
Arga menarik Hania ke belakang tubuhnya. Menyembunyikan istrinya dari tatapan memangsa pria paruh baya yang kini dibencinya. Arga menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan degub jantungnya yang bertalu-talu karena menahan amarah, dan bersikap tetap tenang.
Pria karismatik itu menatap tak percaya pada sosok pria tua di hadapannya. Lalu mengernyitkan keningnya. Berbagai pertanyaan berkelebat di benaknya. Bukankah seharusnya pria tua itu masih di penjara? Apa yang terjadi? Siapa yang berani bermain-main dengan seorang Arga?
"Kenapa menatapku begitu? Kamu ngga percaya kalau Oommu ini bisa keluar secepat ini?" ucap Oom Aris lalu terkekeh.
"Kamu ngga lupa 'kan siapa Oommu ini?" Arga mengetatkan gerahamnya demi mendengar pria paruh baya itu menyombongkan diri.
Jelas dia tidak lupa, hanya saja, siapa yang berani melepaskan pria tua itu? Dirinya mengetahui jajaran tertinggi di departemen itu adalah pemimpin yang bertanggung jawab dan berdedikasi pada jabatan dan pekerjaannya, tidak mungkin berbuat curang. Apa mungkin Raka? Arga membelalakkan matanya mendapati pemikirannya itu.
Dia teringat tadi, sewaktu menunggu kabar dari anak buahnya, mantan sahabatnya itu mengatakan bahwa dia lah yanag selama ini membantu sang paman menjalankan rencana pria paruh baya itu menghancurkan dirinya. Arga mendesah. Sungguh kenyataan demi kenyataan yang terbongkar membuat hatinya sakit. Bagaimana tidak? Dua orang yang dekat dengannya adalah orang-orang yang menginginkan dirinya hancur. Sementara dirinya sangat menyayangi kedua orang itu.
"Oom bener-bener nguji kesabaranku, ya?" Arga berucap dingin seraya menatap lekat Oom Aris, tapi kemudian terkekeh.
Pria tampan itu sedikit frustrasi memikirkan perselisihannya dengan sang paman. Adik kandung ayahnya. Terbilang keluarga terdekatnya. Sebenarnya bukan masalah yang sulit baginya untuk menghadapi pria paruh baya yang mirip dirinya itu, hanya saja, status keluarga yang memaksa Arga berpikir ulang dan menahan diri.
Tapi kini dirinya sepertinya harus mengesampingkan perasaan itu. Sang paman sudah melampaui batas. Bahkan dengan teganya melibatkan Hania. Pria tua itu memanfaatkan Hania.
"Aku menguji kesabaranmu? Hahaha...." Oom Aris terbahak.
"Kamu yang lemah, Arga. Kamu ngga bisa tegas!" cibir Oom Aris.
Arga mengepalkan tangannya. Ekspresi di wajahnya cukup mewakili perasaannya yang dikuasai amarah. Saat ini dirinya ingin sekali memberi sang paman pelajaran. Kakinya sudah mulai melangkah maju siap bertarung, tapi elusan halus Hania di lengannya seolah berkata, tahan!
Arga mendesah. Lalu menghela napas dalam-dalam agar tetap dapat mengendalikan dirinya.
"Aku hanya bersabar, Oom. Berharap Oom akan sadar diri dan ngga bikin kekacauan di dalam keluarga kita. Mungkin dengan memenjarakan Oom, Oom akan lebih memahami kesalahan Oom. Tapi ternyata aku salah." Arga terkekeh mengingat harapannya yang sepertinya sia-sia.
"Aku membuat kekacauan? Selalu aku yang dituding begitu!" seru Oom Aris mulai emosi.
Beberapa anak buah Oom Aris menyusul, berdiri di belakang pria paruh baya itu sambil bersedekap. Ikut menatap Arga dengan tatapan datar. Lalu bergerak bersamaan mendekati Arga dan Hania sesuai instruksi Oom Aris melalui anggukan kepalanya.
"Mas!" pekik Hania ketika seorang pria bertubuh kekar menariknya menjauhi Arga.
"Jangan sentuh dia! Lepas!" Arga memekik sambil meronta berusaha lepas dari 2 pria bertubuh kekar lainnya menahan Arga dengan memegangi kedua tangannya.
"Mau kau apakan dia!?" Oom Aris terkekeh alih-alih menjawab pertanyaan Arga.
Rasanya Arga semakin muak melihat perangai pamannya yang sudah tidak memandangnya sebagai keponakannya. Bahkan memanggilnya tanpa hormat. Dalam hati dia bersumpah tidak akan memaafkan pria tua itu kali ini.
