Yang Terakhir

Yang Terakhir
85. Arga Cemburu


__ADS_3

Arga sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya, menatapi sebuah undangan yang baru saja diterimanya. Lagi-lagi undangan pernikahan. Seorang mitra bisnisnya akan menikahkan putri yang semula akan dijodohkan dengannya, tapi karena kegigihan Arga menolak keinginan pria paruh baya itu, akhirnya pria berusia 50 tahunan itu menyerah juga.


Kerjasama yang terjalin sejak lama tidak membuat Arga takut kehilangan satu mitranya itu hanya karena perjodohan yang menurutnya konyol. Padahal sang ibu sudah ketar-ketir saja jika pria paruh baya itu angkat kaki dari jajaran pemegang saham membawa serta uangnya dari perusahaan Arga. Pria karismatik itu yakin pria itu lebih membutuhkan perusahaannya saat ini demi melihat perkembangan perusahaan Arga yang meningkat signifikan itu.


Arga berencana mengajak Hania ke pesta pernikahan itu. Tidak mungkin 'kan dia datang sendiri? Apa kata pria tua itu nanti? Arga meringis mengingat sindiran yang dilontarkan pria tua itu saat mengantar sendiri undangan pernikahan putrinya tadi.


"Jodoh memang ngga bisa ditebak 'kan Mas Arga? Revi beruntung tidak menunggu kamu. Apa jadinya jika dia juga ngotot maunya sama kamu? Ngga bakal nikah-nikah dia. Ya 'kan?" Pria tua itu terkekeh setelah menyindir Arga, sepertinya dia puas meledeknya.


Diletakkannya undangan itu setengah melemparnya, lalu meraih ponsel yang terletak tak jauh dari undangan itu. Dia ingin menghubungi Hania. Diliriknya jam tangan mahalnya. Jam 10. Pasti wanita itu masih sibuk sekarang. Dan memutuskan mengirimkan pesan saja. Tapi setelah selesai mengetik pesannya, pria tampan itu kembali menghapusnya. Dia ragu jika pesannya akan dibaca Hania. Wanita cantik itu selalu meninggalkan ponselnya di ruangannya.


"Mending langsung kesana aja nanti." gumamnya dalam hati.


Tok tok tok.


Arga menatap pintu ruangannya yang terbuka perlahan. Seketika pria tampan itu menaikkan sebelah alisnya demi melihat sosok pria yang melenggang masuk. Penglihatannya tidak mungkin salah. Iden mengetuk pintu? Heh. Apa ada angin kencang yang membalik sifatnya barusan?


"Baru dapat wangsit apaan Lu, masuk ruangan Gue pake ketuk pintu?" ejek Arga.


"Emang ya di mata Lu Gue salah mulu. Ngga ketuk pintu salah, ketuk pintu salah juga." cibir Iden yang sudah duduk manis di depan Arga seraya menumpu kaki kanannya di atas kaki kirinya.


Arga berdecih.


"Ada apa?" tanya Arga setelah hening sesaat.


"Gue tau Lu ngikutin Gue." sahut Iden seraya menatap lekat Arga, membuat pria itu menaikkan sebelah alisnya.


Arga sudah tidak terkejut lagi jika apa yang dilakukannya akan diketahui sahabatnya itu secepatnya. Iden pria cerdas sepertinya. Dan memiliki anak buah yang sama cekatannya dengannya.


"Gue udah ngga bisa nahan diri lama-lama, man. Jika bukan karena permintaan Elu, sekretaris tak tahu batasan Lu itu udah Gue pecat dari kemarin dulu. Bahkan mungkin ngga bakal Gue terima di sini." ucap Arga datar.


Iden berdecih lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia bukannya menyukai sekretarisnya, hanya saja tubuhnya yang indah sungguh menggoda hasrat kelelakiannya. Dan gayung pun bersambut. Selain itu, dia memiliki misinya sendiri.


