
Senyum Arga mengembang menerima sambutan yang tidak pernah didapatnya ketika pulang ke rumahnya. Hatinya menghangat. Pria tampan itu merasa memiliki keluarganya sendiri ketika bersama Hania dan putrinya.
Seperti biasa, Arga merasa dilayani dan diutamakan, membuatnya betah berada di rumah Hania. Tiara juga akan bersikap manja pada Arga yang memang suka memanjakan gadis kecil itu.
"Oom sama kayak aku, suka udang krispi", seru Tiara seraya tersenyum lebar ketika mengetahui makanan favorit Arga.
"Ohya? Tos dong", sahut Arga seraya tersenyum lebar, memposisikan tangannya untuk melakukan tos.
Tiara menepuk telapak tangan Arga, melakukan tos. Lalu mereka tertawa. Arga benar-benar tertawa. Tawa bahagia. Gadis kecil itu selalu bisa membuat pria dewasa itu bahagia.
Hania yang sedang duduk di meja makan melihat kelakuan dua insan beda usia itu dengan mata berkaca-kaca. Putrinya begitu dekat dengan Arga dan bisa sangat kompak. Terlihat seperti ayah dan anak. Pada Arga, gadis kecil itu begitu bisa mengekspresikan dirinya, bersikap manja dan merajuk pada pria dewasa itu tanpa berpikir Arga adalah orang baru yang dikenalnya. Hania bisa melihat kedekatan mereka sejak pertama kali mereka bertemu. Hania tahu jika putrinya itu merindukan sosok ayah, Hania sangat tahu itu. Dan sepertinya gadis kecil itu merasakan kehadiran sosok ayah dari seorang Arga.
Arga menoleh sekilas ke arah Hania yang sedang memperhatikannya ber tos ria dengan Tiara. Lalu menoleh lagi memastikan yang dilihatnya. Hania menangis? Kenapa menangis?
"Sayang, ini udah malam, kamu tidur ya. Oom perlu ngobrol sebentar sama Mamamu", Tiara langsung memberengut.
"Oom janji besok kesini lagi, tiap pulang kerja Oom akan mampir kesini", Tiara enggan menurut hingga membuatnya merayu dan berjanji pada gadis kecil itu.
"Janji?", Tiara menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Arga, kemudian pria itu menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Tiara.
"Janji", gadis kecil itu mengangguk kemudian bangkit dari duduknya dan meninggalkan pria dewasa itu menuju kamarnya.
Hania bangkit dari duduknya dan meninggalkan meja makan menuju halaman belakang rumahnya ketika melihat Arga mendekat. Pria berkarisma itu mengekor Hania lalu duduk di seberang wanita itu.
"Ada apa?" tanya Arga seraya menatap mata kelinci Hania.
Hania membalas tatapan Arga. Wanita lembut itu bingung akan menjawab apa. Dirinya hanya merasa terharu dan senang sekaligus akan kedekatan putrinya dengan pria tampan didepannya itu. Tapi ada ketakutan yang menyertai perasaan itu. Dirinya sangat mengenal putrinya. Gadis kecil itu seperti menuangkan perasaan rindu akan kehadiran seorang ayah pada Arga. Apakah dirinya juga harus mengungkapkan itu? Wanita itu memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata tajam Arga.
"Han? Are you alright?", pertanyaan Arga membuat mata Hania kembali menoleh pada pria itu lagi.
__ADS_1
Wanita bermata kelinci itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ngga pa-pa kalau kamu belum mau cerita, tapi kalau kamu butuh aku, kamu tahu aku selalu ada untukmu. Jadi jangan sungkan padaku. Kamu ingat aku bukan orang lain bagimu", hibur Arga, Hania mengangguk lagi.
Arga menghormati wanita itu beserta segala keinginannya, termasuk menceritakan kegelisahannya malam ini. Diakuinya, dirinya penasaran dan merasa ada sesuatu yang ingin diungkapkan wanita cantik itu padanya tapi ragu.
"Apa sekolah Tiara belum dimulai?", tanya Arga memecah keheningan.
"Sebenarnya udah, cuma dia belum mau masuk. Kayaknya masih kecapekan deh", Hania terkekeh mengingat Tiara yang biasanya lincah, hanya duduk manis dan rebahan seharian tadi.
"Iya, anak itu semangat banget waktu di Malang. Bisa juga dia kecapekan sampai ngga mau sekolah", Arga ikut terkekeh.
Suasana hening lagi. Apalagi rumah Hania terletak di dalam jalan kampung, jauh dari lalu lalang kendaraan bermotor. Hanya suara desauan angin yang berhembus dan daun yang bergesekan menambah kesan malam semakin larut. Arga melirik jam tangannya. Jam 8. Masih jauh dari larut.
"Mas?", Arga menoleh ke arah Hania.
Hening. Pria tampan itu masih menatap Hania yang tak kunjung melanjutkan kalimatnya. Menunggu dalam diam dan penasaran. Apa yang akan dikatakan wanita cantik itu? Tiba-tiba dirinya merasa gelisah.
"Aku seneng dia bisa nerima aku, Han. Aku terkejut dia bisa langsung akrab denganku tapi itu jadi sebuah keuntungan untukku. Aku bisa merasa menjadi ayah lagi. Melakukan peranku yang sudah lama ngga kulakukan. Aku juga ngga tau, aku bisa sayang banget sama anak itu. Aku bisa menuangkan perhatian dan kasih sayang yang selama ini ngga pernah bisa aku berikan ke putraku", senyum Arga mengembang mengingat kedekatannya denga gadis kecil itu.
