
"Maafin Mama ya, sayang. Mama belum bisa mewujudkan keluarga yang utuh buat kamu", lirih Hania seraya mengelus rambut bergelombang putrinya yang sudah tertidur pulas. Air matanya sudah menggenang dipelupuk mata, dalam sekali kedip sajavsudah pasti air mata itu akan terjun bebas dipipi mulusnya.
Tadi, Hania dan putrinya tiba di rumah minimalisnya bersamaan dengan kumandang adzan maghrib. Dan setelah makan malam yang diselingi celotehan Tiara, gadis kecil itu tampak sangat mengantuk dan meminta Hania menemaninya. Entah karena merasa bersalah atau ingin menyenangkan ibunya, sikap Tiara sudah kembali ceria seperti sediakala seolah tidak pernah ada pembicaraan tentang ayah.
Seminggu berlalu, Tiara masih bersikap seolah dirinya baik-baik saja dan selalu ceria. Bahkan gadis kecil itu tidak menanyakan keberadaan Arga yang tidak pernah datang berkunjung. Ya. Sudah seminggu pria tampan itu tidak menemui Hania dan Tiara. Kesibukannya yang padat, belum lagi dia harus bertolak ke Surabaya demi menyelesaikan kasus perusahaannya yang ternyata tidak berjalan lancar seperti yang diharapkan.
Kesepian. Sepertinya suasana itu adalah hal baru bagi Hania setelah dekat dengan Arga. Tiada hari tanpa kehadiran pria tampan itu di sekitarnya. Pria yang sudah berhasil menarik perhatiannya itu membuat hari-harinya lebih berwarna dan penuh kejutan. Ketidakhadiran pria berkarisma itu membuatnya merasa ada yang hilang. Meski pria tampan itu selalu menghubunginya, tetap saja rasanya hampa. Sedalam itukah perasaannya pada Arga? Padahal, dulu, dirinya berteman akrab dengan suasana itu yang bahkan tidak bisa dibedakan lagi dengan suasana-suasana lainnya. Sudah menyatu.
Ditambah rasa bersalahnya pada putrinya. Bukan maksudnya melarang Tiara merindukan kehadiran sosok ayah dihidupnya, jelas dia berhak untuk itu. Tapi gadis kecil itu berharap Arga lah yang akan memberikan kasih sayang seorang ayah. Dan itu tidak akan Hania biarkan. Wanita cantik itu tidak ingin putrinya berharap lebih pada pria yang memiliki kehidupan yang sangat jauh berbeda dengannya. Tak sebanding. Sungguh Hania merasa serba salah.
Di hari minggu yang mendung, Hania hanya akan menghabiskan waktu berdua saja dengan Tiara. Putrinya mengajaknya membuat kue tart dan memasak makanan kesukaannya alih-alih mengajak ibunya ke arena bermain seperti yang sudah-sudah. Dengan senang hati Hania memenuhi permintaan Tiara. Hari ini adalah hari ulang tahun gadis kecil itu. Sebenarnya hari bersejarah bagi Hania dan Tiara itu jatuh dihari jumat tapi karena kesibukannya, Hania baru bisa meluangkan waktu dihari minggu. Wanita cantik itu bahkan bersenandung. Bukan karena hatinya sedang senang tapi justru untuk menyenangkan hatinya. Rasa bersalahnya akan ditebusnya hari ini. Pikirnya begitu.
Tepat jam 6 sore, kesibukan dan kehebohan keduanya berakhir. Sebuah kue tart dengan krim stroberi dan hiasan buah stroberi sudah siap, berikut beberapa hidangan kesukaan Tiara. Wajahnya berbinar demi melihat kue tart itu. Ada kepuasan tersendiri ketika gadis kecil itu ikut membuat kue untuk ulang tahunnya sendiri yang hanya akan dirayakan dengan ibunya saja. Begitulah setiap tahunnya. Gadis kecil itu enggan mengundang teman-temannya karena ketidakhadiran sosok ayah diantara mereka. Dia tidak ingin teman-temannya bertanya kemana sang ayah.
Ting tong.
Hania dan Tiara sudah rapi dan siap memulai acara istimewa bagi mereka berdua. Bunyi bel pintu membuat Tiara menoleh pada ibunya dan berniat membukakan pintu. Tapi segera dicegah Hania.
"Biar Mama aja", ucap Hania seraya meletakkan setumpuk piring di meja.
