Yang Terakhir

Yang Terakhir
126. Terpuruk


__ADS_3

Seorang pria tampan berhidung mancung dan berkulit putih melenggang penuh pesona memasuki restoran milik Hania. Tinggi tubuhnya yang menjulang, sontak membuatnya langsung menjadi pusat perhatian pengunjung restoran yang sebagian besar kaum hawa itu. Pria itu terus melangkah masuk semakin ke dalam menuju meja kasir. Di tengah ruangan, seorang wanita cantik dan seksi yang mengenalnya, menyapanya.


"Pak Arga?" pria tampan yang disapa Arga itu menoleh ke arah suara.


"Anda sudah ditunggu di ruang privat. Mari." sambut wanita itu.


Arga mengangguk dan mengikuti wanita cantik dan seksi itu menuju ruangan yang dimaksud. Hari itu, dirinya memiliki janji temu dengan seorang klien di restoran itu yang tidak bisa digantikan. Sebenarnya dia tak datang sendiri. Asistennya masih tertinggal di mobilnya untuk mengatur ulang jadwalnya karena beberapa hari belakangan dirinya hanya berfokus pada kesembuhan Hania.


Setibanya di ruangan itu, wanita cantik dan seksi tadi membukakan pintu untuknya. Sebuah senyum manis dan menggoda tersungging di bibirnya. Seperti yang sudah-sudah, pria karismatik itu akan mengabaikannya. Apalagi saat ini, sudah ada Hania pengisi hatinya.


"Pak Arga. Silakan." sambut seorang pria yang mungkin seusia dengannya seraya mengulurkan tangannya.


"Pak Rangga. Terimakasih." Arga menyambut uluran tangan pria yang disapanya Rangga itu seraya tersenyum.


Kedua pria yang sama-sama pimpinan di perusahaannya masing-masing itu sedikit berbasa basi untuk mencairkan suasana agar lebih nyaman dan akrab sebelum memulai pembicaraan yang lebih serius mengenai kerjasama mereka, sembari menunggu Reza, asisten Arga.


Selama Hania dirawat, Arga tak pernah sekalipun meninggalkannya jika tidak ada hal yang sangat mendesak. Biasanya untuk pertemuan-pertemuan dengan klien, Arga memerintahkan Reza atau Iden untuk menggantikannya. Tapi kali ini, Rangga hanya ingin bertemu dengannya. Mengingat kerjasama kedua perusahaan sudah berlangsung lama dan sukses, baik Arga maupun Rangga akan selalu meluangkan waktu untuk bertemu karena Rangga yang tinggal di luar pulau hanya sesekali datang berkunjung. Begitu pula sebaliknya, jika Arga berkunjung ke kotanya Rangga. Pria itu juga akan langsung menemuinya.


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya putri anda. Maaf saya ngga bisa langsung datang untuk berbelasungkawa." ucap Rangga ditengah-tengah obrolan ringan mereka.


Arga memang dikenal sebagai duda dan belum menikah lagi. Tapi beberapa mitra kerjanya yang sudah lama menjalin kerjasama dengannya sudah mendengar kabar bahwa Arga sedang dekat dengan seorang wanita cantik dan menganggap putri wanita itu sebagai putrinya sendiri.


"Terimakasih. Saya tau anda sangat sibuk, Pak Rangga." ucap Arga seraya tersenyum getir.


Hati Arga masih berdenyut nyeri ketika ada pihak yang menyinggung kematian Tiara. Pria dewasa itu masih merasa sangat kehilangan gadis kecil yang sudah dianggap putrinya sendiri itu.


Wanita cantik dan seksi yang ternyata sekretarisnya Rangga itu, sedari tadi terus menatapi Arga. Entah kenapa pesona duda tampan itu begitu menarik perhatiannya. Padahal, Rangga yang juga sugar daddynya, juga tak kalah tampan dan menawan. Bahkan dirinya sudah merasakan kasih sayang dan kehebatan pria itu di atas ranjang. Gairah mudanya seketika bergejolak setiap bertemu Arga. Sikap abai dan dingin Arga membuatnya penasaran.


"Maaf, sepertinya saya harus meninggalkan anda sebentar untuk menerima panggilan ini." Rangga menunjukkan ponselnya yang terus bergetar dalam genggamannya.


"Ya, silakan. Gunakan waktu anda seperlunya." Arga mempersilakan Rangga dengan sopan.


Sepeninggal Rangga, hanya ada Arga dan sekretaris cantik dan seksi itu dalam ruangan privat itu.


"Silakan, Pak Arga." sekretaris itu meletakkan segelas orange juice di hadapan Arga.


Wanita itu dengan sengaja menundukkan tubuhnya sehingga menampakkan belahan dadanya. Dan tanpa sengaja terlihat oleh Arga. Pria itu menghela napasnya. Dia kesal. Namun masih bersikap biasa saja.


"Pak Arga ini ternyata sesuai dengan rumor yang beredar ya. Tidak banyak bicaranya." wanita itu mulai memancing obrolan dengan Arga seraya mendudukkan tubuh seksinya tak jauh dari kursi yang Arga duduki.


