
"Lu yakin?" tanya Iden pada anak buahnya di seberang ponselnya.
Pria itu baru saja menyelesaikan adegan panasnya bersama sekretaris seksinya. Tubuh polosnya pun masih berkeringat dan hanya ditutupi selimut bagian bawahnya saja. Tangannya memeluk bahu wanita yang baru saja memuaskannya yang juga memeluk tubuh telan***gnya dalam satu selimut yang sama.
Sementara Bela hanya diam saja di samping atasannya sekaligus rekan berci*nt*nya itu. Ya. Hanya rekan berc*nt* karena Iden tidak menginginkan hubungan yang lebih dari itu.
"Tapi kemarin lu bilang muka sama postur badannya sama seperti Oom Aris." ucap Iden seraya melirik Bela yang tengah menatapnya, membuatnya tersenyum tipis.
Mendengar nama Oom Aris disebut-sebut Iden, wanita seksi itu langsung menoleh. Bela memang mengenal Oom Aris, tapi dirinya tidak tahu apakah yang disebut-sebut Iden adalah Oom Aris yang dia kenal atau bukan.
"Ya udah. Lu cari sampe dapat!" perintah Iden lalu memutus sambungan teleponnya sepihak.
Iden menghembuskan napas berat. Tatapannya menatap lurus ke depan. Tampaknya pria belsteran itu sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu mikirin apa sih, Yang?" tanya Bela seraya mengusap lengan Iden.
"Ngga ada. Cuma ada sedikit masalah aja." sahut Iden mengalihkan tatapannya ke arah Bela dan tersenyum.
"Umm... Apa karena Oom Aris yang tadi kamu sebut-sebut itu?" tanya sekretaris seksi itu lagi, membuat Iden semakin melebarkan senyumnya.
"Iya. Karena dia. Dia udah buat masalah di perusahaan, dia juga udah ganggu keluarga bos kita." ungkap Iden.
"Pak Arga?" Bela hanya ingin meyakinkan dirinya.
Iden mengangguk dengan tatapan mata lurus ke depan. Pria flamboyan itu lalu terdiam lagi.
"Apa kita sedang ngomongin Oom Aris yang sama?" Bela tak dapat menahan rasa penasarannya.
Ya. Segala sesuatu tentang Arga membuatnya penasaran. Entahlah. Wanita seksi itu sangat mengagumi dan menyukai pimpinan perusahaan tempatnya bekerja itu. Meski sikap Arga selalu dingin padanya bahkan pernah terang-terangan menolaknya, tak membuatnya menyurutkankan langkah untuk terus mendekatinya.
Iden mengendikkan bahunya. Ada banyak pria yang bernama Aris.
"Apa yang kamu maksud Oom Aris pamannya Pak Arga?" Iden langsung menoleh menatap Bela.
"Gotcha!" sorak Iden dalam hati.
Pria blesteran itu memang sengaja menerima panggilan anak buahnya di depan Bela. Bahkan dirinya mengeraskan suaranya ketika menyebut nama Oom Aris. Kebiasaan yang tidak pernah dilakukannya jika berbicara hal penting dengan sahabat, klien, ataupun anak buahnya. Iden sengaja ingin memancing reaksi sekretarisnya yang diketahuinya ternyata anak kandung Hendro, tangan kanan Oom Aris.
Iden sengaja merencanakan itu semua. Karena Oom Aris nampak berkeliaran di ibukota, namun dicurigai sebagai orang lain yang mirip dengan pria paruh baya itu.
"Oom Aris ngga mungkin menghilang secepat itu. Dia jalan biasa aja pakai tongkat. Lu ngga lupa 'kan kalau Oom Aris pernah cedera lutut yang cukup parah? Ditambah lagi cedera karena pukulan gue tempo hari. Dia bisa saja orang lain." ungkap Arga mengutarakan kecurigaannya pada saat mereka bertemu siang tadi.
__ADS_1
"Jadi, lu curiga kalau Oom Aris yang kita liat ini orang lain yang mirip Oom Aris? Tapi kalau cuma mirip kenapa nyokap lu sampe kena serangan jantung?" tanya Iden.
"Apa yang udah dikatakan orang itu?" tanya Iden lagi seraya menatap Arga dan Reza bergantian.
"Dia pasti tau sesuatu." ucap Arga lirih seraya memutar-mutar ponsel yang dipegangnya sedari tadi.
Drrrt drrrt drrrt!
Fokusnya teralihkan pada benda pipih berwarna hitam solid yang digenggamnya. Begitu juga Iden dan Reza. Kedua pria bertubuh sama atletisnya itu juga menoleh pada Arga karena ponselnya yang mendengung bak lebah itu.
Arga memicingkan matanya, menatap serius pada pesan yang baru saja diterimanya. Seketika raut wajahnya berubah dingin. Lalu dengan segera bangkit dari duduknya. Sambil berjalan Arga memasukkan ponselnya ke dalam saku celana bahannya.
Iden menatap Reza seraya menunjuk Arga dengan dagunya seolah berkata, dia kenapa?
Reza yang juga tidak tahu menahu hanya mengendikkan bahunya.
"Kemana lu?" tanya Iden yang sudah bangkit dari duduknya.
"Rumah sakit." sahut Arga.
"Gue ikut!" serunya.
"Gue minta tolong banget sama lu. Cari siapa orang yang mirip Oom gue itu. Gue yakin, dia ngga secara kebetulan mirip. Dia pasti tau banyak dan ada hubungannya sama Oom gue." pinta Arga ketika mereka sudah di dalam mobil Arga dalam perjalanan ke rumah sakit tadi.
"Kamu kenal Oom Aris? Oom Aris, pamannya Pak Arga?" desak Iden.
