
"Aduh, Mas. Sakit banget ini. Aw!" rintih Hania lagi. Kini tangannya sudah meremas jari jemari Arga.
"Perutmu kenceng banget, honey. Sakit banget, ya?" wajah Arga sudah mulai panik.
Dulu, Arga memang pernah memiliki istri yang hamil dan melahirkan. Tapi dia tidak pernah tahu bagaimana mantan istrinya dulu melewati masa-masa kehamilannya karena mantannya lebih sering berada di luar rumah, bahkan ketika Arga sedang libur. Pun ketika mantan istrinya melahirkan. Saat itu, Arga malah sedang berada di luar negeri dan tidak bisa segera kembali ke tanah air.
Kehamilan Hania adalah yang pertama bagi Arga membersamai istrinya. Sejak awal kehamilan, dan melewati masa-masa kehamilan istrinya itu sendiri. Dirinya merasakan susahnya menuruti keinginan wanita hamil yang mengidam. Juga merasakan perubahan suasana hati yang serba mendadak, kadang senang, lalu merajuk, tiba-tiba menangis karena keinginannya tak dituruti, lalu bisa terlihat biasa saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Dan kini, dirinya tengah tegang bercampur takut dan khawatir demi melihat Hania yang merasa kesakitan. Apa sudah waktunya? Pertanyaan ibu mertuanya menambah rasa paniknya.
"Ga!? Kita ke rumah sakit sekarang!" suara tegas Pak Pratama menyadarkan Arga dari pikiran yang berkecamuk.
Setengah jam perjalanan barulah mobil Arga yang disopiri Iden tiba di rumah sakit, diikuti Galih dan Rendy dengan rombongan masing-masing. Dengan segera para perawat membawa Hania ke IGD. Setelah diperiksa, Hania disarankan untuk beristirahat di ruuang rawat yang kebetulan sudah dipesankan oleh Ibu Irene.
"Ibu Hania sudah pembukaan 6. Masih butuh waktu 1 sampai 2 jam lagi agar pembukaan komplit dan siap bersalin." seorang perawat memberitahukan Arga ketika pria karismatik itu bertanya.
Arga tidak sedetikpun meninggalkan istrinya yang sebentar-sebentar merasakan sakitnya kontraksi. Meski pria itu hanya bisa mengusap perut buncit Hania, mengusap rambutnya, menenangkannya dengan memberikan semangat dan kata-kata romantis, dan menjadikan tangannya pelampiasan Hania yang menahan sakit.
"Minum dulu, Ga!" ucap Ibu Anna seraya menyodorkan sebotol air mineral.
Wanita paruh baya itu langsung bergegas menyusul Arga dan Hania ketika Arga mengabarinya saat dalam perjalanan ke rumah sakit tadi. Pria itu meminta ibunya membawakan keperluannya dan Hania yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Iden yang menemani Arga dan Ibu Irene menunggui Hania, terbangun dari tidur ayamnya ketika merasakan ponsel dalam saku celananya bergetar. Sambil memicingkan matanya, Iden menggeser layar benda pipih dalam genggamannya. Seketika matanya terbelalak mendapati nama Bela terpampang di sana. Pria blesteran itu mengedarkan pandangannya, dilihatnya Arga masih terduduk sambil mengusap perut istrinya, sementara Ibu Irene dan Ibu Anna sudah terlelap. Jam 11. Memang sudah larut.
Setelah sekian lama Bela menghubunginya? Untuk apa? Ingatannya kembali pada Bela ketika ponselnya kembali bergetar.
"Yang, temui gue di kafe xx. Gue ngga bisa lama." sahut Bela ketika Iden menanyakan keberadaannya.
Sudah hampir 2 minggu Bela dalam pelarian. Iden masih meyakini jika wanita itu berada dalam tekanan, tapi apa?
Belum sempat Iden menyahut, sambungan ponselnya terputus. Dengan gusar pria tampan itu meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan pada Arga. Kali ini dia harus mendapat penjelasan dari Bela, wanita yang mulai membuatnya tak tenang. Mungkin.
Iden mengedarkan pandangannya menyapu seisi ruangan dalam kafe yang buka 24 jam itu. Tempat itu masih ramai pengunjung yang mayoritas adalah kawula muda dan karyawan yang baru pulang lemburan. Bahkan Iden harus mengamati satu persatu pengunjung wanita di sana karena Bela sepertinya tampil berbeda. Benar saja. Bela sedang menunggunya di sebuah meja yang terletak di sisi jendela. Wanita itu berkacamata, bertopi bulat, dan sepertinya memakai rambut palsu berwarna hitam. Sangat kontras dengan penampilan Bela sehari-hari.
"Yang." suara Bela bergetar menyapa Iden sambil membenarkan letak kacamatanya saat mendapati pria itu sudah duduk di hadapannya.
Kebanyakan meja di kafe itu berisikan 2 kursi. Tapi dilihat dari situasinya, kebanyakan pengunjung memang datang berdua. Iden duduk menatap Bela. Ada rasa yang membuncah yang membuatnya bahagia saat bisa melihat wanita itu lagi. Mungkinkah itu rasa rindu yang terbayar?
