
Hania mengeratkan rangkulannya di lengan Arga. Wanita cantik itu tidak suka pria tampan itu digoda sekretarisnya Iden. Dirinya juga bingung tiba-tiba merasa tidak rela Arga melirik wanita genit itu. Setahunya, saat ini, hanya wanita itu yang terang-terangan menggoda Arga.
Sekretarisnya Iden melirik Hania yang menggelayut manja di lengan pria idamannya. Sungguh wanita itu merasa kesal.
"Ehem!" deheman Arga membuat sekretarisnya Iden menoleh padanya.
"Maaf, Pak." wanita genit itu menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat pada Arga.
"Apa ini penting?" tanya Arga tanpa menoleh pada Bela.
"Pak Iden bilang, Anda harus datang." sahut Bela dengan suara yang dibuat-buat seksi.
Arga membuka amplop yang tersegel itu. Lalu mengeluarkan isinya. Seketika senyum tipis terbersit di bibir seksi pria tampan itu.
Hania merasa informasi dalam amplop itu berita yang menyenangkan untuk Arga demi melihat ekspresi wajah yang berubah cerah. Seperti ingin membagikan berita bahagianya, Arga menyerahkan amplop itu pada Hania. Dengan kening berkerut wanita cantik bermata kelinci itu menerima amplop dari Arga.
"It's okay, buka aja." ucap Arga yang melihat Hania ragu-ragu membuka amplop itu.
"Apa ngga apa-apa? Penting kan?" tanya Hania memastikan.
"Ya. Penting buatku. Nanti juga penting buat kamu." sahut Arga seraya mengerlingkan sebeleh matanya.
Hania memutar bola matanya. Pria tampan di depannya ini suka sekali menggodanya sekarang. Apa maksudnya tadi? Isi amplop itu akan jadi penting buatnya nanti.
Dian melongo melihat sikap Arga yang lembut pada Hania. Sekretarisnya Arga itu tidak pernah melihat atasannya begitu. Pria itu selalu dingin dan menjaga jarak aman dari wanita mana pun. Ih. Dirinya jadi penasaran, ada hubungan apa atasannya itu dengan wanita cantik di sampingnya? Pasti wanita itu istimewa bagi Arga. Ah. Dia akan menanyakan itu pada Reza nanti.
Sementara itu, Bela, sekretarisnya Iden semakin sebal saja pada Hania. Wanita seksi itu menatap Hania dengan tatapan sinis, tatapan yang lama-kelamaan dianggap biasa oleh Hania.
"Dimana bosmu?" tanya Arga dingin tanpa menoleh.
Mode pria itu kembali dingin ketika berbicara pada sekretarisnya Iden. Benar-benar menunjukkan rasa tak sukanya pada wanita yang sering menggodanya. Apalagi ada Hania di sisinya. Sungguh dia ingin menunjukkan pada wanita itu bahwa wanita genit di depannya tidaklah berarti. Pria itu ingat, Hania tidak menyukai tingkah sekretarisnya Iden.
"Pak Iden menunggu di club xx vip 3, Pak." sahut Bela.
"Nanti malam." lanjutnya.
Sementara itu, Hania membuka amplop dan mengeluarkan isinya. Sebuah foto lilin? Alis Hania berkerut. Apa pria tampan di sampingnya berulang tahun? Wanita itu meraba-raba maksud dari foto itu.
"Ada pesan yang lain?" suara bernada dingin itu kembali terdengar.
__ADS_1
Bela menggelengkan kepalanya tapi sejurus kemudian menyadari jika Arga tidak melihat ke arahnya. Pria tampan idamannya sedang menatapi Hania.
"Tidak ada, hanya itu saja, Pak." ucapnya kemudian.
"Kamu boleh keluar sekarang. Dian, tolong antarkan dia!" perintah Arga masih tanpa menoleh.
"Baik, Pak." Dian mengangguk sebagai tanda undur diri.
"Mari?" ucapnya pada Bela.
