Yang Terakhir

Yang Terakhir
88. Berseteru Lagi


__ADS_3

"Dek?" sapa Ryan dengan senyum mengembang ketika menyadari kehadiran Hania di sana tapi senyum itu sirna setelah menatap Arga, pria tampan yang sepertinya selalu ada di sekitar Hania.


Hania hanya berhenti sejenak, menoleh sekilas pada Ryan. Lalu menarik Arga berjalan menjauhi mantan suaminya. Wanita itu tidak berniat membalas sapaan pria yang juga tampan itu. Apalagi melihat Arga yang wajahnya sudah datar dan dingin saja sejak melihat Ryan tadi. Dia tidak mau menarik perhatian wali murid lainnya.


"Dek!" panggil Ryan lagi karena merasa diabaikan.


Hania menghentikan langkahnya. Wanita cantik itu berbalik, meski tampak enggan untuk berbicara dengan mantan suaminya itu, tapi dia harus meminta ayah kandung Tiara itu meninggalkan sekolah Tiara. 


"Pergilah, Mas. Jangan bikin masalah di sini. Aku ngga mau menarik perhatian. Ini sekolah Tiara." usir Hania datar seraya menatap Ryan.


Yang pertama terlihat di mata Ryan saat beradu tatap dengan Hania adalah betapa terlukanya wanita yang dulu sangat dicintainya itu. Tatapan yang sama dengan tatapan 5 tahun yang lalu. Hah. Dia mendesah.


"Bikin masalah?" Ryan terkekeh.


"Aku cuma mau ketemu putriku. Dimana masalahnya?" ucap Ryan seraya menatap Hania dan Arga bergantian, dia menekan kata 'putriku'.


Tanpa sadar Hania dan Arga mendesah bersamaan. Bagi Hania, kehadiran Ryan di sekolah Tiara saja sudah menjadi sebuah masalah karena pria itu tidak pernah menampakkan dirinya selama ini sebagai ayahnya Tiara tapi kini pria yang juga tampan itu dengan percaya diri menyebut Tiara 'putriku'. 


Sementara Arga masih diam tenang di samping Hania meski sebenarnya sudah ingin mengata-ngatai mantan suami wanitanya itu. Dia tak habis pikir. Kemana pria tak setia itu selama ini? Tidak pernah ikut susah mengurus Tiara, tiba-tiba datang ingin dekat dengan gadis kecil itu.


"Sudahlah, Mas. Aku ngga mau ribut di sini. Sebaiknya Mas pergi aja, aku ngga mau kehadiran Mas malah membuat orang-orang berpikir macam-macam." kukuh Hania.


Jelas saja wanita itu takut menjadi bahan obrolan di kalangan wali murid lainnya. Sudah cukup yang selama ini didengarnya. Dia tidak ingin ada tema baru tentangnya. Apalagi berhubungan dengan mantan suaminya yang tiba-tiba muncul. Wanita lembut itu takut gosip yang beredar akan mempengaruhi putrinya.


"Aku ngga peduli omongan orang lain. Aku cuma mau ketemu putriku." tukas Ryan juga sama kukuhnya dengan Hania.


Hah. Hania lupa jika pria yang pernah menjadi pusat hidupnya itu pria yang keras kepala. Dia melirik Arga. Hania mendesah. Apa semua pria begitu? Keras kepala? Hania jadi ingat jika Arga juga memiliki sifat itu.


Sementara Hania bersikukuh menghalangi Ryan menemui Tiara, rupanya gadis kecil yang mereka ributkan, sedang melangkah mendekat. Wajahnya terlihat ceria. Pasalnya, beberapa temannya merasa senang sekaligus iri padanya karena sosok pria dewasa yang diceritakannya sebagai pengganti papanya di Hari Ayah beberapa hari yang lalu. 


Tiara dengan bangga menceritakan kembali sosok Arga di depan teman-temannya. Ada juga beberapa ibu-ibu dari temannya yang menanyainya tentang Arga yang di banggakannya. Tanpa beban Tiara pun menjawab bahwa pria dewasa yang kata ibu-ibu temannya tampan itu akan menjadi papanya.

__ADS_1


Arga menyunggingkan senyum tipisnya ketika melihat Tiara mendekat. Perhatiannya fokus pada gadis kecil itu. Wajahnya yang tampak bahagia ketika melihatnya membuatnya ikut bahagia. Gadis kecil berlesung pipi itu berlari kecil menghampirinya. Dia belum tahu jika di sana juga ada ayah kandungnya.


Senyumnya langsung lenyap dan wajahnya tampak sendu ketika Tiara melewati pintu gerbang sekolahnya. Barulah sosok ayah yang tidak pernah dikenalnya itu terlihat olehnya.


Arga yang menyadari perubahan itu langsung mendekat tapi langkahnya kalah cepat dengan Ryan yang tiba-tiba sudah berjongkok di depan Tiara dan memeluk gadis kecil itu.


"Sayang. Papa kangen, nak." ucapnya sendu.


"Ma..." Tiara tidak membalas pelukan Ryan, gadis kecil itu malah memanggil Hania.


Arga yang masih memperhatikan interaksi Tiara dan Ryan menghela napasnya. Dia tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Ryan pada Tiara. Apakah pria itu benar-benar merindukan putrinya? Sebagai seorang ayah, sudah seharusnya pria itu merindukan putrinya. Tapi kenapa baru sekarang?