"Berani kau sentuh dia, aku ngga akan segan lagi padamu!" ancam Arga dengan tatapan menghunus tajam ke arah sang paman.
Oom Aris memerintah anak buahnya membawa Hania pergi dari ruangan itu disusul dirinya. Pria paruh baya itu seperti tidak peduli akan ancaman Arga.
"Kamu tahu aku tipe pekerja keras 'kan, Arga? Sekarang aku sedang berusaha mendapatkan apa yang aku mau." ucap pria paruh baya itu datar sebelum beranjak dari ruangan itu.
"Mas! Lepasin! Mas! Tolong!" mata Arga berkaca-kaca melihat Hania meronta dan ketakutan.
"Honey!" pekik Arga sebelum tubuh Hania menghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Aaargh!" Arga merasa frustrasi.
Bugh!
Sebuah tendangan mendarat di betis pria kekar di samping kanannya membuat pria kekar itu kehilangan keseimbangan. Hal itu dimanfaatkan Arga melepaskan diri dari cekalan kedua pria kekar disamping kanan dan kirinya.
Bugh!
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat di rahang salah satu pria kekar di sampingnya. Disusul pukulan-pukulan berikutnya. Dalam waktu singkat Arga dapat melumpuhkan kedua pria bertubuh kekar itu.
Arga berlari ke setiap sudut rumah yang tampak minimalis itu, memeriksa tiap ruangan yang ada di dalamnya. Mencari sang istri.
"Ga!" Arga menoleh ketika suara yang akrab di telinganya menyapa, suara Raka.
"Mana Hania?" Arga menggelengkan kepalanya.
"Si tua itu bawa istri gue pergi." sahutnya dengan suara yang ditekan.
"Mereka pasti masih di sini. Gue ngga lihat ada yang keluar." sahut pria itu.
"Ka!" seru Arga ketika mantan sahabatnya itu hendak meninggalkannya.
"Tenang. Gue pasti bantu elu." sahut Raka seolah tahu apa yang akan dikatakan Arga lalu benar-benar menjauh dan hilang di balik pintu yang berlawanan arah dengannya.
Arga melanjutkan pencariannya. Pertarungan lamat-lamat masih terdengar di telinganya di lantai bawah. Anak buah sang paman dikenalnya alot dan siap berkorban untuk sang paman. Entah sudah berapa banyak anak buahnya yang tumbang. Tapi dirinya percaya anak buahnya juga tidak akan menyerah begitu saja.
"Kalian ngga akan dapat apapun dari suamiku!" serunya lagi.
Plak!
"Berisik lu!" bentakan seorang pria juga terdengar di telinganya.
"Hei! Jangan kasar-kasar sama keponakanku!" hardik seorang pria yang suaranya dikenal sebagai suara sang paman.
Arga mengikuti arah datangnya suara. Letaknya berada di bagian belakang lantai 2. Lamat-lamat Arga dapat mendengar Hania mencoba membela dirinya. Begitu juga tamparan dan bentakan yang dilayangkan pada sang istri. Membuatnya mengepalkan tangannya dan mengetatkan rahangnya. Wajahnya memerah dan pandangannya mengelam. Arga naik pitam.
"Pak!" bisik Reza yang entah sejak kapan berada di belakangnya, membuat Arga menoleh sekilas.
Ekor matanya juga menangkap sosok Kelik dan 2 anak buahnya yang lain. Itu artinya anak buahnya sudah bisa mengalahkan sebagian anak buah Oom Aris. Buktinya Reza dan Kelik sudah bisa menyusulnya. Pria karismatik itu bisa sedikit bernapas lega. Menyelamatkan Hania akan lebih mudah dengan bantuan mereka.
Arga menganggukkan kepala memberi isyarat dan seolah mengerti maksud Arga, Kelik bersiap mendobrak pintu, namun dicegah Reza. Kelik mengernyitkan keningnya seolah bertanya, ada apa lagi?
Dengan isyarat tangannya, Reza meminta Kelik mundur. Alih-alih mengganti Kelik mendobrak pintu, Reza malah hanya mengetuknya beberapa kali.
Klek! Klek!
Terdengar kunci pintu diputar 2 kali. Mendengar suara itu, Reza menunjuk lubang kunci dengan dagunya seraya menatap Kelik seolah berkata, tahu 'kan?
__ADS_1
Kelik tersenyum sinis seolah berkata, sombong! Sementara Reza mengendikkan bahunya.
Klek!