"Sebentar ya sayang", Hania mengecup puncak kepala putrinya lalu meninggalkannya dihalaman belakang.
Sosok pria bertubuh tinggi dan tampan tengah berdiri seraya menampilkan senyum semanis madu ketika melihat wanita cantik membukakan pintu. Hania membalas senyuman menular itu.
"Mas Arga? Kok disini?", Hania terheran-heran melihat pria tampan yang seminggu ini tidak dijumpainya sedang berdiri dihadapannya, pasalnya, pria itu mengatakan dirinya masih di Surabaya.
"Surprise!", Arga terkekeh melihat reaksi Hania lalu menunjukkan kedua tangannya yang membawa sebuket bunga lili yang kemudian diserahkan pada Hania dan sebuah kado untuk Tiara.
Arga baru saja menginjakkan kakinya di ibukota jam 4 sore tadi. Mendapat kabar bahwa Tiara berulang tahun, membuat pria berkarisma itu ingin hadir dihari bahagia gadis kecil itu.
"Makasih", senyum Hania melengkung indah menerima sebuket bunga lili itu. Diakuinya hatinya bergetar.
__ADS_1
"Masuk Mas, yang ulang tahun nunggu dibelakang", ajak Hania.
Meski berjauhan, Arga selalu menanyakan keseharian Hania dan Tiara. Pria berkariama itu juga tahu jika saat ini, gadis kecil itu sebenarnya sedang sedih. Hania sedikit menceritakan kondisi Tiara, tentu tidak dengan penyebabnya. Dia tidak ingin Arga berpikiran macam-macam.
"Here you are, our birthday girl!", sapa Arga yang mengejutkan Tiara.
Gadis kecil itu sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Lalu berdiri menyambut Arga dan memeluk pria dewasa yang dirindukannya dalam diam. Ya. Selama ini, Tiara tidak pernah menanyakan keberadaan Arga pada sang ibu. Dia tidak ingin ibunya menangis lagi. Dan menyimpan sendiri rasa ingin tahunya dan diam-diam merindukan pria dewasa yang sudah diam-diam dianggapnya sebagai ayah.
Arga membawa Tiara dalam gendongannya dan lanjut memeluknya seraya mengelus-elus punggung gadis kecil itu.
"Happy birthday, Tiara. Wish you all the best in your life", bisik Arga lalu menyerahkan kado yang dibawanya setelah Tiara melepaskan pelukannya.
Tiara menerima kado dari Arga dengan mata berbinar. Mungkin itu adalah kado pertama dari orang lain dihari ulang tahunnya kali ini. Biasanya Galih lah yang akan ikut hadir disana jika sedang tidak sibuk. Gadis kecil itu kembali memeluk leher Arga dengn erat seraya mengucapkan terimakasih.
"Wah! Sepertinya akan ada pesta nih", celetuk Arga demi melihat kue ulang tahun dan aneka hidangan istimewa.
"Ngga kok Oom, cuma aku sama Mama aja", seketika wajah Tiara memberengut.
Melihat perubahan ekspresi gadis kecil yang sedang berulang tahun itu, Arga jadi tak enak hati. Pria berkarisma itu menoleh pada Hania. Tatapannya seolah bertanya, dia kenapa?
Arga semakin merasa bersalah. Bahkan jawaban Hania pun hanya untuk menenangkannya. Pria tampan itu menghela napas lalu mendekati wanita bertubuh ramping itu.
"Maaf", bisik Arga yang hanya diangguki Hania seraya tersenyum.
Arga memutar otaknya yang cerdas itu. Mencari ide untuk mencairkan suasana yang berubah sendu karena ulahnya.
"Eh, udah mau jam 7 ya?", ujarnya seraya berpura-pura melihat jam tangannya. Kontan suara Arga mengalihkan pandangan Tiara, gadis kecil yang masih dalam gendongan Arga itu pun ikut melirik jam tangan Arga.
"Gimana kalau Tiara tiup lilinnya di taman sana itu aja. Kita pindah tempat", Arga menawarkan suasana yang berbeda.
Tiara yang memang suka bermain di taman yang tidak jauh dari rumahnya, seketika menatap Arga. Ada binar dimata bening itu. Lalu berganti menatap Hania seolah meminta persetujuan.
__ADS_1
"Mama pasti setuju, ya kan Ma?", lanjut Arga, tangan kanannya merangkul pundak Hania, sedikit meremasnya seraya menunjukkan senyum semanis madunya mengisyaratkan untuk setuju saja ketika Hania menoleh menatapnya.
