
Suara letusan tembakan dan pekikan memanggil nama Hania beradu cepat mencapai target dan menghentikan pertarungan yang tengah berlangsung. Bersamaan dengan itu, tubuh Raka terhuyung memeluk Hania. Lalu merosot. Hania yang tak kuasa menahan tubuh tinggi dan atletis yang memeluknya itu ikut terhuyung dan akhirnya terduduk di samping Raka yang tergeletak.
Hania masih belum sepenuhnya menyadari kejadian barusan. Terlihat sangat cepat. Letusan senjata api dan pekikan Raka yang memanggilnya berkelebat lagi di benaknya. Dipandanginya kedua tangannya yang terkena darah Raka. Wanita bermata kelinci itu terkejut bukan main. Tadi dia sempat mencoba menahan tubuh pria atletis itu dengan memeluknya. Tanpa menyangka punggung pria tampan itu terluka.
"Ra-Raka? I-ini? Kamu berdarah?" mata Hania berkaca-kaca.
Meski membenci pria yang pernah menggagahinya dengan paksa itu, hati kecilnya tetap merasa tidak tega. Hania mulai merasa panik dan ketakutan. Hingga dirinya merasakan Raka meraih tangannya dan menggenggamnya lalu tersenyum.
"Ka-mu khawatir?" wajah pria itu tampak lega melihat Hania baik-baik saja, sesekali meringis menahan nyeri dan panas yang hebat dari lukanya.
Hania mengangguk. Sementara itu airmatanya tak terbendung lagi. Membuat Raka semakin melebarkan senyumnya. Dalam hatinya, pria tampan itu bahagia. Meski mungkin hanya rasa simpati, setidaknya dirinya mendapat perhatian Hania. Apalagi genggaman di tangannya semakin mengerat. Hania membalas genggamannya.
"Maaf-kan aku, Hania. Maaf." ucap Raka terbata.
Pria itu kesulitan mengatur ritme jantungnya bahkan terbatuk-batuk. Dari sudut mulutnya mengeluarkan darah segar.
"Raka! Tahan ya. Please!" Raka hanya tersenyum demi merasakan kekhawatiran Hania yang ditujukan untuknya.
Raka menahan matanya agar tetap terbuka. Menatapi wanita yang kini bersemayam di hatinya. Sedikit tidak percaya pada pendengarannya. Wanita cantik itu menyemangatinya untuk bertahan? Bukankah Hania membencinya? Bertahan? Cih! Untuk apa jika dirinya tidak bisa memilikinya?
"Mau-kah kamu maaf-in a-aku? A-aku menye-sal, Ha-nia. Sung-guh." pinta Raka lagi.
"Kalau kamu mau aku maafin, kamu harus tetap hidup, Raka!" entah apa yang diucapkan Hania, yang jelas wanita cantik itu ingin Raka tetap hidup.
Raka terkekeh.
"Bukan-nya ka-mu benci a-aku? Ka-lau aku te-tap hid-dup, apa ka-kamu ngga ta-kut?" Senang, itulah yang dirasakan Raka.
Dapat berbincang santai seperti itu adalah keinginan Raka saat dirinya membawa Hania ke apartemennya hingga kejadian penculikan Hania terjadi.
Hania menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus tetap hidup supaya aku bisa menghukummu!" seru Hania seraya mengusap air mata di pipinya.
"Wah! Pa-pas-ti aku ngga sang-gup untuk i-itu." ucap Raka sedikit bergurau.
Arga yang menyadari yang terjadi langsung menghampiri Hania dan Raka yang terbaring setelah berhasil melumpuhkan lawannya.
"Man!" serunya dengan napas memburu, berjongkok di samping Hania.
Hatinya berdenyut nyeri melihat Raka tergeletak lemah begitu. Sungguh, rasa sayangnya pada sahabatnya tidak akan pernah luntur, hanya saja keinginan membalas perbuatan pria itu padanya juga sama besarnya.
"Hei, Man!" sapa Raka seraya terkekeh lalu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hania.
"So-rry. Sorry f-for every-thig." ucapnya lalu mengisak sementara Arga menggenggam tangan Raka.
"Gue nye-nyesel, Ga. Sorry." Raka tampak menghirup napas dalam-dalam.
__ADS_1
Lalu tangan yang digenggam Arga seperti tidak bertenaga lagi. Begitu diepaskan langsung terkulai.
