
"Tunggu! Tolong tahan liftnya!" seru seorang gadis yang tengah berlari untuk mencapai lif yang berjarak 5 meter darinya.
"Trimakasih." ucapnya dengan napas terengah-engah.
Gadis itu merapikan rambut dan kemejanya yang sedikit berantakan.
"Kak, tolong lantai 5, ya." pintanya pada seorang pria yang berdiri di dekat tombol lift setelah menyadari pintu lift sudah tertutup.
"Trimakasih." ucapnya lagi.
Gadis itu melirik ke sekitarnya. Barangkali dia bisa menemukan teman sedivisinya dulu. Tapi jangankan temannya, sorot mata yang mengandung pertanyaan lah yang malah menatapnya menyelidik. Gadis itu lalu hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kikuk menanggapi tatapan mereka.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 3. 2 lantai di bawah lantai yang ditujunya. Orang-orang keluar dari sana dan meninggalkan separuhnya saja. Lift kembali bergerak naik. Gadis itu menggeser tubuhnya agak ke samping kanan untuk memberi ruang pada orang akan masuk ke dalam lift.
Matanya membola saat 2 orang wanita, seorang lajang sepertinya dan seorang lagi sudah menikah yang berusia 5 tahun lebih dewasa darinya masuk ke dalam lift saat lift berhenti lagi di lantai 4. Gadis itu mengenalnya. Mereka adalah rekan sedivisinya dulu.
Tiba di lantai 5, sebagian karyawan yang berada di dalam lift menghambur keluar. Begitu pula gadis itu. 2 rekan sedivisinya dulu yang berjalan di depan tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah gadis itu.
"Kamu karyawan baru? Divisi apa? Keuangan atau R and D?" tanya seorang wanita yang sudah menikah, ingin mengetahui gadis itu akan ke divisi mana karena di lantai 5 terdapat 2 divisi, keuangan dan research and development.
"Saya di divisi keuangan, Kak. Sama dengan kalian 'kan?" sahut gadis itu keceplosan dengan menyebutkan jika tujuan mereka sama.
"Kami? Darimana kamu tahu kami di divisi keuangan?" gadis yang berdiri di samping wanita yang sudah menikah itu bertanya menyelidik.
"Eh? Hehehe... Ma-maaf. Saya hanya menebak. Berarti tebakan saya bener, ya?" gadis itu meringis, khawatir dirinya akan dicurigai.
"Kalian berbelok ke arah sini. Kalian mau ke divisi keuangan 'kan?" ucap gadis itu lagi seraya menunjuk papan nama divisi keuangan yang terlihat dari tempatnya berdiri, tak lebih dari 5 meter.
"Iya juga, ya." gumam gadis itu seraya melirik rekan di sebelahnya.
Gadis itu lega. Beruntung tadi dia melihat plang penunjuk itu dan kebetulan juga posisi mereka sudah berbelok kesana.
"Hania!? Kamu sudah datang? Kamu langsung ke HRD ya, laporan dulu.'' suara seorang pria berusia sekitar 40 tahunan menginterupsi suasana kikuk di antara mereka bertiga.
Ya. Akhirnya Arga menyetujui gagasan Galih. Tentu saja melalui perdebatan yang panjang mengingat Arga adalah seorang negosiator yang handal jadi tidak mudah meyakinkannya. Hingga dirinya bertemu dengan Daniel, rekan bisnisnya yang juga pernah dirugikan oleh perusahaan itu saat mereka masih bekerja sama. Karena kini perusahaannya sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan tersebut dan tidak ingin mengalami nasib yang sama dengan perusahaan Daniel, akhirnya Arga mengalah. Tapi tentu saja dengan berbagai syarat. Terutama tidak melibatkan Hania, dan perusahaannya.
Begitu mendapat informasi lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya di perusahaan itu, Syana langsung melamar. Hanya menunggu 1 minggu hingga dirinya bisa langsung bekerja di sana. Tampaknya perusahaan itu memang harus mendapatkan staf keuangan dalam waktu yang singkat.
"Iya, baik, Pak." sahut gadis yang disapa Hania itu seraya menyunggingkan senyumnya.
"Rin, Kan, kalian buruan ke meja kalian. Berkasnya udah ditunggu." perintah pria itu.
"Baik, Pak." sahut keduanya bersamaan dengan suara lemah.
"Sampai ketemu nanti, ya. Kita kenalannya nanti aja." ucap gadis yang seusia dengan Syana yang dikenalnya bernama Kania.
__ADS_1
Kedua orang itu melambaikan tangannya ke arah Syana yang memakai identitas Hania, menuju ruang kerjanya. Syana membalasnya.
