Yang Terakhir

Yang Terakhir
137. Ada Yang Cemburu


__ADS_3

Tok tok tok!


Ketukan di pintu mengalihkan tatapan Arga yang semula nanar menatap langit terik siang itu. Menatap sekilas pria yang sudah lama menjadi asistennya, terhitung sejak dirinya menjadi pimpinan di perusahaan warisan mendiang ayahnya. Reza. Pria dewasa, manis dan mapan. Tapi masih betah melajang. Pekerjaan adalah prioritasnya.


Pagi tadi, Reza menghubunginya.. Memberinya informasi yang cukup mengejutkan. Jadi, di sanalah pria karismatik itu berada kini, di dalam ruangannya yang luas dan hening di perusahaannya.


"Gimana bisa orang itu mirip Oom Aris?" gumamnya tapi masih bisa didengar Reza tapi pria berkacamata itu hanya diam saja.


"Apa kamu yakin Oom Aris masih di selnya?" tanya Arga datar.


"Sudah dipastikan, iya, Pak. Jojo langsung ke sana saat itu juga." sahut Reza.


Klek!


Kedua pria yang tengah serius berbincang itu menoleh ke arah pintu yang terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Lalu wajah blesteran nan tampan milik Iden muncul dari luar dengan raut wajah datar.


"Ck!" Arga berdecak lalu memalingkan wajahnya seraya mendesah.


"Ingatkan saya untuk mengunci pintu lain kali, Za." sindir Arga pada Iden.


"Orang gue bilang, mereka ngeliat Oom Aris di sini." ucap Iden dengan raut wajah serius, tak terpengaruh oleh sindiran Arga barusan.


Selain Arga, Iden juga menyebar anak buahnya untuk membantu Arga. Kabar ibunya Arga yang tiba-tiba terkena serangan jantung juga sampai di telinganya.


"Lu tau?" tanya Arga.


Iden mengangguk.


"Dini hari tadi, orang gue ngeliat laki-laki paruh baya mirip Oom Aris di sekitar dermaga." sahut Iden seraya menatap Arga.


"Gimana dia bisa ada di sini?" tanya Iden mulai penasaran.


"Lu ngga tau?" Arga masih mengorek informasi yang diperoleh anak buah Iden.


"Orang gue kehilangan jejaknya." sahut Iden.


Arga mengerutkan keningnya.


"Gimana ceritanya anak buah lu sampai kehilangan jejak laki-laki paruh baya itu? Oom Aris itu udah ngga selincah dulu. Dia udah menua." cibir Arga seraya terkekeh.


Namun, seketika Arga menghentikan kekehannya. Dia masih lincah? Seingatnya, pamannya itu sudah tidak gesit lagi. Pria paruh baya itu juga pernah mengalami cedera lutut yang cukup parah sehingga berpengaruh pada cara berjalannya.


"Apa anak buah lu ketahuan ngikutin dia?" tanya Arga yang sudah kembali ke mode serius.


"Orang gue ahlinya!" tegas Iden seraya melirik Arga tajam, dia tidak suka anak buahnya diremehkan.


Arga kembali terdiam. Kembali larut dalam pikirannya.

__ADS_1


"Jadi, siapa dia?" gumam Arga seraya memijat keningnya tapi masih bisa didengar Iden dan Reza.


"Maksud lu?"


"Gimana, Pak?"


Tanya Iden dan Reza bersamaan.


Tok tok tok!


Hania yang sedang menatap ibunya Arga dari balik jendela kaca langsung mengalihkan tatapannya ke arah pintu yang diketuk. Ferry tampak berdiri di sana yang langsung disambut senyuman manis Hania. Senyuman manis itu semakin mengembang ketika melihat sosok pria tinggi tegap berwajah manis di belakangnya. Galih.


Wanita cantik itu sudah tidak lagi ketakutan ketika melihat sahabatnya itu seperti beberapa waktu yang lalu. Bahkan kini, matanya mulai mengembun. Sungguh, ada rasa rindu di hatinya pada pria gagah itu.


