Yang Terakhir

Yang Terakhir
141. Izin Menikah


__ADS_3

Drrrt drrrt drrrt!


Suara ponsel yang bergetar memaksa Reza yang masih terlelap memicingkan matanya. Suaranya yang menggema di dalam kamarnya yang tenang itu menariknya dari alam mimpi yang jarang sekali bisa dinikmatinya. Dengan sedikit mengangkat kepalanya dan menolehkan ke kanan dan ke kiri, sementara tubuhnya masih terlentang, tangannya sibuk meraba-raba sekitar tubuh berototnya mencari ponselnya. Matanya reflek memejam karena silau terkena cahaya dari ponselnya yang sudah tergenggam.


Reza menyipitkan matanya menatap layar ponsel yang tengah menampilkan nama atasannya yang tertulis dengan huruf kapital semuanya dengan tanda seru di akhirnya. BOS ARGA!


"Selamat dini hari, Pak." sapa Reza yang sempat melihat jam di pojok kiri atas layar ponselnya yang menunjukkan angka 3 lebih sedikit, dengan suara seraknya, bermaksud menyindir Arga.


"Za, tolong kamu urus surat-surat nikah untuk saya besok!" tanpa membalas sapaan Reza apalagi tersindir, Arga langsung memberinya perintah.


Reza membelalakkan matanya? Menikah? Besok? Pak Arga? Pria itu sampai melihat lagi layar ponselnya untuk memastikan, benarkah yang menghubunginya adalah Arga, atasannya. Dirinya menghembuskan napas berat. Benar. Pak Arga. Memangnya siapa lagi yang berani mengganggu dan memberinya tugas seenaknya begitu?


"Menikah, Pak? Besok?" tanya Reza untuk memastikan pendengarannya barusan tidak salah.


"Ck! Jangan pura-pura ngga denger ya kamu! Urus secepatnya!" sentak Arga kesal lalu memutuskan panggilannya tanpa menunggu jawaban Reza.


"Baik, Pak." ucap Reza meskipun panggilannya sudah terputus, lalu menghembuskan napas berat.


Reza menghempaskan tubuhnya ke kasur empuknya. Matanya terbuka sempurna sekarang. Rasa kantuk pun sudah lenyap entah kemana, sementara rasa pusing lebih mendominasi. Aargh!


"Punya atasan gitu banget! Kalau ada maunya, ngga liat-liat sikon!" keluh Reza gemas.


Tapi sejurus kemudian, pria berwajah manis itu tersenyum simpul mengingat atasannya yang selalu bersikap dingin pada wanita, mendadak kebelet nikah.


"Pesona Bu Hania memang ngga kaleng-kaleng, sangat memabukkan rupanya. Sampai gunung es itu mencair lebih cepat dari dugaan. Yang tenggelam gue juga." gumam Reza lalu terkekeh.


"Tapi ini masih jam 3 pagi! Kayak ngga tau kerja gue aja si bos! Ngurus begituan sih kecil! Sejam juga beres! Ngapain bangunin gue pagi buta begini sih!?" gerutu Reza seraya mengacak rambutnya yang mulai memanjang.


Dan selanjutnya sisa pagi butanya hanya digunakan untuk rebahan, guling-guling, miring ke kanan dan ke kiri, tengkurap, telentang, tengkurap lagi. Hingga suara ayam tetangga berkokok. Eh! Bukan ding. Tapi alarm digital yang bunyinya ayam berkokok. Reza 'kan tinggal di apartemen. Mana mungkin punya tetangga yang punya peliharaan ayam jantan. Hah!


Tit tit tit!


Bunyi peralatan penunjang kehidupan sang Ibu berbunyi teratur. Wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang mulai senja itu tampak tenang dan pucat. Arga dengan baju khususnya tengah duduk di samping ranjang sang ibu seraya memegang tangan ibunya yang mulai keriput. Sesekali menciumnya dan mengusapnya dengan lembut, atau menempelkannya di pipinya.


Setelah dapat menenangkan Hania dan wanita cantik itu kembali tertidur, Arga memasuki ruangan steril itu.


"Bu, aku akan nikahin Hania. Ibu cepat bangun ya." pinta Arga sendu.