"Mereka bener-bener ngga ngenalin aku. Hah. Mukaku bener-bener berubah." keluhnya dalam hati.
"Tapi syukurnya, mirip Kak Hania. Cantik." semangatnya dalam hati seraya menangkup kedua pipinya sendiri.
Syana kembali ke lantai 5 setelah menemui staf HRD. Berdiri di depan pintu ruangannya menyapu seluruh isi ruangan itu. Lalu menatap satu per satu rekan kerjanya. 7 orang. 5 diantaranya adalah rekan lamanya. Yang paling dekat dengannya adalah Kania dan Rindy. Karena hanya mereka lah yang berjenis kelamin perempuan. 2 orang lagi adalah orang baru.
"Selamat pagi, semua. Perkenalkan, saya Hania Larasati. Mulai hari ini saya bekerja di divisi ini. Mohon bimbingannya ya, teman-teman." sapa Syana dengan riang saat menyadari tatapan rekan kerjanya mengarah padanya.
"Hai, aku Kania, ini Teh Rindy. Selamat bergabung di divisi ini. Kita sama-sama berjuang ya. Semangat!" balas Kania seraya mengenalkan rekan kerja sesama wanitanya.
"Yang lain kenalan sendiri." imbuhnya lalu duduk kembali di kursinya, dan yang oasti ulahnya itu mendapat cibiran dari rekannya yang lain.
"Hai, aku Aldo." sapa seorang pria yang Syana kenal sebagai pribadi yang supel dan memiliki selera humor yang baik, berusia lebih tua darinya 2 tahun.
Aldo termasuk rekan kerjanya yang rajin ikut nimbrung obrolannya dengan kedua rekan wanitanya. Tak jarang melempar topik obrolan yang sedang viral. Bergibah dengan pria itu membuatnya kadang lupa jika Aldo adalah seorang pria karena dia bisa mengimbangi obrolannya bersama Kania dam Rindy.
"Hai." balas Syana.
Lalu menyusul Fandy dan Kris, rekan lamanya. Keduanya seusia dengannya hanya berbeda bulan, duluan mereka. Supel dan bersahabat tapi tidak selincah Aldo. Berlanjut dengan 2 orang baru, Jerry dan Rizal. Syana belum bisa menilai karakter 2 rekan kerjanya itu.
Syana menuju kubikelnya. Meletakkan tas ke dalam lemari kecil di bawah mejanya. Matanya melirik tumpukan kertas di samping komputernya. Menghembuskan napas lalu mulai menyalakan komputernya.
"Laporan kalian saya tunggu sampai sebelum jam istirahat ya." suara tegas seorang pria yang tadi memintanya menemui HRD dulu sebelum mulai bekerja kembali terdengar.
Pak Nir, begitulah para staf menyapa pria bernama Nirwan Kurniawan itu. Dia adalah manajer di divisi Syana. Tegas tapi obyektif. Menilai segala sesuatu dari tingkah laku dan hasil kerja stafnya.
Keluh kesah langsung terdengar begitu sang manajer kembali ke ruangannya. Hanya gerutuan dan gumaman sebenarnya tapi karena diucapkan bersamaan jadi terdengar riuh. Syana hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Sudah lama tidak mendapati situasi seperti itu. Jika dulu, dia juga akan ikut menggerutu tapi saat ini, dia hanya bisa menertawakan tingkah rekan-rekannya. Ternyata lucu juga.
Setiap divisi memilki puncak tersibuknya masing-masing dalam setiap bulannya. Tak terkecuali divisi keuangan. Para staf divisi ini bahkan akan lembur hingga larut malam menjelang tutup buku tiap bulannya. Laporan harus sempurna. Itulah mengapa divisi ini harus beranggotakan orang-orang berotak cerdas dan teliti.
Bukan apesnya Syana memulai kerjanya di akhir bulan begini. Tapi karena memang perusahaan itu sedang membutuhkannya secepatnya.
Karena membuat laporan keuangan bukan hal baru bagi Syana, gadis itu bisa dengan cepat menyelesaikannya.
"Laporanmu udah selesai ya, Han?" bisik Kania bertanya penasaran saat suara mesin printer terdengar mencetak hasil ketikan Syana di komputer.
Rekan kerja yang lainnya juga ikut menoleh saat mendengar suara mesin printer di meja Syana.
"Iya, nih, udah." sahutnya seraya menyusun kertas-kertas hasil cetakan mesin printer
"Waah! Daebak!" puji Kania pelan seraya mengacungkan jempolnya, sementara Syana hanya tersenyum.