"Ka? Raka!?" Arga menepuk-nepuk pipi mantan sahabatnya itu.
"Raka." lirih Hania.
"Rakaaa! Bangun lu! Lu harus bertahan!" seru Arga lagi namun tetap tidak mendapatkan respon yang diharapkan.
Arga berharap Raka hanya mengerjai dirinya dengan berpura-pura meninggal. Namun beberapa kali mencoba menyadarkan pria itu, dia tetap saja diam.
"Bertahanlah, Ka! Please!" gumam Arga dengan mata berkaca-kaca.
Hania hanya bisa mematung. Tangisnya tiba-tiba terhenti. Menatap wajah tampan Raka dengan lekat tanpa ekspresi. Kejadian demi kejadian buruk yang menimpanya kembali berputar di benaknya. Kecelakaan yang menimpanya, kematian Tiara, dirinya yang di gagahi dengan paksa hingga akhirnya mengandung, keguguran, dihantui bayangan Raka, rasa bersalah pada Arga, dan kini dirinya lagi-lagi harus menyaksikan kematian dari orang yang selama ini menghantuinya.
"Aaaaargh!" Arga terkejut mendengar Hania tiba-tiba menjerit.
Arga seketika mengalihkan perhatiannya pada sang istri yang menggeser tubuhnya menjauhinya dan Raka sambil menutup telinganya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita tercintanya itu kembali diserang rasa panik dan ketakutan berlebihan. Hania histeris.
Karena merasa khawatir pada Raka, Arga sampai tidak menyadari keadaan Hania yang terguncang. Istrinya itu sebenarnya belumlah begitu pulih dari rasa traumanya beberapa waktu yang lalu. Tapi kini, wanita itu harus mengalami kejadian yang mengguncangnya lagi.
"Honey." Arga segera menghampiri dan memeluk sang istri, memberi ketenangan.
Sementara itu Hania yang diserang rasa panik dan ketakutan, menolak pelukan Arga. Wanita cantik itu meronta seraya menjerit histeris.
"Pak!" sapa Reza seraya menatap Arga yang tengah berusaha menenangkan Hania yang meronta dalam pelukannya.
"Pihak berwenang sudah tiba, Pak. Pak Aris dan anak buahnya sudah diamankan." lapornya.
Arga hanya mengangguk. Tidak dapat berpikir jernih. Masih tidak percaya dengan yang terjadi hari ini. Hania yang kembali terguncang dan Raka yang mempertaruhkan nyawanya demi istrinya. Semua karena ulah sang paman yang tamak. Lagi-lagi dia merasakan hatinya berdenyut nyeri.
Arga mengalihkan tatapannya ke arah tubuh Raka yang terbaring diam di hadapannya. Menatapnya nanar. Dirinya melihat bagaimana pria yang dulunya adalah sahabatnya itu meregang nyawa demi melindungi Hania. Pria itu sebelumnya sempat meminta maaf padanya dan Hania. Raka tampak menyesali perbuatannya yang lalu. Setelah semua pengorbanannya, apakah dirinya akan tega untuk tidak memberinya maaf?
Tanpa dapat dicegah, air matanya mengalir di sudut mata. Arga mendongakkan wajahnya agar air mata tak terus tumpah dan menahan isaknya agar tak terdengar oleh istrinya hingga membuat dadanya sesak.
Argh! Arga menyesal. Kenapa tadi tak dihabisinya sekalian saja pria tua itu selagi ada kesempatan? Pasti tidak akan sampai merenggut nyawa Raka dan membuat Hania histeris.
"Selamat sore, Pak." sapa suara asing seorang pria berseragam coklat yang menghampirinya ketika Arga baru menginjakkan kakinya di lantai 1.
Arga menoleh dan menatap pria yang usianya tampak tidak lebih tua darinya itu.
"Kami akan menangani kasus ini. Mohon kerjasamanya jika sewaktu-waktu kami membutuhkan keterangan anda, Pak." terang pria itu.
"Terimakasih." ucap Arga.
Pria karismatik itu leluasa berjalan keluar rumah minimalis itu seraya menggendong tubuh Hania. Istrinya yang sudah tenang setelah histeris itu akan merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Hingga tak sanggup menopang tubuhnya sendiri apalagi berjalan.
Pastinya Reza sudah turun tangan memberi keterangan pada pihak berwenang sehingga aparat tadi tidak banyak bertanya padanya.
