Yang Terakhir

Yang Terakhir
190. Ungkapan Hania


__ADS_3

Arga berdiri di depan pintu kamarnya. Ditangannya, pria itu memegang sebuah amplop besar berwarna coklat. Sudah sejak kemarin-kemarin Arga ingin mengatakan sesuatu yang diketahuinya pada Hania. Tapi selalu diurungkannya karena khawatir istrinya terguncang lagi. Namun, kali ini dia harus menyampaikannya pada wanita cantik bermata kelinci itu karena wanita itu sudah terlanjur tahu.


Klek!


Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Hania yang duduk di sofa dan sedang fokus membaca sejilid kertas bersampul hijau tua. Mungkin laporan keuangan dari restorannya. Wanita itu lebih senang melakukannya di dalam kamar daripada membuat ruang kerjanya sendiri, padahal dia tinggal tunjuk ruang mana yang akan dirombak menjadi ruang kerjanya.


Hania hanya menoleh sekilas sambil melempar senyum semanis madunya lalu tenggelam lagi dalam deretan huruf dan angka itu.


"Kamu sibuk?" tegur Arga seraya mendudukkan dirinya di samping Hania tanpa meletakkan amplop besar tadi.


"Ngga kok, Mas. Cuma ngecek laporan restoran aja. Kenapa?" tanya Hania seraya meletakkan kertas-kertas yang dibacanya ke atas meja lalu menoleh pada Arga.


"Itu apa?" Hania menunjuk amplop yang dibawa Arga.


Bukannya bermaksud mau tahu saja tapi amplop yang dibawa Arga sama persis dengan amplop yang beberapa hari yang lalu ditemukannya di rumah keluarga Iden, dan juga di ruang kerja suaminya.


"Ada yang mau aku omongin sama kamu, hon. Tapi kamu baca ini dulu ya." ucap Arga berhati-hati.


"Apaan sih, Mas? Tinggal ngomong aja." kekeh Hania tapi tak ayal diraihnya juga amplop yang disodorkan padanya.


Hania tersenyum kecut saat mengetahui isi amplop itu. Persis dugaannya. Tak dipungkiri hatinya berdenyut nyeri mengingat isi amplop itu.


"Aku udah tahu." lirih Hania seraya meletakkan amplop tadi ke atas meja di depannya.


"Maaf, aku ngga bilang ke kamu dari awal. Aku khawatir fakta ini akan buat kamu syok." ucap Arga seraya menggenggam tangan Hania.


"Iya. Aku memang syok, Mas. Dan aku kecewa sama Mas, tapi aku bisa mengerti. Mas ngga perlu merasa bersalah begitu. Aku perempuan dewasa dan cepat belajar menerima kenyataan kok. Apalagi aku tahu kalau ternyata orangtua kandungku masih hidup. Meski aku kaget tapi aku seneng." ucap Hania dengan senyum yang dipaksakan.


"Aku udah pernah kehilangan beberapa kali dan itu rasanya menyakitkan. Kita bahkan punya pengalaman yang sama, dihianatin pasangan sendiri." ucapnya sambil tersenyum miris.


"Mas pasti tahu betul gimana rasanya." lanjutnya lalu menerawang ke depan.


"Mas lebih beruntung. Di saat terpuruk begitu, ada ibu yang selalu dukung Mas. Sementara aku? Aku cuma punya Galih. Cuma dia." Hania kembali terdiam dan menundukkan kepalanya.


Hati Arga berdenyut demi mendengar nama Galih disebut istrinya. Ada rasa tidak rela jika pria itu pernah menjadi bagian penting dalam hidup wanitanya. Hah! Kenapa dia tidak bertemu Hania sejak awal? Tapi sepertinya dia juga harus berterimakasih pada pria itu. Bagaimana jadinya Hania dulu jika tidak ada Galih saat itu?


Pikiran Arga jadi terbuka. Dibandingkan dirinya yang beruntung karena ibunya selalu bersamanya, Hania hanya ditemani Galih yang hanya sahabatnya. Dia yang sudah ditemani ibunya saja masih susah bangkit, lalu apa kabarnya dengan Hania? Pasti Galih banyak mengorbankan waktunya untuk Hania saat itu. Iya. Sepertinya Arga memang harus berterimakasih pada Galih.


