
Hania bergegas meninggalkan sahabat-sahabatnya yang belum ingin beranjak dari pusat perawatan kecantikan milik Laras setelah melirik jam tangannya. Hari ini, putrinya Tiara pulang lebih awal dari sekolahnya.
"Aduh!" seru Hania.
Langkahnya terburu-buru hingga tanpa sengaja bertabrakan atau ditabrak? Yang jelas cappucinonya tumpah dan mengenai bagian depan kemejanya. Untung saja kemeja itu berwarna gelap jadi noda yang akan ditinggalkan nantinya tidak menarik perhatian. Matanya melirik pria di depannya. Pria yang yang bertabrakan dengannya. Cappucinonya juga mengenai kemeja pria itu.
"Astaga!" pikir Hania lalu buru-buru mengambil tisu dari dalam tasnya.
"Maaf Mas, bajunya kena tumpahan kopi juga." kata Hania panik sambil menyerahkan tisu pada Arga.
"Ngga apa-apa, sebentar juga kering." balas pria itu menerima uluran tisu tanpa menoleh pada Hania, masih berusaha mengurangi basah.
Hania masih memperhatikan pria di depannya membersihkan kemejanya tanpa menyadari bahwa pria itu adalah pria yang sama dengan yang menabraknya atau ditabraknya tadi. Kembali mengulurkan tisu pada pria itu ketika tisunya sudah basah dan kotor.
"Terimakasih." ucap pria itu.
"Saya yang minta maaf karena saya yang tidak fokus jadi nabrak Mba." lanjutnya seraya menoleh pada Hania.
Wajah pria itu tiba-tiba menegang ketika melihat Hania tapi sekejap kemudian normal kembali. Namun matanya menatap lekat Hania, tanpa berkedip. Hania mendengar pria itu menggumam tapi Hania tidak dapat mendengar dengan jelas. Dilihatnya pria itu tersenyum. Senyum itu menular pada Hania.
Hania yang mendapat tatapan lekat seperti itu membuat jantungnya berdebar, sejenak terpaku pada wajah pria itu. Pria di depannya adalah pria tampan yang tadi siang menabraknya atau ditabraknya. Jujur Hania mengagumi wajah tampan itu. Ditambah senyumnya yang dia rasa hangat. Tanpa sadar Hania membalas senyum itu.
"Iya Mas, sama-sama, saya terburu-buru juga, ngga hati-hati." kata Hania setelah sadar dari kekagumannya.
"Kalau begitu saya permisi Mas." lanjut Hania setelah melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
Drrrt drrrt.
Ponsel didalam tasnya bergetar. Hania merogoh tasnya, menemukan ponselnya dan segera menerima panggilan si penelepon setelah melihat layar ponselnya. Dia berjalan menjauh dari pria tadi.
Tiara sudah menunggu, begitu kata si penelepon yang ternyata adalah wali kelas putrinya. Bayangan wajah sendu Tiara menari-nari di benaknya. Hania bergegas melajukan Hon** Ja** abu-abunya yang tidak baru lagi dengan kecepatan sedang. Hari sudah semakin sore jalanan sudah mulai padat.
"Mama...!" panggil Tiara sedikit berteriak ketika Hania baru memasuki halaman sekolahnya Tiara.
"Sayang Mama, maaf ya Mama telat jemputnya." ucap Hania merasa bersalah.
Hania menciumi puncak kepala Tiara yang sudah berada dalam dekapannya. Tawa riang Tiara tidak membuktikan kekhawatirannya. Meski begitu rasa bersalah masih menyelimutinya. Dia takut jika tawa riang yang diperlihatkan Tiara hanya agar dirinya tidak mengkhawatirkan Tiara. Tapi Hania mengakui, melihat Tiara tertawa riang, tak ayal membuatnya lega.
Sesampainya di rumah, senyum manis Galih menyambut kedatangan Hania dan Tiara. Tiara yang akrab dengan Galih langsung berlari ke arahnya begitu pintu mobil terbuka, menelusupkan tubuh kecilnya dalam pelukan Galih. Tawa riang keduanya membuat Hania tersenyum hangat.