Syana memeriksa sekali lagi kertas-kertas yang sudah dijilidnya itu. Dan rekan-rekannya kembali melanjutkan keseriusan mereka di depan komputer masing-masing.
"Aku kasih ke Pak Nir dulu, ya." ucapnya pada Kania yang disahuti dengan anggukan.
__ADS_1
Sekembalinya dari ruangan Pak Nir, Syana kembali mengutak-atik komputernya. Niatnya ingin memeriksa laporan keuangan 1 tahun ke belakang. Dimana namanya mulai terseret dalam kasus penggelapan dana perusahaan itu.
Sambil memeriksa, Syana mencoba mengingat kejanggalan pengeluaran dan pemasukan yang sangat besar beberapa bulan yang lalu, yang pernah ditemukannya. Namun karena waktu itu perusahaan juga sedang dalam proses produksi besar-besaran produk baru, dia pun tidak menaruh curiga. Hanya melaporkannya sebagai laporan akhir bulan.
Semakin ditelusuri semakin gadis itu membelalakkan bola matanya.
"Wah! Kalau sebanyak ini, aku bisa jadi jutawan beneran." batinnya dengan mata yang masih fokus pada deretan angka yang tak kecil jumlahnya.
Namun sayang, dirinya hanya dijadikan kambing hitam oleh oknum-oknum yang tengah menikmati hasilnya. Mengingat betapa malang nasibnya, Syana mengepalkan tangan kirinya dan menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Syana!" seru seorang pria yang suaranya sangat dihapalnya membuat gadis itu menoleh.
"Kak!" sahutnya seraya melambaikan tangannya.
Namun senyum Syana seketika surut saat menyadari kebodohannya. Saat itu dia tidak sendiri. Kania, Rindy, dan Aldo juga ada bersamanya. Bahkan kini tengah menatapnya heran dan penuh selidik sekaligus.
"Aduuh.... Kenapa juga Kak Galih manggil Syana segala, sih. Aku 'kan jadi keceplosan." batin Syana seraya meringis menahan debaran karena takut teman-temannya akan mencurigainya.
Galih yang tadi senang bertemu Syana, spontan memanggil namanya dengan lantang. Namun seketika pria itu juga menyadari jika dirinya melakukan kekeliruan. Pria itu juga dapat melihat ekspresi Syana yang berubah. Sepertinya gadis itu juga menyadari kesalahannya.
"Sorry. Saya kira tadi Syana. Dari belakang keliatannya sama." kilah Galih setelah mendekat, mencoba meyakinkan teman-teman Syana yang kini beralih menatapnya, mungkin baru menyadari jika Hania yang di depan mereka itu mirip Syana.
"Eee.... Aku malah ngga ngeh Kak Galih manggil aku dengan nama orang lain. Hehehe...." Syana meringis.
Gadis itu memutar otaknya mencari jawaban yang paling mungkin meski tetap saja terdengar tidak mungkin karena suara Galih terdengar cukup lantang menyebut nama Syana tadi, membuat ketiga temannya menggelengkan kepalanya dengan alasan Syana. Entah apa yang mereka pikirkan yang penting bagi Syana mereka tidak bertanya macam-macam.
"Kak? Kamu manggil Pak Galih, Kak?" tanya Kania membuat Rindy dan Aldo kembali menatapnya.
"Eee.... Itu. Kak Galih, dia temannya Kakakku jadi aku kenal. Iya. Begitu. Hehehe...." Syana tertawa canggung, tapi teman-temannya percaya.
Syana tidak sepenuhnya bohong. Bukankah Galih temannya Iden? Dan sekarang Iden telah menjadi Kakaknya.
"Kalian mau makan siang?" tanya Galih basa-basi.
"Iya, Pak." sahut Kania dan Aldo bersamaan sementara Rindy masih menatap Syana dalam diamnya.
"Ummm.... Kalau gitu, Sya, eh, Hanianya saya pinjam, boleh?" Galih hampir saja keceplosan lagi tapi sepertinya teman-teman Syana tidak terlalu perhatian karena kini, selain Aldo kedua wanita itu sudah terpesona dengan wajah ganteng Galih.
Galih mengajak Syana makan siang di kafe yang tidak jauh dari perusahaan tempatnya bekerja, hanya berjarak 4 gedung perkantoran. Pria gagah itu tidak mau para karyawan terlalu memperhatikan interaksinya dengan Syana, apalagi sampai menguping obrolan mereka berdua.
"Kamu udah dapat buktinya?" tanya Galih sambil menunggu pesanannya datang.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!
__ADS_1
🥰🥰🥰