Galih langsung merangsek ke hadapan Hania dan tanpa aba-aba, pria bertubuh tegap itu merengkuh Hania ke dalam pelukannya. Bahunya tampak naik turun. Pria itu tak dapat menahan gejolak di hatinya. Dirinya juga merindukan sahabat yang dicintainya itu. Terakhir kali bertemu, wanita cantik itu dalam keadaan yang tidak baik, dan ketakutan ketika melihatnya. Membuat hatinya berdenyut nyeri.


Mendengar cerita Ferry, Galih semakin emosi. Ingin rasanya membawa Hania bersamanya. Memberi wanita cantik itu perlindungan dan kasih sayangnya seperti dulu, sebelum dirinya dimutasi ke Bandung. Hah. Tiba-tiba penyesalan menyeruak di hatinya. Seandainya dulu, dirinya tetap berada di sisi Hania, mungkin wanita cantik itu tidak akan mengalami kejadian seperti itu. Pun Tiara akan masih berada di tengah-tengah mereka.


"Jadi dia ngelamar kamu?" tanya Galih seraya menatap cincin berlian yang tersemat di jari manis Hania.


Kini mereka berada di kantin rumah sakit. Galih memaksa Hania ikut dengannya ke sana ketika mengetahui sahabat tercintanya itu belum juga makan siang padahal waktu makan siang sudah terlewat lama. Wanita cantik itu juga butuh mengkonsumsi obatnya secara rutin. Informasi ini di dapatnya dari Ferry.


Hania menatap cincin yang melingkar di jari manisnya seraya tersenyum manis sekali. Membuat Galih cemburu. Dulu senyum itu hanya tertuju padanya. Tapi kini, senyum itu sudah menjadi milik pria lain. Hah. Lagi-lagi penyesalan menyeruak di dalam hatinya.


Tak perlu lagi mendengar jawaban wanita cantik itu, Galih sudah tahu. Betapa ekspresi Hania yang tampak berbinar memancarkan kebahagiaan itu sudah menjawabnya. Lagi-lagi hatinya berdenyut nyeri.


"Makasih." sahut Hania seraya memeluk Galih.


"Aku ngga tau harus berbagi kebahagiaan sama siapa. Cuma kamu keluarga yang kupunya." ucap Hania.


Galih membalas pelukan Hania lebih erat seolah menberi kekuatan dan ketenangan. Bukan hanya untuk sahabatnya itu saja tapi juga untuk dirinya. Ya. Hania hanya menganggapnya sebagai sahabat dan keluarga. Dan itu membuat Galih merasa miris. Ketika dirinya berharap lebih tapi wanita itu tidak pernah bisa mengabulkannya.


"Ini udah terlalu lama kita di sini, Galih. Lebih baik kita balik ke sana. Aku takut kalau ada apa-apa saja ibu." cemas Hania.


"Apa mereka baik sama kamu?" tanya Galih yang hanya di angguki Hania.


Klek!


Hania mendapati Arga sudah berada di ruangan tunggu pasien icu, sedang menatapnya lekat tanpa senyum seperti biasanya ketika pria tampan itu melihatnya. Mendadak wanita cantik itu merasakan aura tak bersahabat dari tatapan mata itu. Arga cemburu.


Sementara Ferry tengah asyik memainkan ponselnya. Entah bermain game atau berbalas chat dengan pacar barunya. Yang jelas pria macho itu hanya fokus pada benda pipih dalam genggamannya saja.


Ada juga iden. Sama seperti Ferry. Pria blesteran itu juga tampak fokus pada tabletnya setelah menyapanya.


Hania mendekati Arga dengan senyum terulas di bibir yang sudah tak lagi pucat. Meraih uluran tangan kekasihnya yang langsung menariknya dalam rengkuhannya. Tangan kokohnya melingkar posesif di pinggang ramping Hania, seolah menunjukkan kepemilikannya. Entahlah. Pria tampan itu sangat tidak suka jika Hania berdekatan dengan Galih.


Tadi sewaktu dirinya baru tiba di ruang tunggu itu, dirinya tidak melihat Hania di sana. Hanya ada Ferry.

