Yang Terakhir

Yang Terakhir
35. Dia Tiaraku


__ADS_3

Arga masih menatap ponselnya. Dia menunggu reaksi Hania setelah melihat foto-foto yang dikirimnya. Pesannya sudah bertanda dua centang biru itu artinya Hania sudah melihat foto-foto itu. Tapi kenapa tidak ada respon dari wanita cantik itu?


Sementara Hania, matanya berkaca kaca. Dapat dipastikan, sekali kedip saja air matanya akan langsung luruh. Matanya menatap foto-foto yang barusan dikirim Arga. Seketika perasaan lega menelusup masuk kerelung hatinya. Lega luar biasa. Anak kecil yang sedang bersama pria tampan itu benarlah putrinya.


Tubuhnya terduduk di lantai ruang guru sekolah Tiara. Kakinya seperti jeli. Terasa lemah tak kuasa menopang tubuhnya. Benar saja, dalam sekali kedip, air mata Hania tumpah membasahi pipi mulusnya. Tangisnya pecah. Dia sesenggukan sambil memegang ponsel yang dirapatkan ke dadanya.


Bu Meta dan seorang guru yang menemaninya terkejut tiba-tiba Hania terduduk di lantai sambil menangis. Mereka khawatir dengan kabar yang diterima ibunya Tiara itu. Bu Meta mendekat lalu membantunya berdiri dan memapahnya ke kursi.


"Tiara ketemu", cuma kata itu yang sanggup dikatakannya, Hania terlalu senang hingga tidak tahu bagaimana meluapkannya.


Seorang guru yang menemaninya memberinya sebotol air mineral berukuran sedang. Hania menerimanya dan langsung meneguknya hingga tersisa separuh. Khawatir dan menangis membuatnya dehidrasi. Bu Meta dan seorang guru tadi ikut merasa lega dan senang. Anak didiknya ditemukan. Raut ketegangan di wajah mereka seketika menghilang. Ucap syukur terlontar begitu saja.


Ah. Hania ingat dia belum memberitahu Arga bahwa anak perempuan yang bersamanya adalah putrinya, Tiara. Dia kembali menghubungi Arga.


"Gimana Han?", tanya Arga seperti tidak sabar mengetahui kebenarannya, padahal Arga sudah tahu, dia hanya berpura-pura tidak tahu.


"Dia putriku Mas", ucap Hania dengan suara bergetar.


"Benarkah?", tanya Arga pura-pura memastikan.


"Hu'um. Dia Tiara, Tiaraku.", jawab Hania sambil tersenyum, senyum yang tidak bisa dilihat Arga.


"Kalian di kantor polisi mana sekarang?", tanya Hania, dia ingin menyusul putrinya.


Arga menyebutkan alamat kantor polisi dimana dia, Tiara dan Adi masih menunggu. Lalu sambungan telepon terputus begitu saja. Arga mendesah lagi. Sekarang dia yang gelisah dengan kepura-puraannya.


"Shareloc, Mas", bunyi pesan Hania


Pesan Hania mengalihkan pikirannya yang sedang gelisah. Wanita cantik itu pasti ingin menjemput putrinya. Hah. Pria tampan itu berharap Hania tidak bertanya macam-macam. Setelah membalas pesan Hania, Arga memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


Seorang polisi muncul di ruang tunggu. Adi langsung menegakkan tubuhnya yang tadinya bersandar santai. Nyaris saja dia memejamkan matanya. Sementara Arga tetap duduk santai sambil mendekap Tiara yang tertidur. Dia hanya menoleh pada polisi tadi.


"Tuntutan sudah kami proses Pak. Wanita itu belum mau berbicara. Dia menunggu pengacaranya", Arga hanya menganggukkan kepalanya.


"Boleh kami menunggu disini sebentar?", tanya Arga, dia menunggu Hania.


"Silakan Pak", jawab polisi dengan name tag Andika itu.


