
"Baby, pipi lu kenapa?" tanya Iden yang mendapati pipi Bela seperti tergores.
"Ini, kar'na Papa gue." sahut Bela lirih dengan mata berkaca-kaca.
Baru kali ini Bela berani mengungkapkan masalahnya pada Iden. Bos sekaligus rekan bercintanya. Sebelumnya wanita seksi itu selalu menutupi luka yang ada di sekitar wajah dan tubuhnya ketika bertemu dengan pria flamboyan itu atau akan menolak bertemu ketika sedang terluka. Tapi entah dengan hari itu. Dia ingin mencurahkan segala perasaan yang membebaninya selama ini.
Hatinya berkali-kali dilukai dengan sengaja oleh Papa kandungnya sendiri. Meski begitu wanita cantik itu tetap menyayangi pria paruh baya yang turut andil menghadirkannya ke dunia. Bagaimanapun, Handoko pernah menjadi papa yang baik untuknya hingga kehadiran atasannya memberi pengaruh buruk.
Bertemu dengan Iden yang notabene adalah bosnya di perusahaan tempatnya bekerja, membuatnya sedikit demi sedikit merasa nyaman dan perlahan menaruh percaya pada pria lain selain papanya. Meskipun pria flamboyan itu kerap berganti-ganti pasangan, namun Bela menyukai pria tampan itu. Dirinya pun merasa dia bukan wanita yang baik. Sama halnya dengan Iden, Bela pun terjerumus ke pergaulan bebas, beberapa kali berc*nta dengan beberapa pria berbeda. Keluar masuk diskotik ketika dirinya sedang terlibat masalah dengan papanya, membuatnya sedikit bisa merasa lebih baik. Di sana pulalah dirinya mengenal Iden sebelum pria blesteran itu menjadi atasannya.
Iden langsung menarik tubuh sintal teman ranjangnya ke dalam pelukannya. Ada rasa iba yang menelusup ke dalam relung hatinya melihat Bela dalam keadaan seperti itu. Wajahnya yang biasanya ceria dan selalu cantik, kali ini murung. Matanya yang sembab memperburuk penampilannya.
Masih sambil mendekap wanita yang usianya lebih muda darinya itu, Iden menuntun Bela masuk ke dalam apartemennya.
"Apa yang papa lu lakuin?" tanya Iden seraya mengangsurkan segelas air mineral dingin pada Bela.
Pria itu memang tidak tahu menahu perihal kehidupan keluarga Bela secara pribadi. Bagaimana hubungan ayah dan anak itu sebenarnya, dia tidak pernah peduli sebelumnya. Baru kali ini, dia melihat Bela dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Membuatnya ingin bertanya banyak hal. Apalagi papanya Bela adalah Handoko, pria tua yang tengah membawa prahara baru ke dalam keluarganya.
"Ini, sering kejadian kok, Yang. Kalau papa gue ada masalah, gue sering dijadiin pelampiasan." curahnya setelah terdiam sesaat memikirkan baik dan buruknya jika bercerita pada Iden.
"Apa sering begini? Luka begini?" cecar Iden.
Sungguh pria itu tidak pernah mendapati wanita yang menjadi teman tidurnya itu terluka seperti sekarang. Tubuh Bela selalu terlihat mulus ketika bersama dengannya.
"Ya, cuma kalau gue ngga bisa menghindar dari amukan papa." sahut Bela seraya tersenyum getir.
"Lu mau cerita? Gue siap dengerin." tawar Iden.
Rasa penasaran akan bagaimana sebenarnya kehidupan Bela dibalik penampilannya yang cantik dan seksi itu. Selain itu Iden juga ingin tahu apakah wanita itu mengetahui rencana Handoko atau tidak. Membuat Iden tertarik untuk bertanya banyak hal.
"Tapi kalau lu ngga pingin cerita, ngga pa-pa." ucap Iden yang melihat Bela tampak ragu.
Bela menggigit bibirnya. Keningnya sedikit mengernyit. Matanya bergerak tak fokus menatap ke sembarang arah. Dan jarinya saling meremas.
"Beberapa hari yang lalu, gue lihat papa gue bawa cewe." Bela membuka suara setelah hening sejenak.
"Cewe itu... mirip banget sama Hania." lanjutnya.
"Gue sempet ngiranya kalau dia itu Hania." Bela menghela napasnya lalu menoleh ke arah Iden yang menatapnya lekat.
"Tapi sebenernya dia bukan Hania." ucap Bela lagi membuat Iden mengernyitkan keningnya.
Iden masih ingin menjadi pendengar setia. Perlahan bertanya agar Bela tetap merasa nyaman bercerita padanya.
"Darimana lu tahu kalau itu bukan Hania?" tanya Iden menelisik.
"Hania itu ngga suka sama gue. Meski ngga terang-terangan nunjukin perasaannya itu tapi gue tahu setiap perubahan ekspresi ngga sukanya dia ke gue. Tapi, cewe ini, dia ngga nunjukin ekspresi apa-apa ke gue." terang Bela.