"Tapi Mas lihat 'kan aku sanggup bertahan sampai sekarang. Masalah ini, Mas ngga perlu minta maaf segala. Mas ngga salah. Aku juga ngga akan terguncang. Aku udah pernah ngalamin masalah yang lebih berat dari ini dan Mas tahu masalah apa itu." lanjut Hania seraya menatap Arga dengan mata berkaca-kaca namun bibirnya tersenyum, membuat lidah Arga kelu.

__ADS_1


"Tanpa aku tahu kebenarannya pun aku akan tetap bersyukur. Atau kalaupun ini bukan kebenarannya, dan aku tetap berorangtuakan kandung ayah dan ibuku yang udah ngga ada pun, aku akan tetap bersyukur. Aku udah merasa cukup dan bahagia dengan adanya Mas di sisiku." Hania menghentikan ucapannya dan menghela napasnya lalu menghembuskannya perlahan.


"Makasih, udah selalu ada buat aku. Aku ngga tahu gimana aku tanpa dukungan Mas. Mas yang selalu buat aku semangat untuk hidup lebih baik lagi." lanjutnya seraya mengedipkan matanya berkali-kali menahan airmata yang ingin menetes, sementara Arga hanya terpaku menatap wanita cantik bermata kelinci yang membuatnya jatuh cinta setiap hari itu.


Arga terharu. Kini mata pria karismatik itu yang berkaca-kaca. Direngkuhnya tubuh ramping yang selalu bisa membuatnya nyaman itu dengan erat. Hania yang jarang mengekspresikan perasaannya itu, malam ini berbicara banyak. Membuatnya merasa bahwa wanita itu ingin bersandar padanya.


Hania adalah wanita berhati lembut yang kuat. Dari Galih, sedikit banyak dia mengetahui bagaimana perjuangan istrinya itu dulu agar tetap waras di kala masalah demi masalah datang menguji.


Di fase ini, ketika dirinya dan Hania berusaha membuka lembaran baru pun, cobaan tidak berhenti menempa. Dan kini, lagi-lagi istrinya itu berjuang untuk menerima kenyataan. Dia bukan putri kedua orangtuanya yang selama ini membesarkannya. Belum lagi gangguan dari kaki tangan pamannya, Oom Aris. Arga rasanya geregetan. Tidak sabar menyelesaikan masalah itu.


"Ngomong-ngomong, apa perempuan yang mirip sama kamu kemarin juga ngeliat kamu?" tanya Arga berhati-hati setelah tangis wanita itu reda.


"Ngga. Dia kayaknya buru-buru. Dia ngga sendirian, Mas. Ada bapak-bapak yang jalan di sampingnya sambil gandeng dia. Mungkin ayahnya." terang Hania.


Arga jadi ingat, kemarin tiba-tiba Iden memutus sambungan ponselnya ketika dirinya menghubungi pria flamboyan itu. Katanya, pria itu melihat Syana sedang berjalan di mall bersama Handoko tapi dia kehilangan jejak. Apa pria yang dimaksud Hania itu Handoko?


Secara kebetulan, tanpa disadari keduanya, Hania dan Iden berada ditempat yang sama kemarin, mall xx. Dan mereka sama-sama melihat wanita yang mirip Hania di sana.


Drrrt. Drrrt. Drrrt.


Arga melirik layar ponselnya dan nama Galih tertera di sana.


"Hum." gumam Arga menyapa Galih di ujung ponselnya.


"Hum." gumam Arga lagi.


"Gue sama dia sekarang." ucap Galih.


"Hum." Arga bergumam lagi.


"Lu kenapa? Sariawan? Dari tadi hum, hum mulu!" kesal Galih.


Arga memutus sambungan ponselnya. Dia tidak ingin mendengar Galih protes atau mencibirnya. Selain itu, ada Hania disampingnya.


"Mas ngomong sama siapa? Sahutannya kok cuma hum, hum aja?" kini Hania juga ikut protes.


"Ngga penting, honey. Kamu capek 'kan? Aku juga. Ayo tidur." ajak Arga lalu bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Hania.


Pria itu merasa tubuhnya lelah. Pikirannya terforsir memikirkan banyak hal. Seharian itu, Arga lebih banyak bekerja di luar kantor. Ditambah lagi mengurusi masalah yang ditimbulkan pamannya melalui kaki tangannya.

