
Beberapa hari berlalu dari kejadian penculikan Tiara. Tidak ingin hal itu terulang kembali, Hania benar benar tidak mengizinkan putrinya menunggunya di luar area sekolah. Dirinya pun akan berangkat menjemput gadis kecil itu setengah jam lebih cepat sebelum jam belajar usai. Untungnya, tak berselang lama, sekolah Tiara libur.
Orang yang paling berbahagia adalah Arga. Karena peristiwa kemarin, Tiara semakin dekat dengannya. Gadis kecil itu, sejak awal bertemu sudah lengket dengannya. Sepertinya misinya mendekati Tiara bisa dikatakan sukses. Bahkan tidak membutuhkan usaha yang bagaimana-bagaimana. Gadis kecil itu mendekat dengan sendirinya.
Arga menyukai gadis kecil itu bukan semata karena Tiara putrinya Hania. Tapi sejak menolong gadis kecil berlesung pipi itu dari peristiwa penculikan beberapa waktu yang lalu, Arga merasa kembali menjadi seorang ayah. Sikap Tiara yang berlindung padanya, manja padanya, mencari perhatiannya, dan merengek padanya membuatnya merasa memiliki seorang anak lagi. Hatinya menghangat.
Selain cantik, Tiara juga menyenangkan. Jadi tidak sulit untuk menyukai gadis kecil foto kopian ibunya itu. Sikap kekanak-kanakan yang selalu ditunjukkannya pada Arga membuat Arga semakin menyayanginya. Pasalnya, Tiara selalu bersikap dewasa jika berhadapan dengan ibunya, tapi bertingkah sebaliknya jika dengan Arga. Bukankah itu berarti Tiara sudah merasa nyaman dengan Arga hingga dia bisa mengekspresikan dirinya tanpa sungkan-sungkan?
Seperti sore ini, Arga yang sengaja meluangkan waktu menemui Tiara sebelum kembali ke kediamannya, harus rela menemani gadis kecil itu mengitari taman yang tidak jauh dari rumah Hania. Meski lelah karena seharian tadi Arga dua kali melakukan pertemuan di luar perusahaan dengan dua klien yang berbeda, dirinya juga harus mendatangi kantor dinas perindustrian dan perdagangan untuk mengurus izin yang sedikit terkendala, tapi, demi melihat wajah Tiara yang memelas dan memohon padanya, dia luluh.
"Mas, jangan manjain dia gitu, nanti jadi kebiasaan lagi, Mas sendiri yang repot", tegur Hania ketika Tiara bersiap-siap di kamarnya.
"Serepot apa sih? Kan cuma nemenin dia di taman aja", tepis Arga sambil tersenyum.
"Tapi Mas kan baru pulang kerja, pasti capek kan?", ucap Hania merasa tak enak hati.
"Capek sih, tapi kalau seneng gimana dong?", sahut Arga bersemangat.
"Ayo Oom!", Hania baru akan membuka mulut lagi ketika suara Tiara yang khas anak-anak terdengar.
Tiara muncul dengan dres hijau mint selututnya dan berlengan panjang. Rambutnya yang tebal kecoklatan terurai dengan sebuah bando berwarna senada dengan dresnya. Tak lupa sebuah tas berkarakter unicorn berwarna putih yang selalu dibawanya jalan-jalan. Gadis kecil itu sedang menggandrungi karakter kuda terbang itu.
"Wah, wah, coba lihat siapa gadis cantik ini ya? Kok imut banget sih?" goda Arga, sementara Tiara tersipu malu, dan Hania hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
"Sudah siap cantik?" goda Arga lagi, kali ini Tiara mengangguk penuh semangat.
"Mama cantik ngga ikut?", kali ini Arga menggoda Hania.
Wanita cantik bermata kelinci itu melototkan matanya pada Arga yang malah membuat pria tampan itu terkekeh. Tiara juga tergelak.
"Yah, kayaknya ini bakal jadi kencan kita berdua deh cantik", ucap Arga dengan mimik yang dibuat-buat kecewa, membuat Tiara semakin tergelak.
