Yang Terakhir

Yang Terakhir
48. Mantan


__ADS_3

Arga mengernyitkan dahinya. Matanya menatap tajam pria dihadapan Hania. Hatinya berdenyut nyeri. Putriku? Apakah pria itu ayah kandung Tiara? Mantan suami Hania? Mendadak dirinya gelisah.


Hania menatap tajam mantan suaminya. Kenapa mantan suaminya itu masih membayang-bayanginya? Bukankah dia memilih pergi meninggalkan dirinya dan putri mereka? Lalu kenapa sekarang bilang rindu pada putrinya?


"Han, tolong izinkan aku bertemu putriku karena bagaimanapun aku adalah ayahnya, dia berhak tau", mohon Ryan.


Plak! Sebuah tamparan lagi mendarat di pipi kiri pria yang juga tampan itu.


Arga mendesah. Dirinya benar-benar gelisah. Dia merasakan Hania begitu marah pada pria itu. Jika benar pria itu adalah mantan suami Hania, pasti pria itu sudah menyakiti wanita cantik penghangat hatinya itu begitu dalam.


Dia mendadak takut wanita yang mulai dicintainya itu masih mencintai sang mantan. Bisa saja kan? Arga menduga-duga sendiri.


Hania membalik tubuhnya menghadap Arga yang sedang menggendong Tiara yang ketakutan, lalu menghampirinya. Memeluk Tiara yang berada dalam gendongan Arga. Dia menangis lagi. Pria tampan itu spontan merangkul Hania dengan tangan satunya. Kemudian membimbing Hania menjauh dari tempat itu.


Ryan hanya menunduk. Tersenyum getir. Dia benar-benar merindukan putrinya itu hingga melupakan gengsi dan rasa malu. Berkali-kali mencoba namun mantan istrinya itu tidak pernah mengizinkannya. Dia memang bersalah telah meninggalkan istri dan putrinya dulu. Tapi dirinya menyayangi putrinya.


Hingga tanpa sengaja, dirinya yang juga sedang berada di sebuah kafe di seberang area wisata itu melihat Hania dan putrinya sedang berjalan memasuki kawasan wisata itu. Lalu mengikutinya.


Sepertinya dewi fortuna mendukungnya. Dia melihat Tiara sedang berlari-larian sendiri. Tidak terlihat Hania mengikutinya. Tak ingin melewatkan kesempatan itu, dia memdekati putrinya dan menyapanya. Merasa tidak ada penolakan dari gadis kecil itu, dia menggendongnya. Tiara yang tahu pria dewasa itu adalah ayahnya, hanya diam saja tapi tak dipungkiri dirinya juga takut.


Tiara sempat melihat Arga mencarinya. Pria dewasa itu hampir melihatnya dan dia baru akan berteriak memanggilnya sebelum dia dan ayahnya menghilang dibalik pintu keluar. Tiara semakin takut ketika ayahnya mengajaknya keluar dari area objek wisata dan menuju sebuah kedai es krim di seberang objek wisata itu. Dia takut tidak bertemu ibunya lagi sedangkan dirinya tidak mengenal ayahnya.


"Tiara sayang, maaf ya, ayah terpaksa membawamu begini, ibumu tidak mungkin mengizinkan ayah menemuimu secara baik-baik", ucap Ryan, Tiara hanya diam dan menunduk.


"Kamu suka es krim kan? Kamu boleh pilih rasa apa aja, ayah yang traktir", rayu sang ayah.


"Ayolah sayang, jangan seperti ini. Apa kamu ngga suka ketemu ayah?", Ryan terus membujuk Tiara, tapi Tiara masih diam saja bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Aku... aku ngga bisa makan es krim sekarang. Aku mikirin mama, dia pasti sedih aku ngga ada disana", ucap Tiara terbata menahan tangisnya.

__ADS_1


Terdengar Ryan mendesah berat. Dia kehabisan akal membujuk Tiara. Dirinya ingin memyenangkan gadis kecil itu. Ingin melihatnya tertawa riang ketika bersamanya. Tapi sepertinya putrinya itu juga terluka karena ulahnya. Terlihat sekali gadis kecil itu menjaga jarak dengannya dan tidak menikmati waktu bersamanya. Apa mungkin Hania sudah meracuni pikiran putrinya? Mengatakan hal buruk tentangnya pada putrinya? Tapi apa mungkin mantan istrinya begitu? Ryan sudah berpikir yang tidak-tidak. Tapi kemudian menghalaunya. Bagaimanapun juga pria yang juga tampan itu mengenal mantan istrinya dengan baik.


Hampir dua jam Ryan "menculik" Tiara, namun putrinya itu lebih banyak diam dan menunduk. Hampir membuatnya frustrasi. Gadis kecil itu hanya akan membuka mulutnya ketika dirinya bertanya. Itupun hanya dijawab singkat-singkat. Es krim aneka rasa dan makanan yang umumnya disukai anak-anak pun sudah dipesankan, tapi hanya disentuh sedikit saja.


Hingga akhirnya orang kepercayaan Arga menemukannya. Dan langsung menahannya disana.