Bela tampak ragu menganggukkan kepalanya.
"Ya, ngga sengaja kenal sama Oom Aris." sahut Bela seraya mengalihkan tatapannya dari Iden.
Bela tidak ingin Iden berpikir yang tidak-tidak. Tentang dirinya yamg mengenal pria paruh baya itu. Padahal tanpa diketahuinya, Iden bahkan sudah tahu siapa dirinya.
"Sebaiknya kamu juga hati-hati sama Oom Aris ini, beb." pesan Iden.
Untuk membuat sekretarisnya itu terlana, Iden sampai berpura-pura memberinya perhatian lebih terkait Oom Aris. Bersikap seolah-olah dirinya tidak tahu menahu tentang sekretarisnya itu. Berlagak polos.
"Dia bukan orang sembarangan. Kamu kenal bos kita sebagai sosok yang cerdas mandraguna. Tapi Oom Aris ini bisa membuat bos cerdas kita itu kelimpungan karena otak liciknya." sambung Iden.
"Aku berniat bantuin dia. Gimanapun juga dia itu sahabatku. Kamu mau dukung aku 'kan?" pinta Iden dengan wajah memohon.
Bela yang selama ini hanya dianggap rekan berc*nt* merasa diperhatikan dan dibutuhkan, wajahnya langsung berbinar. Wanita seksi itu langsung mengangguk seraya menyunggingkan senyumnya. Apalagi tujuan Iden juga untuk membantu Arga, pria dingin yang disukainya. Dia akan memanfaatkan situasi itu untuk mendekati Arga.
__ADS_1
Hania terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam 5.
"Aku ketiduran rupanya." gumamnya dalam hati seraya bangkit dari posisi tidurannya.
"Mas Arga pindahin aku ke sini? Kok ngga berasa ya?" gumamnya lagi.
Hania sudah duduk di tepi ranjang. Ya. Wanita cantik itu tertidur nyenyak di ranjang single dalam ruangan itu. Arga memindahkannya sebelum meninggalkannya tadi. Hania mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Mencari Arga.
Sementara itu, Arga menemui Rizal di kantin rumah sakit. Rizal memang datang menemuinya setelah menghubunginya melalui ponsel. Sudah hampir sepekan dokter karismatik itu berada di ibukota. Dirinya sempat kembali ke kota pahlawan tapi kemudian datang lagi.
Selama di ibukota, Rizal menempati apartemen Arga. Jaraknya lebih dekat jika Raka membutuhkan dirinya.
"Gue ngga tau apa yang sebenernya terjadi di antara kalian berdua. Baik lu maupun Raka, kalian sama-sama menyimpan masalah ini untuk kalian sendiri. Gue jadi ngga bisa ngasih saran yamg lebih baik lagi." ucap Rizal.
"Lu yang gue kenal itu paling ngga suka ngebiarin masalah berlarut-larut, ngga selesai-selesai. Lu lebih tanggap mengatasi masalah. Tapi kemana lu yang begitu sekarang?" keluh Rizal.
Selama berada di Jakarta, Rizal memperhatikan setiap gerak gerik Arga dan Raka sekaligus. Dua sahabatnya yang sama keras kepalanya. Sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Membuatnya serba salah dan gemas.
Kini sepertinya masalah yang dihadapi kedua sahabatnya itu semakin rumit. Hingga kata maaf saja tidak bisa menghapus kesalahan satu sama lainnya. Dan apalah dirinya yang hanya bisa menduga-duga.
"Gue ngga tau mesti ngapain? Bajingan itu udah ngehancurin Hania sama putrinya! Itu sama aja dia ngehancurin gue! Dia ngehianatin gue! Nusuk gue!" seru Arga penuh penekanan di setiap kata-kata yang terlontar bahkan suaranya bergetar menahan sesak.
"Menurut lu, gue mesti ngapain? Dia tahu Hania sama anaknya itu segalanya buat gue! Tapi lu liat apa yang dia lakuin ke Hania? Dia bikin Hania kehilangan anaknya. Anak yang udah gue anggep anak gue sendiri. Rasanya sakit banget!" ungkap Arga masih dengan suara yang bergetar dan penuh penekanan, bahkan pria itu tampak menyeka sudut matanya.
Rizal menghela napasnya. Dokter karismatik itu mengusap tengkuknya. Dia merasa tak enak hati sudah memancing emosi Arga. Tak dipungkiri dirinya terkejut mendapat reaksi begitu dari Arga. Biasanya, pria itu akan tetap tenang dalam menghadapi masalah. Reaksi lainnya adalah dingin. Atau sekalian meluapkan amarahnya dengan menghajar lawannya baik secara halus yaitu dengan membuat perusahaannya pailit, maupun secara langsung dengan memukulinya sampai mati atau masuk rumah sakit.
Klek!
Hania yang sedang menerima panggilan di ponselnya langsung menoleh ke arah pintu. Senyumnya langsung merekah begitu sosok Arga tampak di depannya. Dengan segera wanita cantik itu mengakhiri obrolannya dengan sang penelepon.
Hania baru akan melontarkan pertanyaannya pada Arga, namun kekasihnya itu sudah menariknya ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat. Seolah ingin melepaskan resah di hatinya. Ya. Arga tahu dimana tempatnya menenangkan diri. Tempat paling nyaman baginya. Pelukan Hania.
Bahu Arga tampak naik turun. Tubuhnya pun sedikit bergetar. Sesekali terdengar isakannya. Arga menangis. Hania balas memeluk Arga dengan erat. Memberi ketenangan pada kekasihnya tanpa banyak bertanya. Itu bukan gayanya.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote tiap senin, kasih hadiah, dan komen ya... Untuk terus dukung karya ini.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1