Yang Terakhir

Yang Terakhir
50. Kamu Yang Kuinginkan


__ADS_3

Tiara masih cemberut karena liburannya akan berakhir. Gadis kecil itu masih ingin bermain-main di kota itu. Bagaimanapun dirinya juga bisa merasakan suasana yang berbeda. Mungkin karena tempat yang baru dikunjunginya itu memiliki hawa yang berbeda.


"Sayang, jangan seperti ini dong. Kita bisa lanjutin lagi nanti. Kan liburannya masih panjang", Hania hampir putus asa membujuk putrinya.


Hampir satu jam ini, Tiara ngambek. Wajahnya murung dan matanya berkaca-kaca. Gadis kecil itu sudah memohon pada ibunya agar tidak pulang ke Jakarta hari itu. Tapi sepertinya keputusan ibunya sudah bulat.


Harapannya hanya Arga. Kini gadis kecil itu menunggu kedatangan pria itu. Setelah sarapan tadi, pria dewasa itu mendapat panggilan yang katanya dari Reza, lalu pergi meninggalkannya dan ibunya di kamar hotel. Sekarang sudah jam 10 lebih sedikit tapi pria yang diidolakannya itu belum juga kembali. Gadis kecil berlesung pipi itu yakin, pria dewasa itu bisa mengubah keputusan ibunya.


Hania masih merapikan pakaian mereka ke dalam koper. Sesekali wanita cantik itu melirik Tiara. Dirinya merasa bersalah harus menghentikan acara liburan yang baru di mulai putrinya itu. Merasa jenuh, Tiara meninggalkan sang ibu. Memilih duduk di sofa di ruang tengah sambil menonton tivi.


"Oom Arga...!", seru Tiara terdengar ceria langsung menghambur kearah Arga, pria itu langsung menggendong Tiara.


"Wah... Ada apa ini? Kenapa seneng banget liat Oom dateng?", tanya Arga seraya terkekeh.


"Oom, bilang mama dong, aku masih mau disini. Kita kan baru mulai liburan, masa' udah mau pulang sih", sahut Tiara seraya memonyongkan bibirnya membuat Arga terkekeh.


"Hum? Tiara masih pengen disini? Suka disini?", Arga menanggapi aduan Tiara.


Arga menurunkan Tiara di sofa di depan tivi lalu duduk disebelah Tiara.


"Apa Tiara ngga takut ketemu, ehem, ayah?", ada rasa kesal dan cemburu ketika Arga mengucapkan kata "ayah".

__ADS_1


Arga memperhatikan reaksi Tiara setelah mendengar kata "ayah", orang yang saat ini tidak ingin ditemuinya. Gadis kecil itu terdiam beberapa saat tampak tengah berpikir. Terlihat ada ketakutan di raut wajah gadis kecil yang kini disayanginya itu.


"Aku takut Oom, tapi kan ada Oom Arga yang bakal jagain aku. Oom kan udah janji bakal jagain aku", ungkap Tiara dengan suara lirih.


Arga menatap lekat gadis kecil foto kopian ibunya yang sedang menunduk itu. Apa maksudnya Tiara sedang meminta perlindungannya? Lebih mengandalkannya? Senyumnya seketika terbit. Seperti bunga matahari. Lebar.


Ada keinginan untuk menuruti Tiara. Melihat gadis kecil itu muram, dia tidak tega. Arga juga berharap mereka tetap tinggal hingga beberapa hari kedepan, sehingga dirinya memiliki banyak kesempatan untuk meluluhkan Hania. Tapi, pria itu tahu mantan suami Hania masih ada di kota itu. Dia tidak ingin Hania bertemu dengan pria itu.


"Humm... Oom ngobrol dulu sama mama ya, sayang. Nanti Oom bantu ngomong sama mama kalau Tiara masih pingin disini", ucap Arga menghibur Tiara.


Tiara langsung mendongakkan kepalanya, matanya yang seketika berbinar menatap Arga. Wajahnya sudah berseri lagi. Padahal belum juga proa dewasa itu bangkit dari duduknya, apalagi berbicara dengan ibunya, dan belum pasti keputusannya bagaimana, namun gadis kecil itu sudah merasa senang saja.


"Sedang beres-beres di kamar, Oom", sahut Tiara yang senyumnya semakin lebar.


"Sebentar ya, Tiara tunggu disini", pinta Arga, lalu meninggalkan gadis kecil itu sendiri.


Sesampainya di depan pintu kamar yang ditempati Hania dan putrinya, Arga mengetuknya beberapa kali namun tidak ada sahutan. Arga berniat kembali ke kamarnya ketika tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan Hania. Tubuh ramping wanita cantik itu hampir terpental jika Arga tidak cepat menariknya. Tubuh Hania yang hangat kini berada dalam pelukannya. Pria seksi itu kembali merasakan sentuhan lembut di dadanya, membuat gairahnya bergejolak. Hah. Dekat-dekat dengan wanita cantik itu membuatnya sering menahan diri dan itu membuatnya semakin sensitif.


