Yang Terakhir

Yang Terakhir
78. Tak Sebanding


__ADS_3

Hania mengerjapkan matanya ketika sentuhan lembut mengusap lengannya. Wanita cantik itu menolehkan kepalanya ke kanan. Tiara tengah duduk di tepian ranjangnya.


"Hai, sayang. Kamu udah bangun?" tanya Hania dengan suara serak khas bangun tidur, yang diangguki putrinya itu.


Wanita cantik itu mendongakkan kepalanya melihat jam digital di atas nakas di samping ranjang. Jam 6. Jam 6? Hania langsung bangkit dari posisi rebahannya. Menatap keluar jendela. Remang-remang. Terdengar suara adzan berkumandang di kejauhan. Hah. Ternyata masih sore. Dia menghela napas lega. Dirinya sempat mengira hari sudah berganti dan jam digitalnya menunjukkan jam 6 pagi. 


Hania sangat mengantuk hari ini. Sepulang dari rumah sakit dan menjemput Tiara, wanita lembut itu langsung mandi dan berganti pakaian dengan daster rumahan bermotif bunga sepatu tanoa lengan sebatas lutut. Lalu segera merebahkan diri di ranjangnya yang terlihat sangat nyaman lalu tertidur. 


"Sayang? Kamu udah lapar? Maaf Mama kelamaan tidurnya." ucap Hania lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi.


"Iya. Mama tidurnya lama. Aku bangun tidur, semua gelap." protes Tiara yang masih duduk di tepi ranjang Hania.


"Kamu takut?" tanya Hania seraya menoleh, dia merasa bersalah.


"Ngga. Kan aku sambil baca doa dalam hati." sahut Tiara bangga, membuat Hania gemas.


"Mama cuci muka dulu ya, kamu tunggu di sini atau di depan tv?" tawar Hania sebelum dirinya memasuki kamar mandinya.


"Aku tunggu di luar aja, mau nonton upin ipin." jawab Tiara.


"Ya sudah, jangan lupa lampunya dinyalain, ya?" pungkas Hania.


Wanita cantik itu membasuh muka dan menggosok giginya. Tak berselang lama, Hania keluar dengan wajah segar dan rambut yang sudah dicepol. Dia segera menyusul putrinya. Keluar kamarnya. Hania melewati putrinya yang tengah cekikikan menonton film kartun kesukaannya. Dapur adalah tujuannya. Membuat makan malamnya berdua dengan Tiara. Hari ini, Hania sengaja tidak ke restoran. Tugasnya di gantikan Ferry.


"Ma? Om Arga ngga ke sini?" tanya Tiara yang sudah menyusulnya ke dapur.


"Hum? Kayaknya ngga deh. Om Arga lagi sama teman-temannya yang baru datang dari luar kota." sahut Hania.


Arga tadi mengatakan keempat pria tampan yang mengunjunginya adalah para sahabatnya. Mereka tinggal di kota lain dan bahkan salah satu dari mereka tinggal di luar negeri.


"Jadi, ngga makan malam sama kita?" tanya Tiara lagi, gadis kecil itu sudah terbiasa dengan kehadiran Arga di meja makan mereka ketika makan malam.


"Ngga, sayang." sahut Hania seraya menata makanan yang sudah matang di meja makan.

__ADS_1


Hania dapat melihat aura kecewa di wajah putrinya. Tapi gadis kecil itu harus tahu, Arga punya kehidupan lain miliknya sendiri. Pria itu tetap harus berada di sana. Di tengah-tengah lingkaran pergaulannya. Tidak mungkin meninggalkannya begitu saja.


Hania sudah melihat bagaimana pergaulan Arga. Pria itu sama seperti pria kaya lainnya. Teman-teman Arga adalah orang-orang kelas atas. Seingatnya tadi, sahabat-sahabat Arga yang ditemuinya hari ini adalah pemilik perusahaan besar di negeri ini. Atau akan menjadi pewarisnya. Sangat berbeda dengannya. Hania hanyalah seorang wanita dari keluarga sederhana. Sudah lama hidup sebatang kara. Teman-temannya juga berasal dari lingkungan yang sama dengan latar belakang yang sama. Tidak mengenal club malam kelas atas, barang-barang branded, atau perlakuan istimewa. Dia terbiasa diabaikan.


Kehidupannya yang sekarang pun tak lepas dari peran Niken. Meski dirinya memiliki keahlian yang berkualitas, tanpa campur tangan Niken yang mendukungnya secara materi, dirinya akan tetap seperti Hania yang dulu. Pemilik rumah makan yang biasa-biasa saja. Meski tak dipungkiri, karena kecerdasan dan kerja kerasnya juga lah restorannya berkembang dengan baik.


Pun pergaulan sosialitanya. Tanpa dipaksa Niken, dia tidak mungkin mengenal dan dikenal kalangan high end.


Tanpa campur tangan Niken, Hania mungkin hanya seorang pemilik restoran dan penulis buku-buku resep masakan tanpa pergaulan kelas atas.


Wanita itu sangat menyadari dimana dirinya bertemu Arga. Di pesta pernikahan Laras-Dio. Pernikahan dua insan pewaris perusahaan besar. Di pernikahan tersebut, banyak berkumpul kalangan high end. Termasuk Arga. Yang kemudian melihatnya dan tertarik ingin berteman dengannya. Mungkin Arga sama dengan pria lain yang ingin mendekatinya karena parasnya tapi pikiran itu segera ditepisnya. Pria kaya itu dikelilingi wanita-wanita cantik, seksi, dan setara dengannya. Tidak mungkin Arga tertarik mendekatinya karena parasnya. Tak sebanding.


