
Arga menelusupkan tubuh atletisnya ke dalam selimut yang sama dengan Hania. Malam itu, mereka menginap juga di rumah keluarga Pratama. Pria itu menempelkan tubuhnya pada istrinya yang sudah terlelap terlebih dahulu karena merasakan kondisi tubuhnya yang masih kurang baik. Pria itu memeluknya dengan erat.
Hania yang terganggu, mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu mengusap lengan kokoh Arga yang melingkar di pinggangnya tanpa mengubah posisinya yang membelakangi Arga.
"Udah bubar acara ngobrolnya?" tanya Hania dengan suara serak khas bangun tidur.
Wanita cantik bermata kelinci itu memang tadi sudah tertidur ketika Arga meninggalkannya di kamar. Tapi tak berselang lama, Hania terbangun. Menyadari Arga tidak berada di sana, wanita itu mencarinya. Dia memasuki ruang ganti yang ternyata luasnya setengah dari kamar yang ditempatinya itu, dia juga melongokkan kepalanya ke dalam kamar mandi, namun tidak juga menemukannya. Mau keluar pun dirinya malas, tubuhnya masih terasa lemas.
Hania yang baru pertama kali berada di kamar yang katanya sudah disiapkan untuknya itu, mengedarkan pandangannya menyisir seluruh ruangan dari tempatnya berdiri di depan pintu kamar mandi dengan pencahayaan temaram dari lampu tidur yang dinyalakan suaminya dan mematikan lampu utama kamar itu.
Pandangannya terarah pada dinding yang tertutup gorden dari eternit dan menjuntai hingga ke lantai. Kini, tangannya sudah menyibak gorden yang berwarna cokelat keemasan itu. Dan dibalik gorden itu terdapat pintu kaca yang menghubungkannya dengan balkon. Senyumnya mengembang. Wanita itu suka kamarnya ada balkonnya.
Hania sudah berdiri di pagar balkon, menghela napasnya dalam-dalam menghirup udara malam yang terasa sejuk itu. Lalu mengedarkan tatapannya ke taman di bawahnya. Rupanya kamarnya menghadap ke arah taman belakang rumah besar itu. Dari balkon kamarnya, Hania dapat melihat ketiga pria yang tampak serius berbincang namun kadang diselingi gurauan khas pria dewasa.
"Hum. Kamu tau?" tanya Arga seraya menopang kepalanya dengan tangan kirinya.
"Aku liat kalian dari balkon." sahut Hania seraya mengubah posisi tidurnya dari miring membelakangi Arga menjadi terlentang.
"Mas?" lirihnya.
"Hum?" gumam Arga.
"Syana kenapa?" tanya Hania.
Dia penasaran dengan keadaan gadis cantik itu. Tadi kata Ibu Irene, Syana juga pingsan. Dia pasti tertekan karena keadaannya yang amnesia dan wajahnya diubah. Hania merasa iba pada Syana. Entah kenapa dia merasa senang karena Galih mengenal gadis cantik itu. Setidaknya Syana tidak benar-benar sendirian.
"Dia tadi pingsan kar'na kepalanya mendadak sakit. Kata dokter sarafnya, itu karena dia terlalu berusaha mengingat masa lalunya." sahut Arga yang juga tahu kondisi Syana.
"Gimana keadaannya sekarang?" tanya Hania lagi.
"Udah baikan." sahut Arga mulai jengah menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Kasian dia." lirih Hania.
"Mas...." ucapan Hania menggantung.
__ADS_1
"Udahlah, honey! Kenapa kamu jadi bahas dia sekarang, sih!? Harusnya yang dibahas saat kita sedang pillow talk begini itu kita!" kesal Arga memotong ucapan Hania.
Pria tampan itu tidak pernah suka membahas perihal wanita lain. Sikapnya selalu dingin dan datar jika menyangkut wanita lain. Dia hanya melunak pada istrinya saja. Bukannuya takut akan tergoda dan mengantisipasi agar tidak tergoda, tapi sikap Arga itu muncul karena penghianatan mantan istrinya dulu. Dan seringnya wanita menyalah artikan sikapnya. Membuatnya enggan bersikap hangat pada lawan jenisnya.
Mendengar intonasi Arga yang sedikit meninggi, Hania langsung mengubah posisi tubuhnya lagi menjadi menghadap ke arah suaminya. Dengan lembut dia mengusap rahang pria tampan itu. Dan mengec*p bibir yang menurutnya sek*i itu.
