Yang Terakhir

Yang Terakhir
44. Masih Kesal


__ADS_3

"Kamu masih marah?", tanya Arga dengan wajah sendu, tangannya tetap menggenggam tangan Hania.


"Udah kubilang aku ngga berhak marah sama Mas", ucap Hania.


"Terus?", Arga merasa Hania masih marah padanya meski sikapnya sudah mulai melunak.


"Terus apa?", tanya Hania jengah.


"Kenapa masih sinis gitu?", Arga masih merayu wanita bermata kelinci itu.


"Masa' sih? Perasaan Mas aja kali", sahut Hania asal.


Hania memasang wajah cemberut, yang malah membuat Arga gemas. Hania memang tidak marah pada pria yang sudah membuatnya nyaman itu. Dia hanya masih merasa kesal saja. Kesal karena dia menganggap Arga memanfaatkannya.


"Mas, tadi kenapa manggil aku sayang?", akhirnya pertanyaan itu terlontar dari mulut Hania.


Mendengar pertanyaan Hania, pria tampan itu tidak bisa berkata apa-apa. Jadi Arga hanya diam saja. Dia memikirkan jawaban yang tepat yang kira-kira dapat diterima Hania. Tidak mungkin kan dirinya mengakui perasaannya sekarang? Bisa-bisa wanita cantik bermata kelinci itu menjauh. Arga menghela napasnya.


Hania menatap Arga. Pria tampan itu seperti sedang berpikir. Tapi Arga tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Tinggal jawab aja kenapa lama?", sindir Hania.


"Atau Mas memang ngga punya jawaban yang membenarkan sikap Mas tadi?", Hania salah paham lagi, suaranya berubah ketus lagi.


"Han? Kamu ngomong apa sih?", Arga malah bingung dengan arah pembicaraan wanita cantik itu.


Hania masih mengatur emosinya. Jantungnya akan berdetak kencang ketika dia marah. Wanita cantik itu mengubah posisi duduknya yang semula menghadap Arga, menjadi menyamping menghadap kolam renang.


"Mas itu cuma mau manas-manasin cewek seksi tadi kan?", tuding Hania, nada bicaranya tetap ketus.


"Mas cuma manfaatin aku kan? Dengan manggil aku sayang?", lanjut Hania.


Tidak dipungkiri hati Hania terasa nyeri membayangkan Arga memanfaatkan keberadaannya untuk menyingkirkan wanita tadi.


Arga terkejut, ternyata Hania berpikiran yang tidak-tidak dan menudingnya telah memanfaatkannya. Arga menatap wajah Hania dari samping. Dia tahu wanita itu tidak suka dimanfaatkan. Ya jelas sih, siapa juga yang suka dimanfaatkan. Ingin menjelaskan apa sekarang? Wanita cantiknya sedang kesal.


"Han? Tolong jangan seperti ini. Jangan berpikiran seperti itu. Aku sama sekali ngga memanfaatkanmu, bahkan memikirkannya pun ngga", Arga mencoba menenangkan wanita itu.

__ADS_1


Hania yang sedang kesal hanya melirik pria itu. Sebenarnya dia suka cara pria karismatik itu mengimbangi kekesalannya. Pria itu tidak ikutan emosi. Dia akan berbicara lembut padanya.


"Terus kenapa manggil sayang kalau bukan untuk tujuan itu?", Hania terus mengorek alasan Arga.


Arga masih terdiam dengan tatapan sendu. Dalam hati mengumpati Lala, wanita yang dianggap sialan okeh Arga. Wanita itu mengacaukan rencananya. Dan sekarang Hania marah.


"Assalamu'alaikum. Mas, sepurane nggih, bibi telat datangnya. Tadi ngga ada yang nganter jadi naik angkot, jadi lama di jalan", kedatangan seorang wanita paruh baya mengalihkan perhatian kedua insan yang sedang meluruskan kesalah pahaman.