"Ada apa lagi, beb?" Bahkan Iden masih menyapanya dengan panggilan yang memang diberikannya untuk wanita itu. Dengan suara lembut pula. Hah. Dia sendiri juga bingung. Kemana perginya rasa jengahnya pada Bela?
"Gue masih berharap lu percaya sama gue, yang. Apa yang gue lakuin ini ada alasannya. Tapi gue ngga bisa cerita sama lu." Bela menjeda ucapannya, mengusap air matanya yang sudah berlinang.
"Satu hal yang harus lu tahu. Gue cinta sama lu, yang. Gue ngga tahu sejak kapan rasa itu muncul. Tapi gue ngerasa, perasaan yang gue rasa selama kebersamaan kita belakangan ini, bukan sekedar rasa nyaman dan saling membutuhkan aja. Gue... Gue takut kehilangan elu." ucap Bela di sela-sela isakannya.
Sementara itu, Iden yang tengah serius memperhatikan ucapan Bela membelalakkan matanya. Pria itu tak percaya Bela mengungkapkan cintanya. Mungkin rasa yang juga mulai bersemi di hatinya. Namun, dengan enggan diakuinya.
"Gue cuma mau ngomong itu aja. Gue cuma mau lu tahu tentang perasaan gue ke elu, yang. Meskipun gue tahu elu ngga mungkin punya perasaan apa-apa ke gue." Bela mengusap pipinya lagi.
__ADS_1
"Sorry. Gue ngga bisa lama-lama. Gue harus pergi sekarang. Bye, yang." pungkas Bela seraya beranjak dari duduknya.
Iden terperangah. Dia baru tersadar dari pikirannya yang berkecamuk. Namun, Bela sudah berjalan cepat meninggalkannya. Bahkan minuman yang dipesannya seperti tak tersentuh. Iden bergegas mengejar Bela yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri, dan menghilang bersama mobil yang melesak cepat.
Pria flamboyan itu berjalan gontai menuju mobil Arga yang tadi dikendarainya sewaktu mengantar sahabat dan istrinya ke rumah sakit. Perlahan dihapusnya air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Gue nangis? Hah. Kenapa rasanya sakit banget?" Iden meringis seraya memegangi dada kirinya.
Keesokan paginya, barulah Iden kembali ke rumah sakit. Suasana ruang rawat Hania sudah ramai dengan canda tawa. Dan tentu saja suara tangis bayi yang terdengar nyaring dari luar ruangan.
Klek!
Semua tatapan mengarah pada Iden yang sudah berdiri di depan pintu dengan membawa sebuket bunga lily. Tak lupa senyum semanis gula yang tersungging di bibir tipisnya. Melihat kedatangannya dan penampilannya yang seperti biasanya, keren, semua tatapan itu beralih lagi pada sepasang bayi kembar yang imut. 1 bayi laki-laki di pangkuan ibu Anna dan 1 bayi perempuan di pangkuan ibu Irene.
"Sorry. Gue semalam ketemu sama temen. Tahulah." ucapnya pada Arga yang menghunuskan tatapan setajam silet.
Semalam, Iden tidak kembali ke rumah sakit, melainkan melajukan mobil Arga ke club langganannya. Di sana dirinya melepaskan segala sesak dan sesal karena membiarkan Bela pergi begitu saja. Bahkan ntuk sekedar meminta penjelasan saja dia tidak sempat.
"Selamat, ya." Iden beralih pada Hania seraya memberikan sebuket bunga lily yang dibawanya tadi.
"Bayi kembar?" tanya Iden dengan tatapan tak percaya.
Bukan hanya Iden saja yang terkejut. Semua anggota keluarga juga terkejut. Pasalnya, selama ini Arga dan Hania merahasiakan tidak hanya jenis kelaminnya saja tapi kenyataan bahwa bayi dalam kandungannya adalah kembar.
"Mana kepokananku yang keren-keren itu?" Iden beralih menatap kedua bayi kembar yang baru saja terlelap kembali.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
"Hum." gumam Arga menyahuti panggilan di ponselnya
"Pak, sebaiknya anda kemari. Sendiri saja, tidak perlu bersama Pak Iden." suara Reza terdengar to the point menyampaikan maksudnya.
"Hum." Sambungan terputus.
Hania yang memperhatikan Arga menerima panggilan di ponselnya, hanya menggelengkan kepalanya dan ingin tertawa. Masak menjawab panggilan ponsel hanya ham-hum saja.
"Aku keluar sebentar, honey. Kamu ngga papa 'kan kutinggal sebentar?" pamit Arga seraya mengusap tangan Hania.
"Ngga papa. Di sini 'kan banyak orang, Mas. Penting banget, ya?" tanya Hania.
"Ngga begitu, sih. Tapi aku penasaran. Aku pergi dulu. Love you." pamitnya lagi tapi kini disertai kec*pan singkat di bibir Hania.
