Yang Terakhir

Yang Terakhir
37. Pikiran Mesum


__ADS_3

Tiara ngambek. Begitulah keadaannya sekarang. Gadis kecil itu tidak mau menemui Arga untuk ketiga kalinya kedatangan Arga ke rumah Hania. Arga menghela napasnya lalu menghembuskannya dengan berat. Dia merindukan gadis kecil berlesung pipi itu.


"Mas mau minum apa? Kopi mau?", Arga hanya mengangguki tawaran Hania.


Apa sajalah jika yang membuatnya adalah Hania, dia akan menerimanya dengan sukarela. Bukankah itu wujud dari perhatian Hania? Dan dia menginginkannya.


"Kenapa lama banget ngambeknya? Memangnya dia marah banget ya sama aku?", tanya Arga ketika Hania kembali dengan secangkir kopi hitam untuk Arga dan secangkir teh untuk dirinya, tak lupa sepiring kue pandan yang tadi dibuatnya.


Hania mendudukkan dirinya di samping Arga yang sedang membaca email dan membalasnya dari ponselnya. Sepertinya pria tampan itu sibuk.


"Tiara memang suka naik wahana-wahana kayak gitu Mas, dia ngga ada takut-takutnya. Semua mau dicobanya", terang Hania.


"Tapi kan wahana-wahana yang ada disana kayak ngga dirawat dengan baik Han, udah keropos dimana-mana. Aku khawatir aja kalau wahana itu tiba-tiba patah terus...", Arga berargumen tapi kemudian terpotong.


"Ngga Mas, bayangan kamu terlalu jauh. Memang sih, perawatannya ngga sebanding sama yang disana-sana itu. Tapi kan pemakaiannya juga ngga sesering yang disana-sana itu", ucap Hania memotong ucapan Arga.


Hania hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum mengetahui kekhawatiran Arga. Ternyata pria tampan yang duduk disebelahnya itu memiliki jiwa proteksi yang tinggi. Tentu saja kedepannya akan banyak perdebatan yang muncul antara pria tampan itu dengan putrinya.


"Tapi tetap saja ngga aman", ucap Arga mempertahankan argumennya lalu menyeruput kopi hitam buatan Hania.


Arga meresapi rasa kopi itu. Rasanya pas di lidahnya. Ada sedikit rasa manis tapi rasa pahitnya cenderung lebih kental. Dia suka rasa kopi yang seperti itu.


"Kopi ini takarannya pas, sesuai seleraku", ucap Arga lalu menyeruputnya lagi.


"Ohya? Padahal aku ngga tau lo, kalau buat kopi memang segitu sih takaranku", sahut Hania.


"Syukurlah kalau pas", lanjut Hania, lalu ikut menyeruput teh chamomilenya.


"Makasih ya, Mas udah khawatir sama Tiara", ucap Hania setelah hening sesaat.


"Aku udah jatuh sayang sama Tiara, jadi yang aku lakukan kemarin itu karena aku ngga mau orang yang kusayang kenapa-kenapa", ungkap Arga sambil menatap mata kelinci Hania.


Mata kelinci yang membuat jantungnya berdetak kencang dan darahnya berdesir, juga membuatnya frustrasi, kini pemiliknya sudah ada didepan matanya tapi masih jauh dari gapaiannya. Hanya saja jalannya seperti mulai terbuka. Wanita cantik itu mulai menerima kehadirannya. Arga dapat merasakannya.


Arga harus bersikap hati-hati. Wanita yang berhasil menelusup masuk ke hatinya itu sangatlah rapuh. Salah jalan bisa menghancurkan harapannya. Bagaimanapun juga perjuangan wanita itu untuk pulih dari trauma dan sakitnya sangatlah berat, lebih berat darinya. Hania mungkin menerima kehadirannya tapi untuk membuka hatinya lagi, rasanya memerlukan perjuangan yang tidak main-main. Argapun merasakan tebalnya dinding yang membentengi wanita idamannya itu.