__ADS_1
Hania berjalan melewati kedua orang yang sedang melepas rindu itu. Membuka pintu pagar, lalu pintu rumahnya. Galih membawa Tiara dalam gendongannya menyusul Hania. Sudah terlihat seperti keluarga bahagia.
Entahlah. Galih adalah sahabat Hania sejak duduk di bangku SMA. Keduanya berteman baik. Perlakuan manis Galih pada Hania membuat teman-teman mereka mengira mereka memiliki hubungan istimewa. Mereka kerap membantah sangkaan itu terutama Hania, tapi perlakuan Galih tidak berubah, selalu manis. Bahkan ketika mereka sudah lulus dan melanjutkan pendidikan dikota yang berbeda, Galih tetap menunjukkan perhatiannya.
Galih pernah mengungkapkan perasaannya pada Hania. Hanya sekedar supaya Hania tahu perasaan Galih yang sebenarnya. Galih tidak mau menjadikan Hania kekasihnya. Dia takut melukai Hania. Dia hanya ingin Hania selalu bersamanya tanpa harus menjadi kekasihnya.
Setali tiga uang dengan Galih, Hania pun tidak yakin dengan perasaannya pada Galih yang dikenal sebagai cowo playboy kala itu. Dia menyayangi pria itu, sangat menyayanginya. Tapi Hania tidak ingin menjadi kekasih Galih. Dia nyaman dengan persahabatan mereka. Hingga kini, kehadiran Galih adalah pelengkap statusnya yang single parent.
"Udah lama?" tanya Hania
Tangannya mengulurkan gelas berisi sirup melon dingin pada Galih yang sedang duduk di ruang keluarga. Sementara Tiara sudah berlari ke kamarnya. Tangan Galih terulur menerima gelas itu.
"Lumayan", jawab Galih lalu menyeruput minuman digelas itu.
"Kenapa ngga ngabarin?" tanya Hania lagi.
"Aku pikir masih di Surabaya." lanjut Hania.
"Baru sampe pagi tadi, ke kantor sebentar trus kesini. Sekalian jalan biar ngga mondar mandir." jelas Galih.
"Tadinya mau bikin surprise sih, tapi kayaknya ngga sukses." lanjut Galih sambil terkekeh.
Hania ikut terkekeh. Galih membuatnya menjadi merasa istimewa. Selalu begitu. Hingga Hania menjadi terbiasa. Terbiasa diperlakukan istimewa oleh Galih. Galih akan langsung menemui Hania dan Tiara setelah bepergian kemanapun. Dia juga akan selalu menyempatkan waktunya untuk menghubungi Hania melalui telepon jika sedang berada di luar kota. Tapi baik Hania maupun Galih tahu batasan.
"Besok ada family gathering di kantorku, aku mau ngajakin kalian." ungkap Galih sambil menoleh ke arah Hania.
"Ngga mungkin kan aku datang sendiri?" lanjutnya sembari terkekeh.
"Wah, putus asa banget ya kamu sampe ngajakin kita." goda Hania lalu terkekeh.
Galih ikut terkekeh. Lalu mendesah.
"Kalianlah keluargaku." tegas Galih.
"Memangnya siapa lagi yang akan kuajak?" lanjutnya sambil menatap Hania.
Senyum Hania merekah. Dirinya senang sahabatnya itu menganggapnya lebih dari sahabat, tepatnya menganggapnya keluarga. Hania mengganggukkan kepalanya. Dia setuju menemani Galih menghadiri acara yang diadakan kantornya. Biasanya Galih lebih senang absen untuk acara-acara semacam itu. Tapi ditengah karirnya sebagai manajer pemasaran yang tengah bersinar, Galih diharapkan bisa bergabung bersama rekan-rekannya. Hania tidak ingin Galih kehilangan muka.