Arga dan Tiara berjalan sambil bergandengan tangan menuju mobil Arga. Lambaian tangan Hania mengantar kepergian putrinya dan pria tampan yang dianggapnya seksi itu.
Sesampainya di taman, rupanya sedang ada semacam pasar malam di sana. Untung tidak terlalu padat karena bukan malam minggu. Banyak wahana permainan sederhana tidak sebesar di dufan atau taman di ancol, tapi cukup membuat anak-anak seusia Tiara senang luar biasa.
__ADS_1
Jangan lupakan pedagang makanan dan mainan yang siaga dari buka hingga tutup. Makanan dan minuman sederhana. Cilok, batagor, kerak telor, sosis bakar, gado-gado, rujak es krim, es krim, gula kapas. Hampir lengkap dan kesemuanya kesukaan anak-anak.
Ada juga yang menjual kapal-kapalan yang menyita perhatian Arga. Bagaimana bisa, sebuah kapal bisa berjalan dan berbunyi tok tok tok hanya dengan diberi kapas yang direndam minyak goreng lalu dibakar?
Satu mainan yang membuat Arga terkejut hingga nyaris melompat. Mainan karakter tikus, yang menurutnya entah bagaimana bisa berjalan maju dan mundur hanya dengan menarik dan mengendurkan talinya.
Arga hanya merasa asing dengan mainan-mainan itu. Sejak kecil dirinya hanya mengenal permainan yang berbasis teknologi modern. Mobil remot, Nintendo, PS 1, PS 2, PS 3, PS 4, PSP, drone, dan yang terakhir game online yang menurutnya lebih memacu adrenalin. Ketika memiliki anak lelaki pun, dirinya hanya memberikan mainan-mainan modern
"Oom, kesitu yuk, aku mau naik itu", tunjuk Tiara.
Arga menoleh ke arah wahana yang ditunjuk Tiara. Sebelah alisnya terangkat. Bianglala itu kenapa kecil sekali? Apa dirinya muat masuk ke dalam sana? Apa dia akan membiarkan Tiara naik sendirian? Apa aman? Apa perawatan yang dilakukan sudah memadai? Kok sudah karatan dibeberapa bagian? Pikiran Arga melayang-layang kemana-mana.
"Ngng... Sayang, itu kecil banget, Oom ragu badan Oom muat masuk situ, lagian apa itu aman? Liat deh udah banyak yang keropos", ucap Arga berniat melarang.
"Tapi aku mau naik itu", rengek Tiara.
Sebenarnya Arga tidak tega melihat wajah kecewa gadis kecil itu. Tapi dirinya lebih tidak rela lagi jika gadis berlesung pipi itu kenapa-kenapa.
"Naik yang lainnya aja ya sayang", rayu Arga.
Kali ini Tiara menurut meski sebenarnya dia ingin naik bianglala itu. Dengan wajah cemberut, Tiara meninggalkan area permainan itu. Tapi, tak berselang lama, matanya kembali berbinar melihat wahana semacam roller coster mini.
Lagi-lagi Arga ragu dengan keamanan wahana itu. Terdengar rel yang berdecit-decit ketika kereta melintas. Dan tentu saja besi yang berkarat dimana-mana. Terlihat rapuh.Dia takut tiba-tiba relnya patah dan kereta meluncur bebas keluar dari relnya. Arga sudah bergidik ngeri membayangkannya.
"Eh, anu sayang,, itu apa kamu ngga takut naik itu? Itu kan jalannya cepet banget. Liat deh relnya, Oom ragu kalau itu kuat. Nanti kalau patah gimana? Yang lainnya aja ya, Oom ngeri", tolak Arga masih tidak mengizinkan Tiara menaiki wahana itu.
Wajah Tiara semakin ditekuk saja membuat Arga tidak tega, tapi mau bagaimana lagi, dia benar benar tidak ingin terjadi hal-hal seperti yang dibayangkannya. Dan penolakan demi penolakan terus berlanjut ketika bertemu wahana-wahana serupa, seperti kora-kora, ombak banyu, rumah hantu, dan lain-lain. Membuat Tiara ingin menangis saja tapi Arga selalu bisa mengalihkan perhatian gadis kecil itu. Satu-satunya permainan yang boleh dinaikinya hanya komedi putar.