Arga menoleh ke arahnya dan menatap tajam wanita itu.


"Tapi justru sikap itu membuat anda jadi terkesan karismatik." lanjut sekretaris itu seraya menggigit bibir bawahnya dan memainkan ujung rambutnya yang diikat pony tail.


"Terimakasih." ucap Arga masih menatap wanita itu.


"Anda sudah punya putri? Saya terkejut mendengarnya barusan. Saya juga turut berduka cita atas meninggalnya putri anda." wanita itu mulai mendekatkan duduknya.


Arga hanya menganggukkan kepalanya. Mata tajamnya masih memperhatikan sekretarisnya Rangga itu.


"Apa anda juga termasuk laki-laki yang irit bicara pada perempuan?" pancing wania itu.


"Apa maksudmu!?" Arga balas bertanya dengan dingin.


"Kita sudah bertemu beberapa kali, Pak Arga. Tapi anda sepertinya tidak tertarik untuk mengobrol dengan saya." sahutnya.


"Saya bisa jadi teman ngobrol yang asik lho." wanita itu mulai merayu Arga.


"Terimakasih. Tapi saya sedang tidak ingin mengobrol." Arga menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang didudukinya dan melipat tangannya di dadanya.


"Sepertinya anda sedang banyak pikiran. Saya ngga salah tebak 'kan?" ucap wanita itu dengan percaya diri.

__ADS_1


Arga tersenyum sinis. Matanya melirik wanita itu sekilas. Dasar penggoda!


"Saya bisa jadi pendengar yang baik untuk anda." tangan wanita itu terulur mengusap lengan Arga seraya tersenyum menggoda.


Arga seketika mengeraskan rahangnya seraya menatap lengannya yang diusap-usap wanita cantik itu. Dengan kasar Arga menyentak tangannya hingga usapan wanita itu terlepas. Pria itu kembali mengalihkan tatapannya ke arah sekeretarisnya Rangga sembari menghunuskan tatapan tajamnya.


"Apa yang kamu lakukan!? Apa begini yang kamu maksud bisa jadi pendengar yang baik!?" sindir Arga dingin.


Pria tampan itu sudah kesal. Dan jika sudah begitu, mode dinginnya aktif seketika.


"Ah. Maaf. Saya berekspresi berlebihan." sahut wanita itu dengan wajah pura-pura memelas.


"Saya ngga membutuhkan pendengar lain lagi. Saya sudah punya pendengar yang sempurna!" tolak Arga dengan tegas.


"Dia bener-bener wanita yang beruntung." puji wanita itu dengan perasaan yang kesal.


"Justru saya yang beruntung dipertemukan dengannya!" Arga menegaskan level wanitanya.


"Dan saya sangat mencintainya!" ucap Arga penuh penekanan.


"Perlu saya tegaskan, perempuan sepertimu yang bisanya menggoda pria mapan, sama sekali bukan kriteria perempuan idaman saya. Dan kamu ngga sebanding dengannya!" kali ini lidah pedas Arga benar-benar membuat sekretarisnya Rangga itu menciut.


"Keluar!" hardik Arga membuat wanita itu tersentak.


Bukannya pergi setelah diusir Arga, wanita itu malah menatapnya lekat dan diam saja.


Arga bangkit dari duduknya dan menjauh dari sekretarisnya Rangga. Pria itu sudah bukan kesal lagi tapi geram. Jika tidak menghargai Rangga, sudah pasti dia akan meninggalkan ruangan itu saat itu juga.


Klek!


Mendengar pintu dibuka, Arga membalik tubuhnya yang tadinya menatap keluar jendela kaca besar itu.


"Maaf, saya kelamaan ya?" ucap Rangga yang merasa tak enak hati.


Tok tok tok!


Reza muncul seraya menyunggingkan senyum manisnya. Lalu duduk di sebelah Arga.


"Pak Rangga." sapa Reza seraya menundukkan kepalanya.


"Pak Reza. Silakan." sambut Rangga seraya tersenyum.


Reza juga melempar senyum manisnya pada sekretarisnya Rangga yang dibalas tak kalah manisnya.


Sementara itu, Galih yang baru tiba di bandara Soetta, langsung menuju rumah sakit dimana Hania dirawat. Pria itu langsung berangkat ke ibukota begitu pekerjaannya selesai. Sudah 3 hari sejak dirinya mengetahui keadaan sahabat cantiknya itu.


Dan di sanalah pria tegap itu berada saat ini. Di depan sebuah ruang VIP. Galih mengetuk pintu ruang rawat tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk. Entahlah. Saat ini rasanya hanya ingin memeluk sahabatnya itu saja.


Klek!


Pintu terbuka dan menampilkan sosok Lisa dari balik pintu itu. Mata gadis itu membulat. Dia tak percaya Galih sedang berdiri di hadapannya. Antara senang dan cemas.


"Pak Galih?" sapa Lisa.


Galih langsung masuk ke dalam ruangan itu. Dilihatnya Hania sedang tertidur pulas. Wajahnya pucat.


"Bu Hania baru aja tidur." ucap Lisa memecah keheningan.


Galih mengangguk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan itu.


