Yang Terakhir

Yang Terakhir
33. Bertemu Tiara


__ADS_3

Ketika Hania kembali ke dapur, sudah ada Ferry disana. Pria macho itu menyunggingkan senyum tengilnya, dia pasti sudah mengetahui Arga yang datang menemuinya.


Beberapa karyawan yang berada didapur menatapnya sambil tersenyum tapi tidak berkomentar apapun. Pastilah mereka habis menggosipinya. Merasa jengah dengan perlakuan para karyawannya, Hania segera meninggalkan tempat itu. Mungkin kantornya lebih baik untuknya bersantai.


Tatapan Lisa menyambut kedatangan Hania seraya menyapanya. Lalu gadis berkaca mata itu kembali sibuk dengan lembaran kertas kertas laporannya. Ini mendekati akhir bulan. Dia harus secepatnya mempersiapkan laporan keuangan restoran.


Tidak mau mengganggu, Hania hanya berjalan melewatinya kemudian duduk tenang di sofa panjang yang membelakangi jendela kaca besar. Disandarkan tubuhnya kemudian dia memejamkan matanya. Rasanya sendi sendi tubuhnya ngilu dan posisinya yang bersandar pada sandaran sofa yang empuk itu begitu nyaman. Dia merasa kantuk mulai menghinggapi apalagi ditambah angin sepoi sepoi yang bertiup dari daun jendela yang terbuka dibelakangnya. Dirinya seperti dikipasi.


"Bu, Bu Hania", mendengar namanya disebut, Hania terbangun.


Ada Lisa dihadapannya. Pasti gadis itu yang membangunkannya. Diedarkannya pandangannya ke sekeliling ruangan. Ah. Ternyata dia tertidur. Sejurus kemudian dia bangkit dengan cepat, dia ingat belum menjemput Tiara dari sekolahnya. Dengan tergesa dia berjalan ke mejanya. Dia terhuyung merasa nyawanya belum terkumpul. Berjalan sambil berpegangan pada sandaran sofa single di sebelahnya, lalu pada mejanya. Lisa mencoba membantu tapi ditolak Hania.


Dilihatnya jam dinding yang tergantung di dinding. Jam 4 lebih. Dia terlambat menjemput Tiara. Hania menyambar tas totenya, dan berjalan keluar ruangannya, terburu buru.


"Saya tinggal dulu Lis, sudah telat banget jemput Tiara", ujarnya sambil membenahi cepol rambutnya.


Sementara itu, Arga yang sedang dalam perjalanan pulang dari galerinya tanpa sengaja melihat seorang gadis kecil mirip dengan Tiara. Gadis kecil itu terlihat sedang digandeng oleh seorang wanita cantik yang tidak dikenalnya.


Mobil Arga melewati gadis kecil yang mirip Tiara dan wanita yang menggandeng tangannya. Dapat dilihat gadis kecil itu sesenggukan tapi hanya bisa menurut. Arga juga dapat melihat gadis kecil itu sesekali meronta minta dilepaskan. Arga mengernyitkan keningnya. Apa itu Tiara? Siapa wanita itu? Kenapa gadis kecil itu menangis? Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya.


"Berhenti sebentar Di", perintahnya pada Adi yang fokus menyetir.


Arga meminta Adi menghentikan mobilnya. Dia ingin memastikan apa yang dilihatnya barusan. Dia merasa ada yang tidak beres dengan interaksi mereka. Adi menghentikan mobil dan menepi tidak jauh dari dua orang beda usia tersebut. Kedua orang itu berjalan semakin mendekatinya. Arga dan Adi hanya memperhatikan melalui kaca spion mobilnya.


"Tiara?", Panggil Arga lirih dari dalam mobilnya ketika kedua orang itu melewati mobilnya yang terparkir, untuk memastikan benar atau tidak gadis kecil itu Tiara.


Tiara yang merasa namanya dipanggil pun menoleh. Tapi dia tidak mengenal siapa pria yang memanggilnya. Wanita itu juga menoleh tapi bersikap tak acuh dan terus berjalan sambil menarik tangan Tiara.


