Yang Terakhir

Yang Terakhir
77. Obrolan Pria


__ADS_3

Ferry tiba di rumah sakit setelah Hania menghubunginya. Wanita cantik itu minta dijemput pulang. Sudah banyak yang menemani Arga, termasuk Iden yang datang sangat terlambat. Begitu juga Darren dan Raka.


"Kamu naik apa?" tanya Arga penuh selidik begitu melihat tampilan Ferry yang menggunakan jaket kulit dan sarung tangan kulit warna senada dengan jaketnya.


"Motor." sahut Ferry singkat.


"Motor? Kamu mau naik motor?" tanya Arga pada Hania, matanya sudah mengarah ke arah kaki Hania.


"Ngga, ngga. Jangan naik motor. Kamu pakai dress, Han. Gimana mau naik motor?" Arga merasa tidak rela saja kaki Hania yang mulus itu akan dilihat orang di sepanjang perjalanan.


Tadi Reza meminta seorang karyawan butik memilihkan pakaian untuk Hania. Pakaian yang simpel tapi elegan sesuai karakter Hania. Dari sekian foto yang dikirimkan pada Arga, pilihan jatuh pada dress kuning lemon polos dengan aksen palyet di bagian pinggangnya yang kini dikenakan wanita cantik itu. 


"Ya tinggal duduk aja di belakang." sahut Hania enteng merasa tidak masalah dengan pakaian yang dipakainya. Dress itu lebar di bagian bawahnya.


"Kamu duduk mengangkang?" suara Arga seperti tercekat demi membayangkan Hania duduk mengangkang lalu berpegangan dan menempel pada Ferry.


Ferry hanya memutar bola matanya malas mendengarkan pria yang tengah posesif itu mengutarakan keberatannya. Dan para sahabat Arga yang ada di dalam ruangan itu hanya saling tatap kemudian kompak menggeleng-gelengkan kepala. 


"Iya. Posisi paling aman pas bonceng motor, ya begitu." Hania masih menjawab dengan enteng, sama sekali tidak menyadari jika Arga keberatan.


"Jangan! Kamu nanti megang-megang Ferry lagi." Arga bersikeras melarang Hania membonceng motor Ferry.


Seketika sahabat-sahabatnya cengengesan mendengar Arga yang kekanak-kanakan. Tingkah Arga yang bertolak belakang dengan sifatnya yang berwibawa dan dewasa, menjadi tontonan yang menggelikan bagi Iden dan yang lainnya. Sedang Ferry yang sudah mulai jengah memilih mendudukkan dirinya di sofa paling ujung.


"Bonceng motor ya harus pegangan dong, Mas. Ada-ada aja deh." sahut Hania yang mulai kesal.


"Han, aku ngga suka kamu boncengan sama Ferry. Orang-orang di sepanjang jalan nanti bisa lihatin kakimu. Aku ngga rela!" tegas Arga, membuat Hania melihat kakinya.


Hania mendesah. Haduh. Mau naik motor saja kenapa ribet sekali, sih? Memangnya kenapa kalau kakinya dilihat orang? Lagian, di jalan itu orang pasti fokus sama jalanan, bukan kaki orang. Hania mendesah.


Iden dan yang lainnya yang setia menjadi penonton kontan menoleh ke arah kaki Hania juga.


"Jaga mata kalian!" seru Arga mengingatkan penuh penekanan. Menatap sahabat-sahabatnya dengan tatapan setajam silet. Sungguh dia kesal kaki Hania dilihat pria lain.


"Ngga, ngga! Ngga boleh! Mending kamu bawa aja mobilku." putus Arga kembali menoleh pada Hania.


Mendengar Arga meminta Hania menggunakan mobilnya, membuat Iden dan para sahabatnya melongo. Seperti Rizal dan Reza yang tahu pasti seberapa sayangnya Arga pada mobilnya itu, Iden, Darren, dan Raka pun dibuat berpikir bahwa Hania pasti wanita yang istimewa bagi Arga. Ditambah sikap pria bermata tajam itu begitu posesif pada Hania. Terutama Iden. Dirinya yang dari awal membantu mencari tahu tentang Hania, merasa takjub pada Arga. Bahwa hati pria itu cepat sekali takluk pada wanita yang juga diakuinya cantik. Dalam hatinya memuji Hania.

__ADS_1


"Kalau gitu, aku balik duluan, Mba. Aku saranin terima aja tawarannya. Daripada ngga balik-balik." Ferry mengejek Hania dan Arga sekaligus seraya memamerkan senyum yang dianggap tengil oleh Hania.


"Ish!" Hania melirik Ferry dengan sinis.


Ingin rasanya Hania mencubiti pria yang juga tampan itu. Seandainya tidak di depan Arga, habislah Ferry. Begitu pun dengan Arga. Pria tampan itu menghunus tatapan tajam ke arah pria macho itu.


"Kamu!?" lama-lama Arga jadi kesal juga melihat senyuman tengil Ferry. Untung saja pria macho itu langsung menghilang di balik pintu.


Dan akhirnya drama yang diciptakan Arga pun berakhir dengan Hania pulang diantar Reza. Wanita cantik itu tidak mau menyetir sendiri, membawa mobil Arga pulang. Rencananya dirinya akan menuju restorannya dulu dan mengambil mobilnya yang kemarin ditinggal di sana lalu menjemput Tiara di sekolahnya.


"Ngga nyangka Gue, secepat itu Lu takluk sama tuh perempuan." celetuk Iden.


"Aku dari tadi nebak-nebak sendiri, siapa perempuan itu. Sekarang kamu cerita ke kita." tuntut Rizal.


"Yes! Kamu berhutang penjelasan ke kita berempat." timpal Raka.