Iden yang tak sengaja melihat Arga berbicara singkat di ponselnya tadi menatap kepergian pria itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Tapi kemudian teralihkan karena tiba-tiba bayi laki-laki yang dipangkunya menggeliat bersiap hendak menangis. Wajahnya sudah memerah. Membuat Iden sedikit panik dan buru-buru menyerahkan kembali pada ibu Anna.
Arga tiba di lokasi yang diberikan Reza. Sebuah rumah sakit di sisi lain ibukota. Pria karismatik itu sempat mengernyitkan keningnya dan ragu untuk melangkah masuk. Hingga sebuah sapaan dari arah belakangnya membuat pria itu menoleh.
"Ada apa di rumah sakit ini, Za?" tanya Arga datar.
"Sebaiknya bapak melihatnya langsung." sahut Reza yang semakin membuat Arga penasaran dan membuatnya mengikuti langkah pria berkacamata itu.
__ADS_1
Sebuah ruangan paling belakang di rumah sakit itulah tujuan mereka. Kamar jenazah. Arga berhenti di depan ruangan itu dan menoleh ke arah Reza yang berdiri agak kebelakang.
"Silakan, Pak." Reza berinisiatif membukakan pintu ruangan itu dan melangkah terlebih dahulu.
Hanya ada meja panjang dengan sosok yang ditutupi kain putih dari ujung kepala hingga ujung kaki, seorang wanita paruh baya, dokter forensik sepertinya, dan seorang wanita seusia Hania, mungkin.
"Mari, Pak." ajak Reza lagi saat melihat Arga masih berdiri ditempatnya.
Kedatangan Arga dan Reza membuat 2 wanita beda usia itu menoleh. Yang sepertinya dokter forensik langsung tersenyum menyambutnya sedangkan yang seusia Hania hanya diam menatapnya dengan mata bengkak seperti habis menangis lama.
"Silakan, dokter." ucap Reza mempersilakan dokter entah untuk apa.
Dokter forensik itu membuka kain penutup di tubuh sosok jenazah di atas meja. Hanya sebatas leher. Arga terbelalak menatap jenazah di hadapannya. Bela? Rasa mual langsung mendera. Tapi suara isak tangis yang tertahan mulai terdengar membuatnya mengabaikan rasa mualnya. Wanita seusia Hania itu menangis sambil menutup mulutnya.
Tak sampai setengah jam Arga dan Reza berada di dalam ruangan itu. Arga memilih untuk keluar terlebih dahulu. Penjelasan dikter forensik itu sudah cukup mewakili sebagian pertanyaan yang berputar di benaknya.
"Dia ngga mungkin bunuh diri 'kan? Siapa pelakunya?" tanya Arga setelah sampai di luar ruangan sambil terus melangkah.
"Ini memang direkayasa seolah-olah bunuh diri. Semalam, dia bertemu Pak Iden di kafe xx. Masih dalam keadaan baik-baik saja. Entah apa yang mereka bicarakan. Ngga lama kemudian dia ninggalin Pak Iden." terang Reza.
"Dia kembali ke rumah perempuan tadi, dia temannya. Di rumah hanya sendiri karena temannya bekerja malam hari. Dia dibunuh di rumah itu. Kelik tidak menyadari ada yamg membuntuti Bela." lanjut Reza lagi.
"Siapa pelakunya?" tanya Arga.
"Putra Pak Handoko dari istri ke 2. Putra Pak Handoko ngga terima karena Pak Handoko dipenjarakan. Jadi dia menggantikan Handoko, menekan Bela untuk melanjutkan rencana Handoko dan Pak Aris." terang Reza.
"Kenapa dia mau?" tanya Arga lagi.
"Putra Handoko mengancam akan membunuh Pak Iden kalau Bela menolak." Arga mengetatkan rahangnya.
"Apa informasi ini dari Kelik?" Reza menggelengkan kepalanya.
"Dari temannya Bela, yang di dalam tadi. Bela menceritakan semua masalah pribadinya pada perempuan tadi. Sepertinya mereka sangat dekat." sahut Reza.
"Dimana anak si Handoko itu? Jangan biarin dia keliaran dengan bebas!" geram Arga.
Kini Arga mengakhawatirkan Iden. Dia tentu saja tidak mau sahabat yang juga iparnya itu mengalami hal buruk.
"Dia dan kaki tangannya sudah diserahkan ke pihak berwajib." sahut Reza.
"Pastikan dia kesulitan di dalam sana! Jangan biarin dia bebas dengan mudah dan cepat!" seolah paham dengan ucapan Arga, Reza mengangguki perintah atasannya itu.
Arga baru akan kembali ke rumah sakit setelah sebelumnya pulang dahulu ke kediamannya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Dia udah mati. Lu puas!?" ucapan Iden terdengar datar dan bergetar di telinga Arga saat pria itu menemukan sahabatnya sedang duduk bersandar di sofa ruang keluarga yang menghadap ke arah kamarnya dengan penampilan kacau balau.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!
🥰🥰🥰