"Kemana Arga?" tanyanya datar.

__ADS_1


"Oh, Pak Ganteng lagi ketemu sama kliennya." sahut Lisa.


"Dia malah asik kerja." gerutunya.


"Pak Ganteng maksudnya?" tanya Lisa yang mendengar gerutuan Galih.


"Siapa lagi Lis?" Galih terlihat kesal.


"Ooh. Biasanya juga Pak Ganteng nungguin Bu Hania terus bahkan kerjaannya dibawa ke sini. Baru sekarang dia nemuin kliennya langsung. Biasanya Mas Reza yang gantiin." terang Lisa setengah membela Arga.


Galih memilih tidak melanjutkan obrolannya dengan Lisa. Gadis manis itu seperti lebih memihak Arga. Membuatnya semakin kesal. Pria bertubuh atletis itu mendudukkan dirinya di kursi di samping brangkar Hania.


"Lepas!" pekik Hania yang langsung membuka matanya dan terduduk.


Rupanya wanita cantik itu bermimpi buruk lagi. Lisa yang hendak masuk ke dalam kamar mandi di ruangan itu, langsung berbalik dan mendekat pada Hania. Sementara Galih tercenung. Pria berwajah manis itu terkejut tiba-tiba sahabat cantiknya itu terbangun dalam keadaan setengah mengigau begitu.


"Bu Hania." sapa Lisa menyadarkan Hania.


Wanita cantik itu menoleh ke arah Lisa namun tatapannya kosong.


"Bu Hania haus? Mau minum? Aku ambilin ya?" tawar Lisa yang diangguki Hania.


Tatapan Hania beralih pada Galih yang sedari tadi menatapnya dengan hati yang berdenyut nyeri. Banyak pertanyaan yang ingin diajukannya pada Hania. Tapi melihat kondisi wanita itu, sepertinya memang benar wanita itu terguncang. Membuatnya harus menahannya.


Melihat Galih seketika ekspresi Hania berubah menjadi tegang. Matanya terus menatap pria itu tanpa berkedip. Tubuhnya juga kaku. Sikapnya seperti sedang waspada.


"Hania? Ada apa?" tanya Galih yang merasa bingung dengan perubahan ekspresi Hania apalagi sembari ditatap tajam begitu.


"Bu Hania. Ini Pak Galih. Apa ibu lupa? Pak Galih ini 'kan sahabat ibu." ucap Lisa yang segera menghampiri Hania yang dilihatnya tampak menegang.


Lisa ingat pesan Arga. Atasannya itu akan merasa khawatir jika melihat pria lain, meskipun sebelumnya sudah mengenal pria itu. Jika kebetulan ada pria lain yang datang, Arga meminta Lisa untuk terus mendampingi Hania dan pelan-pelan memberitahu siapa pria itu. Lisa melihat sendiri bagaimana reaksi Hania ketika melihat Ferry, lalu Iden dan Reza. Dan sekarang Galih.


Entah kebetulan atau bagaimana, bentuk tubuh para pria itu mirip semua. Tinggi dan atletis. Arga tidak menjelaskan secara detil kenapa sikap Hania berubah begitu ketika melihat pria bertubuh tinggi dan atletis. Pria yang disebutnya 'Pak Ganteng' itu hanya mengatakan bahwa penculiknya adalah mantan sahabatnya yang memiliki bentuk tubuh yang sama dengannya dan para pria itu.


"Ada apa Hania? Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu liat aku kayak liat penjahat aja." goda Galih.


"Ke... ke... kenapa dia di sini?" tanya Hania terbata dengan tatapan yang msih mengarah pada Galih.


Lisa langsung menegang ketika Hania bereaksi seperti menolak kehadiran Galih. Gadis berkaca mata itu menatap Galih dengan cemas.


"Hania? Tentu aja aku datang buat jenguk kamu. Memangnya mau apalagi?" sahut Arga.


Sebenarnya Galih merasa kebingungan dengan perubahan sikap Hania yang menjadi tegang ketika melihatnya. Begitu pula dengan sikap Lisa yang menjadi cemas ketika Hania menegang.


"Pergi!" pekik Hania mengusir Galih.


Galih terhenyak begitu pula dengan Lisa. Gadis itu malah gemetar.


"Bu Hania. Tenang ya. Ini hanya Pak Galih." Lisa mencoba menenangkan Hania.


"Pak Galih, sebaiknya bapak tunggu di luar dulu ya?" pinta Lisa dengan wajah panik.


"Pergi!" pekiknya lagi.


Airmata Hania sudah mulai menggenang dipelupuk matanya. Lisa yang sudah tidak tahan lagi langsung memeluk atasannya itu.


Galih langsung bangkit dan keluar dari ruang rawat Hania. Dengan emosi pria bertubuh atletis itu meninju dinding di hadapannya. Hatinya benar-benar sakit melihat sahabat yang dicintainya terguncang begitu. Dia pernah melihat Hania terpuruk karena penghianatan mantan suaminya dulu. Kini, dirinya harus melihat wanita itu mengalaminya lagi. Sebenarnya apa yang terjadi?


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya ... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini


🤗🤗🤗😘


__ADS_2