"Bener. Kita beneran kagum sama perempuan itu. Bisa-bisanya dia melelehkan gunung es." ujar Darren dan diangguki yang lainnya.


Arga tidak menggubris komentar para sahabatnya. Pria itu memilih meninggalkan mereka ke toilet. Dirinya tidak suka berbagi kisah tentang Hania pada para sahabatnya itu. Baginya, tentang Hania, cukup dirinya yang tahu.


Sepeninggal Arga, keempat sahabat Arga sibuk mengumpati dirinya yang malah menghindar. Jangankan yang tinggal di kota lain, yang satu kota dan bertemu tiap saat pun, Arga menutup mulutnya. Iden yang merasa Arga begitu menjaga Hania hanya mengulas senyum tipis di bibir tipisnya. Pria blesteran itu merasa bahwa Arga benar-benar menyukai wanita cantik itu.


"Ohya, jangan ada yang ngadu ke Stella soal semalam. Beneran Gue khilaf. Sepertinya Gue dalam pengaruh obat perangsang. Anjay!" peringat Darren.


Di antara mereka berlima, hanya Darren yang terikat pernikahan. Pria itu dulunya petualang wanita juga. Tapi begitu bertemu Stella, istrinya, Darren jatuh cinta sedalam-dalamnya. Dan memutuskan mengakhiri petualangannya.


Arga dan Rizal kontan saling menatap.  Mereka pun sama. Bahkan Arga sampai harus menerima perawatan di rumah sakit itu.


"Iya. Sepertinya temen-temen cewe Lu nih Den, kayak udah biasa aja gitu ya mainin obat gituan." timpal Raka.


"Padahal kita sih, kalau sana asik, ayo aja, ya kan?" lanjutnya disambut kekehan yang lainnya.


"Ya, kecuali Arga dan dokter kita ini." imbuhnya.


"Gue biasanya juga ngga. Udah insyaf Gue! Tapi gara-gara obat si**lan itu, Gue tergoda." Darren melakukan pembelaan.


"Jangan salah, Gue sampe bermalam di sini gara-gara obat itu." suara Arga yang datar membuat sahabatnya menoleh.

__ADS_1


"Efek ngga dilampiaskan, ya gitu deh." kekeh Raka, membuat yang lainnya ikut terkekeh.


"Salut Gue sama Lu, bisa banget nahan. Apa 'pejuang tangguh' Lu ngga nyeri?" tanya Darren penuh selidik.


"Hati-hati disfungsi." lanjut Daren sambil terkekeh yang membuatnya mendapat lemparan bantal dari Arga.


Arga melirik Iden yang tengah menatapnya. Pria tampan itu berpikir apakah Iden mengetahui perbuatan Bela semalam atau tidak. Tapi kemungkinan sahabat flamboyannya itu tidak tahu. Bagaimanapun Bela adalah wanita yang menjalin hubungan dengan Iden. Wanita genit itu pasti akan menutupinya dari pria ini.


"Semalam, Gue kebangun di apartemen Gue. Ada yang tahu siapa yang nganterin Gue?" tanya Iden.


Meskipun sudah mendapat laporan dari anak buahnya perihal semalam, Iden masih bertanya-tanya. Menurut laporan, dia diantar keluar club oleh karyawan di sana dan sudah ditunggu di dalam mobil. 


"Gue!" ucap Rizal.


"Gue yang anterin Lu balik. Lah Elu udah tewas, mau ngapain? Cewe Lu juga sama nasibnya." lanjut Rizal seraya terkekeh.


Iden hanya mendesah. Sebenarnya merasa kesal pada Bela. Sekretarisnya itu mencekokinya dengan minuman hingga mabuk tak berdaya. Biasanya dirinya hanya akan minum secukupnya lalu berpetualang di atas ranjang dengan teman wanitanya. Dan kini, dia mendengar para sahabatnya berada di bawah pengaruh obat perangsang semalam. Kenapa bisa kompakan begitu? Cukup aneh bagi Iden. Karena hanya dirinya yang tidak merasa terpengaruh obat keramat itu. Iden melirik Arga. Pria karismatik itu tengah menatapnya. Iden memutus kontak mata dengan Arga setelah beberapa saat. Hah. Kenapa Arga menatapnya begitu?


"Jadi, siapa perempuan cantik tadi, Ga? Sumpah penasaran Gue!" Darren mengalihkan pembicaraan lagi.


"Ngga penting dibahas sama kalian!" tekan Arga.


"Woooow..." sahabat Arga paduan suara.


"Bukannya yang nolongin Elu, perempuan itu, kan? Elu ngga naf** sama perempuan itu atau gimana sih, Ga?" ejek Darren lagi.


"Gue ngga akan nyentuh wanita manapun sebelum dia Gue halalin." tegas Arga, membuat yang lainnya langsung kicep.


"Dan asal Lu semua tau, 'jendral jack' masih berkuasa seperti sebelumnya. Dia tau siapa yang diinginkannya." ucap Arga meyakinkan sahabat-sahabatnya.


"Apa dia berdiri tegak waktu di dekat Hania?" Iden memancing Arga yang sepertinya tidak suka senjata pusakanya disindir terus.


"Tentu sa..." ucapan Arga menggantung. Dilihatnya para sahabatnya sedang mengulum senyum, membuatnya salah tingkah.


"Ehem!" Arga menetralkan kekikukannya. Pria itu merona begitu menyadari bahwa Iden sedang memancingnya dan berhasil.


Arga menghunus tatapan tajam ke arah Iden yang sedang tergelak. Pria itu kesal melihat sahabatnya menertawainya. Hah. Kini dirinya menyesal. Para sahabatnya pasti akan mengejeknya terus. 

__ADS_1


********


Thanks for reading!


__ADS_2