Gagang pintu berputar. Seketika membuat Arga dan pria-pria bertubuh atletis dan kekar itu diam dan bersiap.
Brak!
Arga langsung melayangkan tendangan begitu seorang pria bertubuh kekar muncul dari balik pintu, membuat pria itu terjengkang ke belakang dan jatuh menimpa meja kaca di tengah ruangan. Sontak semua perhatian teralih ke arah Arga dan anak buahnya yang sudah merangsek maju memasuki ruangan dan mencari lawan masing-masing.
Hania membelalakkan matanya. Tak dipungkiri hatinya senang karena suaminya akhirnya menemukannya. Wanita cantik itu percaya jika Arga akan menyelamatkannya.
Arga langsung mendekati Hania setelah berhasil melumpuhkan lawannya. Dengan cepat membuka tali pengikat tangan dan kaki sang istri. Lalu perlahan membuka lakban penutup mulutnya.
"Mas." Hania langsung masuk ke dalam pelukan Arga yang seketika sanggup menenangkannya. Menangis menumpahkan rasa takut dan paniknya.
"Ada aku di sini." bisik Arga seraya memeluk erat wanita kesayangannya itu.
Bugh!
Sebuah tendangan mendarat di punggung Arga membuat Arga dan Hania terhuyung. Beruntung Arga dapat menahan keseimbangan tubuhnya dan Hania sekaligus hingga pasangan suami istri itu tidak sampai jatuh ke lantai.
"Berlindung di balik meja itu, honey!" lirih Arga seraya mengusap pipi Hania yang tampak bengkak dan memerah.
Hati Arga serasa diremas. Istri yang diperlakukannya bak kaca itu mendapat perlakuan kasar dari anak buah sang paman. Dan pria paruh baya itu tidak berusaha untuk menghalanginya. Arga berbalik dan menatap pria yang menendangnya, yang ternyata adalah pamannya sendiri, dengan sorot mata tajam dan penuh amarah.
"Sudah cukup! Kau benar-benar menguji kesabaranku!" tekan Arga seraya berjalan mendekati sang paman yang sudah siap menerima serangan Arga.
Perkelahian antara kemenakan dan paman pun tak terhindarkan. Kedua pria beda usia itu sama-sama tangguh. Sama-sama memiliki kemampuan yang baik dalam bela diri. Meski semua kemampuan yang Arga miliki didapat dari sang paman, tapi bukan berarti Arga menjiplak semua yang diajarkan sang paman. Pria tampan itu tergolong pria cerdas. Selain belajar dari pamannya, dia juga mengadopsi seni bela diri yang lain. Hingga dia memiliki kemampuan yang sedikit lebih ungul dari pamannya. Ini kedua kalinya Arga menghajar sang paman.
Dalam beberapa kali jurus, sang paman tampak kewalahan. Arga benar-benar tidak memberi pria tua itu kesempatan untuk menyerang balik dirinya. Pria paruh baya itu sudah terdesak. Jelas usia membuat Arga di atas angin. Dalam sekali pukul mungkin pria tua itu akan kalah. Beruntung anak buahnya membantu menahan serangan keponakannya dan beralih menjadi lawan Arga.
Dengan menyeret kakinya yang sepertinya patah, Oom Aris menepi dari pertarungan sengit itu. Tertatih menuju meja di sudut ruangan lalu membuka laci yang terkunci dan mengeluarkan sebuah pistol. Pria tua itu memeriksa amunisi yang tersedia sambil sesekali melirik ke arah Arga yang dibuat sibuk oleh anak buahnya. Lalu membidikkan senjata itu ke arah keponakannya. Dia sedikit kesulitan karena pergerakan Arga yang cepat dan kadang tertutup tubuh anak buahnya sendiri.
Di tengah rasa frustasi, pandangannya tiba-tiba jatuh pada Hania yang tengah berdiri di balik meja di sudut lain ruangan itu. Bertepatan dengan itu, dia melihat Arga tersungkur di dekat kaki Hania.
"Mas! Mas ngga apa-apa?" dengan panik Hania menghampiri Arga yang tampak kesakitan.
"Kenapa di sini? Sana berlindung!" perintahnya dengan nada lembut, yang diangguki Hania meski wanita cantik itu ragu.
Pria tua itu menyeringai. Merasa memiliki target baru. Tak mengapa mengorbankan 1 orang lagi, bukan? Setelah itu target utamanya akan mudah di tumbangkan. Pikiran serakah dan dendam yang mendarah daging, membuat Oom Aris lupa daratan.
Dor!
"Hania!"
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