Deg. Jantung Arga berdetak. Gadis kecil itu benar Tiara. Dia segera keluar dari mobilnya. Melihat Arga keluar, Adi pun ikut keluar.


Entah dorongan darimana, Tiara kembali menoleh dan menatap Arga. Menatap lekat Arga. Seolah meminta pertolongan. Arga yang sudah merasa curiga seolah paham arti tatapan Tiara. Gadis kecil itu hanya diam saja pastilah wanita itu sudah mengancamnya.


"Tunggu!", perintah Arga.


Wanita yang membawa Tiara seolah menulikan pendengarannya dan terus berjalan membuat Arga mengikutinya, lalu meminta Adi mengikutinya dengan mobil untuk berjaga jaga jika ternyata wanita itu punya rekan.

__ADS_1


Semakin lama semakin cepat wanita itu melangkah hingga membuat langkah Tiara terseret. Arga yang sudah tidak sabar pun berlari mengejarnya. Arga memegang pundak wanita itu tapi tanpa diduga, wanita itu menepisnya dan meninju rahang Arga. Arga terkejut. Dia tidak siap menerima pukulan. Tiara yang melihat Arga dipukul menjerit ketakutan.


Ternyata wanita itu menguasai ilmu beladiri meski masih dibawahnya tapi cukup mahir untuk ukuran wanita. Arga menguasai ilmu beladiri dengan sangat baik. Ingat! Dia pemegang sabuk hitam. Tapi melawan seorang wanita jelas akan menurunkan harga dirinya. Cemen!


Arga hanya menghindar dan mematahkan serangan lawannya. Bahkan Arga melarang Adi mendekat. Namun ketika wanita itu menggunakan pisau lipatnya dan membuat Arga mengalami luka goresan di lengannya, pria bertubuh atletis itu semakin hilang kesabaran. Dengan setengah tenaganya Arga membalas serangan wanita itu hingga membuatnya tersungkur beberapa kali.


Merasa sudah terpojok, wanita itu menarik Tiara yang menangis dipojokan dan menodongkan pisau lipatnya ke arah Tiara, lalu ke arah Arga. Bergantian. Arga tidak menyangka wanita itu akan menjadikan gadis kecil itu tameng. Benar benar diluar dugaannya.


"Tenang dulu Mba, kita bisa ngobrol baik baik", ucap Arga berusaha bernegosiasi.


"Siapa lo? Jangan halangi gue! Minggir!", hardik wanita itu.


Wanita itu menarik Tiara mundur. Pisau yang ditodongkannya melukai lengan kiri gadis kecil itu. Arga dapat melihat darah yang merembes di kemeja putihnya. Warnanya begitu kontras. Membuat Arga mengurungkan niat dan memutar otak untuk menyelamatkan Tiara.


Harusnya tadi dia tidak perlu memikirkan harga dirinya yang menurun jika melawan wanita dan fokus menyelamatkan Tiara. Toh, wanita itu malah memanfaatkan Tiara. Memikirkan ketidaktegasannya membuatnya geram.


"Lepasin gadis kecil itu dulu baru saya minggir", tawar Arga.


"Asisten saya sedang manggil polisi, mungkin sebentar lagi sampai", dengan suara tenang, Arga mencoba mengancamnya.


"Diam lo anak kecil!" bentak wanita itu ketika Tiara menangis semakin kencang karena ketakutan.


"Hah! Emang nyusahin lo ini!", keluhnya kemudian.


Arga masih mencoba mencari peluang melepaskan Tiara dari cengkraman wanita itu. Lalu ekor matanya melihat pergerakan Adi di belakang wanita itu.


"Sebenarnya ada masalah apa kamu sama anak itu? Dia masih kecil pasti ngga tau apa apa", ucap Arga mengalihkan perhatian wanita itu agar tidak menyadari kehadiran Adi.


"Bukan urusan lo!", bentak wanita itu.


"Ck! Sekarang jadi urusan saya, saya kenal anak kecil itu", sahut Arga mulai kesal.


"Lagian apa untungnya nyulik dia? Orangtuanya bukan orang penting, kamu ngga akan dapat apa apa selain nantinya mendekam dipenjara", Arga mulai memanas manasi.