"Ngga papa bi, lagian ngga ada kerjaan yang penting kok. Tadinya mau saya suruh nemenin nyonya ini", Arga memanfaatkan kehadiran bibi art untuk menggoda Hania membuat wanita itu melirik Arga.


"Cantiknya, calonnya ya Mas?", Arga hanya terkekeh mendengar tebakan bibi, sementara Hania tersenyum kikuk disangka calon istri Arga.


Arga tidak ingin menjawab pertanyaan bibi. Dia hanya mengamini dalam hati. Bukankah ucapan yang baik itu doa? Dia berharap bertemu jodoh dengan wanita bermata kelinci itu. Hania pun tidak menjawab. Dia bingung akan menjawab apa. Saat ini, dia tinggal di apartemen Arga. Apa kata bibi jika tau mereka tidak memiliki hubungan sespesial itu. Arga juga pasti punya alasan untuk tidak menjawab pertanyaan bibi. Mungkin alasan yang sama dengannya. Begitu pikir Hania.


"Han, ini bi Mar, bibi inilah yang ngurusin apartemen ini", Arga mengenalkan art-nya.


Hania tersenyum menyapa wanita paruh baya itu. Dirinya bukanlah tipikal orang yang bisa langsung akrab dengan orang baru. Tapi jika sudah kenal, akrabnya sudah seperti teman lama.


"Bi, ini Hania. Anggap dia nyonya disini. Perlakukan dia seperti bibi memperlakukanku", ucap Arga memperkenalkan Hania.


Bibi meninggalkan area kolam renang. Tidak ingin mengganggu majikannya. Dia cukup terkejut tadi ketika mendapati pria itu bersama wanita cantik yang terlihat ramah itu. Wanita yang secara tidak langsung diiyakan Arga sebagai calonnya.


Sejak bekerja pada Arga, bi Mar hanya tahu status majikannya itu duda tanpa anak karena putra majikannya sudah meninggal. Setahunya, majikannya yang tampan itu tidak pernah dekat dengan wanita manapun meski banyak wanita cantik, seksi, dan kaya yang mencoba menggodanya. Tapi pria itu tetap dingin, tidak menggubrisnya. Datang ke Surabaya juga hanya untuk urusan pekerjaan, tidak ada yang lainnya.


Baru kali ini, Arga mengajak seorang wanita yang meski penampilannya tidak seglamor dan seseksi wanita-wanita yang mendekati Arga tapi pesonanya memancar menyilaukan mata dan hati. Bi Mar merasa calon nyonyanya itu berbeda. Melihatnya membuat hati terasa adem. Mungkin itu yang dirasakan majikannya.


"Ma!", suara anak kecil yang melengking membuyarkan lamunan bi Mar.


"Cah ayu, nggoleki sopo nduk?", pertanyaan bi Mar hanya membuat Tiara melongo, dia tidak tahu bibi didepannya itu bicara apa. (Anak cantik, nyari siapa Nak?).


"Anak cantik nyari siapa?", bi Mar yang supel dan cepat akrab dengan siapa saja mengulang pertanyaannya dalam bahasa nasional begitu menyadari gadis kecil itu tidak mengerti ucapannya.


"Sayang, udah selesai?", suara Hania yang lembut mengalihkan perhatian Tiara.


"Udah dong", sahut Tiara seraya mendekati ibunya.


Bibi yang sedang berdiri didepan Tiara dan Hania masih mencoba mencerna. Dia menatap gadis kecil itu lalu beralih pada Hania. Mereka sangat mirip. Apakah mereka ibu dan anak?

__ADS_1


"Bi, kenalin ini putriku, Tiara. Sayang, bibi ini namanya Bi Mar", Hania yang paha dengan tatapan mata bi Mar mengenalkan Bi Mar pada putrinya.


"Halo cah ayu, saya bi Mar, kalau butuh apa-apa bilang aja, ngga usah sungkan ya", sapa bi Mar, Tiara tersenyum malu-malu seraya merangkul pinggang Hania.