__ADS_1


Senja semakin larut, adzan maghrib berkumandang bersahut-sahutan. Arga yang masih betah disana terpaksa pamit pulang. Rasanya kalau boleh, dirinya akan bermalam saja di rumah Hania.


"Mas sholat kan?", tanya Hania ragu karena dia tidak tahu keyakinan Arga, tapi perasaannya mengatakan pria tampan itu memiliki keyakinan yang sama dengannya.


"Iya", sahut Arga sambil menoleh, Hania tersenyum lega, dugaannya benar.


"Mau di sini atau di masjid? Kalau di masjid, Mas bawa motor aja, lumayan kalau jalan kaki", tawar Hania sambil menyodorkan kunci motornya.


"Di sini aja, mau ngimamin kamu", sahut Arga seraya menggoda Hania.


Digoda begitu, Hania hanya tersenyum. Tapi dirinya tidak menampik bahwa kata-kata Arga terdengar romantis. Seperti sebuah rayuan, membuat Hania tersanjung.


Hania mengajak Arga ke ruang tengah. Ruangan yang lebih luas dari ruang tamu. Ada satu set sofa yang diatur menghadap tv, satu set meja makan untuk 6 orang, dan disudut ruangan ada semacam tempat beribadah yang bersebelahan dengan taman kecil. Terasa sejuk. Arga menuju tempat berwudlu yang tidak jauh dari tempat ibadah itu. Sementara Hania menyusul Tiara ke kamarnya, mengajaknya beribadah bersama.


"Mas makan malam disini aja sekalian ya?", tawar Hania.


Tentu saja tawaran itu disambut dengan suka cita oleh Arga. Membuatnya bisa berlama,-lama di rumah itu. Hania langsung ke dapur menyiapkan makan malam. Sedangkan Arga, dia kini sedang berusaha merayu Tiara.


"Cantik, serius banget nontonnya", sapa Arga.


"Ngga kangen sama Oom nih?", goda Arga.


Tiara masih diam seribu bahasa. Hanya ekspresi wajahnya yang berubah-ubah menanggapi godaan Arga. Kadang cemberut, mendengus, menahan tawa, dan membuang muka ketika dia tidak bisa menahan tawanya. Semua gerak gerik Tiara tidak luput dari perhatian Arga. Sungguh lucu dan menggemaskan dimatanya. Tidak tahan, akhirnya Arga menggelitiki putrinya Hania itu. Tawa terpingkal-pingkal Tiara pecah seketika.


"Aduh Oom, geli, ampun Oom, udah Oom udah, geliii!", jerit Tiara disela tawanya.


"Masih marah? Oom dimaafin ngga nih?", tanya Arga sambil menggelitiki Tiara.


"Iya, iyaaa... Tiara udah maafin Oom", sahut Tiara dengan napas ngos-ngosan.


"Oke! Deal ya, gadis cantik ini ngga marah lagi?, ucap Arga menyudahi aksinya menggelitiki Tiara.


"Deal!", sahut Tiara seraya menyodorkan jari kelingkingnya lalu Arga menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Tiara.


"Tuh kan Oom, Tiara kelewatan filmnya", keluh Tiara sambil melirik Arga yang melingkarkan lengannya ke leher gadis kecil itu, Pria itu hanya mengendikkan bahu seraya tersenyum seolah berkata, maaf.

__ADS_1


Mendapat tanggapan seperti itu, Tiara menoleh pada film kartun kesukaannya dengan wajah cemberut dan kembali serius. Arga yang merasa diacuhkan bangkit dan menyusul Hania. Berniat membantu wanita cantik itu.


Arga menatap punggung wanita cantik yang sekarang menjadi idamannya itu. Terlihat seksi ketika wanita itu serius mengolah makanan untuk makan malam mereka. Rambutnya dicepol asal hingga tampak sedikit berantakan menyisakan rambut yang tidak ikut terikat ke atas. Leher putihnya yang jenjang terekspos sempurna di mata Arga.