__ADS_1


"Mba Hania ke kantin bareng Mas Galih." ucap Ferry yang tahu gelagat Arga.


Dengan langkah tergesa dia menyusul Hania menuju kantin seperti kata Ferry tadi. Dia tidak ingin Hania berdua-duaan dengan pria yang katanya sahabat Hania itu. Cih! Mana ada persahabatan antara pria dan wanita. Omong kosong! Dia sudah membuktikannya sendiri. Dan sudah merasakan akibat persahabatan yang terjalin antara pria dan wanita.


Membayangkan persahabatan Raka dan Rindy, dada Arga semakin berdebar. Arga bisa melihat jika Galih sangat menyayangi kekasihnya itu. Entah hanya perasaan sayang pada seorang sahabat atau pada seorang wanita. Meski tidak yakin begitu, tapi instingnya tidak mempercayai Galih.


Setibanya di kantin, Arga melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya. Galih menarik Hania ke dalam pelukannya. Melihat kekasih hatinya dipeluk pria lain, hatinya serasa terbakar. Dia cemburu.


Perlakuan Galih pada Hania yang terjadi di depan matanya, membuatnya semakin tidak mempercayai pria berwajah tenang itu. Mungkinkah instingnya benar?


Arga membalikkan tubuhnya dan berlalu dari tempat itu tanpa menunjukkan batang hidungnya. Pria karismatik itu tahu, dirinya sedang dikuasai emosi. Jika langsung berhadapan dengan rivalnya, dia takut menjadi tak terkendali. Arga tidak ingin Hania melihatnya dalam kondisi seperti itu.


"Mas?" suara lembut Hania menyadarkan Arga dari pikirannya yang terus terbayang Hania dipeluk pria lain.


Arga juga memutus tatapan yang menghunus tajam pada Galih. Pria itu menatap Hania dengan senyum yang tersungging di bibir seksinya. Usapan halus Hania di lengannya juga membuatnya lebih bisa menahan emosinya.


"Lu ada kerjaan di sini?" tanya Arga pada Galih yang kini sudah duduk di sofa tunggal di seberangnya.


"Ngga juga. Gue secara khusus nemuin Hania. Terakhir ketemu dia, dia ngga inget gue dan malah ketakutan." sahut Galih dengan nada bicaranya yang tenang.


Arga menghela napasnya dalam-dalam. Setengah mati pria itu bersikap setenang mungkin. Meski nada bicaranya terkesan santai tapi tetap terdengar penuh tekanan.


"Hania pasti udah ngasih tau lu 'kan?" ucap Arga seraya mengecup jari Hania.


Bukan tanpa maksud Arga melakukan adegan itu. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya serius dengan hubungannya bersama Hania.


Iden yang baru mendongakkan kepalanya harus mendapati tingkah Arga yang tidak jelas itu hanya bisa memutar bola matanya.


Galih berdecih. Tidak ingin menjawab pertanyaan Arga. Apa-apaan!


Jujur saja, saat ini Galih sedang merasa tidak baik-baik saja. Melihat Hania yang berbinar karen lamaran Arga saja hatinya merasa nyeri, apalagi kini pria itu malah menunjukkan kebucinannya padanya. Membuatnya semakin cemburu.


"Hania, aku ngga bisa lama-lama di sini. Rasanya aku diintai harimau benggala." psmit Galih seraya menyindir Arga, yang dibalas seringaian Arga.


Arga memang sengaja pamer kemesraan begitu di depan Galih. Tujuannya untuk mengusir pria gagah itu secara halus. Dan berhasil.


"Ya, sebaiknya lu cepet balik deh. Ada yang harus gue lakuin sama Hania. Hah. Rasanya kangen banget sama calon istriku ini." usir Arga lalu mengecup puncak kepala Hania.


Dengan perasaan dongkol, Galih berlalu dari ruangan itu. Jika tidak ingat dirinya sedang di rumah sakit, pasti sudah dibantingnya pintu itu.


"Bye-bye!" Arga melambaikan tangannya mengejek Gslih.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote tiap senin, dan kasih hadiah, juga komentar ya... Untuk dukung terus karya ini.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2