Pertemuannya dengan Hania setelah terakhir kali bertemu di restoran tempatnya bertemu dengan kliennya dulu, membuat ketegangan semakin meningkat. Alih-alih bisa lebih mengenal putrinya, dia malah membuat Hania semakin murka. Lebih tidak diduganya lagi adalah keberadaan Arga, pria yang menghajarnya hingga babak belur, disisi Hania.


Dia hanya ingin bertemu putrinya. Mengenal gadis kecil itu dengan lebih baik. Tapi karena sering mendapat penolakan dari Hania, dia terpaksa membawa Tiara kabur. Dirinya berniat mengantarkan putrinya itu kembali pada Hania nanti. Setelah melepas rasa rindunya. Tapi niatnya tidak berjalan sesuai rencananya. Dia malah jadi bulan-bulanan pria yang datang bersama mantan istrinya.


Ryan mendesah. Mata teduh pria yang juga tampan itu menatap kepergian Hania dan putrinya bersama pria yang memukulinya tadi. Siapa pria itu? Bukannya Hania sedang dekat dengan Galih? Dia merasa wajah pria itu tidak asing. Dimana dia pernah bertemu dengan pria itu? Dilihat dari orang-orang yang mengikutinya sepertinya dia bukan orang sembarangan.


"Pak? Anda baik-baik saja?", tanya seorang pria yang lebih muda, wajahnya terlihat cemas.


Pria itu, begitu melihat Ryan dipukuli, ingin menolong tapi segera ditahan oleh orang-orangnya Arga. Akhirnya hanya bisa terdiam melihat atasannya di pukuli begitu.


"Tiara sudah aman sekarang. Ada Oom dan mama disini yang jagain Tiara. Oom Reza juga ada", ucap Arga menenangkan.


"Aku ngga mau ketemu ayah lagi Oom, ayah jahat buat aku takut, hiks", Tiara masih terisak dalam pelukan Arga namun sudah tenang.


"Iya, sayang. Oom ngga akan biarin kamu ketemu orang yang berniat jahat sama kamu lagi. Oom janji", Arga kembali menenangkan Tiara, tangannya terus mengusap rambut Tiara.


Tak berselang lama, gadis kecil itu tertidur. Terasa napasnya naik turun dengan teratur. Sepertinya efek elusan dirambutnya. Arga meletakkan Tiara di kamarnya, lalu meninggalkannya.


Kamar hotel yang ditempati Arga merupakan suit room. Ada 2 kamar didalam ruangan itu. Salah satunya ditempati Hania dan Tiara.


Arga mendapati Hania sedang berdiri ditepian balkon sambil bersedekap. Hawa dingin kota Batu terasa menusuk kulit.


"Kenapa disini?", Arga menegur Hania seraya menyelimuti tubuh Hania dengan selimut yang dibawanya.

__ADS_1


"Mas", Hania menoleh.


Kini rasa hangat menjalar ditubuhnya. Dieratkannya selimut itu ketubuhnya.


"Tiara gimana?", tanyanya.


Hania tidak ikut menenangkan putrinya. Sesuai saran Arga dia pun menenangkan diri. Wanita itu sangat emosi karena pria yang sudah meninggalkannya datang lagi dan dengan lancang membawa putrinya pergi. Dia tidak terima meskipun pria itu adalah ayah kandung putrinya. Rasa sakit hati, kecewa, dan marah bercampur jadi satu.


Dia kembali teringat bagaimana mantan suaminya secara gamblang memutuskan hubungannya dan tidak menganggap keberadaan putri mereka. Lalu, setelah sekian lama pria itu muncul dan ingin bertemu putrinya. Jelas dirinya tidak mengizinkannya. Dia terlanjur sakit hati dan kecewa.


"Dia sudah tidur. Kamu istirahatlah. Besok kita pulang", tukas Arga lembut seraya mengelus punggung Hania.


"Mas...", Arga menghentikan langkahnya yang hendak meninggalkan balkon lalu menoleh.


"Aku minta maaf. Jadi sering ngerepotin Mas", ucap Hania seraya menatap mata tajam Arga.


Arga tersenyum. Senyum yang selalu menenangkan Hania.


"Kenapa sungkan? Tiara aja tau siapa yang bisa diandalin. Kamu juga bisa ngandalin aku", ucap Arga masih dengan senyum mengembang semanis madu.


"Makasih", Hania tertular senyum manis pria seksi itu.


Arga meninggalkan kamar Hania dan putrinya, kembali ke kamarnya. Hania hanya memandang punggung kokoh itu hingga hilang di balik pintu. Dialihkannya tatapannya pada Tiara yang tertidur.


Dia mendesah. Mengingat wajah ketakutan Tiara tadi membuatnya merasa bersalah. Dia tahu tindakannya yang menghalangi mantan suaminya bertemu putrinya itu salah. Tapi demi mengingat bagaimana pria itu meninggalkannya, bahkan keberadaan sang putri pun tidak bisa menahannya tetap disisinya, membuatnya sakit hati dan kecewa.


*******


Thanks for reading

__ADS_1


__ADS_2