Melihat pemandangan itu, hasrat lelaki Arga seketika bangkit. Dia sering melihat wanita nyaris tanpa busana saking minimnya pakaian yang dikenakan tapi tidak pernah sekalipun dirinya tertarik. Bahkan dirinya ragu apakah masih memiliki hasrat pada wanita. Tapi malam ini leher jenjang nan mulus milik Hania membuktikan dirinya belum kadaluarsa.


Tatapannya semakin liar menelusuri tubuh Hania. Menatap pinggang ramping yang pernah dipeluknya itu. Dan sekarang, matanya yang tajam itu menatap bokong Hania. Begitu bulat dan berisi. Membuatnya menelan ludah. Ingin sekali memeluk wanita cantik itu. Menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya lalu menyesapnya sepuasnya sambil meremas bokong indah itu. Ingatannya melayang pada kejadian tempo hari dimana dirinya dengan nyamannya memeluk tubuh Hania. Dada Hania yang lembut menempel sempurna di dadanya. Semakin membangkitkan gairahnya yang mati suri.


"Aduh!", keluh Hania seketika menyadarkan Arga dari pikiran mesumnya.


Arga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menghela napas dan menghembuskannya dengan berat. Dirinya tidak habis pikir kenapa bisa pikirannya semesum itu. Sudah lama sekali dirinya tidak begitu.


"Ada yang bisa kubantu?", tanya Arga yang sudah berdiri di belakang Hania.


Hania menoleh lalu menunjuk rak teratas kitchen set. Dirinya ingin mengambil stok bumbu disana tapi tidak sampai meski sudah berjinjit, malah kejatuhan bumbu yang lain. Arga mendekat dan mengambilkannya untuk Hania.


Posisi tubuh mereka sangat dekat nyaris menempel. Hania bisa mencium aroma parfum pria tampan itu. Dadanya yang menempel dipunggung Hania terasa kokoh membuatnya berdebar. Dia teringat pernah memeluk tubuh atletis itu. Membuatnya merasa nyaman. Sudah lama Hania tidak merasakan gejolak seperti saat ini. Tidak juga saat Galih memeluknya.


Hania langsung tersadar ketika Arga menarik tubuh Hania yang hampir kejatuhan piring karena secara tak sengaja, Arga menyenggol piring yang berada dibawah rak bumbu tadi. Mereka terhuyung bersama tapi untungnya tubuh Arga menatap meja. Kini bokong Hania tepat mengenai senjata pusaka Arga. Membuatnya sedikit meringis. Ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan. Dan benda itu terasa ngilu akibat benturan tadi.


Tiara yang mendengar keributan di dapur langsung berlari kesana.


"Mama? Oom? Kok malah pelukan sih?" tanya Tiara polos, otak kecilnya belum sampai untuk memikirkan hal-hal mesum.


Mendengar teguran Tiara, dua orang dewasa yang larut dalam pikiran mesum mereka seketika tersadar. Hania bergegas berdiri sempurna, begitupun dengan Arga. Keduanya tampak salah tingkah. Tiara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlalu dari dapur.


"I ini udah selesai kan?", tanya Arga memecah kecanggungan, Hania mengangguk, canggung.


"Aku bawa ke depan ya", tawar Arga lagi, Hania mengangguk lagi.


Hania menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Apa-apaan tadi itu? Kenapa bisa mikir mesum begitu? Ah, Hania. Dekat dengan pria seksi itu membuat imajinasinya menjadi liar.


Makan malam yang canggung malam itu. Hania dan Arga tak banyak bicara. Hanya saling melirik dan berdehem. Tiara yang polos, pikirannya belum sampai pada tahap aneh-aneh bersikap biasa saja.


*******

__ADS_1


Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan votenya 😊😊😊


Terimakasih


__ADS_2