"Apa papa lu ngenalin cewe itu ke elu?" Iden semakin penasaran.
Namun mendapati jawaban Bela yang hanya menggelengkan kepalanya membuat harapannya untuk mendapat informasi tentang Syana pupus.
"Apa lu tahu kemana papa lu bawa cewe itu?" Iden menghela napasnya ketika Bela menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kemana?" pancing Iden.
"Ke... ke rumah lu, Yang." sahut Bela seraya menundukkan kepalanya, wanita itu sedikit gemetar.
"Ke rumah ortu gue tepatnya, babe! Dan papa lu udah bikin kekacauan di sana!" ucap Iden penuh penekanan.
"Gue, gue, maaf." lirih Bela dengan suara bergetar.
Wanita cantik dan seksi itu semakin menunduk dan mengkerutkan tubuhnya yang gemetar. Dia ketakutan. Air matanya sudah siap tumpah karena merasa tertekan dan bersalah.
Sungguh. Bela ikut merasa bersalah pada pria yang secara tak sadar sudah memberinya kasih sayang selama ini. Karena ulah papanya, keluarga pria yang disukainya mengalami masalah. Dan dirinya tidak bisa menghentikan sang papa.
"Kenapa lu minta maaf? Lu ngga terlibat 'kan?" tanya Iden hati-hati.
Pria itu kembali duduk di sisi kanan Bela lalu mengusap lembut rambut cokelat kemerahan milik Bela.
Bela mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap pria flamboyan itu dengan mata berkaca-kaca. Meski Iden sudah melembutkan suaranya, entah kenapa Bela masih merasa takut padanya. Lalu wanita seksi itu menggelengkan kepalanya.
"Maaf, gue ngga bisa nyegah papa gue, huhu...." akhirnya tangis Bela pecah juga, wanita bertubuh molek itu menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Iden menarik Bela ke dalam pelukannya untuk menenangkan wanita itu.
Di sebuah kamar di tempat yang berbeda, seorang wanita cantik yang masih setia memejamkan matanya merasa terganggu oleh aksi iseng sang suami yang sedari tadi sibuk mengecupi wajah dan bahunya yang terekspos. Sesekali mengeratkan dekapannya membuat wanita itu melenguh.
"Hei, puteri tidur. Mau sampai kapan kamu akan tidur, hum? Ayo bangun!" bisik Arga lirih tepat di telinga wanita cantik itu.
"Maas....! Iih! Aku masih ngantuk, badanku rasanya remuk tahu ngga, sih?" keluh wanita cantik itu manja tanpa membuka matanya.
Cup. Bukannya merasa bersalah karena sudah mengganggu tidur sang istri, Arga justru semakin gemas melihat ekspresi Hania.
"Maaas....!" pekik Hania tertahan.
Wanita cantik itu benar-benar sudah membuka matanya dan bangkit dari posisi tidurnya sambil memegangi selimut yang membungkus tubuh polosnya. Sembari melemparkan lirikan tajam ke arah Arga, Hania berjalan menuju kamar mandi. Namun, justru sikap Hania yang sedang kesal itu malah dianggap menggemaskan oleh Arga.
Tanpa peringatan, pria karismatik itu menarik tubuh sang istri hingga membuat tubuh rampingnya terjatuh di pangkuan pria itu. Lalu dengan secepat kilat membalik posisinya menjadi di atas dan mengungkung tubuh Hania di bawahnya. Cup. Lagi-lagi Arga memanfaatkan kelengahan sang istri dengan mengecup bibir merah jambunya dan sedikit mel***tnya.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Suara ponsel yang bergetar mendengung bagai lebah menghentikan kenakalan Arga. Sembari menyunggingkan senyumnya, pria tampan itu bangkit dari atas tubuh Hania yang sedang mengerucutkan bibirnya.
"Gimana?" tanya Arga datar pada seseorang di ujung ponselnya.
"Saya sudah selidiki semua informasinya. Tapi sepertinya info yang Bapak butuhkan sudah dihilangkan jejaknya. Keluarganya sudah tidak tinggal di sana lagi sejak sebulan yang lalu. Filenya sudah saya kirimkan ke email Bapak." lapor Reza sementara Arga mendengarkan dalam diam seraya tersenyum tipis memperhatikan Hania yang berlari kecil ke kamar mandi sambil memegangi selimut yang membungkus tubuhnya.
"Selidiki terus. Ikuti Handoko atau Bela. Aku yakin dia ingin cuci tangan dari masalah ini. Selidiki juga masa lalu Oom Pratama dan Oom Aris juga Handoko. Aku mau tahu seberapa dekat mereka di masa lalu." perintah Arga lalu menutup sambungan ponselnya.
Pria karismatik itu meninggalkan kamar besarnya bersama Hania. Satu tujuannya adalah ruang kerjanya yang terletak bersebelahan dengan kamarnya. Dengan cekatan Arga menyalakan laptopnya dan membuka email yang barusan dikirimkan Reza padanya.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Perhatian Arga kembali teralih. Kini nama Iden tertera di layar ponselnya.