"Memangnya kenapa sekretaris Gue,Ga? Sensi amat Lu sama dia." ejek Iden.


Arga mendengus. Iya, pria itu sensitif dengan ketidak sopanan sekretarisnya Iden itu. Wanita itu semakin dibiarkan semakin menjadi-jadi. Bahkan berani terang-terangan menggodanya.


"Jangan bilang Lu ngga tau kelakuan sekretaris Lu. Harusnya Elu lebih tau dari Gue. Lu yang tiap hari nempel dia terus." tekan Arga.


Arga kesal sebab Iden seolah tidak tahu menahu. Mencium gelagat Arga yang mencurigainya saja dia bisa, masa' iya kelakuan sekretarisnya yang menggoda Arga, dia tidak tahu. Omong kosong!

__ADS_1


"Sedikit lagi, man. Abis itu Gue lepasin dia." mohon Iden dengan wajah memelas untuk yang kesekian kali.


Arga jelas tidak tega pada Iden yang memohon seperti itu. Sebagai sahabat jelas dia ingin membantu tapi sepertinya Iden enggan Arga mencampuri urusannya. Mungkin karena itu urusan pribadinya. Arga hanya bisa menghormati kemauan Iden.


Selepas Iden meninggalkan ruangan Arga, pria tampan itu bergegas ikut meninggalkan ruangannya juga. Menuju restorannya Hania.


Sementara itu, Hania sedang merasa gelisah. Di luar, Ferdi menunggunya sedangkan dia tidak ingin bertemu. Pria itu bisa menimbulkan masalah baginya karena Ferdi bukan pria single, pria itu sudah beristri.


"Hania, tolong temui saya. Atau saya akan terus nungguin kamu di sini." Ferdi mengancamnya melalui tulisan pada secarik kertas memo yang dititipkan pada karyawan Hania.


Hania mendengus kesal membaca memo itu. 10 menit yang lalu, Ferdi juga memberinya memo yang menuliskan bahwa dirinya hanya ingin berbincang saja karena sudah lama tidak berjumpa. Pria itu merindukannya katanya.


"Ck! Menyebalkan!" gerutu Hania.


"Bu, Bapak keren itu ngga  mau pergi. Malah memesan banyak makanan tapi ngga ada yang dimakan. Narik perhatian banget deh. Untung ganteng." cerocos seorang waitres.


"Eh, tapi masih kalah jauh sama Pak Ganteng kok, Bu." waitres tadi nyengir mendapat pelototan dari Hania.


"Saya permisi deh, Bu. Ibu serem, bikin saya takut." cengir waitres itu lagi.


Hania mendesah lagi. Tidak ada cara lain selain menemuinya dan memintanya tidak mengganggunya.


Hania mendadak sangat mengharapkan kemunculan Arga di sana. Hanya pria itu yang dikenalnya dengan baik dan selalu dapat menolongnya.


Senyum Ferdi mengembang seperti bunga matahari. Lebar. Pria tampan itu senang, wanita yang disukainya mau menemuinya meskipun harus mengancamnya dulu.


"Hania." Ferdi berdiri menyambut Hania, lalu menarik dan mengatur kursi yang Hania duduki.


"Kenapa makanannya ngga dimakan? Keburu dingin nanti ngga enak." keluh Hania.


"Seandainya kamu keluar sejak tadi, makanan ini pasti sudah ludes semua." sahut Ferdi.


"Saya sibuk." ucap Hania singkat karena enggan terlibat obrolan panjang dengan pria itu.


"Sekarang sudah ngga 'kan? Temani saya makan. Plis." harap Ferdi. Pria itu menyunggingkan senyum manisnya.


"Saya sudah kenyang." ucap Hania lagi, dia masih ingin menghindar.


"Kalau gitu kamu duduk aja." Ferdi masih tersenyum manis, membuat Hania memutar bola matanya.