__ADS_1


Menjelang dini hari, Arga terbangun. Tangan kirinya terasa sedikit kesemutan. Rupanya Hania tertidur berbantal lengan kekar pria tampan itu setelah melayaninya. Dengan tubuh polos Arga berjalan ke kamar mandi. Tak berselang lama pria itu sudah kembali meraih tubuh ramping istrinya dan mengeratkan pelukannya.


Tapi rasanya kantuknya hilang. Dinginnya air yang menyentuh kulit 'jendral jack' membuat matanya ikutan segar. Tidak ingin mengganggu tidurnya Hania, Arga bangun dari posisi rebahannya. Sambil menyenderkan kepalanya di kepala ranjang, pria tampan itu meraih ponselnya. Jam 3. Masih gelap di luar tapi kenapa sepertinya energinya sudah dalam mode aktif?


Tanpa mau menyia-nyiakan energinya yang sudah aktif itu, Arga menghibungi Reza, asisten yang tidak pernah bisa menolak perintahnya.


"Halo, selamat malam, Pak." sahut Reza serak, tampak sekali jika pria berwajah manis itu terpaksa bangun dari tidurnya.


"Nanti kamu bisa mulai buat laporan ke pihak berwenang, Za. Aku mau tuntutanku di masukkan hari ini. Bila perlu tuntut dia dengan pasal berlapis-lapis. Seret semua yang terlibat! Jangan ada sisa! Aku ngga mau kecolongan lagi!" perintah Arga.


Sementara Arga memberi perintah, Reza yang baru mengumpulkan nyawanya, segera memutar memorinya. Ada banyak agenda yang sudah diaturnya. Yang mana gerangan yang dimaksud oleh atasannya yang menurutnya sedikit egois itu? Untung baik.


Reza meremas rambutnya. Kepalanya mendadak berdenyut. Rasanya baru saja memejamkan mata karena menyelesaikan pekerjaan yang dilimpahkan padanya. Harusnya, pekerjaan itu dikerjakan Arga, tapi karena pria karismatik itu terlalu mengkhawatirkan istrinya, pria itu pulang lebih awal. Dan apalah daya dirinya yang hanya seorang bawahan langsung dari pucuk pimpinan di perusahaan tempatnya bekerja, selain menerima saja segala perintah? Ingin rasanya Reza berubah jadi banyak seperti naruto, tokoh animasi idolanya.


"Baik, Pak. Akan saya buatkan laporannya dan langsung diserahkan pada pihak berwenang. Saya akan bersama Pak Sam nanti." meski kesal Reza menyahutinya dengan sopan.


Memang harus begitu 'kan? Bawahan harus punya stok sabar yang berlapis-lapis. Berapa lapis? Ratusan! Bahkan kalau bisa dilebihi.


Arga memutus sambungan ponselnya. Lalu menekan kontak Iden.


"Apaan sih, lu, Ga!? Jam berapa ini!? Ganggu aja lu!" semprot Iden.


Pria blesteran itu juga tak kalah lelahnya dengan Reza. Keduanya pontang-panting mengerjakan pekerjaan kantor. Ditambah lagi, dia harus membantu orangtuanya menyelesaikan masalah yang membelit keluarganya saat ini.


"Galih udah di sini. Dia sama Rosa." sahutnya lirih seraya melirik Hania yang tertidur pulas di sampingnya.


"Ohya? Kalau gitu kita bisa mulai aja rencananya." Iden jadi bersemangat, bahkan kantuknya ngibrit entah kemana.


"Gue udah minta Reza sama Pak Sam bertindak. Lu sama Oom Pratama juga segeralah bertindak. Kita gerak bareng." ujar Arga.


"Oke! Tapi gimana Bela? Gue yakin anak itu ngga teribat, Ga." keluh Iden.


"Lu serius mau Bela ngga dikait-kaitkan?" tanya Arga menelisik.


Terdengar Iden menghela napasnya dan menghembuskannya dengan kasar.


"Itu urusan lu, gue ngga akan ikut campur. Tapi lu harus bisa buktiin kalau dia ngga terlibat. Benar-benar bersih!" tegas Arga.


"Dikemudian hari kalau ada masalah yang muncul kar'na dia, gue ngga akan sungkan-sungkan sama lu!" Belum-belum Arga sudah memberi Iden ultimatumnya.

__ADS_1


"Iya. Gue ngerti. Gue bisa jamin dia dan lu bisa pegang janji gue." pungkas Iden.


*******


__ADS_2