"Ada yang mau gue omongin sama lu. Kita ketemu sekarang di tempat biasa." sambar Arga begitu ponselnya terhubung.
__ADS_1
"Gue juga. Gue ke sana sekarang." sahut Iden yang memang ingin bertemu Arga, sangat kebetulan sekali pria beristri itu ingin menemuinya.
Hania yang sudah rapi keluar kamarnya mencari keberadaan sang suami. Tapi Setelah mencari ke seluruh ruangan di rumah berlantai 2 itu, dirinya tidak menjumpai sang suami.
"Bi Sumi liat Mas Arga?" tanyanya pada Bi Sumi yang sedang menyiapkan meja makan.
"Lho, bukannya Mas Arga udah berangkat, Mba? Memangnya ngga bilang sama Mba Hania?" sahut ART parih baya itu.
"Saya ngga tahu, Bi. Saya sedang di kamar mandi tadi. Ya udah deh Bi, saya juga mau keluar. Nanti saya telpon Mas Arga aja." ucap Hania yang diangguki Bi Sumi.
"Ohya Bi, saya ngga makan di rumah ya, Bibi sama yang lain makan aja duluan." pesan Hania lalu beranjak meninggalkan ruang makan dan Bi Sumi yang melanjutkan aktifitasnya.
Hania kembali ke kamarnya sebelum meninggalkan kediamannya. Hari ini, dirinya berencana mengunjungi restorannya yang sudah 2 kali gagal didatanginya. Dan rencananya, suaminya yang tampan itu akan ikut mengantarnya. Tapi sekarang kemana perginya pria itu? Buru-buru sekali sampai tidak sempat pamit padanya. Hih!
Sambil merapikan kembali riasan naturalnya, wanita cantik itu memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tasnya yang sebelumnya memeriksa kembali isinya.
Honey, aku keluar dulu ya. Ada sedikit urusan yang harus aku obrolin sama Iden. Mungkin agak lama, jadi jangan nunggu aku. Sorry, kamu harus ke restoran sendiri, diantar Mang Diman ya. Next time aku ganti waktunya. Love you.
Hania menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar setelah membaca pesan yang dikirimkan suaminya.
Lain kali harus ditepati ya, Sayang. Hati-hati. Harus pulang ya, jangan nginep!
Jari Hania dengan cekatan mengetikkan deretan huruf membentuk kata-kata penuh tuntutan.
Di ujung ponsel, Arga membaca pesan yang dikirimkan Hania dengan senyum mengembang di bibir seksinya. Sayang? Jarang-jarang Hania memanggilnya begitu. Ah. Wanita itu suka sekali bertingkah malu-malu kucing begitu. Mendadak posesif dan membuatnya gemas.
Hania yang memilih mengendarai kendaraannya sendiri, membelokkan mobilnya ke sebuah mall yang terletak tak jauh dari restorannya. Wanita itu ingin membeli beberapa buah tangan yang disukai karyawannya dan kebetulan hanya ada di tempat itu.
Hampir 1 jam berada di toko roti dalam mall, Hania sudah mendapatkan semua barang yang diperlukannya begitu pula dengan buah tangan untuk para karyawannya.
Deg!
Namun ketika akan menaiki eskalator yang membawanya turun ke lantai dasar, langkahnya terhenti. Pandangannya melihat seorang wanita cantik yang mirip dengannya berada di atas eskalator yang mengarah padanya. Sangat mirip hingga Hania tak bisa mengalihkan tatapannya dari wanita itu.
Sepertinya wanita yang mirip dirinya tidak menyadari jika dirinya sedang diperhatikan. Di sampingnya, seorang pria paruh baya sedang memegang tangan wanita itu. Bukan. Lebih tepatnya mencekal. Lalu menariknya ke arah yang dikehendaki pria tua itu.
Hania masih terus memperhatikan 2 orang beda generasi itu dari tempatnya berdiri hingga tanpa sengaja seorang pengunjung menyenggolnya hingga menjatuhkan tas jinjing berisi belanjaannya Hania.
"Maaf. Maaf. Saya ngga sengaja." ucapnya seraya membantu mengambil tas jinjing yang terlepas dari pegangan Hania, beruntung isinya tidak berserakan.
"I-iya. Ngga apa-apa, saya yang minta maaf sudah menghalangi jalan." balas Hania tidak mempermasalahkan dirinya yang disenggol.
Hania kembali celingukan mencari sosok wanita yang mirip dirinya tadi. Tapi sepertinya dirinya kehilangan jejak.
"Dia siapa ya? Ah. Bukankah di dunia ini kita punya kembaran sampai 7 orang?" Hania mencoba mengabaikan pertemuannya dengan wanita yang mirip dirinya dan kembali melangkahkan kakinya menuju parkiran.
*******
Thanks for reading!
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1