__ADS_1


Hania menurut saja. Pikirnya semakin cepat Ferdi menyelesaikan makannya, semakin cepat pria itu meninggalkan restorannya. Jadi lebih baik tidak berdebat.


Ferdi menyelesaikan makannya dengan cepat. Hania sudah senang saja. Tapi kenapa pria itu tidak pergi-pergi juga? Apa dia benar-benar akan berbincang dengannya? Haduh. Bisa repot kalau istrinya tahu.


"Pak Ferdi ngga kerja?" Hania ingin sekali pria itu kembali bekerja dan meninggalkannya.


"Kamu ngusir saya? Saya udah lama ngga ketemu kamu, kangen rasanya." ucap Ferdi.


Hania mendesah. Ferdi sungguh egois. Kenapa tidak memikirkan perasaannya? Bagaimana jika ada orang yang mengenalnya kebetulan berada di sana dan melihat mereka? Hania sudah pusing memikirkan segala kemungkinan akan dilabrak lagi, tapi pria di depannya itu malah senang bertemu dengannya.


Arga masih duduk di belakang kemudi sedan mewahnya. Matanya nanar menatap pria yang diketahuinya bernama Ferdi, seperti berusaha menahan Hania agar tetap bersamanya. Hania dan Ferdi sedang duduk di bagian outdoor restorannya Hania, sehingga dapat terlihat dari area parkir.


"Ck! Kenapa dia kesini sih!?" Arga menjadi gusar.


Hania belum menceritakan perihal pria bernama Ferdi itu. Meski tampak enggan tapi wanita cantik itu tetap bersikap baik pada pria yang menurutnya juga tampan itu.


Semalam Arga merasa harus memberi tahu Hania tentang perasaannya. Dia berharap Hania membalasnya. Tapi yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya. Wanita lembut itu masih terluka. Bayang-bayang masa lalunya masih menghantui, membuat Hania takut membuka dirinya terhadap cinta yang baru. Meski Hania memberinya kesempatan, tapi tidak bisa menjamin ketenangan Arga. Pria tampan itu takut jika Hania berpaling. Itu tidak boleh terjadi. Dia sudah jatuh cinta terlalu dalam pada wanita itu.


Berpikir Hania bisa saja berpaling, hati Arga jadi ketar-ketir. Meski sebenarnya dia tahu Hania tidak akan begitu, tapi mengingat gencarnya para pria menggoda Hania, Arga menjadi kesal. Dia harus memastikan Hania dan hatinya harus menjadi miliknya.


Dengan kasar Arga membuka pintu mobil kesayangannya lalu menutupnya dengan keras. Tidak ada yang terganggu dengan tindakannya karena dia sedang di area parkir.


Arga melangkahkan kakinya mendekati Hania dan Ferdi dengan langkah lebar. Dadanya bergemuruh seakan ingin meledak menahan gejolak di hatinya. Pria itu cemburu. Dia mengakui itu.


"Han?" sapa Arga begitu berada di dekat Hania.


Wanita itu menoleh dan seketika wajahnya langsung merona. Hania tersenyum kikuk. Dia senang Arga muncul di sana. Tapi sekaligus malu dan salah tingkah. Ingatannya langsung berputar pada kejadian semalam. Dimana Arga mel***t bibirnya dengan lembut dan penuh hasrat, dan entah dorongan dari mana, dirinya membalas ci**an itu sama lembutnya, membuatnya juga berhasrat.


Hania tidak memungkiri, ci**an Arga membuatnya melayang. Pria itu sangat lembut memperlakukannya, menimbulkan keinginan yang lama terpendam. Tapi baiknya, pria itu sangat menjaganya dan menghormatinya. Meskipun sama-sama bergairah, pria itu seakan tahu kapan waktunya berhenti.


"Mas?" Hania langsung berdiri menghampiri Arga.


"Kenapa baru datang?" tanya Hania.


*******


Thanks for reading!


Like dan favoritkan ya sebagai dukunganmu 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2