Hania terkejut ketika tiba-tiba tubuhnya ditarik dan membentur tubuh Arga. Tangannya memempel di dada pria seksi itu. Matanya menatap dada itu. Seketika bayangan Arga yang bertelanjang dada tadi pagi muncul di otak mesum Hania. Dada liat yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Kini tangannya menyentuh dada itu meski dibalut kemeja. Ah. Hati Hania berdesir. Hania mengalihkan tatapan matanya, menatap Arga. Ternyata pria seksi itu juga sedang menatapnya. Pandangan mereka bertemu. Cukup lama.


Tatapan mata Hania menelusuri wajah pria tampan itu. Mata tajamnya yang selalu menatapnya ketika berbicara, hidung mancung yang beberapa kali dirasakan menempel ditelinganya yang membuatnya meremang, dan bibir yang tidak tebal juga tidak tipis yang menurutnya seksi. Membayangkan bibir seksi itu mengulum bibirnya, dan melu**tnya, membuat hasrat Hania bergejolak. Namun sejurus kemudian wanita cantik itu tersadar dari pikiran mesumnya.

__ADS_1


Wajah Hania semakin merona ketika Arga mendekatkan wajahnya. Dia menutup matanya, tidak mampu membayangkan jika pria itu, menciumnya?


Tapi yang terjadi tidak seperti yang dibayangkannya. Pria seksi itu malah mendekatkan wajahnya ke telinganya. Begitu dekat hingga hembusan napasnya terasa panas di telinganya dan membuat tubuhnya meremang.


"Hati-hati", bisik Arga.


Hah. Arga hampir saja lepas kendali ketika melihat wajah Hania yang merona. Begitu menggemaskan. Dipandanginya wajah ayu itu dalam-dalam. Mata kelinci yang memikatnya, hidung yang tidak begitu mancung dan tidak juga pesek, dan bibir merah muda yang alami yang ingin sekali dikulumnya.


Arga semakin frustrasi manakala pusakanya menggeliat. Dia tidak habis pikir, berada sedekat itu dengan Hania, "dia" selalu bereaksi berlebihan. Padahal, dirinya sering melihat wanita-wanita cantik dan seksi bahkan terang-terangan menggodanya tapi "dia" anteng-anteng saja.


Arga memang sudah lama memendam hasrat seksualnya. Terhitung sejak dirinya mengetahui perselingkuhan mantan istrinya yang sudah terlampau jauh, dirinya enggan menyentuh istrinya. Hingga bertahun-tahun setelahnya, dirinya seperti tidak berminat pada hubungan seksual. Banyak wanita cantik dan seksi yang mendekatinya bahkan menggodanya tapi Arga tak berhasrat. Dia lebih memilih bermain solo daripada harus menyentuh wanita yang tidak benar-benar diinginkannya.


Hanialah kini wanita yang benar-benar diinginkannya. Namun, dia harus bersabar. Wanita cantik itu seperti tak tersentuh. Begitu membutuhkan usaha yang tidak main-main untuk menaklukkannya agar bisa menyentuhnya. Wanita bermata kelinci itu sedang terluka dan Arga memahaminya dengan baik. Jadi dia harus berhati-hati agar wanita bertubuh ramping itu tetap disisinya. Hanya Hania yang diinginkannya.


Hania mengerjap-ngerjapkan matanya menyadari yang terjadi. Wanita itu jadi malu sendiri karena sudah berpikir yang tidak-tidak. Haduh. Kenapa bisa berpikir begitu sih? Arga menciumnya? Apa dirinya berharap pria seksi itu menciumnya? Jelas itu tidak mungkin. Pria seperti Arga tidak mungkin menciumnya. Pria itu hanya menolongnya agar tidak jatuh. Hania menghela napasnya perlahan, menetralkan perasaannya yang tidak karu-karuan. Perasaan yang semakin salah paham.


Arga merasakan gerakan kecil dalam dekapannya. Wanita cantik yang diinginkannya ingin melepaskan diri darinya. Padahal dirinya tidak keberatan jika Hania ingin berlama-lama dalam pelukannya. Meski enggan, akhirnya Arga melepaskan mangsanya, namun masih menatap lekat wanita cantik itu, membuatnya kikuk. Sebentar menatapnya lalu mengalihkan tatapannya sembarang. Begitu menggemaskan dimata Arga. Senyumnya terbit disudut bibir pria tampan itu.


*******


Thanks for reading

__ADS_1


__ADS_2