Bi Mar langsung pamit ke dapur, memulai memasak menu makan siang untuk majikannya. Kemarin Reza memberitahunya, Arga akan datang dan memintanya mengisi kulkas dengan bahan-bahan makanan. Kadang majikannya itu mendadak suka masakan rumahan dan memintanya memasak.


"Ma, Tiara laper", keluh gadis kecil itu.


Ah. Hania sampai lupa sejak pagi tadi mereka, dirinya, Arga, dan Tiara belum makan. Dan sekarang, waktu makan siang sudah hampir terlewat. Dia mengedarkan pandangan menyapu setiap sudut ruangan, mencari Arga. Kemana pria tampan itu? Bukannya tadi ingin makan siang bersama?


"Sebentar ya sayang. Kamu tunggu di situ dulu ya", Hania meminta Tiara menunggu di ruang tengah.


"Boleh nonton tivi?", tanya Tiara.


"Boleh, tapi jangan sinetron ya", Hania hanya mengizinkan putrinya melihat tayangan anak-anak.


Hania meninggalkan Tiara di ruangan itu sendirian. Dia berjalan sambil menoleh kekanan dan kekiri, masih mencari Arga. Hingga ketika dia akan berbelok ke area dapur, tubuhnya menabrak tubuh tegap pria atletis itu.


"Astaghfirullah!", seru Hania, dirinya terkejut tiba-tiba menabrak.


"Jalan yang bener Han", tegur Arga yang masih memegang pinggang Hania.


Hania hampir terpelanting. Bagaimana tidak? tubuhnya yang ramping menabrak tubuh Arga yang kokoh dan sedikit berotot, selain itu, dia tidak fokus berjalan. Untung Arga sigap menarik pinggang Hania. Tapi karena tarikan itu, posisi mereka jadi sangat intim.


Tubuhnya menempel pada tubuh Arga. Hania dapat kembali merasakan liatnya otot-otot tubuh pria seksi itu dibalik kemejanya. Begitu kokoh dirasanya. Pipinya sampai menempel di pipi Arga, hingga dia dapat merasakan deru napas Arga dipuncak telinganya. Dan ketika pria itu berbicara, suaranya yang berat dan hembusan napasnya yang begitu dekat ditelinganya membuatnya meremang. Mendadak jantungnya berdetak kencang dan darahnya berdesir. Dia merasa lunglai. Kakinya seperti jeli, terasa lemah saat berpijak. Dia menikmati sensasi sentuhan Arga.


Bibi yang sedang berada di dapur mendengar suara Hania langsung mendekat takut terjadi apa-apa. Tapi matanya seketika membulat begitu melihat majikannya yang tampan itu sedang memeluk dan... Mencium Hania? Dari posisinya berdiri, begitulah yang tampak di mata bi Mar. Dia jadi malu sendiri dan segera berlalu dari tempat itu sebelum majikannya menyadari kehadirannya.


"Arek enom nek lagi kasmaran ancen ga ndelok sikon mbek panggonan. Asal onok kesempatan langsung gaskin", bi Mar yang sudah salah paham menggeleng-gelengkan kepala, lalu terkekeh. (Anak muda, kalau kasmaran memang ngga liat sikon dan tempat. Begitu ada kesempatan langsung gas).


Hania berusaha melepaskan tubuhnya dari rengkuhan Arga yang dirasanya semakin mengerat. Gerakan kecil dalam pelukannya membuatnya melonggarkan rengkuhannya tapi tidak melepasnya. Pria itu masih ingin merasakan hangatnya tubuh wanita cantik itu.


Arga dapat merasakan sentuhan lembut yang menempel di dadanya, mencium wangi tubuh ramping itu, merasakan halusnya tubuh itu, dan merasakan kembali gairahnya. Ah. Jika bisa, Arga ingin merasakan tubuh wanita itu. Hah. Arga mendadak pusing dan frustrasi. Sesuatu di bawah sana mulai menggeliat.


**********


Thanks for reading

__ADS_1


__ADS_2