Arga sudah terlelap sambil mendekap Tiara ketika Hania tiba disana. Adi yang tidur ayam, terbangun ketika mendengar suara langkah kaki memasuki ruang tunggu. Pria berwajah manis itu seketika menegakkan duduknya begitu mendapati Hania tengah berdiri di ruangan itu sambil menatap Arga dan Tiara yang berpelukan.

__ADS_1


"Maaf ya Pak Adi, saya jadi mengganggu istirahat anda, silakan dilanjutkan", ungkap Hania tidak enak hati, Adi hanya mengangguk tapi tetap dalam posisi duduk tegak.


Hania mengalihkan tatapannya pada dua insan beda usia itu. Dipandanginya wajah Arga yang memar dibeberapa bagian, dan kedua tangan Arga yang diperban. Apa yang sudah terjadi? Kenapa dengan wajah dan tangannya?


Tatapan Hania kemudian beralih pada Tiara. Putrinya itu tertidur dengan nyamannya dalam dekapan pria seksinya. Hah. Hania menggelengkan kepalanya. Lagi lagi Hania menyebut Arga sebagai pria seksinya. Dirinya menyadari putrinya sudah berganti pakaian tapi itu bukan pakaian Tiara. Matanya terbelalak ketika mendapati lengan putrinya juga diperban.


Hania mendudukkan tubuhnya di sebelah Tiara. Memegang lengan Tiara. Tiara yang lengannya dipegang, reflek menggerakkan tangannya menjauh. Pergerakan gadis kecil dalam dekapan Arga, membuat pria seksi itu terbangun. Dia mengerjapkan matanya. Dilihatnya Hania sudah ada disana. Duduk di sebelah Tiara. Sedang menatapnya sendu. Lalu menatap Tiara.


"Han? Kamu disini? Sudah lama?", berondong Arga.


"Baru aja", sahut Hania.


"Ini kenapa?", tanya Hania lirih, tangannya terulur menyentuh lengan Arga yang diperban.


Hati Arga langsung berdesir mendapat perhatian Hania. Mata wanita cantik itu menatap lengannya yang diperban dengan sendu.


Senyum Arga terbit dibibir seksinya. Senyum yang dianggap Hania untuk menenangkannya tapi bagi pria tampan itu, senyumnya adalah wujud dari rasa bahagianya.


Dengan suara pelan, Arga menceritakan bagaimana dirinya bertemu Tiara dan kejadian yang dialaminya dan gadis kecil itu. Ekspresi Hania berubah ubah demi mendengar cerita Arga. Terkejut, tidak percaya, sedih, dan marah.


"Apa kamu mau menemui wanita itu?", tanya Arga.


Hania jadi penasaran siapa wanita yang tega berbuat jahat pada putrinya. Seingatnya, dia tidak pernah memiliki musuh. Hanya wanita-wanita bersuami hidung belang yang merayunya yang tidak menyukainya. Apakah mungkin wanita itu salah satunya? Tapi kenapa melampiaskannya pada putrinya? Hah. Hania mendesah. ******* yang didengar Arga.


"Kalau ngga mau ngga papa, aku sudah ajukan tuntutan", Hania menoleh lalu menggeleng.


"Aku mau liat orangnya", tukas Hania.


Arga meminta Adi menjaga Tiara, gadis kecil itu pasti kelelahan hingga tidurnya tak terusik, sementara dia dan Hania menemui wanita yang berniat buruk pada Tiara.


Arga dan Hania diantar oleh petugas yang berjaga menuju sel tahanan yang dimaksud. Sesampainya didepan sel itu, petugas itu meninggalkan mereka. Hania melihat beberapa wanita di sana. Hania menoleh pada Arga, pria tampan itu menunjuk seorang wanita yang duduk dipojokan sel. Hania memperhatikan wanita itu. Terlihat masih muda, mungkin seusianya. Dia juga cantik, dan tampak baik. Hah. Kesan luar yang menipu. Dilihatnya wanita itu juga meliriknya dan tersenyum sinis padanya.


