Bosnya itu benar-benar sedang kasmaran.
Arga sendiri heran dengan tubuhnya yang merasa sangat lelah setiap harinya. Seperti tak ada gairah. Perasaan ingin cepat kembali ke Jakarta begitu mendominasi. Ditambah bayangan Hania yang menatapnya dengan mata kelincinya membuatnya menjadi gemas ingin segera menemui wanita cantik itu lagi. Iya. Mungkin karena dia.
Iya. Pasti karena dia. Buktinya, setelah gelisah sehari semalam menunggu balasan pesannya, dirinya bisa merasakan kelegaan luar biasa demi mengetahui keadaan wanita cantik itu. Ditambah lagi Hania membalas pesannya. Dan seketika semangatnya kembali utuh, bahkan berlebih sekarang.
Entahlah. Dirinya juga bingung kenapa bisa segelisah itu ketika Hania tidak segera memberinya kabar.
Arga tersenyum tipis mengingat dirinya pernah menawarkan pertemanan pada Hania. Apa-apaan? Entah darimana dirinya mendapatkan ide itu, tapi yang jelas saat ini dirinya selangkah lebih dekat dengan Hania. Dia senang mengenal wanita itu. Entahlah dia tidak tahu kenapa bisa sesenang itu hingga berjauhan darinya membuat moodnya berantakan.
Arga terus menatap pesan yang Hania kirim padanya. Wanita cantik bermata kelinci itu memintanya untuk menjaga kesehatan, jangan sampai telat makan dan istirahat yang cukup. Pesan yang umum disampaikan sebenarnya. Tapi karena yang berpesan Hania, pesan itu terasa keramat.
Arga senyum-senyum terus sepanjang hari karena kelewat senang. Dirinya tak peduli dengan Reza yang menatapnya heran dan penuh pertanyaan. Dengan mata terpejam, Arga membayangkan senyum Hania yang jarang ditampakkan padanya, tapi dia juga suka menatap mata kelinci milik wanita cantik itu.
Segala sikap dan ekspresi Arga tak luput dari pengamatan Reza. Matanya yang tak kalah jeli dengan atasannya itu, terus memindai, merekam, kemudian mulai menghubung-hubungkan beberapa kejadian. Tapi memang sepertinya Reza melewatkan beberapa kejadian. Reza mendesah.
Arga membuka matanya. Dilihatnya Reza berdiri di depannya sambil menatap ke arahnya. Tatapan yang sulit diartikan Arga.
"Kamu mikirin apa Za?" tanya Arga membuat Reza mengerjap.
"Ah, ngga mikir apa apa, Pak." jawab Reza.
Reza pun bingung. Melihat ekspresi bosnya yang sedang memejamkan matanya tadi membuatnya tidak bisa berpikir. Sebenarnya apa yang atasannya itu pikirkan? Hah. Reza mendesah lagi.
********
__ADS_1
*Dukung tulisan aku ya... dengan like, vote, dan komennya 😊😊😊
Selamat membaca!