Pria tampan itu sangat menyayangi ibunya melebihi apapun. Meski dirinya sekarang memiliki Hania, pria itu menyayangi keduanya sama besarnya.


"Bukankah Ibu pingin liat aku nikah lagi? Aku juga pingin Ibu nyaksiin aku nikah. Hania juga pingin Ibu liat kami nikah." lanjut Arga dengan suara bergetar.

__ADS_1


Entahlah, belakangan ini Arga merasa dirinya lebih sensitif dari sebelum-sebelumnya. Apalagi jika menyangkut orang-orang yang disayanginya.


Tanpa disadari Arga, kelopak mata sang Ibu bergerak-gerak lemah.


Sudah setengah jam Arga berada di sana. Mengajak sang Ibu berbicara. Pria itu berharap ibunya mendengar semua ceritanya dan terbangun dari tidurnya.


Hanya sang Ibu, keluarga yang dia miliki saat ini. Ibunya merupakan anak tunggal seperti dirinya, sementara ayahnya hanya memiliki 1 saudara, yaitu Oom Aris yang kini mendekam di sel tahanannya karena ulah liciknya yang ingin menghancurkan Arga dan menguasai harta keluarga Arga. Adapun para sepupu sang Ibu yang tinggal tersebar di beberapa kota di dalam dan luar negeri.


"Bu, apa ngga apa-apa kalau aku sama Hania nikah besok? Aku, aku nggak tahan kalau Hania inget-inget Raka terus. Aku pingin secepatnya menghilangkan jejak anak sialan itu dari pikiran Hania!" ucap Arga menekan kalimat terakhir penuh emosi seraya mengepalkan tangannya.


"Aku akan nikahin Hania di sini, di hadapan ibu." ucap Arga seraya mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu.


Sementara itu, Hania yang sudah terbangun dari tidurnya, menatap ke dalam ruangan steril itu dengan mata berkaca-kaca. Melihat Arga yang sangat menyayangi sang Ibu, membuatnya terharu dan bersyukur telah mengenal pria itu. Dia ingat kata-kata mendiang ibunya. Pria yang menyayangi ibunya adalah pria penyayang dan tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan baik, sebagaimana dia memperlakukan ibunya.


Hania pun membenarkan kata-kata mendiang ibunya. Sejak awal mengenal Arga, pria itu selalu bersikap baik dan menghargainya. Pria tampan itu begitu menyayanginya dan mengutamakan perasaannya daripada keinginannya sendiri.


"Udah bangun?" tanya Arga yang baru keluar dari ruangan ibunya dan langsung memeluk Hania.


"Hu'um." sahut Hania seraya mengangguk dalam pelukan Arga yang tak pernah gagal membuatnya tenang dan hangat.


Arga mengurai pelukannya dan memberi kecupan di kening Hania. Cukup lama bibir yang dianggap Hania seksi itu menempel di sana.


"Mau sarapan apa?" tanya Arga setelah puas nengecup kening Hania.


Arga melihat jam tangan mahalnya. Jam 5 lebih. Masih pagi memang. Biasanya mereka akan sarapan jam 7 an.


"Mas, kita jalan-jalan yuk! Udara pagi pasti seger." Ajak Hania yang diangguki Arga.


"Aku ambil kunci dulu." ucap Arga hendak memutar gagang pintu ruang tunggu pasien icu yang mereka tempati.


"Eh, ngga usah pake mobil! Kita jalan kaki aja. Deket sini ada taman kota. Di sana juga banyak yang jual makanan. Kita bisa sarapan di sana nanti." cegah Hania seraya menarik Arga.


"Kamu yakin?" tanya Arga ragu yang diangguki Hania.


Bukannya tanpa sebab Arga meragukan ajakan Hania yang ingin berjalan kaki. Pasalnya, kekasihnya itu belum lah bugar sepenuhnya. Tapi melihat keinginan Hania yang menggebu, pria tampan itu pun menurutinya.


Langit masih gelap dengan semburat abu-abu silver di ufuk timur ketika mereka meninggalkan pelataran rumah sakit besar di kota itu. Hania dan Arga berjalan berdampingan dengan tangan Hania yang melingkar di lengan kekar Arga.


"Ibu gimana?" tanya Hania membuka obrolan.


"Masih sama." sahut Arga.