"Kamu!", tunjuk Hania pada wanita itu.


"Kenapa kamu berbuat buruk sama anakku? Apa salahnya?", tanya Hania dengan tenang, meski begitu, dapat Arga rasakan emosi dibalik kata-kata Hania.


"Itu peringatan buatmu! Jauhi suamiku!", tekan wanita itu setelah mendekat.


Arga langsung menajamkan tatapannya dan menggeretakkan rahangnya. Dia tidak suka Hania dikatai begitu.

__ADS_1


"Asal kamu tau aku ngga pernah mengganggu siapapun, termasuk suamimu!", Hania mulai emosi.


"Kamu ngga berhak ganggu anakku! Dia masih kecil!", Hania mulai menaikkan intonasinya.


Wanita itu hanya menanggapinya sinis, membuat Hania semakin meradang. Tangan kanannya langsung menarik baju wanita itu hingga wanita itu menabrak jeruji sel. Arga terkejut, dia tidak menyangka Hania yang lembut berubah menjadi bar-bar seperti itu. Pria karismatik itu langsung memeluk Hania dari belakang sambil melepaskan tangan Hania dari baju wanita itu.


"Kamu jahat! Wanita jahat! Lepasin aku Mas!", teriak Hania sambil terus meronta dalam dekapan Arga namun pria bertubuh atletis itu semakin mengeratkan pelukannya.


Petugas yang mendengar keributan langsung menghampiri dan meminta Arga dan Hania keluar dari sana.


Sambil berjalan Arga menenangkan Hania yang sudah menangis seraya melingkarkan tangannya dipinggang ramping Hania, agar wanita cantik itu tidak kembali lagi ke dalam.


"Aku kesel Mas, kenapa sih dia jahat sama Tiara? Kalau dia punya masalah sama aku harusnya urusannya sama aku bukan anakku", gerutu Hania sambil mengusap airmatanya.


"Iya, dia memang jahat. Tapi kamu juga harus tenang. Kalau gegabah dia bisa nuntut kamu balik", ucap Arga menenangkan Hania.


"Kamu ngga tau sih Mas, aku rasanya mau mati aja tadi. Cuma Tiara yang aku punya", curhat Hania disela isaknya.


Kata-kata Hania justru membuat rasa bersalah Arga muncul lagi. Arga hanya bisa tersenyum. Senyum yang dianggap Hania untuk menenangnkannya, padahal senyum itu untuk menenangkan Arga sendiri.


Tiara sedang duduk bersandar pada sandaran sofa sambil meminum susu kemasan rasa stroberi yang tadi dibelikan Arga, ketika Arga dan Hania kembali ke ruang tunggu.


"Mama...!", Tiara langsung berlari ke arah Hania begitu melihat wanita cantik itu nemasuki ruang tunggu.


"Sayang", ucap Hania sambil merendahkan tubuhnya memeluk Tiara.


Melihat pemandangan itu, hati Arga merasa hangat. Ah. Andai dia bisa menjadi bagian dari mereka. Senyum tipis terbit di bibirnya.


"Sayang, maafin mama ya, tadi telat jemputnya", mohon Hania pada putrinya.


"Tiara tau kok mama tadi pasti sibuk sampe-sampe telat jemputnya. Tapi tadi salah Tiara juga ngga ikut Pak Amril masuk ke dalam sekolah", ucap Tiara.


Hania menangis lagi mendengar kata-kata putrinya. Arga hanya menatap Hania dan Tiara bergantian. Dimatanya, kini Tiara terlihat dewasa. Gadis kecil itu sama sekali tidak menyalahkan ibunya, dia bahkan bisa memaklumi kesibukan ibunya. Berbeda dengan sikapnya yang manja padanya tadi. Tiara benar-benar mencari perhatiannya. Merengek ini itu. Seperti umumnya sikap anak-anak. Padahal dia itu siapa? Bahkan dirinya bertemu Tiara baru sekali itu.


*******


Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan votenya 🤗🤗


Terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2