"Iya deh, sayang. Maaf, ya." rayu Hania dengan manja.
Kata sayang yang merupakan kata keramat bagi Hania itu akhirnya meluncur lagi dari bibir Hania. Jarang-jarang bisa mendengar kata itu dari bibir istrinya. Membuat Arga luluh seketika. Senyum pria itu juga langsung merekah selebar bunga matahari.
"Aku maafin tapi panggil aku sayang mulai malam ini juga." tuntut Arga dengan senyum yang masih merekah.
Lain Arga, lain Galih. Jika Arga masih sempat mengobrol dengan Hania, Galih justru langsung tertidur tanpa mengganti bajunya.
Malam beranjak makin larut. Setelah membubarkan diri karena mata yang mengantuk dan tubuh yang terasa penat, Galih langsung dapat memejamkan matanya begitu kepalanya menempel pada bantal empuk yang sarungnya beraroma wangi parfum laundry yang lembut.
"Kak, jangan terlalu perhatian sama aku, nanti aku bisa baper trus suka sama kakak, gimana?" ucap seorang gadis berdagu belah yang sejak kepindahannya ke kantor barunya sudah menarik perhatiannya itu.
Galih hanya tertawa saat gadis itu berkata serius tentang perasaannya yang bisa saja betulan suka padanya karena sikapnya yang peduli pada gadis itu.
"Berhenti mencari perhatianku, Syana. Aku ngga bisa cinta lagi sama perempuan lain. Hatiku sudah ada yang punya. Aku ngga mau kamu jadi terluka nanti." pinta Galih.
"Maaf." lirihnya seraya mengusap airmata yang menetes lalu menatapnya dengan lekat.
Entah dorongan darimana, Galih melu**t bibir mungil Syana dengan lembut. Menikmati setiap mili bibir yang dirasanya manis itu. Apalagi ci*mannya dibalas oleh Syana. Hingga mengalirkan sengatan yang membuat hasr*tnya meronta. Tangannya menahan tengkuk Syana agar pag*tannya tidak terlepas. Semakin lama semakin menuntut.
Sejenak mata Galih terpaku pada aset Syana yang menonjol dari tempatnya. Belahan d*d* itu sungguh tampak indah di matanya. Tidak besar tapi juga tidak bisa dibilang kecil. Sepertinya pas di tangannya yang lebar. Sementara akal sehatnya berjuang untuk tidak bertindak lebih jauh, tongkat saktinya malah sudah berdiri tegak siap menantang halangan dan rintangan. Membuat celananya semakin sesak.
"Ah!" Galih seketika membuka matanya.
Pria berwajah manis itu bangkit dari tidurnya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar dan mengacak rambut, juga menghembuskan napasnya dengan kasar. Disandarkannya tubuh atletisnya pada sandaran ranjang. Dia memejamkan mata dan napasnya memburu.
Baru saja dia bermimpi. Mimpi yang membuat organ vitalnya terbangun dan enggan tidur lagi, seperti dirinya. Kejadian beberapa bulan yang lalu, sebelum keberangkatannya ke Singapura kembali hadir dalam mimpinya. Membuatnya tak tenang.
Syana. Gadis cantik itu. Wanita yang membuatnya peduli dan perhatian. Namun tidak bisa membuatnya mencintainya. Entahlah. Terkadang, Galih begitu menikmati kebersamaan dengan gadis itu. Namun terkadang menghindarinya. Terkadang membuat gadis itu tersenyum adalah hal yang menyenangkan untuknya. Tapi terkadang juga penolakannya membuat gadis itu menangis. Di saat gadis itu menangis, dia seperti merasa bersalah. Sangat bersalah.
__ADS_1
Hubungan keduanya hanya sebatas rekan kerja. Tidak ada status yang jelas kecuali pertemanan. Tapi kadang mereka terlihat romantis layaknya sepasang kekasih. Galih pernah menc*umnya, memberi lu**tan lembut dan Syana membalasnya. Tapi tidak pernah lebih dari itu. Galih seketika tersadar saat mendengar gadis itu mendes*h dan dia menghentikan aksinya. Dia tidak ingin merusak gadis itu. Dirinya bingung sendiri. Dengan wanita lain, dia bisa melakukannya hingga terpuaskan berkali-kali. Tapi dengan Syana, dia bisa menahannya.
