
Arga kembali memeluk Hania yang kembali menangis tergugu. Pria itu sakit hati.
"Aku akan pastikan dia dapat balasan yang setimpal, honey. Kamu tenang ya." ucap Arga meyakinkan Hania.
Hania mengeratkan pelukannya dipinggang Arga. Jujur dirinya merasa tenang dan aman dalam dekapan pria yang dicintainya itu. Beruntungnya dia bertemu dan menjadi bagian penting dalam hidup pria itu. Namun sejurus kemudian dia mengendurkan pelukannya. Dia kembali merasa tak pantas berada dalam dekapan Arga. Dirinya sudah ternoda.
"Ada apa?" tanya Arga yang merasakan gelagat tak biasa Hania.
"Aku... Aku merasa ngga pantas lagi untuk Mas. Aku malu." sahut Hania seraya menundukkan kepalanya.
Bukannya menanggapi perkataan Hania, Arga malah menarik tubuh ramping wanita itu kembali ke dalam dekapannya. Terus mengusap rambut panjang Hania yang terasa lembut di tangannya. Pria karismatik itu tahu bagaimana hancurnya wanita cantik itu karena dirinya pun merasakan hal yang sama.
"Honey. Dari awal, aku sudah menerimamu sebagaimana adanya dirimu. Bahkan aku tetap mengejarmu meskipun kamu udah punya Tiara. Apa aku mempermasalahkannya?" Hania menggelengkan kepalanya.
"Yang penting bagiku, aku ngga merebut milik orang lain. Aku ngga peduli yang lainnya. Sekarang, apa bedanya? Bagiku kamu ngga berkurang sedikitpun. Kamu tetap Haniaku." Arga terus mengusap rambut Hania.
"Yang kamu alami saat ini adalah musibah dan ujian untuk kita. Tapi percayalah, aku ngga pernah memandangmu berbeda setelah kejadian itu. Aku akan membantumu melupakan kenangan buruk yang menimpamu. Aku yang akan menghapus jejaknya di ingatanmu. Percayalah padaku, Hania. Mau 'kan?" Hania menatap lekat manik hitam mata Arga, lalu mengangguk.
Wanita cantik itu tahu Arga tulus padanya. Dirinya hanya perlu mempercayai pria karismatik itu seperti yang sudah-sudah. Dan prianya itu selalu menepati janjinya.
"Mulai sekarang, kita tidak perlu membahas tragedi itu lagi. Aku tau itu pasti menyakiti hatimu. Tapi kamu harus terbuka padaku. Apapun yang kamu rasakan, bicarakan padaku. Kamu ingat, aku bukan orang lain lagi." pinta Arga sungguh-sungguh seraya menatap lekat mata bening Hania.
"Tapi, bagaimana jika keteranganku dibutuhkan?" tanya Hania yang tampak mencemaskan perasaannya.
"Kamu mau ngasih keterangan?" Hania tampak ragu menjawab pertanyaan Arga.
"Ngga perlu kalau kamu ngga mau. Kita ngga usah bahas ini lagi. Aku akan menutupi masalah ini. Dan tetap memastikan dia dihukum seberat-beratnya."
"Iya. Aku percaya sama Mas." Hania merasa lega karena aibnya tidak perlu diaduk-aduk.
Di luar ruangan VIP itu, Iden yang sudah kembali dari menerima panggilannya tadi hanya berdiri diam di depan pintu sejak tadi. Lamat-lamat pria tampan itu dapat mendengar percakapan sahabatnya dengan kekasihnya, membuatnya mengurungakan niat memasuki ruangan itu.
Hatinya ikut berdenyut nyeri mendengarkan Arga yang terus menguatkan Hania. Pria itu tahu pasti sahabatnya itu terluka dan hancur karena Raka. Arga harus menenangkan Hania sekaligus dirinya sendiri di tengah berkecamuknya amarah di hatinya pada Raka.
Pria flamboyan itu juga menyayangkan tragedi itu harus menimpa Hania. Wanita berhati lembut yang dengan mudah menaklukkan sahabatnya yang terlanjur membeku itu. Hania terlalu terhormat untuk diperlakukan begitu. Raka memang brengsek. Seharusnya, sebagai sahabat, dia juga ikut menjaga milik Arga. Iden menghela napasnya.
__ADS_1
Tok tok tok!
Iden menghela napasnya sebelum memasuki ruangan VIP itu. Melihatnya masuk Hania langsung menatapnya tanpa berkedip. Sepertinya wanita cantik itu bersikap waspada padanya. Dengan perasaan terenyuh, Iden menyunggingkan senyum semanis gulanya untuk menenangkan Hania.
"Hai, Hania." sapa Iden.
Sementara Arga sudah menghunuskan tatapan tajam pada sahabat blesterannya. Jelas pria itu khawatir Hania akan histeris lagi.
"Gue pikir udah ke bulan lu!" cibir Arga.
"Kenapa? Kangen lu sama gue?" balas Iden.
Hania masih terus menatap Iden. Entah kenapa dirinya menjadi was-was pada pria lain yang memiliki postur tubuh mirip Raka, kecuali Arga. Bayangannya digagahi pria itu masih terus berputar di benaknya, apalagi ketika tidur, wajah Raka yang tanpa ampun terus menyeringai tak peduli ratapan memohonnya.
Iden yang ditatap lekat dan penuh kecurigaan oleh Hania hanya bisa menghela napasnya. Sebenarnya pria yang juga tampan itu merasa kikuk terus-terusan di perhatikan Hania. Entahlah. Padahal dirinya adalah pria dengan tingkat percaya diri di atas rata-rata dan terbiasa menjadi pusat perhatian kaum hawa. Tapi, ditatap Hania begitu lekat, dirinya jadi salah tingkah.