__ADS_1
Perlahan Arga mendudukkan Hania di kursi penumpang di samping kemudi. Mengatur tempat duduknya dan memastikannya nyaman.
"Urus semua yang di sini! Aku mau si tua bangka itu bertanggung jawab langsung padaku!" perintah Arga pada Reza yang berdiri di sampingnya, dengan nada datar tapi penuh penekanan.
Reza mendesah namun tetap menganggukkan kepalanya. Pria berkacamata itu sangat mengerti maksud Arga. Cukup lama dirinya bekerja pada pria karismatik itu membuatnya mengenal atasannya itu dengan sangat baik.
Ditatapnya sedan mewah Arga melaju menjauh dari tempat itu. Kali ini dirinya harus memikirkan cara menculik sang paman dari pengawalan aparat yang berwenang. Arga ingin membalas sendiri perbuatan sang paman. Reza yakin atasannya itu tidak ingin kecolongan lagi seperti sebelumnya. Sang paman bisa bebas berkeliaran padahal seharusnya masih di balik jeruji. Bukannya tidak percaya, hanya saja rasa was-was dan perasaan puas ketika mengerjakan sendiri lebih diinginkan Arga.
Reza mengalihkan tatapannya pada kantong jenazah yang di bawa oleh beberapa petugas medis yang juga sudah tiba di tempat kejadian. Pria itu mendesah lagi. Dia juga harus memberitahukan pihak keluarga Raka. Atau biar pihak yang berwenang saja yang memberitahukannya? Hah!
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Getaran di saku celananya mengalihkan perhatiannya dari kantong jenazah tadi.
"Panjang umur." gumamnya dalam hati demi melihat nama Iden tertera di layar ponselnya.
"Selamat malam, Pak." sapa Reza tetap bersikap formal pada wakil pimpinan perusahaan Arga.
"Kenapa ponsel Arga ngga bisa dihubungi!? Ngapain aja dia!?" semprot Iden alih-alih membalas sapaan Reza.
"Hah! Ngga direktur ngga wakilnya, sama-sama suka ngegas." batin Reza seraya menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Pak. Pak Arga sedang membawa Bu Hania kembali ke kediamannya." sahut Reza sopan.
"Jadi Hania sudah ditemuin? Gimana sama Raka?" tanya Iden datar.
"Umm... Itu. Pak Raka... Dia terkena tembakan Pak Aris." lirih Reza memberitahukan Iden.
Pria berkacamata itu sedikit ragu memberitahukan Iden tentang keadaan Raka melalui panggilan ponsel. Dia tahu saat ini pria blesteran itu sedang bersama Ibu Monica, ibunya Raka.
"Apa!? Lu serius!? Dimana dia sekarang!?" suara Iden cukup mewakili rasa khawatirnya.
Reza menutup sambungan telepon di ponselnya setelah memberitahukan kemana pihak berwenang membawa tubuh Raka. Namun pria berwajah manis itu tidak memberitahukan kondisi Raka yang sebenarnya. Entah kenapa, mendadak lidahnya kelu ketika akan mengatakan kebenarannya. Dia ingin, baik Iden maupun Bu Monica mengetahuinya sendiri. Dia tidak ingin ambil pusing karena saat ini, kepalanya sudah pusing duluan memikirkan perintah Arga.
Sementara itu, Arga yang sudah membaringkan Hania, tetap membiarkannya tertidur setelah sampai di kamar besarnya. Pria tampan itu tahu istrinya sedang mengalami kelelahan fisik dan mental dalam waktu yang bersamaan.
Arga duduk di sisi kiri Hania di tepi ranjang. Membersihkan tangan dan tubuh Hania yang terkena noda darah. Menatap wajah cantik yang pucat itu lekat. Tampak pipinya lebam, sudut bibir sebelah kanan sedikit robek dan meninggalkan bekas goresan yang menghitam, matanya bengkak, dan ada goresan luka memerah di keningnya. Pergelangan tangan dan kakinya pun tak lepas dari pengamatan Arga. Tampak olehnya bekas ikatan yang membiru. Hatinya benar-benar seperti diremas. Sesak dan sakit dirasakannya sekaligus.
"Maaf, honey." lirihnya lalu mengecup kening Hania cukup lama.
Pria tampan itu menyusul Hania naik ke ranjang besarnya setelah membersihkan dirinya. Masuk kedalam selimut yang sama lalu memeluk sang istri erat.
*******
Thanks for reading!
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
__ADS_1
🤗🤗🤗😘