Kini, gadis berdagu belah yang sudah menarik perhatiannya itu berada di sebelah kamarnya, di rumah besar keluarga angkatnya, tapi dengan penampilan yang berbeda. Wajahnya jadi mirip Hania. Dengan wajah aslinya saja, dia seolah melihat Hania, hanya bentuk mata dan dagunya saja yang berbeda, apalagi mirip begitu.
Mungkin juga perasaan ragu-ragunya pada Syana karena gadis itu seperti Hania. Galih yang belum bisa melupakan perasaan cintanya pada sahabatnya meski sudah ditolak, selalu menolak kehadiran Syana. Namun di sisi lain, dia begitu tertarik pada gadis itu. Tapi dia tidak bisa mengartikan arti tertarik itu sendiri.
Dia menganggap rasanya pada Syana tercipta karena rasa iba dan kagum sekaligus, ditambah intensitas pertemuan mereka yang cukup sering. Meski berbeda divisi, Galih kerap mengajak Syana menghabiskan waktu bersama, pun sebaliknya.
Kedekatan yang tercipta karena seringnya melakukan aktifitas bersama itulah yang membuat Galih cukup mengenal Syana. Gadis itu selain cantik rupanya juga cantik hatinya. Tumbuh di lingkungan keluarga sederhana yang cenderung kekurangan, membuat Syana tumbuh menjadi sosok mandiri dan pekerja keras. Dia tidak malu melakoni pekerjaan apa saja asalkan dikuasainya, tidak merugikan orang lain, dan halal.
Mengingat karakter Syana yang seperti itu, rasanya Galih tidak terima saat Syana dituduh terlibat dalam kasus penggelapan dana perusahaan tempatnya bekerja. Gadis itu selalu berusaha bertindak sesuai prinsipnya. Jadi, tidak mungkin Syana begitu dan dia berencana akan membantu Syana.
Klek!
Terdengar samar di telinganya, pintu kamar di sebelahnya, kamar Syana, terbuka. Gadis itu mau kemana? Untuk apa malam-malam keluar kamar? Kerongkongannya yang kering mendukung rasa ingin tahunya. Dengan cepat dia bangkit dari posisinya dan berjalan keluar kamar.
Dapur. Adalah tempat yang ingin ditujunya pertama kali sebelum mencari keberadaan Syana. Rasa dahaga membuatnya gerah. Seperti dehidrasi. Dibukanya kulkas 4 pintu dan meraih sebuah botol air mineral kemasan berukuran tanggung yang rasanya ada manis-manisnya itu dan membawanya keluar dari sana. Seraya memutar tutul botol, Galih celingukan mencari Syana dan dia melihatnya sedang berdiri sambil bersedekap menatap lurus ke arah air terjun mini di tepi kolam renang. Suara gemericiknya memang menenangkan.
"Ngapain?" sapanya setelah berada di samping gadis itu membuat si gadis terperanjat.
Hampir saja Syana jatuh ke kolam renang yang pasti airnya dingin di jam larut malam seperti saat itu seandainya Galih tidak segera memegang pinggangnya.
"Kak Galih ngagetin aja." ucap Syana kikuk setelah menyadari tubuh mereka yang menempel sempurna.
Jakun Galih tampak naik turun ketika tubuh ramping itu menempel padanya. Sesuatu yang lembut, yang dulu pernah membuatnya hampir khilaf, kini menempel di dadanya. Dia masih ingat belahan d*d* Syana yang menarik itu. Bahkan dia masih bisa merasakan betapa lembutnya benda itu saat dia mencicipinya. Apalagi gaun tidur berbahan satin bertali spageti yang dikenakan Syana dengan aksen V neck pada bagian dadanya saat itu membuat belahan itu terlihat lagi. Seperti menyegarkan ingatan Galih.
"Ah, kenapa Mama Irene memberinya pakaian seperti ini, sih?" sesalnya dalam hati.
"Kak Galih ngapain di sini?" pertanyaan Syana menyadarkan Galih dari ingatannya yang sesat sesaat tadi lalu melepaskan pinggang ramping itu.
"Ah, aku...." Galih gelagapan menjawab pertanyaan Syana yang sangat sederhana itu.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!
🥰🥰🥰