Rangkulan pria tampan itu dipundak Hania tak ayal membuat jantung wanita cantik itu berdegup kencang. Ah. Jantung. Kenapa juga harus bereaksi seperti itu. Itu kan cuma sentuhan biasa yang umum. Hati Hania mulai menggerutu.
"I iya, Mama sih setuju-setuju aja, asal Tiara senang", ucap Hania sedikit terbata.
"Ya udah, tunggu apa lagi. Kita angkut semua!", ucap Arga bersemangat lalu menurunkan Tiara dari gendongannya.
Senyum Tiara seketika melebar bahkan memperlihatkan deretan gigi susunya yang putih bening. Gadis kecil itu ikut bersemangat. Lalu berdua dengan Arga mengangkut satu per satu hidangan di meja ke mobil Arga. Sementara Hania menyiapkan karpet untuk dijadikan alas nantinya. Disana memang ada beberapa meja dan kursi tapi karena bertepatan dengan hari minggu dan cuaca terlihat cerah, tak seperti tadi pagi hingga siang, jadi kemungkinan taman itu akan penuh. Dan bisa jadi mereka tidak kebagian meja dan kursi.
Benar saja. Taman yang dekat dengan komplek perumahan warga itu sedang ramai. Arga mengajak dua wanita beda usia yang sudah membuatnya nyaman itu ke sudut taman yang tidak begitu ramai dan memutuskan duduk disana setelah memastikan tempat itu bersih. Arga memarkirkan mobilnya dekat dengan tempat yang tadi dipilihnya dan mulai menata kue tart dan hidangan disana.
Tiara menutup matanya membuat satu permohonan lalu meniup lilin berbentuk angka 6. Wajahnya tampak bahagia. Walaupun hanya merayakan hari jadinya dengan sederhana, namun kehadiran orang baru yang istimewa baginya merupakan kado yang luar biasa.
Mata Hania berkaca-kaca. Malam itu, dia juga ikut berbahagia. Wajah sendu yang seminggu ini selalu nampak diwajah gadis kecil itu sudah sirna. Hanya ada rona bahagia di wajahnya. Matanya berbinar lagi. Hania berharap Tiara sungguh-sungguh bahagia. Arga yang sedari tadi memperhatikannya, merangkul pundaknya dan memberikan elusan lembut dilengan kanan Hania.
Malam makin larut. Taman itu masih saja ramai hingga Tiara enggan diajak pulang. Gadis kecil itu masih ingin disana. Jarang-jarang dia bisa begini. Dan sebagai gadis yang berulang tahun, kedua orang dewasa itu menurutinya. Dan setelah membereskan barang-barang yang tadi dibawanya, Arga mengajak Hania dan putrinya berjalan-jalan mengelilingi taman itu.
"Pak Arga?", mendengar namanya disebut, Arga pun menoleh berikut Hania.
Seorang wanita cantik yang seksi dengan pakaian kurang bahannya tengah berdiri seraya menampilkan senyum menggodanya.
Arga mendengus. Dia kesal mendapati seseorang yang menyapanya tadi. Sekretaris Iden. Wanita itu berjalan mendekat dengan melenggak lenggokkan tubuh indahnya. Arga bergeming dan membuang muka. Tak ingin mengganggapnya ada.
Sementara Hania memperhatikan tingkah laku wanita yang sepertinya ingin menggoda Arga. Entah kenapa dirinya jadi kesal mengetahui niat wanita seksi itu. Iya sih, wanita itu seksi. Modalnya menggoda para pria. Dan kali ini, Arga merupakan pria yang menjadi target wanita itu. Lihat saja, wanita yang menggodanya sungguh menarik. Dia jadi membandingkan dirinya dengan wanita seksi itu. Bagaimana mungkin Arga tertarik padanya yang tidak punya modal itu, menarik dan seksi? Hah. Hania merasa tidak percaya diri. Dirinya kembali merasa tidak sebanding dengan Arga.
"Pak Arga disini? Sedang apa?", tanyanya dengan suara yang dibuat seksi, seraya melirik Hania. Tatapannya mencemooh wanita cantik itu.
"Bukan urusanmu. Dan tidak akan pernah menjadi urusanmu", sahut Arga datar dengan ekspresi yang berubah dingin.
__ADS_1
*******
Thanks for reading!