Bela kesal karena diusir meskipun secara halus. Pikirnya dirinya bisa berduaan saja dengan pimpinan perusahaan tempatnya bekerja itu. Dan menggodanya. Sungguh, Bela merasa tertantang untuk menaklukkan pria tampan nan dingin itu. Tapi sepertinya niatnya tidak berjalan sesuai rencananya. Padahal dirinya sudah memperbaiki riasan dan menyemprotkan parfum yang wanginya menggoda. Sudah ada Hania yang menggelayut manja di lengan pria idamannya itu. Wanita seksi itu melirik Hania dengan sebal.
Dian sedikit menarik lengan rekannya karena tak kunjung bergerak. Dirinya bersyukur ada Hania yang sedang bersama Arga. Dian juga tidak suka Bela menggoda Arga. Tadi dia terkejut tiba-tiba Bela berdiri di hadapannya dan menanyakan keberadaan atasannya. Dan memintanya mengantarkan ke ruangan atasannya. Dian sudah meminta Bela meninggalkan amplop itu tapi wanita genit itu bersikeras mengantarkannya sendiri.
Sepeninggal Dian dan sekretarisnya Iden, Hania langsung melepas pelukannya di lengan Arga tapi pria itu menahannya dan melingkarkan kembali tangan wanita cantik itu ke lengannya.
"Lebih enak begini, Han." ucap pria itu menepuk pelan tangan Hania membuat wanita itu kikuk.
"Se sebaiknya kita jemput Tiara sekarang?" ujar Hania mengalihkan rasa kikuknya.
Arga melangkah keluar ruangannya bersama Hania yang melingkarkan tangannya pada lengannya. Sudah seperti pasangan sungguhan. Senyum Arga mekar seperti bunga matahari. Terlalu lebar. Menarik perhatian setiap karyawan yang berpapasan dengannya.
Arga mengantarkan Hania dan putrinya sampai di rumah bergaya minimalis milik Hania. Seperti biasa, Arga akan berdiam diri di rumah Hania dan makan malam di sana. Menjelang larut, barulah pria tampan itu pulang ke kediamannya. Jika bisa, ingin rasanya Arga menyunting wanita cantik itu saat ini juga sehingga bisa membawanya pulang ke rumahnya. Tapi pria itu harus memikirkan perasaan Hania yang masih dalam proses menyembuhkan dirinya.
"Apaan sih?" sentak Arga kesal pada peneleponnya yang ternyata Iden. Sedari tadi pria flamboyan itu mengganggunya terus.
"Lu udah terima pesen Gue kan? Jangan bilang Lu lupa!" balas Iden di ujung sana.
"Kita udah nungguin Elu nih!" ucapnya lagi.
Kita? Memangnya akan ada acara apaan sampai-sampai mengundang orang lain? Siapa 'kita' yang dia maksud? Tak ingin menduga-duga, Arga memutar kemudinya ke arah club dimana Iden menunggunya.
Sesampainya di ruangan yang dimaksud, Arga langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Dilihatnya para sahabatnya sudah berkumpul menunggunya. Bahkan Rizal, rela datang jauh-jauh dari Surabaya. Wajahnya semuringah. Sudah lama sekali sejak pertemuan terakhir mereka beberapa bulan yang lalu. Mereka ber tos ria.
"Happy birthday, Bro. Udah tambah tua Lu, buruan cari pendamping." ucap Darren seraya terkekeh.
"Iya. Lu betah amat jadi duda. Awas junior Lu karatan." ucap Raka yang disambut kekehan yang lain.
"Iya. Bener-bener. Haha... Ngomong-ngomong Lu nyari pasangan yang kek gimana sih, Ga?" timpal Darren.
__ADS_1
"Wah susah dia, levelnya ngga kesentuh." celetuk Iden membuat sahabatnya yang lainnya menoleh pada Iden lalu beralih ke arah Arga lagi.
"Maksudnya? Emangnya perempuan itu golongan apa? Dia 'kan sultan. Masih jauh gitu?" tanya Darren sambil menunjuk Arga tapi matanya menatap sahabat lainnya satu-persatu.
"Bidadari katanya." seringai Iden membuat Arga berdecih.