"Ada yang aneh sama penampilanku ya, Hania? Kamu ngeliatnya gitu amat. Aku takut bener-bener ditendang Arga ke bulan kalau kamu liatin aku terus. Kamu tau 'kan dia itu cemburuan?" seloroh Iden mengurangi rasa kikuknya.
Arga melengos mendengar perkataan sahabatnya itu. Lalu menatap Hania yang sedang menatap Iden.
"Kenapa? Kamu ngga suka dia di sini? Bagus. Kamu memang ngga harus suka sama dia." sindir Arga yang kali ini membuat Iden berdecih.
"Maaf." lirih Hania.
"Ngga. Kamu ngga salah. Kamu mau aku usir dia?" tawar Arga.
Baik Arga dan Iden memahami sikap Hania. Wanita itu masih terguncang. Biasanya Arga tidak akan suka jika Hania menatap pria lain dengan lekat. Begitu juga denga Iden. Pria blesteran itu juga tidak akan terima di sudutkan oleh Arga, biasanya dia akan membalas.
"Well. As you wish my lady, i'll go. Get well soon, ya." putus Iden seraya bangkit dari duduknya.
Sementara Hania masih memperhatikannya dan mengikuti gerak geriknya hingga pria flamboyan itu keluar dari ruang rawatnya.
Sepeninggal Iden, Hania menghela napasnya seraya menundukkan wajahnya. Dirinya seperti merasa lega. Rasa khawatirnya langsung menguap. Wajahnya sudah tidak setegang tadi. Dan setiap perubahan ekspresinya itu tidak lepas dari perhatian Arga.
"Sudah merasa baikan?" tanya Arga memecah keheningan.
__ADS_1
Hania menoleh ke arah Arga. Wanita cantik itu menyunggingkan senyum manisnya lalu mengangguk. Arga mengusap punggung tangan Hania, lalu menggenggamnya dan mendekatkannya ke bibirnya. Pria tampan itu mengecup punggung tangan kekasihnya itu. Lama.
Pria itu sangat merindukan Hania. Sudah lama dia tidak mendapat perhatian dari kekasihnya itu. Musibah yang datang bertubi-tubi membuatnya tidak sempat bermesraan dengan wanita yang sangat dicintainya itu. Apalagi sekarang. Hania mengalami trauma dan sedang terguncang. Wanita cantik itu sangat sensitif dengan hal-hal yang berbau romantis. Membuat Arga melupakan keinginannya untuk meluapkan rasa rindunya dengan cara yang intim. Dirinya hanya terfokus pada kesembuhan Hania.
Di kota lain, seorang pria bertubuh tegap tengah berdiri menatap kelamnya langit malam penuh bintang dengan sorot mata penuh kesedihan. Galih. Pria berwajah manis dan teduh itu, berkali-kali mendesah. Percakapannya dengan Ferry barusan kembali terngiang-ngiang di benaknya.
"Hania gimana kabarnya? Beberapa kali gue telpon, kenapa ngga aktif?" tanya Galih pada Ferry dengan nada khawatir yang kentara.
Galih mengenal Ferry dengan baik. Chef andalan Hania itu juga akrab dengannya. Sudah sebulan berlalu sejak kematian Tiara. Pria itu belum bisa mengunjungi sahabatnya lagi. Dirinya terlalu disibukkan dengan pekerjaan yang menyita waktunya, bahkan saat akhir pekan dan tanggal merah pun pria itu tetap bekerja.
Saat menghubungi ponsel Hania yang hanya dijawab mesin operator, Galih langsung menghubungi Ferry.
"Mba Hania sedang dirawat, Mas. Beberapa hari yang lalu dia sempat diculik. Kayaknya psikisnya masih terguncang." sahut Ferry.
"Diculik? Kenapa bisa sampai diculik!? Siapa pelakunya!? Apa yang dikerjain si Arga itu!?" Galih memberondong Ferry dengan emosi yang meletup-letup.
"Penculiknya udah diamankan dan Mba Hania sekarang dalam pengawasan Mas Arga. Mas Galih tenang aja." ucap Ferry menenangkan Galih.
"Mas ngga jenguk Mba Hania?" tanya Ferry mengalihkan topik pembicaraan.
"Gue sibuk banget Fer. Nanti. Begitu di sini beres gue kesitu." lirih Galih.
Galih sudah sepatutnya merasa emosi. Pria itu juga mencintai Hania. Selama bersamanya, sahabat cantiknya itu tidak pernah mengalami musibah seperti belakangan ini. Hanya ujaran kebencian dan sedikit perlakuan kasar dari wanita lain yang tak terima karena pasangannya menggoda Hania. Tapi semenjak sahabatnya itu dekat dengan Arga, pria yang dianggapnya arogan itu, Hania seperti tertimpa kesialan bertubi-tubi. Tidak salah 'kan jika dirinya menyalahkan Arga?
Hatinya masih terasa nyeri karena kematian Tiara. Gadis kecil yang mirip ibunya. Yang sejak bayi sudah dekat dengannya. Kini, lagi-lagi kabar tak mengenakkan datang dari Hania. Wanita cantik yang jadi sahabatnya sejak lama itu mengalami musibah lagi. Lukanya belumlah kering dan kini seperti ditaburi garam. Rasanya teramat perih.
"Maaf Hania." batinnya.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1