Mengingat cerita Hania, Arga ingin sekali memaki ayah kandungnya Tiara itu. Menurutnya pria itu sungguh egois. Hanya karena dia rindu putrinya, dia mengabaikan perasaan mantan istrinya.


"Mas! Lepasin Tiara!" seru Hania sembari berusaha melepas Tiara dari dekapan mantan suaminya.


Benar saja tindakan Ryan yang tiba-tiba memeluk Tiara, hanya membuat gadis kecil itu ketakutan. Ditambah upaya Hania melepaskan Tiara, hingga terjadilah aksi saling tarik. Sontak saja tingkah mereka menarik perhatian wali murid yang lainnya. Dan kasak kusuk pun terjadi lagi.


"Kamu bikin dia ketakutan, Mas!" pekik Hania tertahan. Tangannya masih berusaha menarik tangan Ryan agar terlepas.


"Oom Arga. Huaaa!" tangis Tiara semakin keras. Gadis kecil itu semakin ketakutan ketika ayah kandungnya tidak melepasnya meski Hania sudah memintanya dengan paksa.


Arga yang tidak tega melihat Tiara menangis ketakutan langsung merangsek maju menarik tubuh Tiara dengan satu tangannya dan tangan yang satunya mendorong kuat tubuh Ryan. Dibantu Hania yang masih berusaha melepaskan tangan mantan suaminya dari Tiara, membuat Ryan terjengkang. Hania langsung menggendong Tiara dan menjauhkannya dari ayah kandungnya. Arga mengekor di belakang Hania.


Tanpa diduga, Ryan mengejar dan menghalangi langkah Hania. Pria yang juga tampan itu berusaha menarik Tiara yang berada di gendongan Hania. Sikap Ryan yang keras kepala dan egois itu, memancing emosi Arga yang sedari tadi ditekannya.


Arga memcekal kerah kemeja Ryan, menarik menjauhi Hania dan Tiara, lalu mendorong tubuh yang posturnya hampir sama dengannya itu hingga mundur beberapa langkah.


"Lu ngga liat anak itu ketakutan!? Brengsek!" seru Arga.


Pria karismatik itu melangkah mendekati Ryan. Lagi-lagi Arga mencekal kerah kemeja ayah kandungnya Tiara itu. Baru saja Arga akan melayangkan tinjunya. Hania tiba-tiba sudah ada di dekatnya, memegang tangannya.

__ADS_1


"Mas?" suara Hania terdengar bergetar. membuat Arga menoleh ke arah Hania.


Arga mendesah melihat mata kelinci Hania yang masih berkaca-kaca. Pria tampan itu menurunkan tangannya. Sungguh Arga tidak tega melihat Hania tertekan.


"Udah, Mas. Kita pulang aja. Jangan bikin keributan di sini." ucap Hania menenangkannya.


Hania menggenggam tangan Arga dan menariknya menjauh dari Ryan. Tiara langsung menghambur ke arah Arga. Pria itu langsung merendahkan tubuhnya dan mengangkat tubuh Tiara dalam gendongannya, lalu memeluknya erat. Sungguh Arga menyayangi gadis kecil itu.


"Tiara ngga apa-apa, Sayang?" tanyanya setelah melepas pelukannya seraya mengusap rambut bergelombang Tiara.


"Sekarang udah ngga apa-apa, Oom. 'Kan ada Oom sama Mama yang jagain aku." sahut Tiara yang sudah merasa tenang, gadis kecil itu sudah tidak menangis lagi.


Arga tersenyum lega.


"Iya. Kamu bener, Sayang. Oom akan jagain kamu sama Mamamu." gumamnya mantap seraya meraih tangan Hania dan menuntunnya ke mobilnya.


Sementara itu, Ryan hanya bisa menatap penuh kecewa. Nyatanya, putrinya lebih mengenal dan dekat dengan pria lain yang menjadi kekasih ibunya.


Rasa rindu pada putrinya membuatnya ingin selalu menemui gadis kecil itu. Entahlah. Mendadak saja merasa rindu. Memang salahnya, dulu lebih memilih mantan kekasihnya. Dia menyesal lebih mementingkan kebahagiaannya sendiri dan mengabaikan kebahagiaan putrinya dan mantan istrinya.


Harusnya dulu dia bisa berpikir jernih. Hania lah yang bisa membuatnya menerima kenyataan bahwa mantan kekasihnya kala itu menghianatinya. Wanita itulah yang menariknya dari rasa sakit hati dan membuatnya jatuh cinta lagi. Harusnya dia tidak berpaling dari cintanya pada wanita yang juga mencintainya dan sudah bersedia menyerahkan segala miliknya padanya. Harusnya dia bertahan dengan wanita yang setia padanya.


Tapi nasi sudah menjadi bubur. Meski kini dia bahagia bersama dengan mantam kekasih yang kini menjadi istrinya, tapi di dalam lubuk hatinya dia menyimpan sesal yang selalu membayanginya. Ternyata membuat orang yang kita cintai terluka, rasanya tidak tenang.


Ryan berjalan ke arah mobilnya terparkir di bawah tatapan nyinyir orang-orang yang tadi melihat perseteruannya dengan Hania dan kekasihnya. Pria itu tahu, nantinya orang-orang itu akan menggosipi Hania. Hah. Lagi-lagi dia merasa melukai Hania lagi.


*******


Thanks for reading!


Dukung karyaku dengan like dan favoritkan 🤗

__ADS_1


Mumpung senin, vote ya!


__ADS_2