"Dia mimpiin bidadari? Haduh... Kelamaan menduda jadi halu Lu. Hahaha..." ejek Darren.
"Real bidadari. Gue nyari perempuan yang baik hati dan setia. Bukan modal dada dan ************ doang." tegas Arga membuat yang lainnya kehilangan kata-kata. Bagamanapun para sahabatnya itu tahu Arga pernah dihianati dan sakit hati.
"Udah tambah tua, jaga emosi jangan sampe darting, stroke baru nyahok Lu." ucapan Rizal memecah keheningan. Namanya dokter, pesannya selalu mengandung unsur-unsur kesehatan.
Tak berselang lama, pintu ruangan vip itu terbuka lagi. Sosok cantik dan seksi muncul di sana. Seketika wajah Arga berubah dingin. Wanita itu Bela. Wanita yang benar-benar tidak ingin ditemuinya di saat seperti ini. Berkumpul dengan para sahabatnya.
Bela tidak datang sendiri. Seperti yang diperintahkan Iden, Bela mengajak teman-temannya yang juga cantik dan seksi. Dan tentu saja menggoda. Pesta tanpa wanita bukanlah gaya Iden. Darren dan Raka antusias menyambut wanita-wanita seksi itu. Sementara Rizal, bersikap biasa saja. Dirinya yang seorang dokter sangat menjaga diri dari wanita-wanita seperti mereka. Yang pasti gaya hidupnya bebas. Bukan gayanya. Dan Arga, meskipun kesal, pria dingin itu seperti tak terpengaruh. Mengabaikan kemolekan tubuh wanita-wanita itu.
"Gue ngga minum. Lu tau kan lambung Gue kritis." tolak Arga datar ketika Iden menyodorkan sebotol minuman keras yang dulu disukainya.
Iden yang sudah mabuk hanya terkekeh mendengar ucapan Arga lalu kembali menenggak minuman itu. Tangannya melingkar erat di pinggang Bela.
"Kalau gitu Bapak minum ini aja. Cuma minuman bersoda kok." tawar temannya Bela. Sepertinya wanita itu juga tertarik pada Arga.
"Aku ke toilet dulu." Arga memilih mengabaikan tawaran itu dan meninggalkan ketiga sahabatnya yang sudah mulai mabuk.
"Aku juga." Rizal juga bangkit mengikuti Arga.
Sepeninggal Arga dan Rizal, Darren dan Raka yang belum mabuk berat memboyong 2 wanita cantik dan seksi yang dibawa Bela tadi ke kamar yang disediakan club. Tinggallah Iden yang sudah sangat mabuk karena Bela terus-terusan memberinya minum dan seorang temannya lagi. Tanpa sepengetahuan temannya itu, Bela menaruh obat tidur di minuman temannya itu.
Arga kembali bersama Rizal dan mendapati Iden sudah tidak berdaya dan temannya Bela sudah tertidur karena efek obat tidur dari Bela tadi. Arga meneguk soda kaleng yang tadi disodorkan temannya Bela. Begitupun Rizal, tadi dia meninggalkan soda kalengnya yang belum habis.
"Bisa minta tolong, teman saya di atarkan ke kamar di atas ngga, Pak. Saya ngga kuat." pinta Bela pada Rizal.
Rizal yang merasa tidak mengenal Bela memilih mengantarkan teman wanita itu dan meninggalkan Arga bersama Bela dan Iden.
Arga menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa karena mendadak kepalanya terasa pusing. Pria tampan itu memejamkan matanya. Dia heran mendadak pula merasa gerah. Dia melirik ke arah Bela yang duduk di seberangnya. Wanita itu memejamkan matanya. Sial! Gumamnya.
"Bapak kenapa?" tanya Bela seraya mendekat dan menyentuh pipi Arga.
Arga menepis tangan Bela yang lancang menyentuh pipinya. Tapi ada getaran aneh yang dirasakannya ketika tangan halus Bela menyentuhnya. Dia seperti menginginkan sentuhan itu. Pria tampan itu terus menghindar dari setiap sentuhan yang wanita genit itu berikan.
__ADS_1
*******
Thanks for reading!