Esoknya, banyak karyawati kantor Galih yang patah hati melihat Galih datang bersama Hania dan Tiara. Galih pun tidak ingin menjelaskan bagaimana hubungan mereka. Protes Hania hanya di respon dengan senyuman dan pelukan pada pinggangnya yang menunjukkan betapa manisnya sikap Galih pada Hania. Tentu saja pemandangan itu diartikan lebih oleh siapapun yang melihatnya.
__ADS_1
Meski merasa tidak nyaman dengan perlakuan Galih yang membuat orang lain salah paham pada hubungan mereka, Hania tetap merasa senang. Apalagi kalau bukan tawa riang Tiara yang begitu menikmati setiap permainan dan perlombaan yang melibatkan dirinya. Senyumnya selalu merekah sepanjang acara.
"Makasih ya ngajakin kita ke acara kantor kamu." ucap Hania setelah mereka tiba di rumah Hania.
"Tiara keliatan seneng banget." lanjutnya sambil tersenyum.
Tiara yang kelelahan sehabis bersenang-senang tadi tertidur lelap hingga Galih harus menggendongnya saat memasuki rumah. Perlahan Galih menidurkan Tiara di ranjang pink nya yang bergambar hello kitty, menyelimutinya dan merapikan poni yang menutupi wajah imut bak boneka itu. Hania menyalakan Ac dalam mode dry agar tidak terlalu dingin.
"Makan malam disini aja ya?" tawar Hania pada Galih yang sudah duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi.
Galih hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Hari sudah sore menjelang malam. Tubuhnya terasa lelah. Pasti Galih pun sama lelahnya. Apalagi sepanjang acara tadi, Galih dan Tiara sangat bersemangat. Hania tidak tega membiarkan sahabatnya itu pulang dengan perut kosong.
"Kamu mandi dulu deh, aku siapin makannya." perintah Hania.
Seharian padat aktifitas membuat tubuh berkeringat dan lengket. Sangat tidak nyaman. Galih mengambil pakaian gantinya di mobilnya dan bergegas mandi.
Makan malam hanya dilakukan berdua dengan Galih. Sementara Tiara masih lelap dalam tidurnya. Hening, hanya suara denting sendok yang bersahutan. Galih makan dengan lahap. Masakan Hania sesuai seleranya. Apapun yang dihidangkan wanita cantik itu selalu disukainya.
"Mulai bulan depan, aku pindah ke Bandung", ucap Galih setelah menyelesaikan makan malamnya.
Hania urung meneguk air mineral di gelasnya. Dia sedikit terkejut dengan kabar yang disampaikan pria gagah itu. Dirinya sudah membayangkan akan kesepian nantinya. Mendengar kabar itu, ada rasa sedih menelusup dalam hatinya.
"Kenapa mendadak?" tanya Hania dengan wajah sendu sambil menatap sahabatnya itu.
Melihat wajah sendu itu, hati Galih mencelos. Dirinya tahu sahabat kesayangannya itu pasti sedih. Dia sadar selama ini dirinya lah yang menjadi sandaran Hania.
"Sebenernya sudah lama aku dipromosiin. Banyak hal yang harus kupertimbangkan sebelum memutuskan untuk menerima tawaran ini Han. Terutama kamu dan Tiara." jelas Galih lirih.
"Aku ngga bisa terus-terusan ada di sekitarmu. Aku ngga mau pria baik hati yang harusnya berjodoh denganmu mental karena aku. Lagipula aku juga ngga mau expired karena ngga ada wanita yang mau sama aku karena kamu terus-terusan nempel sama aku." lanjut Galih sambil terkekeh, menghibur Hania dengan mencandainya.
"Apaan sih?" pungkas Hania mengerucutkan bibirnya.
"Kamu godain aku? Bibirmu begitu bisa bikin aku khilaf lo. goda Galih lalu terkekeh lagi.
###
Happy reading Novelians...
Jangan lupa like dan vote nya
__ADS_1
Dikasih hadiah aku juga suka kok 😄
Krisannya juga aku tunggu loh, biar bisa lebih memahami pembaca 🤗