Tiara merasa bosan karena mereka hanya berjalan-jalan mengitari taman dan melihat keseruan permainan-permainan itu sambil memborong aneka jajanan yang sudah pasti dengan seizin Arga, mana yang boleh mana yang tidak. Akhirnya meminta diantar pulang saja. Tadinya dia berharap bisa menaiki wahana-wahana versi mini dari yang ada di dufan dan taman di Ancol itu. Ternyata Arga lebih protektif daripada ibunya.
Sesampainya di rumah, Tiara yang wajahnya memberengut langsung masuk ke kamarnya setelah menyalami Arga. Hania yang dilewati begitu saja tampak heran. Hania menatap Arga seolah bertanya, dia kenapa? Arga yang ditatap hanya mengendikkan bahunya dengan tatapan pasrah. Hania mengikuti Tiara.
"Lho sayang, abis jalan-jalan kok malah cemberut gitu?", tanya Hania.
"Oom Arga, Ma. Ngga bolehin Tiara naik bianglala", seru Tiara yang sudah ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
Hania menoleh kembali pada Arga. Kenapa cuma naik bianglala saja dilarang?
"Bianglala disana ngga aman Han, aku takut Tiara kenapa-kenapa", jelas Arga yang tahu arti tatapan itu.
"Kora-kora juga, pesawat-pesawatan juga, rumah hantu juga, semuanya", seru Tiara mengabsen permainan yang tidak boleh dinaikinya.
Hania hanya menghela napasnya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka Arga begitu protektif dari dirinya. Tapi dia senang Arga begitu melindungi putrinya.
"Ini apa?", tunjuk Hania pada bungkusan-bungkusan yang diletakkan Tiara begitu saja di atas meja ruang tamu.
"Ah, ini, jajanan Tiara", sahut Arga.
Hania membuka bungkusan itu. Ada sekotak terang bulan, roti balok, dan kebab. Tidak ada sosis bakar, telur dadar gulung, sosis mie, tahu bulat, dan jenis jajanan ringan yang disukai putrinya. Hania mengulum senyum. Dirinya sudah menduga Arga pasti melarang Tiara membeli makanan-makanan itu.
"Kok ngga ada sosis bakar sama telur dadar gulung? Biasanya Tiara suka banget jajanan itu", pancing Hania sambil membuka kotak terang bulan.
"Kalau ini sih, yang suka ibunya", celetuk Hania lalu menggigit roti bertabur susu dan keju itu.
"Benarkah? Kamu suka ini?", Hania menganggukkan kepalanya.
"Ah, soal sosis dan jajanan itu ya? Aku lihat itu ngga steril Han, panas-panas langsung masuk plastik, mana sausnya ngga jelas kan buatnya gimana?", terang Arga.
"Dasar orang kaya!", batin hania.
Hania hanya menggelengkan kepalanya. Lalu menggeser kotak terang bulan tadi ke hadapan Arga.
"Mas belum makan kan? Sekarang temeni aku makan ini, ini, dan ini", pinta Hania sambil menunjuk kotak-kotak berisi makanan yang termasuk kelas berat itu.
Arga melirik ke arah kotak-kotak itu. Iya sih, dia belum makan, tapi kalau sebanyak itu bisa meledak perutnya nanti. Hania menyenggol lengan kiri Arga menariknya dari pikirannya.
Akhirnya dengan terpaksa Arga mengikuti perintah Hania. Ah. Baru kali ini dia dengan suka rela melakukan hal yang tidak tidak ingin dilakukannya. Tapi tak apalah. Yang penting Hania mulai membuka diri padanya.
Merasakan sikap Hania yang semakin menghangat dan menerimanya membuatnya mengulas senyum. Sepertinya dewi fortuna memang berpihak pada Arga. Dengan semakin lengketnya Tiara padanya, Hania pun semakin mendekat.
*******
__ADS_1
Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan votenya 🤗🤗
Terimakasih...