"Ma? Mama, ih. Dipanggil-panggil ngga dengar." Tiara mengguncang lengan Hania, membuat wanita cantik itu tersadar dari lamunannya.


"Eh? Ya sayang, ada apa?" tanya Hania sembari menetralkan degup jantungnya yang berdetak kecang karena terkejut.


"Abis makan aku mau telpon Om Arga." ucapnya lalu menggigit ayam krispinya.


"Eh, jangan dong sayang. Nanti ganggu Om Arga lagi. Siapa tau kan, Om Arganya sedang ngobrol tentang pekerjaan." cegah Hania.


"Besok, kalau Om Arga sudah lengang waktunya, pasti dia ke sini lagi. Ya?" Hania berusaha memberi Tiara pengertian.


Dan makan malam malam itu berakhir hening. Biasanya jika Arga di sana, pria tampan itu akan mengajak Tiara bermain terlebih dahulu. Sebelum maupun sesudah makan malam. Atau membantu Hania membersihkan bekas makan mereka bersama.


Ya. Sudah semembekas itu keberadaan Arga di sekitar Hania. Tapi wanita cantik bermata kelinci itu masih menganggap bahwa perlakuan Arga kepadanya hanya karena Arga adalah orang baik yang berlaku baik.


Di tempat lain, ibunya Arga sedang ikut bercengkrama dengan para sahabat Arga. Mereka sedang berkumpul di sebuah restoran favorit sang ibu. Restorannya Hania. Rasa Sayang Resto. Ibunya Arga mengundang semua sahabat Arga yang kebetulan sedang berkumpul sekaligus ingin merayakan hari lahir Arga secara kecil-kecilan. Tidak ada kue ulang tahun atau tumpeng nasi kuning. Hanya makan-makan. Meskipun terlambat 1 hari karena tepat hari H, sang ibu masih berada di luar kota, tidak mengurangi rasa syukur sang ibu dan pastinya Arga.


Sembari menunggu pesanan datang, Arga berkeliling ke penjuru restorannya Hania, mencari wanita cantik itu. Dia juga ingin berbagi kebahagiaan di hari spesialnya dengan Hania. Akan menyempurnakan hari spesialnya jika wanita cantik pujaannya juga ikut hadir dan mendoakannya, pikirnya. Hania belum mengucapkan selamat padanya. Atau mungkin saja wanita itu belum tahu tentang hari spesialnya. 


Dia ingat, di malam para sahabatnya merayakan hari lahirnya, malah mendapat petaka yang berakhir dengan dirinya dibawa Hania ke rumah sakit dan melewatkan hari spesialnya tanpa sadarkan diri di sana.


"Pak Ganteng? Kok ada di sini? Bapak mau ke toilet?" tegur seorang karyawati yang mengenali Arga.

__ADS_1


"Ah. Bukan. Saya ingin bertemu Hania." sahutnya dengan gaya cool nya.


"Oh. Maaf. Bu Hania hari ini libur. Apa Bi Hania ngga ngabari Bapak? Hari ini ibu di ganti Mas Ferry." cerocos karyawati tadi.


"Begitu? Mungkin saja dia sudah ngabarin tapi ponsel saya off, lobet." Arga menyesal tidak memeriksa ponselnya sepulangnya dari rumah sakit, ternyata benda pipih itu sudah kehabisan daya ketika akan dibawanya tadi.


"Ya sudah. Terimakasih, ya." Arga meninggalkan karyawati tadi.


"Uuuh... Gantengnya! Apalagi kalau dilihat dari dekat. Serasi deh sama Bu Hania." puji karyawati itu, kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.


Arga kembali ke ruangan VIP dimana ibu dan sahabat-sahabatnya berkumpul. Makanan pesanan mereka sudah tertata di atas meja. Sedikit rasa kecewa karena tidak bertemu Hania dan bahkan tidak tahu kabar wanita itu sepulangnya dari rumah sakit.


"Ada yang bawa charger?" tanya Arga sambil menatapi sahabatnya satu per satu.


"Dateng-dateng tanya charger, ngga jelas." ledek Iden.


"Ponsel Lu off? Tumben banget." timpal Raka seraya terkekeh.


"Berasa hampa kan ya tanpa ponsel." ejekan terus berlanjut.


Arga hanya mendengus. Para sahabatnya itu, bukannya menjawab dan membantunya mencari charger malah sibuk meledeknya. Membuatnya kesal.


Beruntung tadi dia sempat mengultimatum para sahabat yang mulutnya seperti ember bocor kalau sedang berkumpul.


"Guys! Jangan ungkit soal Hania di depan nyokap Gue!" tekan Arga pada Iden dan yang lainnya.


"Kenapa? Kan bagus. Jadi nyokap Lu ngga jodoh-jodohin Lu lagi sama perempuan-perempuan cantik lainnya?" sahut Rizal.


"Ada saatnya Gue ngomong sama nyokap. Tapi sekarang belum." jawab Arga.


Iden hanya diam saja. Dia tidak akan mendahului Arga. Meskipun dia tahu siapa Hania dan seberapa dekat mereka berdua tapi pria flamboyan itu menghormati sahabatnya itu.


Sebagai sahabat yang sudah solid, para sahabat Arga yang lain juga menghormati keputusan Arga dan akan merahasiakan yang menjadi rahasia Arga. Pun satu sama lainnya. Artinya, rahasia diantara mereka berlima tidak akan keluar kemana-mana.

__ADS_1


*******


Thanks for reading!


__ADS_2