__ADS_1


"Tadi aku bilang sama Ibu kalau kita akan menikah besok. Aku harap Ibu lebih cepat bangun. Ibu selalu pingin liat aku nikah lagi." lanjut Arga lirih dan wajahnya sendu.


Hania mengusap lengan pria tampan itu. Kalau sudah begitu Hania tidak akan menolak ajakan Arga yang ingin menikahinya besok. Maksud hati ingin membujuk kekasihnya itu agar mau menunggu sang Ibu sadar dari komanya terlebih dahulu barulah menikah. Tapi melihat wajah dan ekspresi pria tampan itu membuatnya tidak tega. Hah. Dirinya selalu lemah dengan ekspresi Arga yang seperti itu.


"Pasti kerepotan 'ngurus keperluan menikah dalam waktu sehari aja." komentar Hania.


"Aku punya Reza. Dia yang akan 'ngurus semuanya." sahut Arga seraya tersenyum bangga karena memiliki Reza yang selalu dapat diandalkannya.


"Apa ngga apa-apa kita nikah dengan kondisi ibu yang masih koma begitu? Bukannya ibu pingin banget liat kamu nikah, Mas?" tanya Hania merasa tak enak.


"Aku rasa ngga apa-apa, honey. Siapa tau dengan kita menikah, ibu malah cepet sadar. Niat baik memang harus disegerakan 'kan?" ucap Arga menenangkan pujaan hatinya.


"Ohiya, kita nikah di rumah sakit aja, di depan ibu. Gimana?" Arga menatap Hania ingin melihat respon Hania atas keputusannya menikah di depan sang Ibu yang sedang koma.


"Hummm... Apa boleh? Yang boleh masuk ke sana 'kan terbatas, Mas." tanya Hania.


"Itu biar diurus Bang Dana. Siapa yang kamu harapkan hadir?" tanya Arga.


Siapa yang diharapkannya hadir? Ditanya begitu pikiran Hania langsung teringat Galih. Pria manis yang baik hati yang telah lama menjadi sahabatnya dan tempatnya berbagi suka dan duka. Meskipun mencintainya dan ditolak olehnya, tapi pria gagah itu tetap bersikap tulus padanya. Pria yang selalu menyediakan dada dan bahunya sebagai sandaran untuknya sebelum dirinya bertemu Arga. Bahkan pria itu menganggapnya sebagai keluarganya. Tentu saja Hania menginginkan Galih hadir.


Bolehkah dirinya meminta Galih hadir? Mengingat reaksi Arga yang tidak menyukai Galih, hati Hania berdenyut nyeri. Bagaimanapun, Galih juga memiliki arti dalam hidupnya. Orang yang ikut berjasa dalam masa-masa sulitnya.


"Mas, bolehkah, Galih ada di saat kita nikah nanti?" Arga menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Hania, membuat Hania juga menghentikan langkahnya.


"Cuma dia keluarga yang aku punya. Bagiku dia keluargaku, Mas." lanjut Hania dengan suara yang bergetar dan mata yang mengembun.


Hati Arga berdenyut nyeri melihat mata Hania yang sudah berkaca-kaca. Tadinya pria tampan itu ingin memprotes Hania karena dirinya tidak suka Hania juga memprioritaskan Galih. Tapi tunggu, apa barusan kekasihnya itu menyebut Galih sebagai keluarganya? Apa dirinya terlalu insecure selama ini? Tidak percaya diri berhadapan dengan Galih, begitu? Apa selama ini dirinya terlalu cemburu karena kedekatan kekasihnya dengan pria gagah itu yang sudah terjalin cukup lama? Arga mendesah.


"Boleh. Kamu boleh minta dia datang untuk menyaksikan kita nikah, honey." ucap Arga seraya tersenyum meski sebenarnya dia belum rela.


"Benarkah?" wajah Hania langsung berbinar.


Hania bisa bernapas lega. Harapan untuk mengakrabkan calon suaminya dengan sahabatnya kembali bersemi di hatinya.


Arga mengangguk seraya mengusap rambut Hania yang tergerai.


"Apapun untuk kebahagiaanmu, sayang." lirih Arga.


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Dukung terus karya ini ya ...


🤗🤗🤗😘


__ADS_2