"Tapi ibunya penting bagiku" lanjutnya dalam hati.

__ADS_1


Wanita itu tampak semakin frustrasi. Matanya mulai tidak fokus. Sikapnya yang tadinya tenang mulai gelisah.


"Diaaaam!", wanita itu mulai histeris.


Bruk!


Tubuh wanita itu seketika ambruk. Sebuah stik golf mendarat manis tepat di kepalanya. Si pelakunya jelas Adi. Adi yang melihat Tiara ditodong pisau dan Arga yang tidak berkutik, berniat membantu atasannya. Tadi, setelah menghubungi polisi, Adi mencari cari benda yang bisa digunakannya sebagai senjata untuk membantu atasannya. Di bagasi mobil hanya ditemukan set peralatan golf milik Arga. Diambilnya yang paling besar. Dan dengan perlahan mendekati wanita itu dari belakang.


Melihat wanita itu ambruk, Arga langsung berlari ke arah Tiara dan menggendongnya menjauh dari wanita itu. Adi langsung meringkus wanita itu, mengikat tangannya dengan dasi yang dilemparkan Arga padanya.


Tiara yang menangis sesenggukan, merangkul leher Arga dengan kencang. Tubuhnya menggigil. Gadis kecil itu ketakutan. Arga hanya bisa memberikan elusan halus dipunggungnya, mencoba menenangkannya. Masih digendongannya.


Tak berselang lama polisi tiba dilokasi. Bergerak cepat membawa wanita yang mulai sadarkan diri itu ke kantor polisi. Seorang polisi menghampiri Arga. Memintanya ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Sebelumnya Arga membawa Tiara ke rumah sakit untuk mengobati lukanya dan luka Tiara.


Hampir dua jam, Arga, Tiara, dan Adi berada di kantor polisi. Kondisi Tiara yang ketakutan dan lelah mempersulit proses penyidikan. Tiara hanya mau berbicara pada Arga. Akhirnya penyidik meminta Arga menjadi perantara. Setiap pertanyaan penyidik akan dijawab Tiara dengan membisikkannya pada Arga, lalu Arga menyampaikannya pada penyidik. Memang melelahkan, tapi Arga tidak keberatan sama sekali. Dia senang bisa bertemu Tiara. Meskipun melalui sebuah peristiwa yang hampir mencelakai Tiara. Secara tidak langsung, dia dekat dengan Tiara.


"Sayang, beneran kamu ngga kenal sama tante yang tadi?", tanya Arga dengan suara lembut mengulang pertanyaan penyidik.


"Tiara ngga kenal Oom, ngga pernah liat juga", jawab Tiara sambil berbisik pada Arga.


"Terus kenapa kamu bisa sama tante tadi?" tanya Arga lagi.


"Tiara lagi nunggu Mama jemput di pos sekuriti sama Pak Amril, tapi pas Pak Amrilnya ke toilet tau tau tante itu narik tangan Tiara ngajak Tiara pergi", Arga mendengar dengan sabar.


"Kok Tiara ngga teriak?", Arga semakin penasaran.


"Tantenya ngancem, Oom. Kalau Tiara ngga ikut nanti Tiara di pukul", jawab Tiara polos.


"Kenapa Tiara nunggu dipos sekuriti, bukan didalam sekolah aja biar aman?", yang ini bukan pertanyaan dari penyidik tapi dari Arga yang semakin penasaran.


"Didalam udah ngga ada temennya Oom. Biasanya kalau mama telat jemput, Tiara nunggunya ditemeni Pak Amril di pos sekuriti", terang Tiara lagi.


Arga mendesah. Hanya karena Hania terlambat menjemputnya, putrinya itu hampir menjadi korban penculikan. Apa Hania punya musuh? Atau seseorang yang tidak menyukainya? Atau mungkin wanita itu salah satu dari istri seorang pria hidung belang yang merayu Hania? Arga memang belum tahu motif wanita yang membawa Tiara tadi.


*******

__ADS_1


Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan votenya 💞💞💞


__ADS_2