"Sebelum bertemu Tiara, aku selalu menjauhi anak-anak. Mereka hanya mengingatkanku pada putraku", lanjut Arga seraya menoleh pada Hania yang menatapnya.
Mata Arga berubah sendu kala pria tampan itu menyebut putranya. Hatinya ikut merasakan pedih. Pria itu selalu terlihat bahagia dengan Tiara. Apa Tiara pelampiasan kerinduannya pada putranya? Apakah kegelisahannya itu benar? Arga bersikap baik padanya dan putrinya karena putrinya bisa dijadikan pelampiasan rasa rindunya pada putranya? Dadanya sesak memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat dalam benaknya. Kalau iya, berarti dirinya salah paham selama ini. Berpikir Arga menyukainya dan menerima putrinya meskipun pikiran itu selalu ditepisnya. Tidak ingin salah paham.
"Apa Mas menganggap Tiara bisa menggantikan putra Mas? Mengobati rasa rindu Mas padanya? Mengobati rasa sesal Mas karena mengabaikannya? Dan sekarang menuangkan semua perhatian Mas pada putriku?", Hania sudah tidak dapat menahan kegelisahan yang bercokol dalam hatinya.
Arga terkejut ketika Hania menanyakan rentetan pertanyaan yang dirinya tidak punyai jawabannya. Bahkan berpikir seperti yang wanita cantik itu tanyakan pun tidak pernah sekalipun terlintas dibenaknya. Dia benar-benar tulus menyayangi Tiara. Bukan karena Tiara adalah putri wanita itu, apalagi dianggap pelampiasan rindunya pada Devan. Bukan!
"Han? Tolong jangan salah paham dulu. Bukan begitu maksudku", sergah Arga tetap dengan suara lembut.
__ADS_1
"Lalu apa? Kenapa Mas tiba-tiba datang dan dekat-dekat dengan putriku?", cecar Hania dengan suara yang bergetar.
Wanita cantik itu merasa hatinya berdenyut nyeri. Selama ini perasaan sukanya pada Arga dibiarkan berkembang meski kadang ditepisnya. Perasaan yang tidak pernah dibiarkan keluar dari kandangnya. Perasaan yang selalu dijaga ketat dan hati-hati.
"Apa perlu sebuah alasan untuk menyayangi seseorang?", tanya Arga tetap dengan suara lembut meski dirinya gemas, dirinya tidak ingin emosi seperti dulu lagi.
"Untuk kasus kita, iya. Ngga mungkin kan Mas datang tiba-tiba terus sayang tiba-tiba", ketus Hania.
Hati Arga berdenyut nyeri. Wanita lembut itu berubah ketus padanya. Apakah dirinya harus berkata jujur sekarang? Mengakui perasaannya? Menyatakan perasaannya? Bagaimana jika wanita cantik itu menolaknya? Jelas itu bukan jawaban yang ingin didengarnya.
"Iya. Aku merindukan putraku. Setiap hari. Dan rasanya menyakitkan. Rindu pada seseorang yang sudah tidak bisa lagi kusentuh, sangat menyakitiku", suara Arga terdengar lirih dan bergetar.
Deg.
Hati Hania mencelos melihat pria bertubuh atletis itu menunduk. Bahunya bergetar tak teratur. Apa dia menangis? Baru kali ini pria karismatik itu menagis dihadapannya. Apa dia tidak malu memperlihatkan sisi rapuhnya pada wanita? Wanita lembut itu tidak tega melihat pria itu begitu. Tangannya terulur mengusap rambut hitam Arga. Menyalurkan ketenangan.
Pria tampan itu mengangkat kepalanya membuat Hania segera menyingkirkan tangannya. Matanya memerah dan masih ada sisa air mata disana. Ah. Hania jadi semakin tidak tega. Pria itu meraih tangan Hania yang masih mengambang diudara. Menggenggamnya erat seolah tak ingin melepaskannya.
"Terus terang aku ngga punya alasan apapun untuk menyayangi Tiara, Han. Anak itu begitu polos, innocent, menyenangkan, selalu ceria. Ngga sulit untuk menyukainya", terang Arga, dia bingung akan menjelaskan apa untuk meyakinkan Hania.
"Pertama kali ketemu Tiara, dia bisa langsung menerimaku dan percaya padaku. Putrimu itu seperti memberi kesempatan buatku untuk melindunginya, memanjakannya, menyayanginya, dan melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan seorang ayah pada anaknya", suara Arga semakin bergetar, dadanya terasa sesak.
"Aku berani bersumpah demi apapun, tidak pernah menjadikannya pelampiasan. Tidak pernah! Aku benar-benar menyayangi Tiara. Tiba-tiba jatuh sayang", tegas Arga seraya menatap mata kelinci Hania, pria itu takut Hania tidak mempercayainya dan menjauh darinya sementara dirinya sudah terlanjir jatuh cinta pada wanita lembut itu.
Hania menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan seraya membalas tatapan Arga. Begitu? Menyayangi putrinya tanpa alasan? Benar. Menyayangi seseorang tidak membutuhkan alasan. Lalu apakah perhatian pria kariamatik itu padanya mempunyai alasan? Bisakah seorang pria dewasa tiba-tiba mendekati wanita dewasa tanpa alasan?
Ah. Hania jadi ingin menanyakannya juga tapi dirinya takut jika pria tampan itu ternyata tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya. Tapi bagaimana dengan pelukan dan ciuman sekilas mereka beberapa waktu yang lalu? Apakah pria itu hanya terbawa suasana?
********
__ADS_1
Thanks for reading!